BAB 1 PENGANTIN PENGGANTI

1329 Words
BAB 1 PENGANTIN PENGGANTI“Tidak mungkin! Aruna tidak mungkin sebodoh itu!” Wajah Arif mulai memucat dengan dahi yang terus mengernyit. Kertas yang ada dalam genggaman tangannya semakin diremas, lalu dilemparkan ke sembarang arah. Aruni mengambil gumpalan kertas itu. Kemudian, dia membuka dan membacanya perlahan. Seketika kedua matanya yang sipit melebar saat tahu apa isi surat yang ditulis oleh sang kakak. “Kita lapor polisi sekarang juga, Yah! Dia pasti belum pergi jauh dari sini!” usul Aruni ikut merasa khawatir. Arif masih terdiam sambil memandang ke arah luar melalui jendela. Lima menit yang lalu, pria berjenggot itu menemukan sebuah surat yang ditinggalkan oleh Aruna. Dia tidak menyangka bila putri sulungnya akan kabur menjelang hari pernikahan besok pagi. Melaporkan masalah ini ke polisi tentu saja bukan ide yang bagus. “Mau ditaruh di mana muka kita kalau acara itu harus dibatalkan? Semuanya sudah dibayar lunas, Yah! Anak kamu itu memang keterlaluan!” gerutu sang istri sambil melipat kedua lengannya. Lagi-lagi, Arif tidak menjawab. Pria berusia 55 tahun itu mengambil ponsel dan segera menelepon nomor Aruna. Dia berusaha menghubungi berkali-kali, tetapi panggilan itu tidak dapat tersambung. “Ayah mau nelepon Pak Alex dulu,” ujarnya sambil berlalu meninggalkan sang istri dan Aruni. Sudah bisa dibayangkan akan semarah apa calon besannya itu. Pernikahan antara Aruna dan Kaisar seharusnya tidak lebih dari sepuluh jam lagi. Meskipun perjodohan antara mereka dilakukan secara mendadak, tetapi surat undangan sudah disebar sejak seminggu yang lalu dan semua persiapan telah matang. “Gimana, Yah?” tanya Desi saat melihat suaminya kembali dengan raut wajah penuh kecemasan. “Pak Alex marah sekali. Bila acara dibatalkan, maka ….” Arif tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia memiliki banyak utang budi pada pria itu dan tidak mau semakin menambah masalah yang ada. Pandangan Arif beralih pada Aruni yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Dia teringat pada solusi yang ditawarkan oleh Alex. Kini otaknya seolah tidak bisa berpikir dengan jernih. “Aruni, bisakah kamu menggantikan kakakmu menikah dengan Kaisar? Tolong bantu Ayah!” pintanya seraya menggenggam kedua tangan putri bungsunya itu. “Apa?! Aruni itu masih kuliah! Apa kata orang nanti, bisa-bisa mereka mengira dia hamil duluan!” Desi langsung terperanjat ketika mendengar perkataan suaminya. “Lalu, apa kata orang kalau semuanya harus dibatalkan? Keluarga Pak Alex sudah cukup malu dengan gosip yang beredar tentang Kaisar.” Nada bicara pria berjenggot itu mulai naik. “Runi belum siap, Yah! Kenapa kita gak cari Kak Una dulu?” Gadis itu mencoba menolak. “Pak Alex sudah terlanjur kecewa pada kakakmu. Ayah mohon, Sayang. Cuma kamu yang bisa membantu Ayah saat ini.” Arif memelas. Tidak ada jalan lagi selain meminta putri bungsunya menjadi pengantin pengganti agar dia tetap menjadi wali. Aruni hanya bergeming. Entah kenapa kejadian malam ini mirip seperti cerita dalam drama Korea yang baru ditontonnya kemarin. Beberapa kali dia menepuk pipinya sendiri, mungkin saja ini hanya mimpi. “Nikah sama si Manusia Es Balok? Aigoo ... ini gila!” batinnya. “Run, tolonglah! Selama ini ayahmu selalu menuruti keinginan kamu, ‘kan? Biaya kuliah, uang jajan yang hampir setara dengan UMR, belum lagi kalau kamu traveling, hitung-hitung kamu balas jasa. Berbeda dengan Aruna yang sudah mandiri dan bisa cari uang sendiri, jadi dia gak akan kebingungan walaupun kabur dari rumah.” Desi ikut membujuk. Sontak, Aruni melirik tajam ke arah ibu sambungnya itu. Selalu saja dia dibanding-bandingkan dengan Aruna yang terpaut usia empat tahun darinya. “Ta-tapi, Bu ….” “Tapi apa lagi? Pasti kamu punya pacar ya!” tuduh Desi. “Ibu ngomong apa, sih?” sergah Aruni yang mulai tersulut emosi. Rasanya sungguh ingin menjambak rambut wanita itu dan memelintir bibirnya yang sok tahu. Akan tetapi, genggaman tangan sang ayah yang hangat membuat amarah seketika menguap. Gadis berbaju biru itu menatap kedua mata Arif yang sayu. Dilema mulai menyerang batinnya. Selain karena usia yang baru menginjak 21 tahun dan belum lulus kuliah, dia juga takut bila gosip itu adalah sebuah fakta. Namun, Aruni juga tidak tega membiarkan sang ayah menanggung malu. Sayangnya, malam yang semakin larut membuatnya tidak punya waktu untuk banyak berpikir. “Runi …,” panggil Arif untuk meminta jawaban. “Baiklah. Tapi dengan syarat, setelah nikah nanti semua keputusan ada di tangan Runi. Andaikan berita itu benar dan aku mau pisah dari Kaisar, Ayah harus setuju!” Arif hanya mengangguk lemah. Meskipun dalam hati merasa begitu bersalah, setidaknya dia bisa bernapas lega untuk sementara. *** Sebuah gedung serbaguna telah dihias dengan indah. Dekorasinya didominasi dengan bunga mawar putih dan merah muda yang masih segar. Meskipun tidak ada foto-foto pre-wedding, kemewahan dari pesta pernikahan ini sudah terasa dari luar ruangan. Debar jantung terasa semakin tidak terkendali ketika Aruni sudah duduk di sebelah kiri Kaisar. Baru saja ijab kabul telah dilakukan. Keduanya sudah sah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan ini hanya dilakukan secara agama karena nama pengantin wanita pada data untuk administrasi KUA belum sempat diubah. Aruna dan Aruni memang memiliki postur tubuh yang tidak jauh berbeda. Wajah keduanya mirip dan sering kali membuat orang-orang terbalik dalam mengingat nama mereka. Bahkan, tidak sedikit yang mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Tamu yang diundang lebih banyak dari keluarga besar dan kolega kedua belah pihak. Keluarga dapat memaklumi keputusan yang diambil oleh Arif dan Alex. Yang penting mereka terhindar dari rasa malu akibat pernikahan yang batal karena kaburnya calon pengantin wanita. Saat berdampingan di pelaminan, sesekali Aruni melirik ke arah Kaisar. Ini bukanlah kali pertama dia bertemu dengannya. Sejak sekitar tiga bulan yang lalu, Aruni menjadi mahasiswi magang di katering, tempat lelaki itu bekerja. Walaupun sering berada di lokasi yang sama, keduanya tidak begitu banyak berinteraksi. “Jangan terpesona begitu!” ucap Kaisar sambil memandang lurus ke depan. Wajahnya datar tanpa ekspresi yang menunjukkan perasaannya saat ini. Kedua sudut bibir hanya ditarik sedikit ketika ada tamu yang memberikan ucapan selamat. Seketika Aruni menjadi salah tingkah. Ternyata lirikan matanya disadari oleh sang suami. “Percaya diri banget!” gumamnya seraya membuang muka. Aruni mendengkus kesal. Lelaki dingin yang hampir tidak pernah tersenyum itu harus menjadi suaminya. Tidak terbayang akan seperti apa hari-hari yang harus dia jalani nanti. Sial! Tidak lama kemudian, momen yang paling menyeramkan pun tiba ketika harus melakukan sesi foto pengantin. Aruni menelan air liur dengan kasar saat fotografer memintanya lebih mendekat pada Kaisar. Perlahan, dia memutar tubuhnya untuk berdiri berhadapan dan mulai merasakan hawa panas dari embusan napas lelaki itu. Sontak, tangannya mendorong d**a Kaisar ketika jarak antara wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. “Aduh!” Tiba-tiba saja gadis itu hilang keseimbangan karena kakinya yang memakai sepatu hak tinggi malah terkilir. Untung saja, Kaisar dapat menahan tubuh Aruni dengan sigap. Tangan kirinya melingkar pada pinggang sang istri. Adegan itu langsung mendapat sorak sorai dari para tamu karena mereka mengira keduanya sengaja berpose mesra untuk difoto. “Gak usah pegang-pegang! Pak Kai bikin saya malu!” bisik Aruni saat Kaisar membantunya kembali berdiri tegak. “Kalau kamu jatuh justru makin malu! Dasar bocah!” sahut Kaisar pelan. Aruni langsung menatap dengan sinis. Bibir tipisnya itu terlihat sedang berusaha menahan u*****n untuk lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya. Hampir dua jam berada di pelaminan ternyata begitu melelahkan. Kepala gadis itu terasa pusing karena mahkota siger Sunda yang cukup berat. Ditambah lagi akibat kurang tidur tadi malam. Matanya berkunang-kunang. Tubuhnya mulai limbung dan terpaksa berpegangan pada lengan Kaisar. Kala menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya, Kaisar meminta izin pada kedua orang tua mereka untuk turun lebih awal dari pelaminan. Baru beberapa langkah berjalan keluar dari aula, tiba-tiba dia merasa ada beban yang berat pada tangannya. “Run … Runi, bangun!” Kaisar mulai panik saat istrinya terlihat memejamkan mata. Suasana resepsi pernikahan itu berubah menjadi ricuh. Kaisar segera membopong Aruni dan berjalan cepat ke ruangan khusus pengantin. Dia meminta para asisten penata rias untuk melepaskan semua aksesoris yang dipasang pada tubuh gadis itu. Wajahnya tampak begitu cemas melihat sang istri terbaring lemas. Sekelebat ingatan masa lalu terlintas kembali. Rasa bersalah yang selama ini terpatri dalam hati kian menjadi. “Maaf, Vin!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD