Bab 1. Suasana Pagi
Aku menikah di usia sembilan belas tahun, ketika banyak orang masih sibuk mencari jati diri dan menunda komitmen. Saat itu aku hanya tahu satu hal, aku mencintai Sandy Januar dan aku ingin tumbuh bersamanya.
Enam tahun kemudian, di usia dua puluh lima, aku masih berdiri di tempat yang sama, di rumah yang sama, di samping lelaki yang sama, hanya dengan versi diriku yang lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih terbiasa menelan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Pagi itu rumah kami kembali sunyi. Jam dinding di ruang makan berdetak jelas, seolah sengaja mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, meski ada hal-hal yang tidak ikut bergerak.
Aku meletakkan dua piring di meja makan, menata telur orak-arik, roti panggang, dan semangkuk kecil buah potong. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan.
Dari arah dapur, Ijah muncul sambil membawa teko air panas. “Bu, ini airnya. Kopinya sudah saya bikin juga, yang tanpa gula buat Bapak.”
“Terima kasih, Bi Ijah,” kataku.
Mirna menyusul dari belakang, mengelap tangannya dengan lap kecil. “Bu, nanti siang mau dimasakin apa? Ayam ungkep atau ikan?”
Aku belum sempat menjawab ketika Sandy sudah lebih dulu bersuara, “Yang penting jangan pedas. Saya masih trauma sama sambal buatan Mirna minggu lalu.”
Mirna langsung manyun. “Itu bukan pedas, Pak. Itu uji nyali.”
Aku tertawa. “Makanya kamu makan sambal pakai ujung sendok.”
“Sebagai orang yang menghargai hidup,” balas Sandy serius.
Ijah ikut terkekeh pelan. “Bapak memang paling nggak kuat pedas.”
“Bukan nggak kuat. Saya cuma menghargai lidah saya sendiri, Bi.”
Aku menuangkan kopi ke cangkir Sandy. “Padahal dulu waktu pacaran, kamu sok jago makan apa saja.”
“Dulu aku masih ingin terlihat sempurna di mata kamu.” Sandy meraih pinggang istrinya dan mengecup pipinya.
“Sekarang?” tanyaku menggodanya.
“Sekarang aku sudah menyerah. Kamu sudah tahu semua aibku.”
Aku tersenyum kecil. Sandy mengambil roti dan mulai makan dengan tenang, seperti biasa. Ia tipe lelaki yang tidak pernah terburu-buru saat sarapan, meski jamnya mepet. Katanya, hari yang baik dimulai dari pagi yang tidak tergesa.
“Kamu tidur jam berapa semalam?” tanyanya.
“Sebelas lewat dikit.”
“Dikit versi kamu itu bisa sejam, Sayang.” Sandy menggeleng.
“Fitnah,” bantahku. “Aku sudah Insaf, Mas.”
Ia menatapku, sorot matanya penuh selidik. “Insaf beneran atau insaf sementara?”
“Insaf kalau kamu nggak nyenggol piringku.”
Sandy langsung melirik telurnya, lalu dengan wajah tanpa dosa mengambil satu potong telur dari piringku.
“MAS—”
“Ini refleks,” katanya cepat. “Sebagai suami.”
“Itu namanya kebiasaan buruk.” Aku menggeleng.
“Kalau kebiasaan buruknya cuma nyolong telur istri sendiri, menurutku masih aman.”
Ijah dan Mirna saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Pak, Bu,” kata Mirna sambil menahan senyum, “Kalau telurnya kurang, saya ambilin lagi ya.”
“Nggak usah, Mbak Mir. Nanti istriku makin curiga saya sengaja ngabisin.”
“Kamu itu cuma takut aku cerewet.”
“Sedikit. Tapi aku suka.”
Aku menggeleng, tapi sudut bibirku ikut terangkat. Ahh sungguh indah pemandangan pagi dan obrolan kecil ini.
Tidak ada pembahasan tentang anak diantara kami. Hanya candaan kecil, suara sendok beradu dengan piring, dan tawa ringan yang membuat pagi terasa utuh.
Ijah dan Mirna kembali ke dapur setelah memastikan semuanya cukup. Ruang makan kembali hanya diisi aku dan Sandy.
Enam tahun bukan waktu yang sebentar, tapi juga bukan akhir dari segalanya.
Begitu aku selalu meyakinkan diri sendiri. Aku dan Sandy pernah sepakat di awal pernikahan bahwa kami tidak ingin terburu-buru. Kami ingin menikmati hidup berdua dulu, mengenal satu sama lain tanpa gangguan tangisan malam atau jadwal imunisasi. Dan saat itu, aku benar-benar percaya.
Hanya saja, waktu punya caranya sendiri untuk membuat kesepakatan lama terdengar seperti alasan.
Aku sudah terbiasa dengan banyaknya pertanyaan tentang kapan aku hamil, sudah hamil? Apakah sudah cek? Kapan sih punya anak? Pernikahan sempurna kalau udah ada anak. Semua kata-kata itu ku simpan sendiri.
Aku juga sudah terbiasa tersenyum dan menjawab ringan, seolah itu bukan apa-apa. Padahal, ada bagian kecil di dalam dadaku yang selalu berhenti berdetak sepersekian detik setiap kali pertanyaan itu muncul.
Bukan sakit. Lebih seperti perasaan kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kumiliki.
Aku tidak pernah membenci tubuhku sendiri. Aku tidak pernah marah pada rahimku. Aku hanya sering bertanya pelan, di sela-sela doa yang kupanjatkan tanpa suara, kapan aku diberikan amanah itu? Kapan aku menjadi seorang Ibu? Apakah aku nggak punya kesempatan itu? Yang selalu membuatku tenang adalah Mas Sandy.
Ia tidak pernah menatapku seolah ada yang kurang. Dia juga tidak pernah menunjukkan wajah kecewa ketika melihat anak orang lain. Kalau pun ia menatap bayi di gendongan seseorang, tatapannya selalu singkat, lalu kembali padaku, seolah mengatakan bahwa aku tetap cukup.
Dan mungkin, itulah yang membuatku bertahan tanpa merasa hancur.
Aku sering berpikir, mungkin Tuhan sedang mengajarkanku sesuatu tentang menunggu. Tentang mencintai tanpa syarat. Tentang membangun rumah bukan hanya untuk diisi suara anak kecil, tapi juga kehadiran yang saling menjaga.
Aku bahagia. Setidaknya, aku memilih untuk bahagia.
Kalau suatu hari seorang anak datang dan memanggilku ibu, aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Tapi jika hari itu belum juga tiba, aku masih punya Sandy, rumah ini, dan diriku sendiri yang sedang belajar menerima hidup apa adanya.
“Sayang, ada apa?” tanya Sandy menyentuh tanganku.
“Hm?”
“Kamu kenapa? Kok diam aja?”
“Aku nggak apa-apa, Mas. Aku baik-baik aja,” jawabku tersenyum.
“Baik-baik kok, aku lihat kayak mikirin sesuatu,” geleng Sandy.
“Nggak ada kok, Mas, hanya mikirin klien, apakah dia akan puas dengan desainku?”
“Tentu saja, Nyonya Sandy Januar pasti akan di puji, dan semua desainnya sangat bagus.”
“Terima kasih ya, Mas, karena kamu sudah selalu berada dibelakangku,” kataku.
“Tentu seorang suami pasti akan selalu mendukung istrinya dan berada dibelakang istrinya.”
Sandy mencium telapak tanganku dan tersenyum. “Kamu cantik, seperti biasa.”
Aku tersenyum karena Sandy selalu saja gombal, tapi aku senang sekali kalau dia gombal.