Kelakuan Lia

828 Words
Kami segera duduk di ruang tamu, lalu dia jelaskan bahwa diserang monster dan aku selamatkan. "Bagaimana caranya kamu menyelamatkan ayahku?" tanya Lia. "Saat aku latihan sihir tadi ternyata aku bisa menggunakan sihir teleportasi. Saat aku teleport ke atas bukit, aku melihat ada kapal diserang monster, jadi aku nekat teleport ke sana," "Tuan Al bisa menggunakan teleport?" Tiba-tiba nenek muncul dari belakang rumah. "Ehh nenek, iya aku juga tidak menyangka," "Sihir tingkat atas, bahkan yang bisa menggunakannya bisa dihitung dengan jari lho," ucapnya kaget lalu duduk di samping Lia yang berada di depanku. "Hebat sekali Al!" Lia yang terlihat senang, hal itu membuatnya tambah cantik. "Kenapa Al bisa ada di sini? Siapa dia sebenarnya?" Bob melihatku dengan serius. Sekarang gantian aku yang menjelaskannya kepada paman Bob. "Ohh kalau begitu, aku akan memberitahu yang lainnya dan akan berjaga di mercusuar." Paman Bob berdiri lalu pergi keluar rumah. "Aku ikut!" Aku segera berdiri mengikuti paman Bob. "Kamu istirahat saja, setelah berlatih sihir seharian pasti capek kan?" Lia memegangi tanganku. "Nah, seperti yang Lia katakan, di rumah saja. Oh iya Lia, buatkan masakan yang enak untuk Al." Paman Bob berhenti sebentar di depan pintu lalu lanjut berjalan lagi. "Baiklah, hati-hati yah." Lia melambaikan tangan. "Akan aku segera beritahu kalau ada apa-apa," teriak paman Bob. ____ "Sudah malam kok belum pulang ayahmu?" "Menjaga mercusuar memang biasanya sampai pagi," "Ohh," "Nenek mau tidur duluan, kalian jangan kemalaman." Nenek berdiri dan menuju kamarnya. "Baik, selamat malam nek," Tiba-tiba Lia memelukku sambil menangis. "Terima kasih, terima kasih banyak, berkatmu ayahku masih hidup. Entah apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada, hanya mereka berdua keluargaku yang tersisa." "Tidak perlu berterima kasih, kamu juga sudah banyak membantuku." Aku elus rambutnya, semoga dia lebih tenang. Lalu aku teleport ke atas bukit untuk menenangkan Lia. "Ehh di mana kita?" Lia melepaskan pelukannya sambil melihat ke sekitar. "Di atas bukit, karena kamu menangis, mungkin bisa menggangu nenek istirahat, jadi tenangkan dirimu di sini!" Sambil menyeka air mata Lia dengan tanganku. "Terima kasih," "Tidak perlu berterima kasih lagi." Aku rebahkan tubuhku di rerumputan. "Sebagai rasa terima kasihku, akan aku turuti kemauan mu," wajahnya sudah cerah kembali, dia yang masih duduk memandang ke arahku. "Serius!?" tanyaku semangat. "He'em." Mengangguk. "Kalau begitu telanjanglah di sini!" "Baiklah." Lia segera membuka bajunya. "Ehhh bercanda, aku hanya bercanda." Aku segera berdiri dan menghentikan Lia. "Bohong, terlihat kalau kau ingin melihat tubuh indahku ini kan?" Godanya sambil meraba tubuhnya sendiri. "Sudah pernah lihat," jawabku pelan. "Apa?!" Mendekatkan wajahnya kepadaku. "Tidak tidak apa-apa." Aku memundurkan badanku. "Katakan!" Sambil menjewer telingaku. "Baik baik lepaskan dulu!" "Lalu?" Lia duduk di sampingku. "Tadi saat aku berlatih di sini, aku mencoba penglihatan jarak jauh dan mata tembus pandang, saat itu kamu sedang mandi," "Jadi kau melihatnya?" "Maaf." Aku menundukkan kepala. "Ya baiklah karena telah menolong ayahku aku maafkan." Lia memandangi lautan. "Beneran!?" Aku mendekat ke arah Lia. "Iya!" Menghadap ke arahku. "Berarti boleh lihat lagi?" "Mesum, malah ngelunjak." Lia memukul jidatku. "Katanya tadi mau melakukan keinginanku." Sambil memegangi jidatku yang habis dipukul oleh Lia. "Tidak jadi!" ucapnya ketus dengan bibirnya yang cemberut. "Hahaha ya sudah kalau begitu ayo kembali, ternyata dingin sekali di sini." Aku berdiri diikuti oleh Lia. "Aku juga sudah mengantuk." Aku teleport kembali menuju ruang tamu. "Kamu tidurlah di kamarku, aku akan tidur bersama nenek." Lia berjalan menuju kamar neneknya dan aku menuju kamar Lia. "Baiklah, selamat malam," "Malam." Dia berhenti di depan pintu. Saat aku rebahan sambil memikirkan rencana selanjutnya, Lia mendatangiku. "Ada apa?" "Mmm itu, nenek tidurnya memenuhi ranjang. Aku tidak tega membangunkannya." Lia berhenti dengan muka bingung dan mengalihkan pandangannya. "Kalau begitu tidurlah di sini, aku akan tidur di ruang tamu." Aku segera berdiri. "Kau tetaplah di sini, tempat tidurnya masih muat bagi kita berdua, lagi pula aku yang menyuruhmu tidur di sini." Lia menghampiriku dan memegangi tanganku. "Kau yakin tidur bersama laki-laki sepertiku?" "Ingin merasakan pukulanku!?" Sambil mengepalkan tangannya. "Tidak, terima kasih." Akhirnya kami tidur satu ranjang, walau Lia membelakangiku, tapi aku tetap sulit tidur karena ada gadis secantik dirinya di sisiku. "Al sudah tidur?" tanyanya. "Sudah," balasku "Kenapa bisa bicara?" "Oh belum," ... "Al, tidak akan menyerangku kan?" Lia berbalik badan menghadap ke arahku. "Berisik!" ... "Al." Lia merangkak di atasku. "Apalagi!?" "Kalau kau mau, aku izinkan untuk kali ini saja," ucap Lia dengan muka malu-malu. "Tentu saja mau." Aku pegangi pipinya dan terasa panas sekali. "Silahkan," ucapnya lirih sambil menutup matanya. "Mau memindahkanmu ke tengah laut agar dimakan monster." Aku cubit pipinya itu. "Seramnya," "Sudah, tidur saja, katanya mengantuk?" "Tadi katanya kedinginan, mari aku hangatkan." Lia yang berada di atasku mulai menurunkan badannya, namun aku berteleport di sampingnya hingga membuat dia tersungkur di tempat tidur. "Kalau begitu, aku akan tidur di luar saja." Aku segera berdiri. "Jangan! Baiklah, aku akan tidur." Lia kembali berguling ke tempatnya dan aku segera kembali tiduran. Tidak lama kemudian, Lia sudah tertidur pulas. Karena aku tidak bisa tidur, aku putuskan untuk jalan-jalan keluar. Tidak aku sangka, ternyata di ruang tamu ada Paman Bob yang sedang memandangiku dengan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD