"Mas jujur sama aku kamu punya uang darimana untuk memberi bantuan pada Bibi Anis." Aku menginterogasi Mas Ari ketika kami sudah berada di rumah dan di dalam kamar. Tentu saja dengan suara pelan agar tidak didengar ibu.
Mas Ari yang sedang berganti baju, menoleh. "Tanpa sepengetahuan kamu aku ikut arisan di pasar. Kebetulan hari ini aku yang dapat. Jadi ya... aku berikan saja sama Bibi Anis agar kita tidak direndahkan lagi."
Benarkah begitu? Mengapa aku meragukan pernyataannya?
"Di hari H nanti, kita tidak perlu jadi pelayan dia. Kamu juga tidak perlu datang ke rumahnya tiga hari sebelum hari H untuk bantu-bantu bersih rumah karena kita sudah membantu uang," lanjut Mas Ari.
Aku menatap lekat Mas Ari mencari kejujuran di sana. "Mas, aku tidak masalah kalau harus bantu-bantu di rumah Bibi Anis ataupun menjadi pelayan ketika hari H nanti. Tapi aku merasa masalah kalau sampai mas menggunakan cara tidak halal untuk mendapatkan uang dua juta itu. Bagiku uang dua juta itu tidak sedikit, mas. Mencarinya susah luar biasa. Tapi dengan mudahnya mas mendapatkannya. Mas tidak bohong kan kalau itu adalah uang arisan?"
Mas Ari yang semula berdiri, langsung mengambil duduk di depanku di tepi tempat tidur. Lalu dia genggam tanganku sembari tersenyum. "Sebagai suami aku bangga sekali dengan kamu. Kamu lebih memilih direndahkan orang daripada aku mendapatkan uang dengan cara haram. Sungguh beruntung aku bisa memiliki kamu."
Mas Ari hendak menciumku ketika aku menekan dadanya menolak. Bukan apa, aku belum mendapatkan kepastian tentang uang tadi. "Jawab dulu pertanyaanku, mas."
Mas Ari pun menarik wajahnya kembali yang sudah condong ke arahku. "Oh, iya. Itu uang dapat dari arisan."
"Kamu main arisan di pasar sama siapa? Aku kenal semua yang pegang arisan di pasar itu," tanyaku penuh selidik. Mas Ari tak akan bisa bohong sekarang, karena aku memang benar-benar mengenal semua pemegang arisan di pasar sebab tiap hari aku ke pasar untuk belanja atau pun membeli barang jualan. Maklum pasar dekat dengan tempat tinggal kami. Hanya perlu jalan kaki saja.
Mas Ari terdiam. Bahkan wajahnya tampak sedikit memucat mendapat pertanyaan barusan. Reaksi ini membuat aku jadi mengambil kesimpulan yang tidak-tidak.
"Demi Allah, mas! Aku tidak sudi mempunyai suami yang mencari uang dengan cara haram!" seruku dengan tertahan agar suaraku tidak keluar kamar. Untungnya ibu di warung, jadi kemungkinan besar tidak mendengar. Kecuali kalau ibu meninggalkan warung sebentar untuk mengambil sesuatu di dalam rumah dan lewat di depan pintu kamar ini. Ya mungkin akan mendengar. Tapi mudah-mudahan tidak.
Mas Ari menggeleng. "Tidak, Wi. Aku tidak mencari uang dengan cara haram. Aku cari uang yang dengan jadi kuli angkut di pasar." Mas Ari mulai membela diri yang menurutku jawabannya kurang masuk akal.
"Berarti bukan karena dapat arisan kan, mas?" Aku sudah seperti seorang polisi yang menginterogasi pelaku pencurian atau penjambretan saja. Tapi apa yang aku lakukan sekarang menurutku benar. Seorang istri wajib tahu darimana suami mendapatkan uang. Dan menolak dengan keras kalau itu adalah uang haram.
"Y-ya, aku akui aku tidak menerima arisan dan tidak pernah ikut arisan."
"Jadi uang yang mas berikan pada Bibi Anis uang dari mana?"
"Dari kampung."
Refleks keningku mengerut. "Dari kampung?"
"Iya. Dari kampung. Di kampung aku masih punya sawah warisan orangtua. Nah, sawah itu dikelola oleh keluarga jauhku. Kami bagi hasil begitulah istilahnya. Aku yang punya sawah dia yang mengelola."
"Kalau mas masih punya warisan sawah dan menghasilkan begitu, untuk apa mas ke kota dan menjadi kuli panggul di pasar? Bukankah mas bisa menetap di desa dan mengelola sawah warisan orangtua saja? Seperti menyusahkan diri sendiri. Ada muara untuk menghasilkan uang dengan mudah tapi rela capek-capek jadi kuli panggul di pasar. Padahal mas tau pekerjaan itu sangat disepelekan orang. Ini tidak masuk akal menurutku."
"Aku kan mencari pengalaman di kota. Tidak ada salahnya kan? Bosan di desa terus. Tapi sumpah, aku mendapatkan uang ini dari hasil sawah di kampung. Aku tidak pernah melakukan pekerjaan haram seperti yang kamu tuduhkan. Kamu boleh tanya sama teman-teman kuliku tentang aku."
Apakah aku sudah percaya?
Jawabannya belum.
"Kalau begitu, aku mau bicara dengan keluarga jauh mas yang mengelola sawah itu. Aku mau membuktikan mas itu bicara benar atau tidak. Mas telpon eh video call dia."
"Iya, besok aku akan video call dia."
"Tidak besoklah, mas. Tapi sekarang. Kalau besok, mas masih bisa menyembunyikan sesuatu dari aku. Jadi harus sekarang. Cepat keluarkan ponsel mas dan telpon keluarga mas yang mengelola sawah itu!"
Tegas sekali aku ya? Ya, harus. Demi membuktikan kalau Mas Ari jujur. Soalnya aku mengenal dia belum lama dan langsung menikah. Jadi aku belum tahu banyak tentang Mas Ari. Bahkan ketika aku dan Mas Ari menikah, dengan alasan hanya menikah di KUA, tak ada satu pun keluarganya yang datang dari kampung. Jadi wajar kalau sekarang aku curiga.
Mas Ari menggigit bibir bawahnya. Dia tampak berpikir hanya untuk menelpon keluarga yang katanya mengurus sawahnya itu, sebelum akhirnya menjawab. "Oke, aku telpon dia."
Kemudian dengan gerakan lambat, Mas Ari mengeluarkan ponsel dari saku celana. Tapi bukannya langsung menelpon, dia malah mengetik sesuatu di ponsel.
"Kamu nulis apa itu, mas?" tanyaku penuh kecurigaan.
"Balas w******p teman dulu. Sebentar. Ini sudah hampir selesai."
Setelahnya dia sepertinya melakukan panggilan video call. Mungkin pada keluarga yang aku maksud.
"Assalamualaikum, pak. Maaf ini mengganggu," ucap Mas Ari setelah tersambung. Aku belum lihat wajah orang itu karena ponsel seutuhnya masih menghadap Mas Ari.
"Wa'alaikumsalam, Den. Bagaimana?"
Panggilan 'Den' membuatku tertegun. Biasanya panggilan 'Den' ditujukan pelayan pada majikannya. Tapi entahlah di kampungnya sana.
"Ini istriku mau memastikan kalau aku punya sawah di kampung. Tolong dijelaskan ya pak," ucap Mas Ari lagi.
"Oh, iya iya, Den."
Mas Ari pun memepetkan tubuhnya ke tubuhku. Lalu dia menggeser letak ponsel menjadi di tengah-tengah kami sehingga kami berdua bisa sama-sama melihat layar ponsel itu sepenuhnya.
Tampaklah seorang pria usia sekitar 50 tahunan di dalam ponsel.
"Assalamualaikum, pak," sapaku ramah dengan sedikit senyum.
"Wa'alaikumsalam, non," respon yang membuat aku terhenyak. 'Non' katanya?
"Kok Non, pak? Namaku Nura bukan Noni. Jadi singkatnya Nur pak bukan Non."
Bapak itu melirik ke arah Mas Ari sebelum akhirnya tersenyum. "Ah, ya, maaf, Nur, Nura."
"Jadi begini pak. Aku mau tanya apakah benar bapak ini yang mengelola sawah Mas Ari di kampung?"
"Ya, benar, Non, eh Nur. Bapak yang mengelolanya."
"Jadi sawahnya selalu menghasilkan ya pak?"
"Oh, jelas iya. Sangat menghasilkan. Soalnya sawahnya kan luas sekali."
Aku menoleh pada Mas Ari. "Sawah mas luas?"
"E... sawah kan dimana-mana luas. Maksudnya Pak Jono begitu. Kalau tidak luas atau hanya beberapa meter saja namanya pekarangan. Iya kan?"
"Iya, sih." Aku mengalihkan pandang pada Pak Jono lagi karena menganggap jawaban Mas Ari masuk akal. Entah mengapa aku jadi penasaran. "Memangnya sawahnya luasnya berapa hektar pak?"
"Wah, kalau sawah Den Ari mah jangan ditanya, Nur. Luas sekali. Ratusan hektar."
Aku terhenyak lagi. Ratusan hektar katanya?
Bersambung.