Berakhirnya Sebuah Hubungan
Tangan Julian menggantung di udara saat dia ingin mengetuk pintu apartemen kecil yang ditempati kekasihnya.
“Ooh... Yaah, lebih cepat! Ouch...”
Suara wanita maracau tak jelas terdengar dari balik pintu di depan Julian.
Jantungnya berdegup kencang, bersamaan dengan itu senyum getir tampak di wajahnya yang malam ini terlihat lelah, sebab ia baru pulang kerja.
Plok... Plok... Plok... Plok...
Suara-suara yang seharusnya tak pernah dia dengar, malam ini semua terdengar jelas, perlahan membuatnya melangkah mundur.
‘Aku pergi, dan maaf aku nggak sempat pamit,’ batinnya, dan setelah meletakkan kotak hadiah di rak sepatu dekat pintu, dengan langkah kaki mantap Julian pergi tanpa menoleh.
Seharusnya malam ini menjadi hari bahagianya, dikarenakan tepat malam ini ia akan merayakan 2 tahun sejak dia memiliki seorang kekasih.
Walau sebenarnya Julian sudah sering mendengar kabar perselingkuhan kekasihnya, selama ini ia mencoba percaya pada apa yang dikatakan oleh wanita yang merupakan cinta pertamanya.
Sampai akhirnya malam ini ia mendengar sendiri bagaimana kekasihnya menyerahkan tubuhnya pada pria lain.
Sedih? Tentu saja Julian sedih, apalagi banyak kenangan antara dia dan wanit yang sudah disukainya sejak bertahun-tahun sebelum mereka resmi menjadi kekasih.
“Semua sudah menjadi kenangan, dan sebaiknya aku menerima tawaran kerja yang pernah Paman Frankie tawarkan padaku,” ucap lirih Julian.
Setelah kematian orangtua, Frankie menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa, dan selama ini dia dan keluarganya baik sama Julian.
Sementara itu setengah jam setelah kepergian Julian, Wenda, wanita yang beberapa waktu lalu masih berstatus kekasih Julian, ia keluar dari unit apartemennya hanya dengan pakaian malam.
Pria yang baru saja membuatnya mendesah penuh kepuasan sudah pergi beberapa menit lalu, menyisakan kesepian yang selama ini tak pernah dirasakan wanita itu.
Melihat ponselnya, wanita itu baru sadar kalau Julian malam ini sekalipun belum mengiriminya pesan. “Nggak biasanya dia absen mengirimkan pesan, walau sedang kerja lembur.”
Setaunya malam ini Julian kerja lembur, dan baru akan selesai menjelang pagi.
Semua itu sengaja Julian katakan karena ingin memberi kejutan, tapi justru dia yang dibuat terkejut oleh apa yang didengarnya.
Wenda mencoba menghubungi Julian, tapi ia cepat mengurungkan niatnya, sampai akhirnya pandangannya tertuju pada kotak mirip kotak hadiah yang ditaruh begitu saja di atas rak sepatunya.
Meraih kotak yang dirasanya memang sebuah kota hadiah, Wenda pelan membuka tutup kotak itu, dan terlihatlah sebuah set perhiasan yang beberapa waktu lalu ingin dibelinya, tapi uangnya masih belum cukup, tapi ia sempat mengungkapkan keinginannya itu pada Julian.
Seketika tubuh Wenda menegang, tapi tak lama ia melihat sekeliling, mencoba menemukan keberadaan orang yang membuatnya takut.
Bukan takut karena orang itu memiliki niatan jahat padanya, tapi wanita itu takut orang itu mengetahui segalanya, dan pergi tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasannya.
“Nggak mungkin Julian datang! Dia sedang kerja, ya... dia sedang kerja.”
Wenda mencoba meyakinkan dirinya kalau Julian tidak datang malam ini, tapi kotak kado di tangannya berkata lain, bahkan dia tak lagi bisa menghubungi nomor Julian yang sudah tak aktif.
“Apa ini akhirnya? Hahaha... Ya, ini adalah akhir dari kebodohanku.”
Wanita itu tertawa, tapi air mata mengalir begitu deras dari kedua sudut matanya, membuat penampilannya menjadi begitu kacau.
Dilanda perasaan yang tak menentu, tak sengaja Wenda menjatuhkan kotak hadiah di tangannya, dan saat isi kotak hadiah jatuh berhamburan, ia melihat secarik kertas, ikut berhamburan diantar perhiasan yang kini sama sekali tak diinginkannya.
Cepat memungut secarik kertas yang ternyata berisikan ucapan cinta yang mendalam dari Julian untuknya, juga sebuah alasan kenapa tiba-tiba kekasihnya itu memberikan hadiah padanya.
“Bodoh. Wenda, kau benar-benar wanita bodoh! Seharusnya kau itu sejak awal sadar kalau hanya Julian yang tulus mencintaimu, tapi kau justru menyerahkan segalanya pada pria yang hanya menginginkan tubuhmu!”
Wanita itu mencaci maki dirinya sendiri, merasakan penyesalan dan kehilangan di waktu bersamaan, membuat tubuhnya luruh jatuh terduduk.