bc

Stuck With Mr. Billionaire

book_age18+
113
FOLLOW
640
READ
HE
friends to lovers
boss
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
campus
brutal
like
intro-logo
Blurb

Katya Mahesa menjadi korban kekalahan sang kakak yang menjadikannya bahan taruhan. Katya dipaksa menikah dengan seorang pengusaha besar Arthur Maverick dan dijadikan pelampiasan dendam laki-laki itu pada Juana Mahesa.

"Kak Juan! Tolong aku, Kak!"

"Kakak macam apa yang tega mempertaruhkan adiknya sendiri demi gengsi?"

chap-preview
Free preview
Prolog

Satu persatu pelayat mulai meninggalkan tempat pemakaman umum. Menyisakan sepasang kakak beradik yang masih meratapi kuburan orang tuanya.


Katya Mahesa masih belum percaya kalau kuburan dihadapannya ini adalah kuburan orang tuanya. Katya merasa kalau yang terjadi saat ini hanya sebuah mimpi buruk dan ketika ia terbangun nanti, semua akan baik-baik saja.


"Ayo kita pulang, Ya. Biarkan Papa istirahat dengan tenang."


Katya bisa merasakan usapan di bahunya dengan nyata. Membuktikan kalau yang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Tapi kenyataan yang begitu menyakitkan. Belum ada setahun ia kehilangan sang ibu, sekarang Katya harus dihadapi dengan kehilangan sosok laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.


"Ayo...."


Juana Mahesa membantu sang adik berdiri. Bukan hanya Katya yang hancur, tapi Juan juga sama hancurnya karena kepergian sang ayah.


"Aku rindu Papa, Kak."


Juan menarik bahu sang adik ke dalam pelukannya. Kehilangan sosok yang paling disayangi, memang tidak mudah untuk menerimanya. Tapi bagaimanapun hidup adalah cerita yang sudah tertulis dalam garis takdir yang sudah ditentukan.


Arkana Mahesa terkena serangan jantung sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. Perusahaan yang dia bangun sejak nol, kini telah hancur karena perbuatan orang kepercayaannya.


Kehidupan memang seperti roda yang berputar. Yang di atas tidak selalu berada di atas, begitu juga sebaliknya. Dan sekarang, imbas dari kebangkrutan Hakan Group membuat kehidupan Katya dan keluarga berubah.


Begitu berat rasanya Katya melangkahkan kaki keluar dari dalam rumah besar yang telah menemaninya selama delapan belas tahun terakhir. Ada banyak kenangan indah juga bersama keluarganya di dalam rumah bernuansa putih ini.


Juan menghembuskan napas berat setelah mengunci pagar rumah. Ditatapnya papan bertuliskan 'RUMAH INI DISITA' dengan hati tercabik-cabik. Tapi Juan tidak boleh menjadi lemah. Sekarang hanya dia satu-satunya harapan Katya. Juan harus bisa menjadi pelindung Katya, sang adik.


Juan mengulas senyum sambil mengusap bahu Katya. "Jangan sedih. Kamu masih punya Kakak. Kita akan selalu bersama dan saling menguatkan."


Setidaknya kata-kata itu mampu membuat hati Katya menghangat. Benar. Katya masih memiliki Juan. Laki-laki itu akan selalu ada bersamanya.


Katya membiarkan Juan mengambil kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi taksi. Mereka akan pindah ke rumah kontrakan yang kecil dan sederhana. Dan memulai hidup baru dengan keadaan yang jauh berbeda.


Katya memandangi foto keluarga yang tertampil di layar handphone nya. Empat orang dalam foto tersebut sedang tersenyum lepas tanpa beban. Katya pikir, senyum itu akan terus terpancar. Tapi sekarang, justru dia lupa bagaimana caranya untuk tersenyum.


Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk mereka bisa sampai ditempat tujuan.


Katya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah kontrakan yang mulai hari ini akan menjadi tempat tinggalnya dengan sang kakak, tentu jauh berbeda dengan rumah mereka kemarin. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mereka tinggali.


Juan merangkul pundak Katya sambil menghela napas panjang. "Uang yang tersisa hanya cukup untuk menyewa kontrakan sebesar ini. Kita harus bisa mengatur keuangan guna menghadapi hari-hari yang akan datang."


"Iya, Kak. Gak apa-apa. Ini udah cukup daripada kita gak punya tempat tinggal sama sekali."


Juna memutar tubuh Katya hingga membuat mereka saling berhadapan. "Kakak janji sama kamu. Kakak akan segera memperbaiki kehidupan kita agar bisa kembali seperti dulu lagi. Kita pasti bisa bangkit dari keterpurukan ini."


Katya mengulas senyum lalu memeluk erat Juan. "Aku akan kuat dan akan selalu kuat, selagi ada Kak Juan di sisi aku."


"Tentu, Ya. Kita akan selalu bersama menghadapi ini semua."


"Aku sayang Kak Juan."


"Kakak juga sayang sama kamu."


***


Suara derum mesin motor terdengar saling bersahutan. Keadaan jalan malam itu ramai didatangi anak-anak muda.


"Lo yakin bakal ikut balapan ini?"


Juan mengangguk yakin. "Gue gak punya pilihan. Sekarang gue harus pinter-pinter cari duit."


"Gue yakin lo bisa, Bro. Good luck!"


Tanpa sepengetahuan Katya, diam-diam Juan pergi dari rumah untuk mengikuti balap liar yang berhadiah kan uang sebesar sepuluh juta. Dulu, bagi Juan sepuluh juta tidak ada arti apa-apa. Tapi sekarang uang sebesar itu sangat berarti demi kelanjutan hidupnya.


Juan mulai menaiki motor sport berwarna merah yang dia pijam dari temannya - Aksa. Kemudian melajukan kendaraan beroda dua itu ke garis start.


Tidak lama menunggu, sang lawan main datang dengan motor sport berwarna hitam. Terdengar suara pekikan tertahan dari para cewek yang datang menyaksikan, saat sang pengendara melepas helm full face yang semula menutupi wajahnya.


Terlihat keterkejutan dari wajah Juan saat melihat siapa lawan mainnya malam ini. Tapi buru-buru dia menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


"Jadi elo, lawan main gue malam ini? Juana Mahesa. Lama gak jumpa, Bro."


Juan berdecih. Setelah empat tahun tidak bertemu, sekarang mereka kembali dipertemukan di arena balap. Sejujurnya Juan sangat tidak ingin melihat wajah mantan sahabatnya ini.


"Gue denger-denger Bokap lo baru meninggal. Terus sekarang perusaahan Hakan Group jatuh bangkrut. Jangan bilang, lo ikut balapan malam ini karena gak ada uang buat makan besok?"


Juan mengumpat dalam hati. Kalau tahu lawan mainnya adalah Arthur Maverick, maka Juan memilih untuk tidak mengikuti balapan ini. Bukan karena takut, hanya saja Juan terlalu malas menghadapi dia.


Seorang cewek berpakaian seksi melangkah dan memposisikan diri di antara Arthur dan Juan. Tangannya membawa selembar kain.


"Ready?"


Sebelum mengenakan helm nya, Arthur menatap Juan dengan tersenyum meremehkan. Sementara Juan tidak peduli dan segera mengenakan helm.


"1.... 2.... 3. Go!"


Kain yang dilempar ke atas udara menjadi pertanda kala balapan di mulai. Kedua motor sport berbeda warna itu langsung melaju cepat, saling unjuk kelihaian di jalan.


Mulanya Arthur dan Juan bersahabat baik. Mereka saling mendukung satu sama lain. Sampai akhirnya badai tiba-tiba menerjang hingga membuat ikatan persahabatan mereka putus. Karena memperebutkan hati seorang gadis, membuat mereka saling bersaing sampai akhirnya bermusuhan. Siapa yang memenangkan hati gadis itu? Jawabannya adalah Arthur. Dan sang gadis mengalami kecelakaan saat membuat janji dengan Arthur. Hingga membuat Juan marah dan mencap kematian sang gadis dikarenakan kelalaian Arthur yang tidak bisa menjaganya.


Setelah beberapa menit berlalu, para penonton kembali berteriak heboh menyerukan nama kedua pemain.


"Arthur! Arthur! Arthur!"


"Juan! Juan! Juan!"


Awalnya Arthur memimpin di depan, akan tetapi saat mendekati garis finis laju motornya menjadi pelan, sampai akhirnya Juan datang sebagai pemenang.


Alih-alih senang karena bisa menaklukan balapan ini, justru Juan turun dari atas motor dan menghampiri Arthur dengan perasaan marah.


"Maksud lo apa tadi?" Juan mencengkram kuat kerah baju Arthur. "Lo sengaja ngalah kan?!"


"Slow, Brother. Lo menang kenapa jadi marah ke gue? Harusnya lo happy karena bisa mengalahkan gue."


Juan melepas kasar cengkraman di baju Arthur. "Gak usah sok mengasihani gue! Gue gak butuh belas kasihan dari lo!"


"Udah lah, Bro. Gak perlu marah-marah. Gue tahu lo butuh banget duit sepuluh juta yang gak seberapa ini. Gak usah sombong. Lo udah jatuh miskin sekarang."


"ANJING!"


Juan menghantam pipi sebelah kanan Arthur, hingga membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.


"JANGAN HINA GUE DAN KELUARGA GUE!"


Arthur mengusap lebam di sudut bibirnya, lalu tersenyum mengejek. "Terima aja kenyataan kalo lo udah jatuh miskin. Gak usah gengsi lah ya."


"b*****t!"


Kedua pemuda itu saling menghajar satu sama lain. Meski banyak orang di sana, tapi tidak ada satupun yang bergegas memisahkan keduanya. Justru mereka kesenangan dengan perkelahian ini. Mereka saling bersorak hingga membuat keadaan semakin memanas. Tidak sedikit pula hang mengabadikan momen demi konten di sosial media nya.


Arthur terjatuh ke atas aspal. Tidak ada ringisan. Justru dia tertawa mengejek karena berhasil memancing emosi Juan.


"Keren. Makin jago aja bela diri lo."


Arthur kembali berdiri.


"Sekarang gue minta kita tanding ulah dengan serius. Gue hebat karena gue bisa. Bukan karena belas kasihan dari lo!"


"Kak Juan!"


Teriakan dari arah belakang membuat semua mata tertuju pada seorang gadis yang tidak lain adalah Katya.


"Kamu ngapain ada di sini?" Juan bertanya khawatir pada sang adik.


"Aku ikutin Kakak tadi. Maaf."


Juan berdesah pelan. "Katya.... Kenapa kamu gak tunggu di rumah aja?"


"Aku khawatir."


"Katya?" Arthur bersuara. Ditatapnya Katya penuh telisik dari kaki hingga kepala. Gadis ini banyak berubah dari yang terakhir Arthur lihat.


"K-Kak Artur," gumam Katya.


Arthur melangkah maju dengan tangan bersidekap. "Kamu terlihat semakin cantik dan mmm..... Seksi."


Sontak saja Juan memajukan langkah, menyembunyikan sang adik dibelakang punggung besarnya.


Arthur tertawa. "Kenapa, Bro? Lo menutupi pemandangan indah gue."


"Jangan macam-macam sama adik gue!"


"Macam-macam gimana? Adik lo cantik. Seksi. Gue tertarik sama dia."


Juan sudah akan kembali menghajar Arthur, namun Katya segera menahannya.


"Kita pulang yuk, Kak." Katya bercicit ketakutan.


"Tunggu dulu dong, Sayang. Kita baru aja ketemu lagi. Jangan buru-buru," ucap Arthur membuat Katya mengerutkan dahi tidak suka.


Juan segera menepis tangan Arthur saat laki-laki itu hendak menyentuh sang adik. "Gue bilang jangan macam-macam sama adik gue!"


"Ayo, Ya. Kita pulang."


"Gue terima tantangan dari lo!" seru Arthur, membuat pergerakan Juan terhenti. "Kita tanding ulang. Tapi kali ini bertaruh."


Juan diam menatap Arthur dengan tajam.


"Kalo lo menang, gue akan kasih lo lima ratus juta."


Penonton langsung bersorak begitu mendengar nominasi uang yang fantastis.


"Tapi kalo gue yang menang," ucap Arthur sengaja menggantungkannya lebih dulu dan menatap Katya penuh nafsu. "Adik lo jadi milik gue."


"b******k!"


Juan yang hendak menghajar Arthur, langsung dicegah oleh teman-teman Arthur.


"Lo juga gak usah khawatir. Gue bakal tetep kasih lo hadiah sebagai sambutan dari gue, setelah kita gak ketemu selama beberapa tahun ini. Gue bakal kasih lo modal untuk usaha sebesar tiga ratus juta."


Jumlah nominal yang tersebut memang tidak main-main untuk keadaan Juan saat ini, yang memang sedang membutuhkan modal besar untuk membuka usaha.


"Kenapa diam? Lo takut lawan gue? Gak berani? Cemen!"


Sorakan penonton membuat Juan semakin tersulut emosi.


b******k! Juan tidak terima diejek seperti itu oleh Arthur.


"Kak, ayo kita pulang. Jangan dengarkan omongan Kak Arthur. Kakak gak cemen. Kakak hebat dan aku bangga bisa mempunyai kakak seperti Kak Juan." Katya mencoba meredam amarah Juan. Ia tahu kalau Arthur hanya sedang memancing emosi Juan.


"Katya, Sayang. Kakak kamu emang cemen. Dia payah. Apa yang mesti kamu banggakan dari sosok pecundang kayak dia?"


Katya menatap Arthur tidak suka. Ini bukan Arthur yang Katya kenal dulu. Sekarang laki-laki itu terlihat sangat b******n. Katya membencinya.


Kedua tangan Juan sudah terkepal kuat. Tidak ingin harga dirinya semakin diinjak-injak oleh Arthur, Juan sampai tidak berpikir panjang dan memilih menerima taruhan itu.


"Gue terima tantangan dari lo."


Arthur tersenyum puas. Didukung oleh seruan penonton atas jawaban Juan yang setuju dengan taruhan tersebut.


"Kenapa Kakak terima taruhan itu, Kak?" Katya kecewa dengan jawaban Juan.


"Kamu tenang aja. Kakak pasti bisa mengalahkan dia. Percaya sama Kakak."


Sekarang Arthur dan Juan sudah siap kembali untuk beradu balap. Di tepi jalan, Katya sangat cemas takut terjadi apa-apa dengan Juan. Apalagi mengingat kalau dirinya menjadi bahan taruhan dalam balapan kali ini. Katya sangat takut kalau Arthur yang datang sebagai pemenang. Tidak. Katya tidak ingin itu terjadi.


Selama balapan sedang berlangsung, Katya hanya berdoa agar Juan bisa mengalahkan Arthur. Namun, sepertinya semesta tidak sedang berpihak padanya kali ini. Arthur lah yang datang lebih dulu menembus garis finis.


Juan menendang ban motornya dengan emosi membara. "Argh! Anjing!"


Katya berlari hendak menghampiri Juan, akan tetapi sebuah tangan dari belakang menahannya.


"Mau kemana, Sayang?"


Katya berusaha melepaskan cekalan Arthur di tangannya. "Lepas! Kak Juan tolong!"


Juan mengangkat pandangan. Menatap penuh rasa bersalah pada sang adik. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia kalah dalam taruhan ini. Dan Katya yang harus menerima imbasnya.


Arthur menarik pinggang Katya. "Itu yang kamu sebut Kakak? Dia sudah jual kamu bodoh."


Katya menggelengkan kepala dengan derai air mata membasahi pipi. "Kak Juan tolong aku! Kak!"


Juan menunduk dalam. Mengumpati kebodohannya sendiri. Rasanya dia tak sanggup melihat tatapan memohon sang adik.


"Kakak macam apa yang tega menjual adiknya sendiri? Argh! b*****t!"


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
113.6K
bc

Ex My Boss

read
90.0K
bc

Tentang Cinta Kita

read
135.5K
bc

Imperfect Marriage

read
266.4K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
212.7K
bc

Kali kedua

read
182.6K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
5.3K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play