bc

Pernikahan Kontrak Sang Direktur

book_age18+
30
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
family
brave
heir/heiress
bxg
city
office/work place
lies
substitute
like
intro-logo
Blurb

PROLOG

Kehidupan yang pada awalnya sangat nyaman, mendadak berubah menjadi menyesakkan setelah pertemuan yang terjadi karena keterpaksaan. Dari titik itulah semuanya berubah. Banyak luka dan kesedihan yang terjadi dan terpaksa dibungus dalam sebuah balutan senyum yang menipu.Rasa sesak yang ditahan selama bertahun-tahun pada akhirnya berakumulasi menjadi sebuah keputusasaan sebagai perlindungan diri. Sifat lembut yang pada awalnya selalu dianggap sepele, kini telah hilang bagai ditelan bumi. Yang tersisa hanya sebuah kekosongan dan rasa dingin yang sepertinya tak berujung.Dea Anastasya dan Arjun Mahendra. Mereka bersatu bukan karena rasa cinta. Melainkan karena sebuah keterpaksaan, yang mengikat mereka dalam hubungan penuh luka. Dan ini… adalah harga dari sebuah kontrak yang telah mereka buat.***

chap-preview
Free preview
Bab 1
Seorang gadis muda tengah duduk di tepi ranjang di sebuah kamar hotel yang tampak mewah. Gaun putih gading yang ia kenakan sejak siang tadi masih melekat di badan mungilnya. Ia menatap pendar cahaya lampu kota yang membentang luas di bawah sana melalui kaca jendela besar yang berada tepat di depannya. Satu helaan napas panjang lolos begitu saja. Senyum getir terbit pada wajah ayu yang terlihat lesu. Sorot mata yang tampak lelah karena seharian ini menyambut tamu di acara pernikahannya. Ya, gadis mungil nan ayu ini baru saja menikah. Bukannya merasa bahagia karena baru saja melangsungkan pernikahan, hatinya malah terasa sangat sesak dan perih. Bagaimana tidak? Karena pernikahan ini terjadi bukan karena keinginannya. Dan bukan juga pernikahan yang berlandaskan cinta. Pernikahan yang terpaksa ia setujui demi membalas budi pada keluarga yang selama ini telah menolongnya. Ceklek! Suara pintu kamar terbuka. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih yang lengannya sudah tergulung sampai siku masuk ke dalam kamar, membuat lamunan Dea, gadis mungil tadi, berakhir. Atmosfir di dalam kamar mendadak berubah menjadi sedikit tegang dan berat. Arjun, pria tampan yang baru saja masuk ke dalam kamar menghempaskan jas yang tadi ia sampirkan di lengannya ke atas tempat tidur dengan kasar. “Kamu tidurlah di sofa sudut itu. Aku tidak sudi kalau harus tidur satu kasur denganmu.” Ucapnya tanpa melihat ke arah Dea. Dea meremas gaunnya kuat untuk menahan rasa sakit yang menusuk hatinya. “Iya.” Jawab Dea pelan. Meski hatinya terasa perih, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain menerima ini semua. Karena ia juga setuju dengan pernikahan ini meski dengan terpaksa. Tanpa memikirkan perasaan Dea, Arjun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan juga untuk mendinginkan kepalanya yang selalu saja emosi saat berhadapan dengan gadis yang baru saja sah menjadi istrinya. Dea menghembuskan napas panjang untuk menetralkan rasa nyeri yang menyerang hatinya. Malam pertama bagi pengantin baru biasanya adalah malam hangat yang sangat ditunggu-tunngu kebanyakan pasangan pengantin baru. Tapi ini tidak berlaku bagi Dea dan Arjun. Perlahan gadis ayu itu beranjak dari kasur king size yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuknya beristirahat. Tapi bagi Dea, kasur itu tak lebih dari sebuah barang mewah dan mahal yang tak seharusnya ia tempati dan ia merasa tidak pantas berada disana untuk menempatinya. Dengan gerakan perlahan, Dea membuka kopernya yang berada di pojok kamar. Ia mengambil baju tidur berbahan katun yang akan dipakainya untuk beristirahat. Sambil menunggu Arjun selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Dea membersihkan sisa make-up nya. Ia menatap lekat pantulan wajahnya di depan cermin. Wajahnya terlihat lelah dengan kantung mata yang terlihat menghitam. “Selamat, Dea. Pintu nerakamu sudah terbuka lebar sekarang.” Gumamnya pelan, senyum getir tersungging di sudut bibirnya. Setelah beberapa saat pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Arjun yang keluar dari dalam kamar mandi menggunakan bathrobe warna coklat dengan tangannya yang sedang sibuk mengusap rambut basahnya menggunakan handuk kecil. Dada Dea sedikit berdesir ketika melihat pantulan Arjun dari kaca meja rias. Ada perasaan asing yang menyusup ke dalam d**a gadis ayu itu. Tak bisa dipungkiri jika lelaki yang kini sudah berstatus menjadi suaminya itu terlihat sangat tampan. Ditambah dengan rambut basah dan tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya menambah kesan tampan dan seksi secara bersamaan. Wajah Dea mendadak memanas. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya. “Aku mandi dulu.” Ucapnya. Kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi sebelum Arjun melihat wajahnya yang sedikit memerah. Arjun hanya melirik kepergian Dea dengan ekor matanya. Pria tampan itu hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli. Setelah selesai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, Arjunpun merebahkan badannya ke atas ranjang, mengistirahatkan badannya yang terasa sangat lelah karena kegiatan hari ini. Sedangkan di dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu dan menguncinya dari dalam, Dea menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Tangannya meraba d**a, tempat dimana organ yang bertugas memompa darah tersebut tengah berpacu begitu cepat. “Aku kenapa, sih?” gumamnya pelan. Dea beberapa kali mengambil napas panjang dan menghembuskannya. Berusaha untuk menenangkan detak jantungnya yang sedang berdegup lebih kencang dari biasanya. Dea menggelengkan kepalanya keras. Berusaha mengusir pikiran-pikiran liar yang kini tengah memenuhi isi kepalanya. Tangannya mengacak rambut frustasi. Kemudian berjalan ke arah bathup untuk merilekskan badan dan pikirnnya. Ya, ia merasa dengan berendam dengan air hangat akan membuat badannya lebih rileks dan pikirannya akan menjadi normal kembali. Sekitar tiga puluh menit berada di kamar mandi, Dea pun keluar dengan memakai baju tidur katun yang sudah disiapkannya tadi. Suasana dalam kamar sudah hening. Lampu kamar juga sudah dimatikan, menyisakan lampu tidur redup berwarna kuning di atas nakas di sisi ranjang. Dea menghentikan langkahnya. Netranya menangkap sosok pria yang sudah tertidur nyenyak dan nyaman di atas ranjang. Suara dengkuran halus terdengar, menandakan jika sang suami sudah tertidur pulas. “Bagaimana bisa pria dingin dan galak seperti itu memiliki wajah tampan? Dunia ini sungguh tidak adil.” Gumamnya. Dea menghela napas pelan kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju sofa di pojok kamar yang akan menjadi tempat istirahatnya malam ini. Gadis itu merebahkan tubuh lelahnya perlahan. Dipeluknya guling yang menjadi teman tidurnya malam ini. Tanpa sengaja tatapan matanya jatuh pada sosok pria yang tertidur pulas diatas kasur di depannya. Ingatannya kembali saat Arjun baru saja keluar dari dalam kamar mandi beberapa waktu lalu. Mendadak wajah Dea terasa panas. Dengan cepat ia berbalik badan, memunggungi arah kasur yang di tempati oleh Arjun. “Argh! Ada apa dengan otakku?” teriaknya dalam hati. Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Meskipun badannya sangat lelah dan sudah sangat mengantuk, entah kenapa matanya masih enggan untuk terpejam. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkelana jauh. Ingatannya kembali pada hari di mana sebuah keputusan yang ia ambil seminggu yang lalu. Flash back on Dea memeluk seorang gadis muda yang sedang terisak dalam pelukkannnya. Dea mengusap lembut punggung gadis itu, berusaha menenangkan gadis yang merupakan adik angkatnya. Setelah beberapa saat, tangisan gadis itu mulai mereda, menyisakan sedikit isakan kecil. Dea menangkup wajah memerah adiknya itu dan mengusap sisa air mata dengan ibu jarinya. “Apa tidak sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan Mas Arjun, Vik? Apalagi kalian seminggu lagi akan menikah.” Ucap Dea sambil menggenggam tangan Vika erat dan menatapnya lekat. Berusaha menyalurkan ketulusan pada sang adik. Vika hanya menggeleng lemah. Matanya yang sembab itu kini ikut menatap lekat pada manik coklat milik Dea. “Aku sudah bicarakan ini sama papa dan mama. Dan mereka berdua setuju kalau kak Dea akan menggantikan aku di pernikahan besok.” Ucap Vika pelan disela isakkannya. Ucapan Vika barusan bagai petir di siang bolong yang menyambar tubuh Dea. Tubuhnya terasa membeku karena kejutan yang luar biasa. “Ini tidak lucu, Vik. Kamu jangan bercanda.” Ucapnya dengan suara bergetar. Vika menggeleng kuat sambil menggenggam tangan Dea erat. “Aku serius, kak.” “Bagaimana bisa aku harus menggantikanmu menikah dengan kekasihmu? Sedangkan aku hanya orang asing. Bahkan kami tidak begitu saling mengenal.” Dea berusaha memberi alasan yang masuk akal pada adiknya. Vika menggeleng kuat, matanya kembali berkaca-kaca. “Aku sudah berdiskusi dengan papa dan mama, kak. Kalau Mas Arjun, biar nanti papa yang menyampaikan.” Dea menatap kedua manik adiknya lekat, berusaha mencari kebohongan dari sana. Tapi semua itu nihil. Hanya ada sorot lelah dan putus asa yang Dea dapatkan dari sana. “Kamu bisa berobat setelah pernikahan kalian besok. Kakak percaya kamu pasti bisa sembuh.” Dea menggenggam erat tangan adiknya. Suaranya bergetar karena menahan tangis yang bisa pecah kapan saja. Vika kembali menggeleng. “Aku tidak mau membuat mas Arjun tambah sedih dan terbebani, kak.” Air mata kembali luruh di kedua belah pipi Vika. “Tapi dengan kamu meninggalkan dia seperti ini juga gak ada bedanya, Vik. Dia pasti sakit juga. Ditambah dengan aku yang harus menggantikanmu, dia pasti tidak setuju dan pasti akan membenciku.” Dea mencoba memberi pengertian pada adiknya itu. Berharap ada solusi lain yang bisa mereka lakukan selain yang diucapkan Vika tadi. Vika kembali menggeleng lemah di tengah isakkannya. “Aku tidak tahu aku bisa sembuh atau tidak. Aku tidak mau membuat mas Arjun tambah sedih jika suatu saat nanti aku benar-benar meninggalkan dia untuk selamanya. Aku tidak sanggup melihat mas Arjun tambah terluka nanti, kak. Jadi tolong terima permintaanku ini. Anggap ini sebagai permintaan terakhirku.” Ucap Vika panjang lebar disela tangisannya. Dea tak bisa berkata-kata lagi. Ia rengkuh badan bergetar adiknya itu dalam pelukan erat. Dea tak sanggup lagi menahan tangisnya. Hatinya begitu perih melihat adiknya seperti ini. Mereka berduapun menangis pilu. Betapa kejam takdir yang menghampiri mereka kali ini. Tangisan keduanya terdengar sangat pilu. Seperti suara tangisan yang mengandung beribu rasa sakit. Hingga sesak d**a semakin menghimpit dan untuk bernapas saja terasa sulit. Tiga hari sebelum tanggal pernikahan. Di rumah orang tua Dea dan Vika. “Apa maksudnya ini, om? Om jangan bercanda.” Arjun tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Om Surya, papa Dea dan Vika menghembuskan napas panjang. Mencoba mengatur emosinya. Karena hal yang barusan ia sampaikan pada calon menantunya juga membuatnya terpukul. “Om sudah bilang pada orang tuamu. Dengan pertimbanagn yang panjang, merekapun setuju kalau kau akan menikah dengan Dea, nak.” Ucap Om Surya lembut. Arjun menatap nyalang ke arah Dea yang sedari tadi duduk di sebelah Om Surya. Rahang pria itu tampak mengeras dengan sorot mata penuh kebencian. Sedangakan Dea hanya menunduk dalam, tak berani menatap sosok pria yang berada di seberangnya saat ini. Tangan Arjun mengepal keras di atas pahanya. Ia menarik napas panjang untuk menetralkan emosianya yang tengah memuncak saat ini. Pria muda itu tak ingin lepas kendali dan mengamuk di rumah calon mertuanya itu. “Jelaskan pada Arjun, Om. Apa alasan vika tidak mau menikah denganku dan malah memintaku untuk menikah dengan Dea?” sorot mata Arjun menuntut jawaban dari pria paruh baya itu. Om Surya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertayaan dari Arjun. “Om tidak bisa memberi tahu alasan vika padamu, nak. Maafkan kami.” Arjun tersenyum getir medengar jawaban yang tidak menjelaskan apapun padanya. “Kalau begitu, aku ingin bertemu vika. Biar aku tanya sendiri padanya.” Om Surya menggeleng pelan. “Vika tidak ingin bertemu denganmu, nak. Maafkan kami.” “Apa maksudnya ini? Kalian mempermainkanku?” Emosi Arjun meledak karena mendengar alasan yang membuat kepalanya semakin panas. “Ini adalah keputusan terbaik yang telah kami sepakati dengan orang tuamu, nak. Om harap kamu bisa menerimanya.” Ucap Om Surya final. Arjun mengacak rambutnya frustasi. Dengan suara yang sarat dengan amarah ia menjawab pernyataan om Surya. “Baiklah. Aku akan menerima keputusan ini meski terpaksa. Tapi jangan harap aku bisa mencintai dia. Karena sampai kapanpun aku tetap akan mencintai Vika.” Ucapnya sambil menatap tajam ke arah Dea yang hanya menunduk sedari tadi. Perkataan Arjun bagai lesatan anak panah yang langsung menancap tepat ke ulu hatinya. Sakit… Sangat sakit. Tak pernah terbayangkan oleh Dea, bahwa ia akan menerima kebencian sebesar ini dari orang yang bahkan tak begitu ia kenal. Dan di sinilah Dea sekarang. Tidur dalam kamar yang sama dengan Arjun yang telah sah menjadi suaminya meski dengan keterpaksaan. Dea menghela napas panjang sebelum akhirnya matanya terpejam, mengistirahatkan badan dan hatinya yang terasa sangat lelah. Entah apa yang akan terjadi pada kehidupannya setelah ini. Setidaknya hari ini ia akan mengistirahatkan dirinya. Ia tak tahu halapa yang akan emnunggunya hari esok dan seterusnya. Bisakah Dea bertahan dengan pernikahannya ini? Apakah Arjun akan bersikap baik pada Dea? Bisakah benih cinta tumbuh dari rasa benci yang ditebar Arjun bahkan sebelum pernikahannya dilaksanakan? ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.6K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.4K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
171.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook