Seo Ara atau sekarang menjadi Shen YuXi, memegang dadanya yang terasa berat, napasnya sudah terengah dan cukup menyesakkan meski masih bisa tertahannya. Menatap kedua tangannya yang pucat dan berkeringat tidak percaya. "Hah...hah, tidak. Bisa . Dipercaya. Tubuh.Ini. Payah ..hah."
Mengikuti sisa-sisa memori yang tertinggal di otak YuXi, jiwa Seo Ara menuntun tubuh itu menyusuri jalanan kecil yang memutar, jauh di belakang area utama St. Aurora High School
'Lurus... belok kiri... ada taman kecil... terus keluar gerbang belakang...'
Memori itu datang seperti GPS yang sinyalnya putus-putus. 'Shen YuXi, kau memang...??'
Setiap hari, YuXi asli akan berjalan memutar lewat sini agar tidak ada murid sekolah yang melihat jemputannya. Meskipun, begitu Seo Ara tetap salah belok dua kali dan hampir tidak menemukan jalan.
"Aduh, ini kaki atau jeli sih? Lemas banget," gumam YuXi yang lagi-lagi berhenti sesaat karena napas sudah terengah-engah, tangannya memegangi lutut seragamnya sejenak. "Sebenarnya, kenapa 'kau' harus sembunyi-sembunyi seperti ini. Kan, lebih enak dijemput depan sekolah aja?!"
Tanpa YuXi sadari, Di belakang pohon maple yang berjajar di sepanjang jalan setapak...Seseorang sedang mengikutinya. Itu Kang Jiwon.
Pemuda itu berjalan mengendap-endap di antara balik tembok gang. Matanya yang tajam tidak lepas dari punggung YuXi. Kejadian aneh di kelas tadi sore benar-benar mengusik rasa penasarannya.
'Ada yang tidak beres dengannya,'batin Ji-won dingin. 'Gadis yang biasanya pendiam dan jarang bicara, tiba-tiba menampar pipinya sendiri dan berteriak aneh? Aku mau tahu apa yang terjadi padanya.'
Jalan setapak itu berakhir pada sebuah area jalan raya yang sepi dan rindang oleh pepohonan besar. Di sanalah YuXi menghentikan langkahnya. Melihat ke depan Di tepi jalan, terparkir sebuah mobil sedan hitam legam yang mengilat, memantulkan cahaya senja.
Di samping mobil itu, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian jas rapi berdiri kaku, tengah menatap jam tangannya dengan kerutan di wajah penuh ketidaksabaran. Hanya, barulah saat menatap ke depan tepat saat YuXi berjalan ke arahnya dia bisa bernapas lega sambil setengah berlari menghampiri.
"Nona, Anda membuat saya khawatir... baru saja saya akan memaksa pergi ke sekolah menjemput Anda, " ucap sang sopir sambil mengusap peluh di wajah tua-nya.
"Ya?" Ara menatap bingung tapi, segera ia berubah tenang dengan senyuman tipis. "Aah, tadi..ada sedikit masalah jadi, Paman Ji tidak perlu begitu khawatir."
"Nona ini... tidak mungkin saya tidak khawatir," balasnya lagi sambil berjalan lebih depan lalu, segera membukakan pintu mobil mempersilahkan sang Nona masuk.
"Terima kasih." YuXi menerima perhatian itu dan bersikap tenang. Dia tidak bisa ceroboh membuat orang lain curiga dengan kondisinya saat ini.
Di balik tembok gang, Kang Ji-won menatap tidak percaya.
'Nona Muda...?' Ji-won membeku. 'Shen YuXi... anak pendiam itu ternyata menyembunyikan hal seperti ini?'
**
Di dalam mobil Seo Ara memejamkan mata dan mulai mencerna apa yang terjadi padanya, yang bisa-bisanya bangun ditubuh orang lain. Dalam mimpi pun dia tidak pernah membayangkan hal seperti itu bisa terjadi.
'Sebenarnya, apa yang kulakukan terakhir kali, ya??' tanyanya membatin dengan semua pikiran yang masih tumpang tindih.
Diiringi aroma kabin mobil mewah yang khas—campuran kulit mahal dan parfum pinus yang menenangkan...Tubuh Shen YuXi yang merasakan kelelahan mulai jatuh ke dalam ketenangan hingga, pikirannya yang bisa sedikit menggali memori terakhir dari kehidupannya sebagai Seo Ara.
Kamar kost yang berantakan, tumpukan kertas laporan, dan secangkir kopi hitam yang sudah dingin di samping laptop. Ia ingat dadanya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa hebat saat jarinya hendak menekan tombol save. Setelah itu... gelap. Hanya ada kekosongan yang dingin sebelum akhirnya ia terbangun di lantai kelas yang dingin.
Ara mengembuskan napas berat. "... Jadi ini benar?"
Ia sudah mati. Begitu juga pemilik tubuh ini...
Menatap tangan pucat dan halus, jauh berbeda dari miliknya dulu yang besar dan kasar. Ia teringat masa-masa sulit itu juga... Ibu, Kakak.
"Kalian ... hiduplah yang baik tanpaku," ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Setetes air mata jatuh di sudut mata Shen YuXi. Fakta nyata dan tak masuk akal ini harus segera diterimanya. Dia kini hidup di tubuh orang lain. 'Entah itu aku ataupun kau .. ini akan menjadi kehidupan kita. Shen YuXi.'
"Nona, apakah AC-nya terlalu dingin?" Suara Paman Ji memecah keheningan, memecah lamunan Shen YuXi. Dari kaca spion tengah, pria paruh baya itu menatapnya dengan raut cemas. "Wajah Anda sangat pucat."
"Hanya sedikit lelah, Paman," sahutnya lirih.
Mendengar hal tersebut, Jin Tae sang Sopir mengangguk dan tidak lagi berani bicara hanya memastikan mobilnya tetap tenang dan melaju kencang agar mereka bisa sampai tepat waktu sampai kediaman.
Shen YuXi menatap keluar jendela, menatap deretan pertokoan kota yang bergerak mundur dengan cepat. 'Sebenarnya ini kota seperti apa? Rasanya tidak jauh berbeda dengan duniaku dulu? Apa kami masih di tempat yang sama?' tanyanya dalam hati.
Kali dia merogoh sakunya, mencari ponsel lalu segera masuk ke internet mencari sesuatu yang penting atau kemungkinan lain. Dan, akhirnya. Mengejutkan. Dunia ini jelas tampak sama dengan kehidupan lalunya tapi, juga tidak. Tidak semua mirip dan yang paling mengejutkan tidak ada identitas seorang 'Seo Ara' di dunia ini.
Sedan mewah itu berbelok halus, melewati gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis sebelum melintasi jalanan aspal pribadi yang diteduhi pohon-pohon palem tinggi.
Shen YuXi, yang mengerjap takjub. Menelan ludah tak percaya. Di depan sana, sebuah rumah mewah dan penuh dengan luas halaman terhampar di depan mata. Ini bukan seperti kediaman pribadi lagi; tapi, sudah layaknya istana di tambah air mancur bertingkat di halaman depan dan deretan pilar putih yang menjulang megah.
'Demi apa... ini rumah?!'
Jiwa Seo Ara sebagai Mahasiswi miskin meronta gila dalam hati, diantara kegugupan juga kebahagiaan. Jiwanya bergetar, sepertinya dia terlahir kembali sebagai anak konglomerat. 'Terima kasih, Tuhan!! Aku bahagia, aku ingin teriak sekarang. Ahhhh...Aku Kaya!! Uang bukan masalah lagi. Aah, ya? Aku belum lihat isi dompetku'
YuXi segera mengangkat ponselnya kembali memeriksa akun bank nya dan ..." Aaakkh!" hampir saja dirinya menjerit sebelum tangan lain segera membekap mulutnya sendiri. 'Nol ini ... kenapa begitu banyak?'
"Nona Muda? Kita sampai, Anda tidak turun?"
"Ya, ya, tentu saja aku bakal turun! Terima kasih Paman Ji."
Paman Ji menggeleng sambil tersenyum lelah, berpikir sesaat sebelum akhirnya mendapat anggukan kuat. "Ada apa dengan Nona muda hari ini? Selepas pulang sekolah dia tampak berbeda. Apa ada yang merundungnya?? Aku harus lapor Nyonya dan Tuan Besar."
***
"Ck,ck... Masih berani pulang juga, ya??" Cibir, Kang TaeHo yang sedang memegang gelas dan bersandar di dinding. Menghalangi langkah Kang Ji-won.
Mulut Ji-won sendiri cukup berat, sama sekali tidak ingin membalas bahkan, untuk sekedar menyapa saja dia tidak mau tapi, ternyata orang dihadapannya ini yang tidak bisa diam. "Minggir!"
TaeHo menyeringai, mengguncang santai air di dalam gelas. "Apa kau baru menyuruh Tuan Muda ini untuk minggir?? Ternyata, kau memang tidak pernah sadar ... bocah busuk sepertimu kenapa tidak pergi saja," ucapnya sambil menuangkan air itu di atas kepala Jiwon.
Tangan Jiwon terkepal erat, ingin sekali mengirimkan kepalan ini tepat di wajah sombongnya namun, itu hanya angan-angan saja karena akhirnya dia hanya bisa pasrah. Yang akan mendapat kerugian besar melawan 'bebal' di depannya adalah dirinya sendiri.lagi.
Saat ini dia benar-benar bukan siapa-siapa tidak ada uang, koneksi bahkan, keluarga yang bisa melindungi. Kang Jiwon sekarang hanya seorang pemuda miskin yang hanya menumpang, seorang mantan putra sah yang menyedihkan karena semua fasilitas yang dulu pernah dimililiki ditarik kembali hanya menyisakan sudut ruangan kamar di dalam rumah ini.
Ironis sekali. Delapan belas tahun bersama, semua ikatan dan perasaan itu hilang sekejap mata. Seolah tidak pernah ada kata 'tulus' selama ini.
"Sudah?" ucap Ji-won dingin tidak ingin ada konfrontasi lain.
"Kang Ji-won! Kau memang arogan," desis TaeHo penuh benci. Tangannya jatuh di pundak Jiwon sambil meremasnya keras.
"Lihat saja nanti aku pasti bisa mengusirmu dari sini."
"Lakukan saja, kalau kau memang bisa," ujar Jiwon seraya menghempaskan tangan TaeHo dibahunya kemudian, berlalu pergi tanpa mengindahkan peringatan TaeHo.
Memasuki kamar, Jiwon langsung membanting tubuhnya ke atas kasur. Rasa lelah yang teramat sangat menyergapnya, bercampur aduk dengan amarah dan perasaan hina yang terus mencabik d**a. "Kang TaeHo... Ingat saja hari ini."
Dalam keheningan kamar, akhirnya Jiwon mencoba mengatur napasnya yang memburu. Perlahan, ia mengeluarkan ponsel dari saku pakaian. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Ji-won membuka galeri dan menatap satu foto yang sempat ia ambil secara diam-diam sore tadi.
Foto Shen YuXi.
Namun, fokus lensa kameranya sore itu bukan tertuju pada wajah gadis tersebut, melainkan pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di dekatnya.
Jiwon menyentuh layar, lalu memperbesar foto tersebut secara perlahan. Matanya menyipit, meneliti setiap detail gambar yang bisa terlihat. Lagi, ia tidak bisa berhenti, mengingat semua detail dan mengamatinya sampai ... pandangannya tertuju pada pojok kap mobil, gerakan jarinya mendadak terkunci.
Di sana, samar namun pasti, sebuah lambang berbentuk perisai berwarna emas perlahan memenuhi layar ponselnya. Shen Group.
Napas Jiwon tertahan.
"..." Jantungnya berdebar kencang seiring pemikirannya yang mengejutkan. Salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
"Shen YuXi..."
"Sebenarnya...kau siapa?"
Layar ponsel perlahan meredup. Di tengah kamar yang gelap...
Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban.