Bab 2 — Seruni namanya

1728 Words
Lucky's PoV Aku sudah mencari tahu banyak tentang teman dari kakakku sesama pramugari itu, Seruni namanya. Aku mengambil kesimpulan, jika tak akan bersaing orang ketiga semisal bisa bersama perempuan itu. Perempuan mandiri yang cenderung keras kepala, yang apa pun bisa dilakukan sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Bahkan perihal uang pun, perempuan itu sepertinya tak kekurangan. Kekayaan yang aku miliki, tak akan dipandang olehnya jika itu yang aku andalkan. Bagaimana caranya agar bisa meruntuhkan tembok tinggi yang dibangun perempuan itu? Sungguh, aku sakit kepala sekali memikirkannya. Aku akan berurusan dengan sisi egois dan kerasnya perempuan itu. Dia itu anak pertama dan tinggal bersama kedua adiknya, karena orang tuanya sudah lama meninggal. Mungkin karena itu hidupnya keras, mandiri. Berusia 27 tahun, dia masih betah sendiri? Yang aku dengar dari kakakku, Vania, perempuan bernama Seruni yang setahun lebih tua darinya itu belum ada kepikiran untuk memiliki kekasih. Sepertinya perempuan itu fokus mencari uang saja, karena masih ada tanggung satu adiknya yang masih kuliah. Sedangkan, adiknya yang berusia 2 tahun lebih muda darinya, hanya bekerja di perusahaan swasta biasa. Ya... mungkin saja tak cukup membantu biaya adik mereka satu lagi dan juga kebutuhan sehari-hari. Aku yakin, Seruni lah yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya. Aku membuka aplikasi media sosial. Seperti biasa, mengunjungi akun Seruni yang mana hanya aku yang mengikuti akunnya, dia sendiri tidak mengikutiku balik. Wajar, mungkin memang tidak tahu siapa aku? Walau aku merupakan adik dari temannya, dia sepertinya tidak kepo dengan kehidupan orang lain. Ya mungkin hanya tahu cerita tentang percintaan kakakku saja, tidak dengan anggota keluarga dari kakakku itu. Awalnya, aku tahu perempuan itu dari media sosial milik kakakku. Tak ada yang spesial saat itu, biasa aja. Lama-kelamaan sering melihatnya ada pada unggahan atau story kakakku, hingga membuatku penasaran, lalu mengunjungi akunnya. Dan juga, kakakku pernah mengajaknya ke rumah. Hanya saja, mungkin aku saja yang melihatnya—memperhatikannya. Sedangkan dia hanya berbicara dengan kakak dan juga mamaku. Aku memang tak mendekat ke arah mereka yang sedang mengobrol tersebut. Aku sadar, aku telah menyukai—mengaguminya dalam diam tanpa berani mendekat. Apa lagi sejak tahu dari kakakku jika perempuan yang terlihat ceria itu, cenderung keras kepala dan tak mudah menerima kehadiran lawan jenis dalam hidupnya. Aku memang baru setahunan tahu dan beberapa bulan terakhir ini bertanya langsung kepada kakakku mengenai temannya itu. Dan kakakku menyarankan untuk mencari perempuan lain saja. Bukan karena temannya itu tak baik, hanya saja memintaku mundur karena akan sia-sia saja jika mendekati perempuan itu. Turun tangga hendak makan setelah scroll medsos di kamar, aku melihat kakakku yang tengah duduk bersandar di sofa memakai seragam pramugarinya dengan mata terpejam. Kakakku itu akan menikah, jadi tak lama lagi akan mengundurkan diri dari profesi tersebut. Ketika langkah kakiku mendekat, mata kakakku terbuka perlahan. "Baru pulang?" tanyaku duduk di bagian sofa yang lain, mengurungkan niatku sejenak yang ingin ke arah dapur. "Hmmm." Dia menguap sembari membekap mulutnya. "Udah makan malam belum? Makan bareng gue yuk, sambil ngobrol-ngobrol. Ada yang mau gue tanyain soalnya." Terdengar decakan kecil dari kakakku itu. "Apaan? Masih niat ngejar teman gue? Udah lah, dia itu susah orangnya. Apa lagi lo juga lebih muda dari dia 3 tahun, mana mau dia sama lo." Aku merotasi mataku. "Remehin gue banget lo, Kak. Enggak support sama sekali buat adek sendiri." Kakakku terkekeh. "Gue akan support hal positif apa pun yang elo lakuin, tapi enggak yang gue yakini akan yang sia-sia. Walau gue tahu dia baik dan dekat banget sama gue, tapi gue enggak mau ngedorong elo ke dia. Bukan berarti lo enggak pantas buat dia, tapi karena sampai saat ini gue enggak tahu kriteria laki-laki yang dia inginkan kayak apa. Atau memang dia itu sama sekali belum ada pikiran buat cinta-cintaan." Walau sudah berkali-kali kakakku itu melarang, tetap saja aku masih penasaran akan temannya itu. Bukan sekedar rasa penasaran sampai selama ini, tapi aku benar-benar menginginkannya. Menginginkan sebagai pasangan, menjalin hubungan serius. Sejak terakhir pacaran pada pertengahan kuliah S-1 dulu, aku baru mulai menyukai seseorang lagi. "Pelit banget. Coba kek, tanya sama dia gini, "mau nggak kalau sama adek gue?". Gue kan terjamin masa depannya, walau lebih muda dari dia." Aku saat ini bekerja sebagai staff memang, tapi kan di perusahaan orang tuaku sendiri. Aku mulai masuk ke sini sejak lulus kuliah, memulai dari bawah. Papa ingin aku belajar dari bawah, tidak instant langsung menempati posisi teratas. Sambil bekerja, aku lanjut S-2 sejak tahun kemarin. Bukannya sok percaya diri, aku merasa sanggup untuk bertanggung jawab atas hidup pasanganku. Masa depanku terjamin dan aku juga berani menjamin akan sebuah kesetiaan. "Lo pikir cowok-cowok yang suka sama dia itu spek biasa aja, gitu? Banyak yang mapan dan tampan juga. Tapi, dianya aja yang susah." Kakakku mengibaskan tangannya. "Skip. Cari yang kira-kira bisa lo gapai aja." Aku mendengkus sebal. Kakakku kadang terlihat menyebalkan pada momen tertentu, tapi dia berhati lembut aslinya. Baik lah, aku akan berusaha sendiri, mencari cara bagaimana mendekati perempuan itu. Tak boleh grasak-grusuk sembarangan mendekati perempuan seperti Seruni itu. *** "Run, tunggu!" Aku baru saja keluar dari toilet, tampak seorang lelaki yang memegangi tangan perempuan yang baru saja keluar dari toilet perempuan. Hingga aku pun menghentikan langkah kakiku sejenak. Perempuan itu tak lain adalah Seruni, tapi tentu saja dia tak mengenaliku. Memangnya aku siapa? "Apa lagi sih, Mas? Kita.udah.putus. Tolong jangan ganggu aku lagi." Aku mengernyit. Putus? Apa kah Seruni selama ini memiliki kekasih diam-diam dan baru putus, atau... mungkin lelaki itu adalah mantan kekasihnya yang dulu dan mereka baru bertemu kembali belakangan ini? Setahun belakangan ini mengagumi perempuan itu, aku tak melihat dia dekat dengan lelaki mana pun. Sekilas aku dengar dari kakakku, ada yang mendekatinya di maskapai Daruga tempat mereka berkerja. Akan tetapi, Seruni tak merespon orang tersebut. Begitu kata kata kakakku. Aku kadang bertanya-tanya, apa yang membuatnya begitu menutup diri dari laki-laki yang mendekatinya? Apa benar karena ingin fokus mencari uang untuk adiknya dan memenuhi kebutuhan di rumah? Setahunan ini aku memantau, mencoba memahami perempuan itu sambil mempersiapkan diri untuk mendekat. Yang sampai saat ini, aku belum tahu bagaimana cara memulainya. "Apa kamu nggak menyayangkan hubungan kita yang udah bertahun-tahun, berakhir begitu saja?" Tak segera pergi dari sana, aku pura-pura sibuk dengan ponselku sembari menundukkan kepala dan bersandar ke dinding. Ingin tahu apa yang kedua orang itu dibicarakan. Tentunya penasaran dengan responnya Seruni, dan bagaimana posisi lelaki itu di matanya? Apa Seruni takut dekat dengan seseorang baru karena pernah kisah asmaranya tak berjalan baik sebelumnya? "Apa katamu, Mas?" Terdengar kekehan kecil dari perempuan itu. "Lucu sekali, seharusnya aku yang bertanya begitu sama kamu. Yang bikin ulah itu kamu, yang seharusnya kamu udah mempertimbangkan akibat dari perbuatan kamu. Enggak ada kata khilaf, berkali-kali itu berarti kamu melakukannya secara sadar. Tanpa ada paksaan di sana, yang berarti kamu menyukai apa yang kalian lakukan. Bangkai pasti akan tercium lama-kelamaan, enggak bisa terus disembunyikan." "Sayang... " "Stop panggil aku begitu! Kalau kamu memang sayang sama aku, kamu enggak ngelakuin hal menjijikkan itu. Udah ya, Mas, tolong jangan ganggu aku lagi. Aku sangat ikhlas sampah bertemu dengan sampah. Apa Seruni diselingkuhi? "Run... " "Senang sekarang? Pantas aja tahun lalu pas aku bilang mau publish hubungan kita, kamu melarang. Aku selama ini berusaha memahami keadaan kita, biar enggak menimbulkan omongan-omongan jelek. Setahunan sama dia, ya? Ah, yang benar kamu? Atau sebelumnya, udah ada yang lain juga sebelum dia? Udah berapa orang pramugari yang udah kamu tidurin sebelum ini?" Aku mengerti sekarang. Seruni selama ini memiliki kekasih dan hubungan mereka backstreet, jadi kakakku pun tidak tahu soal itu. Pantas saja, dia mendorong lelaki mana pun yang mendekat. Sekarang, hubungan mereka sudah berakhir. Hmmm... boleh kah aku senang atas kandasnya hubungan mereka tersebut? Sudut bibirku terangkat, lalu menggeleng. Bisa-bisanya aku senang atas kandasnya hubungan orang. Yang pastinya perempuan itu pasti sedih di dalam hatinya, hanya saja amarah yang keluar dan mungkin juga tak ingin menunjukkan kesedihannya. Perempuan berzodiak capricorn itu, sepertinya paling bisa menyembunyikan kesedihannya. Tampak kuat di luar, siapa yang tahu isi di dalamnya? "Enggak ada begitu aku begitu." "Yayaya... penjahat mana ada yang mau mengaku. Bisa penuh penjara semuanya." "Dengerin aku dulu, Run." "Lepasin, Mas." Suara Seruni terdengar begitu berdesis dingin, membuatku mengangkat kepala seketika. Terlihat lelaki tersebut melepaskan cekalan tangannya pada Seruni. Dia menatap lurus pada Seruni yang tampak tak mau menatapnya balik. "Banyak yang harus kita omongin. Ada hal yang mau aku jelasin, kenapa aku bisa begitu. Kamu yang terlalu mandiri, keras kepala seolah kadang enggak butuh aku. Enggak ada manja-manjanya sama aku. Kamu it— " "Enggak ada pembenaran apa pun untuk sebuah perselingkuhan. Kalau ingin sama dia, kenapa enggak akhiri dulu sama aku? Walau dia adalah temanku juga, aku pasti akan ikhlasin hubungan kalian. Cukup, Mas, jangan temui aku lagi. Semisal enggak sengaja ngeliat aku dibandara atau kita satu penerbangan, tolong kayak biasa aja. Atau, anggap kita enggak pernah ada hubungan apa pun sebelumnya." "Tapi, aku... " "Pergi!! Aku enggak mau dengar penjelasan apa pun dari kamu yang akan bikin aku semakin muak." "Baik lah, aku akan pergi. Tapi, jujur, aku sangat menyesal dengan kebodohanku. Aku janji akan berubah menjadi lebih baik ke depannya, dan semoga saat ini kamu mau memaafkan aku." Seruni membuang pandangan ke arah lain, ke sisi kiri. Tidak ke arahku yang berada tak jauh dari mereka di sebelah kanan. Setelah lelaki itu pergi, Seruni merosot dengan posisi berjongkok. Ingin menghampiri, tapi aku takut dia tak nyaman. Dia tak mengenalku, jadi aku ini adalah orang asing baginya. Aku hanya bisa diam memperhatikan, hingga perempuan itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lalu, menempelkan ke dekat telinganya. "Hallo, Van? Lo lagi di rumah nggak?" ".......... " "Boleh gue main ke sana nggak? Atau, lo mau temenin gue nonton?" ".......... " "Enggak apa-apa. Lagi sedih aja, tiba-tiba ingat orang tua gue." Aku menatap prihatin perempuan itu. Dia berbohong kepada orang yang diteleponnya, yang mungkin saja itu adalah kakakku. Mendengar dia menyebut nama 'Van'. ".......... " "Beneran bisa? Calon suami lo lagi ada jadwal terbang, ya?" Benar, dia sedang menghubungi kakakku, karena dia bertanya tentang calon suami. Dan dari apa yang dia kataku pada kakakku dan pembicaraannya dengan mantan kekasihnya itu, sepertinya kakakku memang tak tahu apa pun mengenai kisah asmaranya Seruni ini. Seruni sepertinya terlalu tertutup dengan siapa pun perihal hubungan asmaranya, sekali pun teman dekatnya sendiri. ".......... " "Ya udah, gue tunggu, ya! Kabarin gue aja." Setelah menurunkan ponselnya dari dekat telinga, dia terlihat mengusap matanya. Dia menangis dalam diam. Dan aku hanya bisa memperhatikan, walau rasanya ingin sekali menghapus air mata tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD