bc

Catatan Kecil Amanda

book_age18+
9
FOLLOW
27
READ
fated
second chance
friends to lovers
drama
tragedy
twisted
sweet
serious
first love
discipline
like
intro-logo
Blurb

Amanda Prasetyo mengira hidupnya sudah terbebas dari kanker. Dua tahun ia bisa menjalani hidupnya dengan normal. Dokter memvonis Amanda sembuh dari kanker. Kehidupan Amanda berangsur membaik.

Dia merasa sangat beruntung memiliki suami yang perhatian, mertua yang baik, serta saudara kembar yang pengertian.

Bahagia itu datang...

Namun, tidak bertahan lama. Tiba-tiba badai itu datang lagi ke dalam hidupnya. Amanda kembali didiagnosis mengidap multiple nyloma. Amanda merasa putus asa. Terlebih karir suaminya sebagai aktor muda Indonesia sedang berjaya.

Amanda memilih jujur kepada Aizril mengenai penyakitnya. Suka duka dilalui bersama-sama. Aizril mendukung istrinya secara penuh. Pria itu bahkan rela berutang demi kesembuhan istrinya.

Perjuangan Aizril yang terlalu besar untuknya itu membuat Amanda merasa terbebani. Dia tidak ingin menyusahkan suaminya.

Tiba-tiba saja pikiran buruk memenuhi kepalanya.

Amanda ingin pergi! Amanda ingin Aizril berhenti memperjuangkan kesembuhannya! Amanda ingin meninggalkan semua orang dengan cara tidak menyakiti mereka! Amanda ingin dikenang sebagai orang baik, bukan orang yang mengisahkan! Inilah Amanda apa adanya dirinya.

Font: More Sugar AaBbCc (Canva)

Pict: Unsplash.com

chap-preview
Free preview
Bab 1: Vonis

Amanda POV

***

Hanya dua tahun aku terbebas dari kanker. Selama ini kupikir penyakit itu tak akan pernah menghampiri hidupku lagi. Setitik demi setitik kebahagiaan mulai hadir dalam hidupku, lalu hanya sekali badai melenyapkan kebahagiaan itu.

Multiple Myloma itu muncul lagi.

Mama Wirda yang kini menjadi mertuaku masuk ke dalam ruang inapku satu jam lalu dengan tatapan sedih. Beliau menangis, dan aku merasa itu kabar buruk. Selama 10 menit aku hanya bisa menghitung tetesan air matanya.

"Ada apa, Ma?"

Aku bertanya, walaupun aku tahu sesuatu yang buruk telah menimpaku. Aku merasakan gejala kanker yang sama seperti yang kuidap saat masih remaja. Penyakit ini tidak asing. Setelah aku berhasil mengalahkannya, ia hadir kembali dengan kekuatan yang lebih besar.

"Entahlah, Amanda... Mama bingung harus mengatakannya atau tidak."

Suara itu tidak bertenaga. Mama Wirda duduk di kursi samping ranjangku. Matanya berkaca-kaca, tangan kanannya menggenggam tangan kiriku. Satu tangan lainnya mengusap rambutku. Dia tidak berani menatap mataku. Air matanya yang berderai membuatku terpuruk. Air mata itu membuktikan betapa besar cintanya padaku. Padahal aku hanyalah menantunya.

"Apakah kanker itu datang lagi?" tebakku.

Dadaku sesak seketika. Aku sulit bernapas saat menyaksikan mama Wirda mengangguk lemah. Dia sesenggukan, begitu pun dengan aku. Apa yang harus kukatakan pada Aizril? Untuk kesekian kali, aku akan menghancurkan hatinya. Suamiku berhak bahagia. Kenapa? Kenapa aku menyakitinya lagi dengan situasi yang sama? Kanker ini... Aku tidak mau merasakannya lagi.

"Mama akan melakukan apapun demi kesembuhanmu, Amanda. Kau pernah berhasil melewati penyakit itu. Percayalah, kamu akan sembuh."

Aku mengangguk meskipun aku merasa tidak akan mampu melewati ini semua. Satu-satunya cara membuat orang lain tenang adalah dengan tidak menunjukkan betapa sedihnya aku karena penyakit ini. Aku terpuruk, sangat terpuruk. Akan tetapi jika aku menunjukkan itu semua maka orang lain hanya akan memberikan tatapan kasihan, tatapan yang kubenci.

Mama Wirda memelukku selama kurang lebih tiga menit. Aku melepaskan diri dari rengkuhan itu. Berusaha menata hatiku yang terkoyak. Perasaan sesak masih aku tahan. Aku ingin menangis sendirian. Aku ingin menikmati lukaku tanpa diketahui orang lain. Tidak benar membagikan kesedihan dengan orang lain.

"Ma," panggilku.

"Bisakah kita tidak memberitahu Aizril? Aku tidak mau dia terluka."

Mama Wirda menggeleng keras. Aku sudah menduga beliau akan menolak ide dariku. "Jangan lakukan itu. Jika kamu menyembunyikan dari Aizril, dia hanya akan semakin terluka. Biarkan dia tahu, biarkan dia melapangkan hatinya, Amanda. Kamu tidak akan menyembunyikannya dari Aizril."

Kata-kata mama Wirda mungkin benar. Aku bergeming selama beberapa menit. Aku memikirkan kalimat yang tepat untuk memberitahu Aizril mengenai penyakitku tanpa harus melukai perasaannya.

"Apa yang kamu cemaskan, Sayang?"

"Aizril. Apa yang akan dia katakan? Dia sudah berkorban banyak untukku. Lalu, aku masih dikalahkan oleh penyakit ini."

Rasanya baru kemarin Aizril membiayai seluruh pengobatanku. Dia menghabiskan tabungan biaya pendidikannya, honornya bermain film. Aizril mengorbankan segalanya. Lelaki muda yang menghabiskan materinya kepada gadis penyakitan sepertiku.

Namun, aku tidak memberikan apa-apa untuknya. Inilah bagian paling menyedihkan yang akan ia hadapi. Aku menghancurkan pengorbanannya. Aku selalu merepotkan Aizril. Akulah Amanda yang selalu ada di setiap kehancuran hatinya.

"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Ini sudah takdir. Kamu sudah berjuang keras. Aizril akan mengerti."

Mama Wirda memberiku tatapan seorang ibu. Aku bisa melihat ketulusan di mata itu. Mama Wirda sudah menganggapku sebagai anak. Terlebih aku membantunya mengelola "Komunitas Peduli Kanker" miliknya.

Entah bagaimana aku akan menjelaskan kepada anggota komunitas itu. Dulu, aku seorang motivator untuk mereka. Penyemangat mereka untuk sembuh. Sekarang, aku kembali seperti mereka. Tidak berdaya karena sebuah penyakit mematikan. Aku bukanlah contoh yang baik untuk mereka.

**

Aizril syuting selama dua minggu di Gorontalo. Dia akan membintangi film horor. Aku tidak pernah menanyakan seperti apa filmnya. Namun, Aizril tampak bersemangat mengikuti syuting itu. Setiap malam, ia melakukan panggilan video denganku, memberitahuku detil filmnya dan aku hanya akan berdeham tanpa memahami penjelasannya.

Ini sudah dua hari setelah aku tahu aku kembali mengidap kanker. Lidahku masih tertahan, untuk sekadar memberitahu kabar buruk itu. Lidahku sangat gugup memberitahunya.

"Sayang... Apakah tahun ini kita bisa memprogramkan anak?"

Aizril membuka obrolan, dan aku membulatkan mata untuknya. Kami menikah saat usiaku 18 tahun, dan Aizril 20 tahun. Kini sudah dua tahun pernikahan kami. Baru sekarang Aizril membahas hal itu.

"Aku bertemu anak Ihsan. Dia sangat lucu. Namanya Naomi. Rambutnya dikepang dua, bibirnya tipis, bicaranya cadel. Pasti akan lucu jika kita juga punya anak." Ihsan adalah sutradara film yang akan dibintanginya. Aku memperhatikan bibir Aizril yang sedang bicara.

Aizril antusias. Selama ini, kami tidak pernah membahas anak karena aku belum siap. Aizril pun tak pernah mendesak diriku. Namun, sekarang ia mulai memikirkannya. Rasanya bebanku bertambah satu lagi. Aku tidak tahu apakah wanita pengidap kanker bisa hamil atau tidak. Apakah tidak membahayakan janin?

Aizril tampak bahagia. Aku tak ingin menghancurkan kebahagiaannya. Bagiku senyuman miliknya setara dengan bumi dan seluruh isinya. Hanya itu yang aku inginkan. Senyuman manisnya yang selalu mengingatkan aku akan keindahan rupanya.

"Ya."

Mataku mulai mengumpulkan cairan di sekelilingnya. Aku tidak mengharapkan menangis. Akan tetapi, aku sedih karena ketakutan-ku amat besar. Aku tak mau menyakiti Aizril dengan harapan-harapan baru.

"Hei. Mengapa kau menangis, Sayang? Apakah aku menyinggung perasaanmu?"

Wajah ceria Aizril berubah menjadi kecemasan. Dia memperhatikan pergerakan mataku. Aizril selalu tahu jika aku menyembunyikan sesuatu. Dia seperti seorang cenayang. Hanya dengan mengikuti arah bola mataku, ia bisa merasakan apa yang aku rasakan.

"Tidak," kataku.

"Aku hanya rindu padamu. Aku tidak sabar menyisir rambutmu, menggosok punggungmu saat kita mandi bersama, membuatkan kamu kopi, dan memijat belakangmu saat kamu duduk sambil menonton pertandingan sepak bola."

Aku menyengir selebar mungkin sampai deretan gigiku terlihat sangat jelas di mata suamiku. Kebahagiaan semu yang aku tunjukkan mampu menipu Aizril. Dia percaya akan kebohonganku.

"Kau tenang saja, Sayang. Setelah aku pulang. Kita akan lampiaskan segala kerinduan yang ada. Aku akan kosongkan jadwal syuting atau apapun selama seminggu."

Aku mengangguk. Tanganku yang memegang ponsel mulai basah karena keringatku. Aku diam, begitu pun dengan suamiku. Aizril menopang tangan kanannya di dagu. Dia memperhatikan aku sambil tersenyum. Dia sedang menikmati wajahku dalam diam.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Jika syutingnya sudah kelar. Langsung pulang ya."

"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar pulang. Asal kau tahu saja, Sayang. Tanpamu di sini seperti hidup tak akan oksigen."

Aizril mulai melebih-lebihkan keadaan seperti yang selalu ia lakukan. Aku hanya akan tertawa getir karena ucapannya yang terkesan drama.

Untuk sejenak, aku lupa kalah aku sedang menderita sakit keras.

"Bohong. Kalau memang aku oksigen. Kamu akan mati tanpa aku!"

Dia semringah. Mulai melancarkan kebiasannya menggombal. Aku hanya akan tertawa kecil karenanya. Aizril adalah pelawak terbaik dalam hidupku sekaligus aktor kecintaan anak muda masa kini. Kami mengobrol selama berjam-jam sampai aku tidak sadar tertidur saat panggilan video kami masih terkoneksi.

.

i********: Erwingg__

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
115.6K
bc

Kali kedua

read
185.3K
bc

Imperfect Marriage

read
270.2K
bc

Tentang Cinta Kita

read
137.1K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
218.2K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
6.0K
bc

Single Man vs Single Mom

read
86.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play