Sasya terbangun dari tidurnya. Badannya terasa berat sekali. Dia mencoba membuka mata, lalu melihat tangan yang melingkar di perutnya. Dia menghadap ke belakang. Betapa terkejutnya dia, ternyata Riki tidur sambil memeluknya dari belakang. Perlahan dia menyingkirkan tangan Riki, sedikitpun Riki tidak bergerak. Sasya berdiri lalu memungut pakaiannya yang tersebar di lantai. Dia masuk ke kamar mandi dan memakai semua pakaiannya.
Sasya keluar dari kamar mandi. Dia melihat Riki masih tertidur dengan posisi yang sama. Dia lalu berjalan berjinjit keluar dari kamar, karena tidak ingin Riki melihatnya. Sasya berjalan cepat keluar dari hotel. Sampai di jalan dia menaiki taksi yang sedang berhenti di depan hotel. Taksi melaju menuju tempat kost nya.
Sampai di kost Sasya langsung mandi dan bersiap ke kantor. Pukul 08.00 tepat dia sampai kantor. Sasya berlari menuju meja kerjanya.
"Astaga, Sya. Gue pikir lo nggak berangkat." Kata Hana, teman dekat Sasya di kantor sekaligus teman satu kosnya.
"Gue tadi naik bus subuh, jadi kesiangan sampai kost." Jawab Sasya berbohong. Tidak mungkin juga dia bilang kalau dia baru pulang dari hotel menemani seorang laki-laki tidur semalam.
"Biasanya juga sore pulang dari Jakarta." Kata Hana lagi.
"Iya, biasa, Mama masih kangen sama gue." Jawab Sasya sambil memaksakan senyumnya. Karena dia terpaksa harus berbohong lagi. Hana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sasya.
Di hotel. Riki tebangun, lalu melihat keadaannya dirinya yang tidur dengan bertelanjang d**a. Dia lalu teringat kejadian semalam, yang membuatnya tersenyum sendiri. Sesaat dia tersadar bahwa Sasya sudah tidak ada di kamar. Dia lalu bangun dan memakai celananya yang tergeletak di lantai. Lalu membuka kamar mandi. Kosong. Dia berpikir kalau Sasya sudah pergi.
Riki mengambil ponselnya, melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Pantas lah, dia pasti sudah ada di kantornya sekarang. Batin Riki. Dia lalu mengetik sesuatu untuk mengirim pesan ke Sasya.
"Kenapa nggak bangunin? Aku bisa antar kamu pulang ke kost." Pesan dikirim.
Di kantor, saat Sasya sedang serius mengerjakan pekerjaannya. Ponselnya bergetar, dia melihat nama Riki di layar ponselnya.
"Mau apa lagi dia?" Batinnya. Lalu membuka pesan dari Riki tersebut.
"Hah. Emang gue udah gila mau dianter dia pulang, bisa-bisa orang beneran anggep gue wanita murahan." Kata Sasya lalu membanting ponselnya dengan kasar di meja.
"Kenapa lo, Sya?" Tanya Hana yang melihat Sasya sedang kesal, sampai bicara sendiri.
"Hm. Nggak papa." Jawab Sasya.
Hana menarik kursinya ke sebelah Sasya.
"Oya, nanti sore kita langsung berangkat dari kantor atau balik kost dulu ganti baju?" Tanya Hana.
Sasya mengerutkan keningnya.
"Emang mau kemana?" Tanya Sasya.
Gantian Hana yang mengerutkan keningnya.
"Kok kemana sih? Nonton cowok kita manggung lah?" Jawab Hana.
"Hah? Emang mereka manggung dimana?"
"Lo lupa atau beneran nggak tahu? Nanti malem kan mereka manggung di cafe Pelangi."
"Di Bandung?"
"Iyah." Jawab Hana.
Sasya terdiam.
"Jangan bilang Dafa nggak bilang sama lo?" Hana mencoba menebak.
Sasya mengangguk pelan.
"Ya ampun. Sebenarnya hubungan kalian gimana sih sekarang?"
Sasya masih terdiam. Lalu dia mengambil ponselnya.
"Ya benar, lo coba hubungin Dafa dulu deh." Kata Hana sambil mengelus punggung sahabatnya itu, lalu kembali ke mejanya.
"Nanti malam manggung di Bandung?"
Ketik Sasya di ponselnya. Lalu mengirim pada Dafa. Kekasihnya. Sasya menunggu balasan dari kekasihnya itu, tapi tak kunjung ada balasan. Lalu dia meletakkan ponselnya kembali di meja. Dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Sasya tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dia mengambil ponselnya lagi, belum ada balasan. Lalu meletakkannya lagi. Dia mengingat kembali pertemuan terakhir mereka 2 minggu lalu, yang berakhir dengan pertengkaran, setelah berdebat panjang.
Flashback on.
2 minggu yang lalu.
"Kamu bisa nggak sih ngertiin aku, Sya? Aku nggak mungkin bisa nolak, dia menejer baru band kita." Kata Dafa.
"Kamu yang nggak bisa ngertiin aku, kamu bisa nggak sih hargain perasaanku sedikit saja?" Kata Sasya pelan, mencoba bersabar.
"Sya, kita sudah 5 tahun pacaran, masak kamu masih nggak bisa ngerti gimana kehidupan aku di dunia hiburan ini."
"Aku ngerti, sayang, ngerti banget. Tapi apa harus ganti baju berdua di toilet? Yang lainnya saja ganti baju di dalam ruangan kok, bahkan Hana yang merapikan rambut Bagas."
"Bagas beda, Sya. Dia kan posisinya di belakang, sedangkan aku vokalis, aku di depan, jadi Kak Mira sebagai menejer cuma pengen kalau penampilanku sempurna di depan penonton."
"Aku juga bisa memastikan penampilan kamu sempurna, bukannya selama ini juga aku yang selalu memilih pakaian dan merapikan rambut kamu sebelum kamu manggung." Kata Sasya mulai kesal.
"Iya aku tahu, Sya. Tapi kayak yang aku bilang tadi, Kak Mira menejer baru, aku nggak mungkin bisa nolak."
Sasya tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia sangat kesal. Akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Dafa, dan memutuskan tidak menonton pertunjukkan kekasihnya itu.
Flashback off.
Ponselnya bergetar. Dia lalu menyambar ponselnya dan langsung membuka pesan baru.
"Nggak dijawab? Apa hubungan kita benar-benar cuma satu malam saja?"
Ternyata pesan dari Riki. Sasya menarik nafas panjang. Lalu dia mengetik dengan cepat membalas pesan Riki.
"Iya. Hubungan kita cuma satu malam. Jadi jangan pernah hubungi aku lagi." Balas Sasya.
Setelah membalas pesan Riki, Sasya teringat sesuatu. Iya, dia harus membayar hutangnya, dia tidak ingin berhubungan lagi dengan rentenir yang terus-terusan menerornya.
Sasya mengingat kembali bagaimana dia bisa sampai berurusan dengan rentenir itu.
Flashback on.
6 bulan yang lalu.
Sasya sedang menunggu Dafa di cafe tempat mereka berjanji untuk bertemu. Dia mengenakan gaun putih selutut dan bagian atas yang memperlihatkan bahunya, membuat dia tampak anggun. Hari ini adalah hari jadi mereka yang ke 5, dan mereka akan merayakannya dengan makan malam romantis di cafe itu. Sambil sesekali Sasya melirik jam di tangannya, sudah lebih 15 menit dari waktu yang mereka janjikan. Beberapa saat kemudian terdengar suara kencang yang membuat seisi cafe keluar untuk melihat kejadian yang terjadi di depan cafe. Sasya pun ikut keluar karena ingin tahu juga apa yang terjadi.
Terjadi kecelakaan di depan cafe, sebuah mobil menabrak sebuah motor. Sasya melihat motor yang tergeletak di tengah jalan, motor yang sangat dia kenal. Lalu Sasya berlari ke arah kerumunan orang, dia mencoba menerobos masuk ke dalam kerumunan itu. Dilihatnya Dafa tergeletak tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Betapa terkejutnya dia. Tubuhnya pun terkulai lemas.
Sasya membawa Dafa ke rumah sakit dan langsung ditangani di IGD. Dia terus berdoa agar Dafa baik-baik saja. Beberapa saat kemudian dokter keluar, lalu memberi tahukan keadaan Dafa pada Sasya.
"Pasien mengalami patah tulang di tangan kanannya, dan harus segera dioperasi. Jika keluarga pasien bersedia, bisa langsung mengurus administrasinya, agar pasien bisa segera dioperasi." Kata dokter menjelaskan.
Sasya bergegas ke ruang yang ditunjukkan suster untuk mengurus administrasi.
"30 juta?" Sasya terbelalak kaget.
"Iya, Bu. Belum termasuk biaya obat dan rumah sakit.
Sasya terdiam. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Dafa begitu saja. Akhirnya dia menyetujui operasi itu, dengan uang yang dia pinjam dari rentenir yang dikenalkan oleh temannya.