BAB 2

1913 Words
Sudah satu bulan Dea menyandang gelar sebagai istri dari Arjun Mahendra. Rumah tangga mereka tampak sangat tenang dipermukaan tanpa ada yang tahu badai apa yang tertutup dibalik sampul tenang itu. Pagi ini seperti biasa Dea menyiapkan sarapan yang dibantu oleh bi Asih, asisten rumah tangga yang dipekerjakan Arjun di rumah mereka. Meski memiliki asisten rumah tangga, Dea tidak segan untuk memasak sendiri makanan dirumah mereka. Bukan tanpa sebab, karena Dea sudah terbiasa mandiri sejak masa sekolah. Sarapan sudah terhidang di atas meja makan yang semuanya terlihat sangat mengguggah selera. Tak berapa lama, Arjun turun dari lantai atas menuju ke meja makan. Setelah Arjun duduk di kursi, dengan sigap Dea mengisi piring Arjun dengan nasi, sayur dan lauk kemudian meletakkan piring itu di depan Arjun. Tak lupa juga Dea mengisi air putih ke dalam gelas dan mengangsurkannya ke dekat Arjun. Setelahnya Dea mengisi piringnya sendiri dengan nasi, sayur dan lauk. Kemudian duduk di kursi tepat di seberang Arjun. “Apa kau tidak lelah selalu berlagak seperti istri yang sesungguhnya?” Tanya Arjun dingin sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya. Senyum tipis tersungging di wajah Dea. Tapi sorot matanya menampakkan rasa sakit yang baru saja menggores hatinya. “Setidaknya ada hal berguna yang bisa kulakukan di sini.” Balasnya tenang. Arjun hanya mendengus pelan mendengar jawaban Dea. Setelahnya tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Keduanya sibuk dengan sarapan mereka masing-masing hingga piring mereka kosong. Arjun meletakkan sendoknya di atas piring. Menatap dingin ke arah Dea yang berada di depannya. “Jangan pernah berpikir aku akan menyukaimu meski kau melakukan hal yang notabenenya adalah tugas seorang istri.” Ucap Arjun dingin. “Dan satu hal lagi aku tekankan. Jangan pernah menaruh perasaan padaku. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah menerimamu sebagai istriku.” Kata-kata Arjun tajam seperti mata pisau yang tepat menghunus ke dalam hati Dea. Senyum getir menghias wajah Dea. Senyum yang tak pernah sampai ke matanya. “Tenang saja. Aku sangat paham akan hal itu. Kau tak perlu khawatir.” Mendengar jawaban Dea, Arjun menatap sinis kea rah Dea yang juga sedang menatapnya datar. Setelahnya Arjun meninggalkan ruang makan untuk berangkat ke kantor, menyisakan sedikit ketegangan yang menggantung di ruangan itu. Dea hanya memandang punggung tegap orang yang berstatus suaminya itu hingga menghilang di balik pintu. Helaan napas berat lolos begitu saja dari mulutnya. Meskipun ia sudah berusaha keras untuk menutupinya, tapi sosrot mata itu tetap saja menyiratkan sebuah kekecewaan dan rasa sedih. “Sebenarnya kehidupan pernikahan macam apa yang kujalani ini?” Gumamnya pelan. Deapun beranjak dari kursinya untuk membereskan meja makan dan mencuci piring kotor di washtafel. Dan setelahnya ia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke tokonya. Ya, semenjak menikah, Dea berinisiatif untuk membuka sebuah toko bunga miliknya sendiri. Karena ia sadar bahwa pernikahan yang ia jalani bukan seperti pernikahan pada umumnya. Jadi ia ingin mandiri dan memliki penghasilan sendiri. Ia tak mau menjadi beban dan dianggap sebagai benalu di kehidupan Arjun. Mengingat sikap Arjun yang tak menyukainya bahkan sudah bisa dipastikan jika pria itu membencinya. Modal usaha yang ia gunakan pun tentu saja uangnya sendiri. Selama kuliah, Dea menabung sebagian besar uang saku yang diberi oleh orang tua angkatya. Ia harus berhemat dan tak ingin menghamburkan uang tersebut untuk hal yang tak penting. Dea menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Hari ini ia memakai kemeja berwarna putih dan dipadukan dengan celana dasar berwarna biru tua. Dea juga memakai riasan tipis dengan bibir berwarna merah muda. Senyum puas merekah di bibir ranum Dea, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sebagai sentuhan terakhir, Dea menyemprotkan parfum dengan aroma vanilla yang manis. Setelahnya ia mengambil tas, ponsel dan kunci mobil dan segera bergegas berangkat ke toko miliknya. Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, Dea telah sampai di depan sebuah bangunan yang tampak asri dan segar dengan beberapa tanaman hijau dan warna-warni bunga yang ditanam dalam pot, menghiasi bagian depan toko. Dea mematikan mesin mobil kemudian turun. Aroma dari beberapa bunga yang ia tanam di depan tokonya menguar, seperti menyambut kedatangannya. Senyum manis tersungging di wajah ayunya. Setelah itu ia melangkah masuk ke dalam tokonya. Toko bunga yang ia bangun setelah menikah dengan Arjun cukup berkembang pesat. Walau baru buka beberapa bulan, tapi toko Bunga yang di beri nama “Lumiere Bloom” ini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Tiap harinya toko milik Dea ini menerima pesanan bouqet bunga untuk acara besar ataupun untuk ucapan selamat dan duka cita. Hal ini tidak terlepas dari cara pengelolaan Dea yang bisa dibilang sangat bagus dan profesional. Selain itu, Dea juga terkenal sebagai sosok ramah kepada pelanggannya. Sehinga ia sangat disukai oleh para pelanggannnya. “Pagi, kak.” Sapa salah satu karyawan yang membantu Dea dalam menjalankan bisnisnya ini. Ya, selama sebulan terakhir ini Dea sedikit dibuat kewalahan dengan pesanan bunga dari para pelanggan setiap harinya. Hingga ia memutuskan untuk menambah karyawannya menjadi dua orang agar pekerjaannnya lebih ringan. “Pagi juga, Ana. Bagaimana pagi ini?” Tanya Dea setelah melihat kedua karyawannya ini tengah berkutat dengan beberapa tangkai bunga di atas meja. “Ada pesanan 5 bouqet bunga dari pelanggan, kak.” Jawab Resti, pegawai Dea yang lain. “Baiklah. Selamat bekerja, ya. Kakak mau masuk ke ruangan dulu.” Balas Dea. “Siap, kak.” Jawab Resti denagn senyum lebar. Melihat semangat dua karyawannya itu membuat Dea menggelengkan kepala dan kemudian berlalu masuk dalam ruang kerjanya untuk memeriksa e-mail dari para pelanggan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Dea merenggangkan badan untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku karena terus duduk sejak pagi. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya dan menghembuskan napas panjang. “Akhirnya bisa istirahat juga.” Gumamnya. “Enaknya makan apa, ya, siang ini?” lanjutnya sambil membuka ponsel untuk melihat beberapa restoran atau kafe dekat sini yang mungkin bisa menarik minatnya. Setelah beberapa saat mengutak-atik ponselnya, senyum tipis dan mata berbinar menghias wajah manis Dea. Setelah itu, ia menyambar tas dan kunci mobilnya di atas meja kemudian bergegas keluar dari ruang kerjanya. “Kalian mau ikut kakak makan siang di luar?” Tanya Dea saat ia telah sampai di depan meja counter. “Maaf kak, sepertinya tidak dulu. Kita tadi sudah pesan makan. Mungkin 10 menitan lagi sampai.” Jawab Ana yang langsung diangguki oleh Resti. “Yah… padahal kakak mau ajak kalian makan ke kafe yang baru buka di ujung jalan sana.” Ucap Dea dengan nada yang dibuat-buat sedih dan wajah sedikit cemberut. Ayu dan Resti hanya tertawa geli melihat wajah bosnya yang pura-pura sedang merajuk. “Tenang saja kak, lain kali kami tidak akan menolak kalau di ajak kakak makan siang di luar lagi.” Ucap Ayu dengan kekehan kecil. “Ya sudah kalau begitu kakak pergi dulu, ya. Kalian hati-hati di sini.” Ucap Dea sambil berlalu keluar dari tokonya. “Hati-hati juga, kak.” Teriak Resti dengan suara cemprengnya. Dea berkendera sekitar 10 menit untuk sampai ke kafe baru yang ia sebutkan tadi. Setelah memasuki area kafe, Dea memarkirkan mobilnya dan kemudian berjalan masuk ke dalam kafe. Desain kafe itu terlihat sangat estetik dan vibesnya membuat pengunjung merasa nyaman. Banyak hiasan dinding berupa lukisan abstrak yang terpajang didalm kafe itu. Suara musik mengalun pelan menambah suasana nyaman untuk para pengunjung yang datang ke kafe itu. Dea memilih untuk duduk di meja pojok dekat dengan jendela. Ia melihat buku menu untuk memilih menu makan siangnya ini. Setelah menemukan menu yang ia inginkan, ia pun memanggil seorang pelayan untuk memesan makanannya itu. Sambil menunggu pesanannya datang, Dea mengamati bagian dalam kafe yang lumayan ramai. Banyak anak muda yang datang ke kafe itu untuk bersantai. Setelah beberapa saat pesanan Dea pun datang. Dengan binar mata bahagia dan senyum tipis, gadis itu menikmati makanannya dengan tenang. Ketika sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Dea. “Ini Dea, kan?” Tanya orang itu. Dea mengangkat kepalanya dan menatap sosok pria yang sedang berdiri di dekat mejanya dengan senyum ramah. Dea mengerutkan keningnya merasa asing dengan pria itu. “Ini aku, Ezra. Anak manajemen.” Ucapnya masih dengan senyum lebar. Melihat Dea yang masih bengong berusaha mengingat-ingat. Pria yang mengatakan bahwa namanya Ezra itu duduk di seberang Dea. Wajah Dea tampak terkejut saat ia mulai mengingat sosok pria yang duduk di depannya itu. “Ezra anak manajemen yang pakai kacamata itu?” Tanya Dea untuk meyakinkan. “iya. Aku Ezra yang pakai kacamata tebal itu. Sekarang sudah ingat aku, kan?” Tanya Ezra diselingi kekehan pelan. “Wah… sekarang penampilanmu sangat berubah. Aku pangling sampai tak mengenalimu tadi. Maafkan aku, ya.” Ucap Dea dengan nada menyesal. “Tak masalah. Wajar kau tak mengigatku. Dulukan aku pakai kacamata. Sekarang kacamata itu telah ku tanggalkan.” Jelas Ezra. “Kau operasi lasik? Wah… penampilanmu sungguh keren sekarang. Gaya ini cocok untukmu.” Ucap Dea riang. Sungguh dea merasa senang bisa bertemu dengan teman lama yang dulu memang sangat akrab pas zaman kuliah. “Sekarang kau kerja dimana, Zra?” “Ah. Aku sekarang bekerja di sebuah perusahaan tak jauh dari sini. Kau sendiri?” “Aku membuka toko bunga tak jauh dari sini juga.” “Kapan-kapan aku boleh mampir ke tokomu, kan?” Tanya Ezra. “Tentu saja. Kau bisa mampir ke sana kapanpun kau sempat.” Jawab Dea riang. Merekapun membicarakan banyak hal. Bertukar cerita juga mengingat kembali masa-masa kuliah mereka. Dea dan Ezra tampak sangat menikmati pertemuan mereka. Itu terlihat dari tawa yang menyelingi setiap obrolan mereka. Sedangkan di ujung jalan yang tak jauh kafe. Ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Karena posisi meja Dea dan Ezra tepat dipingir jendela yang otomatis akan terlihat dari luar kafe. Sosok itu mendengus pelan, kemudian meminta sang penemudi untuk melajukan mobilnya meninggalkan kafe itu. “Ternyata dia sangat menikmati makan siangnya.” Gumam sosok itu sinis. “Kau cemburu?” Tanya sosok pria yang duduk di kursi kemudi. Senyum mengejek terlihat jelas di wajahnya. Sedangkan pria yang duduk di kursi belakang hanya menatap tajam pada pria di depannya melalui kaca spion tengah. Thomas terkekeh gemas melihat sahabatnya itu. “Santai, bro. kau bilang kalau kau tak menyukainya. Jadi jangan memasang tampang seperti orang cemburu seperti itu.” Ledek Thomas dengan nada jahilnya. “Siapa bilang aku cemburu? Aku biasa saja. Terserah dia kalau mau dekat dengan pria manapun. Asalkan tahu tempat dan tidak merugikanku.” Jawab Arjun ketus. Thomas semakin terkekeh geli mendengar jawaban Arjun yang terdengar seperti orang yang benar-benar sedang cemburu. Hal itu membuat Arjun semakin melotot tajam kea rah Thomas yang sedang mengemudi. “Sudahlah. Jangan menggangguku lagi. Atau aku akan memotong gajimu.” Ancam Arjun yang sukses membuat Thomas langsung terdiam. “Yah… jangan begitu dong. Kau terlalu kaku sekali. Dan ancamanmu itu sangat buruk. Kalau kau potong gajiku, terus kapan aku bisa menikahi pacarku.” Ucap Thomas memelas. “Bukan urusanku.” Jawab Arjun ketus, kemudian memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. “Oke. Hari ini aku tak akan mengganggumu lagi.” Ucap Thomas dengan kekehan pelan, masih berusaha menggoda sahabat sekaligus bosnya itu. “Sudah. Fokus menyetir saja. Jangan sampai kupukul kepalamu nanti. Ancam Arjun dengan wajah merah. Hal itu semakin membuat Thomas tertawa renyah sambil menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan sikap pria yang sedang duduk cemberut di kursi belakangnya ini. Mobil hitam yang dikemudikan Thomas terus melaju membelah jalanan aspal kembali ke perusahaan setelah tadi melakukan pertemuan dengan klien dan dilanjutkan makan siang bersama. Pertemuan tak sengaja antara Dea dan Ezra sedikit mengusik sudut hati Arjun. Ada setitik kemarahan yang mengusik hatinya. Itulah kenapa Arjun semakin tidak menyukai Dea... itu menurutnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD