Bab 1 Masa Lalu Xio-bun
MALAM BERDARAH
Hujan membasahi jalanan kota, lampu neon memantul di genangan air seperti darah yang tak pernah kering. Xio-Bun berdiri di balkon lantai atas gedung tua, menatap kota yang tak pernah tidur. Suara sirine jauh dan desah angin malam hanya menambah kesunyian yang telah lama ia kenal.
Malam itu, ingatannya kembali ke malam berdarah yang merenggut segalanya—keluarganya, rumahnya, dan segala rasa aman yang pernah ia miliki. Suara teriakan, kaca pecah, dan aroma darah masih menempel di ingatan. Sejak saat itu, ia belajar satu hal: dunia ini tidak adil, dan mereka yang lemah hanyalah santapan bagi yang kuat.
Sejak malam itu, Xio-Bun hidup untuk satu tujuan: balas dendam. Tidak ada cinta, tidak ada belas kasihan—hanya strategi, pengamatan, dan kesabaran yang dingin. Ia membangun reputasi dari sisa-sisa reruntuhan keluarganya, menaklukkan dunia mafia yang dulu menertawakannya. Setiap keputusan, setiap langkah, diperhitungkan dengan presisi, seperti bidak catur yang bergerak sesuai rencana.
Namun, bahkan pengendalian penuh tidak menghapus rasa sepi dan dingin yang merayap di tulang-tulangnya. Sesekali, bayangan dari kegelapan kota menangkap pandangannya—sosok tak dikenal yang mengamati dari jauh, diam, misterius. Ada sesuatu yang membekas di udara, seperti ancaman yang menunggu untuk menyentuhnya.
Xio-Bun menarik napas panjang, menelan hujan dan kegelapan kota. Ia tahu, jalan yang ia pilih adalah jalan berduri, penuh darah dan pengkhianatan. Dan ia siap menapakinya—sendirian, dingin, dan tanpa ampun.
TANGAN TAK TERLIHAT
Xio-Bun menuruni tangga besi menuju markas yang tersembunyi di lorong-lorong kota. Lampu remang menerangi dinding bata tua, menimbulkan bayangan panjang yang menari di sekelilingnya. Setiap langkahnya terukur, penuh kesadaran—tidak ada ruang untuk kesalahan. Di dunia yang dibangun dari darah dan pengkhianatan, ketelitian adalah satu-satunya teman yang bisa dipercaya.
Begitu ia memasuki ruang utama markas, aroma asap rokok dan parfum mahal memenuhi udara. Beberapa anggota mafia menoleh, hormat, tapi tak ada yang terlalu dekat; Xio-Bun bukan tipe yang mencari teman, hanya kepatuhan. Ia berjalan di antara meja-meja yang dipenuhi peta kota, laporan intel, dan beberapa senjata yang tersusun rapi. Pandangannya menyapu satu per satu, menandai siapa yang bisa dipercaya, siapa yang berpotensi menjadi batu sandungan.
Ia membuka salah satu laci, mengambil sebuah foto lama—keluarganya sebelum tragedi. Sekali lagi, rasa kehilangan itu menyergap d**a, tapi ia menekannya jauh ke dalam. Emosi tak boleh menguasai strategi. Setiap rencana balas dendam harus bersih, tanpa noda kesalahan manusiawi. Ia menutup laci, matanya tertuju pada layar monitor kecil yang menampilkan kamera pengawas di kota. Sosok manusia yang ia kenal tak pernah muncul di sini, tapi bayangan yang mengamati dari kejauhan? Itu yang menarik perhatiannya. Bayangan itu tidak pernah salah menilai situasi, selalu muncul di tempat yang ia tidak duga.
Tiba-tiba, suara langkah di belakangnya. Ia menoleh, mata tajam menatap salah satu anak buahnya. “Laporan terbaru?” suaranya rendah, dingin.
Anak buah itu mengangguk, menyerahkan beberapa amplop tebal. “Misi kecil, Bos. Sepertinya ada gangguan di distrik utara… beberapa rival mencoba mengambil alih jalur distribusi.”
Xio-Bun mengangguk perlahan. Tanpa banyak bicara, ia membuka amplop itu. Peta distrik, beberapa foto orang yang menjadi target, dan catatan-catatan singkat tentang rencana mereka. Sebuah senyum tipis muncul—tidak ada emosi, hanya kepuasan atas tantangan yang menunggu. Ia menyadari ini bukan sekadar gangguan kecil; ada tangan yang lebih besar bermain di balik layar, sesuatu yang terkoordinasi dengan presisi luar biasa.
Ia menaruh amplop, melangkah ke jendela besar yang menghadap kota. Hujan turun semakin deras, lampu neon memantul di permukaan jalan basah. Pikiran Xio-Bun bekerja cepat. Setiap gerakan musuh, setiap pola yang muncul—semua seperti bidak catur yang harus ia prediksi. Dan ia tahu, musuh itu bukan sekadar rival mafia biasa. Ada sesuatu—seseorang—yang menunggu untuk menguji batasnya, menarik benang dari bayangan, mengatur skenario untuk membuatnya tersandung.
Bayangan itu, yang kelak akan dikenal sebagai Shadow, tampaknya selalu dua langkah di depan. Tapi Xio-Bun sudah terbiasa menantang takdir. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan rasa dingin menyelimuti seluruh tubuh. Semua emosi yang tersisa di masa lalu telah ia kunci rapat; sekarang hanya ada strategi, perhitungan, dan tekad yang membara.
Setelah beberapa saat, ia berbalik, menatap anak buahnya. “Siapkan tim. Kita bergerak malam ini. Tidak ada yang boleh salah.”
Suaranya menembus ruang besar, tegas dan mengikat. Mereka semua mengangguk, tahu bahwa kesalahan sedikit pun akan berakibat fatal.
Sebelum meninggalkan ruangan, Xio-Bun menatap kembali monitor kecil di pojok. Sekilas bayangan yang ia curigai muncul di layar—tetap samar, tak jelas bentuknya, tapi cukup untuk menandai kehadiran pengawas yang mengintai. Ia tidak tersenyum, tidak cemas; hanya pengakuan dalam hati bahwa permainan ini baru dimulai.
Di lorong sempit markas, ia memeriksa senjatanya, memastikan setiap peluru, setiap alat komunikasi berada pada posisi sempurna. Ada ritual dalam persiapan ini; ketelitian adalah bentuk pengendalian diri. Ia menyadari, bahwa setiap langkah yang ia ambil malam ini akan menimbulkan reaksi yang tak bisa ia kendalikan sepenuhnya, tapi ia sudah siap.
Langkah-langkahnya membawa tim ke mobil hitam yang menunggu di gang tersembunyi. Hujan deras memukul kap mobil, membuat lampu kota yang memantul di genangan air terlihat seperti permata berwarna gelap. Xio-Bun duduk di kursi belakang, tatapan kosong menembus hujan, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Setiap detik berharga, setiap keputusan harus sempurna.
Dan di atas gedung tinggi, tersembunyi di bayangan hujan dan lampu neon, sosok misterius itu mengamati. Tidak ada yang tahu siapa ia, tapi Xio-Bun merasa kehadirannya. Bayangan itu tersenyum tipis dalam gelap, sebuah permainan baru telah dimulai. Dan Xio-Bun, seperti biasa, siap untuk menanggapinya.
BAYANGAN PERTAMA
Hujan masih mengguyur deras, memukul kap mobil hitam yang membawa Xio-Bun dan timnya melintasi gang sempit kota. Lampu neon memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding bata tua. Setiap detik terasa seperti detik terakhir, dan Xio-Bun menyadari itu bukan hanya hiperbola; ancaman selalu ada, dan malam ini, ia merasakannya lebih dekat dari sebelumnya.
Ia menatap ke luar jendela, menimbang setiap kemungkinan. Distrik utara tampak tenang, terlalu tenang—tanda pertama bahwa sesuatu tidak beres. Napasnya tenang, tangan tetap dingin saat menggenggam pegangan di sisi kursi. Ia tidak akan panik, tidak pernah. Tetapi nalurinya mengatakan bahwa bayangan itu, sosok yang mengintai dari jauh, sedang memutar roda permainan dengan presisi mengerikan.
Mobil berhenti di persimpangan sepi, timnya menunggu instruksi. Xio-Bun membuka amplop berisi peta target, memeriksa ulang setiap titik. Namun sesuatu menarik pandangannya—sebuah sosok samar di atap gedung seberang. Sekilas, hanya siluet hitam yang tersamarkan oleh hujan. Tidak ada wajah, tidak ada identitas, tapi aura itu—ya, itu cukup untuk membuat siapa pun sadar bahwa mereka sedang diawasi.
Ia menatap lama, menimbang gerakan lawan. Dalam benaknya, strategi sudah terbentuk: jika sosok itu benar-benar Shadow, maka setiap langkah yang mereka ambil harus sempurna, karena satu kesalahan bisa menjadi fatal.
“Bos, apa yang harus kita lakukan?” suara rendah anak buahnya memecah fokusnya.
Xio-Bun tetap diam, menahan diri dari reaksi berlebihan. Tatapan matanya tidak lepas dari sosok di atap. “Kita jalan,” jawabnya akhirnya, nada dingin tapi pasti. “Tetap waspada. Ini baru permulaan.”
Mobil meluncur lagi, meninggalkan bayangan samar itu, tapi rasa ketegangan tidak hilang. Hujan, lampu neon, dan suara kota menjadi saksi bisu pergerakan mereka. Di lorong sempit, detik demi detik terasa berat, seolah kota itu sendiri menahan napas, menunggu ledakan yang akan terjadi.
Dan kemudian, tanpa peringatan, suara logam beradu terdengar dari belakang—sebuah jebakan. Mobil Xio-Bun tiba-tiba dihentikan oleh kendaraan yang muncul dari sisi gelap. Dari bayangan, beberapa sosok bersenjata melompat, mengepung mereka. Xio-Bun menahan napas, tangannya menggeser pistol ke posisi siap, mata tetap dingin menatap lawan.
Sementara itu, di atas gedung, sosok misterius itu tersenyum samar, hujan membasahi wajah yang tetap tak terlihat. Shadow telah mengatur semuanya dengan sempurna, dan malam ini hanya salah satu langkah kecil dari permainan besar yang telah lama dirancang.
Xio-Bun mengangkat dagu, menatap ke depan, napas tetap terukur. Ia tahu satu hal: ini baru permulaan, dan Shadow sedang menunggu untuk melihat apakah dia cukup licik untuk bertahan.