Part 6 - Sebuah Janji

1263 Words
"Oh, God! hidup di negeri macam apa aku ini?" Thalia tak lepas memainkan ponsel dengan perasaan gelisah. Ia berusaha tenang, menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan berulang kali. "Juriii ...!" Sontak gadis mungil itu berseru saat sosok kurus dengan rambut spyki-nya memasuki pintu mal. "Bagaimana kamu ke sini? apa ada taksi yang mau mengantar? Terus bagaimana kita pulang?" Gadis itu langsung memberondong Jurgen. "Ssssttt ...." Jurgen menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Thalia yang masih ingin mengucap sesuatu. Thalia tergeragap dengan mata membulat sempurna. Tanpa basa basi Jurgen langsung menarik lengan pemilik wajah asia itu, menaiki eskalator. "Ke mana?" "Makan." Terbengong-bengong Thalia mengikuti langkah Jurgen, dengan sigap tangan Jurgen langsung menarik kantong plastik berisi belanjaan di tangan Thalia. "Sini," paksanya, saat Thalia mencegah. "Kamu pikir aku akan membiarkan gadis yang jalan denganku membawa barang?" Kantong plastikpun berpindah tangan. “Ta-tapi itu, kan, hanya cemilan saja isinya. Tidak berat, kok.” “Bisa diam, Nona?” Jurgen menoleh sejenak, memberanikan menatap manik hitam asia itu lebih lama. Mendadak halilintar bergermuruh di dalam d**a bidang itu. Seperti ada kilatan petir yang menyemburkan aliran listrik. Thalia terkesiap, kemudian hanya patuh membuntuti Jurgen sampai tiba di sebuah restoran yang mereka tuju. "Mau makan apa?" Mata cokelat keemasan itu fokus pada buku menu di depannya. Thalia hanya menggeleng. Jurgen kembali menatap mata bulat semi oriental itu. "Aku tak mungkin makan sendirian dan membiarkan orang yang jalan denganku hanya menonton." Intonasi suaranya santai tetapi tegas. Thalia menangkap mata elang itu dengan jelas. Beberapa detik, keduanya hanyut dalam tatapan. “Ehem …!” Tiba-tiba Jurgen berdehem. Sh*it! Thalia mengecam dalam hati karena dikagetkan oleh deheman itu lagi. "Shawarma," tembaknya pura-pura membaca menu. Selain tidak mengerti nama menu makanannya yang ditulis dalam Bahasa Turki, hanya shawarma yang ia tahu. ‘Perutku penuh dengan shawarma hari ini.’ Pramusaji pun berlalu, bersamaan dengan dering panggilan masuk ke ponsel Thalia. Nama Sonny tertera di layar. "Halo, Sonny!" Thalia mengangkat telepon dengan semangat. Air mukanya terasa hangat dengan rona senyuman yang tak bisa disembunyikan. Sepertinya suara nyaring Thalia membuat Jurgen tersentak, tetapi gadis itu pura-pura tak melihat wajah kaget di depannya. "Lia, maaf. Tadi tidak sempat angkat teleponmu. Ada apa?" Terdengar renyah suara dari seberang. "Tidak apa-apa, Son. Sudah ada Juri bersamaku sekarang." Sedetik kemudian Thalia merasa menyesal kenapa harus mengatakan bersama Jurgen. "Oh, ya, syukurlah. Oke then. See, ya." "oke, thanks." Percakapanpun berakhir. Tanpa Thalia sadari ada wajah yang tengah sejurus memandang serius. Tatapan yang sukses membuatnya kaku dan kikuk sendiri. Hening. Detik kemudian sang pramusaji tiba dengan pesanan mereka. "Juri, apa kamu sudah memberitahu Thie, kalau kamu di sini bersamaku?" Thalia mencoba memecah kebisuan. Jurgen mendongak heran, tampak mengernyitkan dahi dan memicingkan mata elangnya. "Hah! Buat apa?" "Minta ijin." Thalia merasa konyol dengan perkataannya. "Selama aku tinggal di Erbil, aku hanya akan minta ijin pada Lewis. Itupun hanya urusan pekerjaan. Untuk apa aku harus minta ijin pada yang lain?" ketusnya. "Ya, sudah. Tidak perlu sinis. Biasa saja," sergah Thalia, mengusir rasa salah tingkah karena pertanyaan konyolnya. "Kalau begitu tidak perlu bertanya hal konyol. satu lagi, jangan terlalu kecentilan pada sonny." Kata-kata Jurgen tajam membidik. "Hah! Ti-tidak, kok. Bu-bukan begitu maksudku." Thalia makin dibuat grogi. Jangan-jangan Jurgen curiga kalau Thalia diam-diam memang mengagumi Sonny. "Sonny is married man, jadi jangan terlalu agresif pada suami orang!" HUAACCIIH ...! Rasa kaget itu tiba-tiba menyumbat hidung gadis yang hampir saja melumat shawarma-nya. Mungkin karena cuaca yang dingin dan penghangat ruangan menerbangkan debu. CRAP ...!! Disadari atau tidak, ada rasa yang mencubit hati gadis itu ketika mengetahui Sonny sudah menikah. Kemudian tanpa basa basi mereka melahap hidangan dan tidak bersuara hingga usai. *** Di sudut pantry Banquet, Sonny mencuri waktu kerjanya. Ia kembali mengeluarkan ponsel dan mengamati nomor Thalia yang baru saja ia hubungi. Ia tersenyum miring saat teringat bahwa saat ini Jurgen bersama gadis itu. Apakah benar yang dikatakan Thiera kalau ternyata Thalia menyukai Jurgen? Sonny mengusap wajahnya dan menepikan perasaan aneh pada gadis Indonesia itu dan berusaha menepikan benih-benih rasa yang mulai tumbuh. Kemudian bergegas kembali meneruskan pekerjaan dan mengemasi kegalauannya. *** "Hey! maaf, ya, kalo pertanyaanku terlalu konyol." Thalia mencoba membuka obrolan saat berada di luar Mall. Jurgen hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus mencari taksi. "Janji, ya, kamu akan bersikap biasa saja pada Sonny?" Tiba-tiba Jurgen membalikkan badan tepat di depan wajah Thalia. "Aku biasa saja, kok." Gadis itu berdalih dan pura-pura cuek. "Tidak! Obviously, kamu tertarik padanya." Sekali lagi Jurgen membidik tajam. Thalia tercengang. Mampus ketauan! "Iya, janji," jawabnya pelan. Seketika Jurgen berhasil menghentikan sebuah taksi dan gegas membukakan pintu untuk mempersilahkan Thalia masuk lebih dulu. "Hebat!" Thalia memuji kepiawaian Jurgen meyakinkan sang Sopir, setelah berada di dalam taksi. "Bagaimana kamu meyakinkan dia?" Gadis itu berbisik penasaran. "Tenanglah, yang penting kita bisa pulang ke vila." Suara itu tetap dingin, ketus, tanpa ekspresi. Thalia mendengus kesal. Mereka hanya terdiam sepanjang perjalanan, menikmati butiran halus berwarna putih yang berjatuhan dari langit sisa badai sore tadi. Beberapa menit kemudian taksi berhenti tepat di samping hotel tempat mereka bekerja. Jarak hotel dari mall yang mereka kunjungi hanya memakan waktu sekitar 10 menit. "Let's go!" Jurgen mengisyaratkan untuk turun setelah membayar taksi. "Kenapa berhenti di sini?" Thalia heran seraya memburu Jurgen yang berjalan jauh di depan. "Kamu pikir akan ada taksi yang mau antar sampe Vila kita jam segini?" Jurgen mendudukkan diri di bangku taman di depan pos penjagaan, dekat pintu gerbang belakang hotel. "Pintar kamu, kenapa tidak terpikir olehku tadi?" si Gadis mengangguk-angguk lantas menyusul Jurgen duduk, seakan lupa tingkah menyebalkan lelaki itu. "Karena memang sudah seharusnya aku datang menyelamatkanmu," sahut si rambut spyki. Tangannya masih betah menenteng kantong belanjaan milik Thalia. Thalia mencoba mencerna apa yang dikatakan Jurgen. Lalu keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati serbuk putih halus yang masih berjatuhan pelan. Tak sadar seseorang keluar dari pos penjagaan dan menghampiri mereka yang tengah serius menghitung butiran salju. "Hai, Guys!" Suara itu menyapa riang. ‘Sonny.’ Thalia berdesis dalam hati. "Hai, Man!" sambut Jurgen. Thalia hanya membalasnya dengan senyum biasa, tak seriang sebelumnya. Ada perasaan canggung, merasa bersalah atau malu sendiri setelah mengetahui status Sonny yang sebenarnya. Namun demikian, Sonny masih tetap ramah dengan pembawaannya yang ceria. Lelaki jangkung berambut hitam plontos itu kembali berdiri, sedikit menjauh dari bangku yang Jurgen dan Thalia duduki. Kemudian menyulut rokok dan menikmati kepulan demi kepulan asap rokonya. "Kamu tidak merokok?" Lagi-lagi Thalia bertanya iseng pada Jurgen. "Kalo aku merokok, aku pasti sudah bergabung dengan Sonny dan membiarkan kamu duduk sendirian di sini." Jawabannya terdengar sarkas. Thalia melengos kesal, tetapi ia membenarkan apa yang dikatakan Jurgen. Tak lama sang Sopir membuka pintu bus yang siap melaju ke arah Vila sesuai jadwal. Thalia meloncat lebih dulu ke dalam karena sudah merasa beku di luar. Ia melihat Sonny menyusul menaiki bus, matanya mengamati apakah Sonny akan duduk di bangku sebelahnya seperti biasa. Namun, langkah lelaki peranakan Perancis – Maroko itu dilanjutkan menuju kursi paling belakang. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Thalia, tetapi ia ingat yang dikatakan Jurgen di mall tadi. Tak lama Jurgen menaiki bus dengan langkah santai dan dia langsung duduk di bangku samping Thalia. hoppaaa! "Thanks, ya, sudah mulai memenuhi janji," ucap Jurgen berbisik dengan sedikit mencondongkan kepalanya hampir menyentuh kepala di sebelahnya. Iris hitam itu membeliak dan entah kekuatan dari mana yang membuatnya berani menatap pupil cokelat keemasan milik jurgen, lekat dan lama. Si jantan tersenyum lebar. Malam ini Thalia melihat senyum terindah yang biasanya tertutup salju tebal. ‘Meskipun aneh dan menyebalkan, tapi malam ini aku harus berterima kasih padanya.’ Thalia balas tersenyum. Lupa jika di bangku belakang seseorang memperhatikan dengan senyum getir. Sonny menyandarkan punggung dan memejamkan mata hingga bus tiba di villa elegant hill. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD