bc

5 Prince

book_age12+
7.2K
FOLLOW
61.0K
READ
love-triangle
possessive
arrogant
manipulative
goodgirl
prince
drama
comedy
sweet
cruel
like
intro-logo
Blurb

Dyeza Zafriela namanya. Ia tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat sehingga harus bertemu dengan lima lelaki dengan ketampanan di luar nalar manusia. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka bilang bahwa ia adalah istri mereka! Apalagi salah satu di antara mereka yang bernama Zarel, sangat m***m dan juga menyebalkan.

Hell! Kapan Dyeza pernah menikah dengan mereka? Dan juga mengapa mereka semua sangat posesif terhadap dirinya?

chap-preview
Free preview
1. Mysterious Guy

Mata itu mulai terbuka secara perlahan. Saat mata itu sepenuhnya terbuka, kembali sang pemilik mata indah itu mengerjapkan beberapa kali sebelum akhirnya muli terbiasa dengan suasana kamar yang terang akibat sinar matahari yang menyerobot masuk melalui jendela. Tangan mungilnya terbentang lebar untuk meregangkan ototnya seraya melirik jam di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 06.50 AM. 

Seketika mata indahnya terbelalak, "Aku terlambat!"

Tanpa babibu lagi, gadis bernama lengkap Dyeza Zafriela itu langsung turun dari ranjang dan melesat masuk ke dalam kamar mandi.

Hari ini adalah hari minggu dan Dyeza mendapatkan shift pagi di suatu cafe yang berjarak lumayan dekat dari apartemennya. Akan tetapi sepertinya ia akan terlambat mengingat jam masuknya adalah pukul tujuh tepat. Hidup sebatang kara memang mengharuskannya bekerja paruh waktu agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Setelah mandi kilat yaitu sekitar lima menit, gadis itu segera berjalan menuju ke lemari, dan tak lama kemudian ia keluar dengan gaun soft pink bermotif polkadot putih yang melekat pas di badannya. Dengan segera ia mengambil tas selempangnya di atas meja dan buru-buru keluar dari apartemennya. Dalam hati ia terus berdoa agar manager cafe tidak memecatnya nanti, semoga saja!

••••••

"Jangan di ulangi lagi, atau kau akan saya pecat!"

"Baik pak!"

Dyeza langsung menghela nafas lega setelah kepergian Pak Devian, sang manager cafe tempatnya bekerja. Doanya akhirnya terkabul, Pak Devian tidak memecatnya dan hanya memberi peringatan. Ia bersyukur karena kalau kehilangan pekerjaan ini mungkin ia tak bisa apa-apa lagi, mau makan apa ia nanti? batu? Oh dengan senang hati Dyeza tidak mau.

"Hei, Dyeza. Kenapa kau melamun?"
Hingga sebuah suara yang berasal dari gadis bersurai coklat kehitaman berhasil membuyarkan lamunan Dyeza. Ia menoleh ke arah gadis yang mata hijau zamrud-nya sedang menatapnya heran. 

"Ah, tidak."
Gadis bernama lengkap Asshiena Charline, atau biasa di sapa Shiena dan juga notabenenya adalah sahabat dari Dyeza itu berujar "Lebih baik kau segera berganti seragam jikalau tidak ingin di marahi lagi oleh Pak Devian!" 

Anggukan kecil dari Dyeza menjawab saran dari sahabatnya itu. Dengan agak sedikit berlari ia menuju ruang ganti untuk berganti seragam yang memang dikhususkan untuk seorang pelayan di cafe ini. Selang 3 menit kemudian, Dyeza mulai menampakkan dirinya dengan baju seragam khusus pelayan cafe yang berwarna biru dongker dengan kerah berwarna putih. Gadis itu tetap terlihat sangat cantik walaupun hanya mengenakan seragam pelayan.

"Wah, kau cepat juga ya ganti bajunya!" puji Shiena yang baru saja mengantarkan pesanan. Ia kagum akan kecepatan Dyeza dalam melakukan sesuatu, berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan mengganti seragam saja harus membutuhkan waktu lebih dari 10 menit. Bisa di bilang ia lelet dalam hal berpakaian dan semacamnya. Tapi ia tak peduli terhadap kritikan orang-orang yang mengatainya lelet. Toh itu adalah hidupnya sendiri, kenapa jadi orang lain yang ribet? 

"Dyeza! Antarkan pesanan ini ke meja nomor tujuh!" teriak Pak Devian yang berjalan mendekatinya seraya membawa nampan berisi sepiring spaghetti dan bubble tea.

Dyeza yang sebenarnya ingin menjawab ucapan Shiena seketika mengurungkan niatnya, "Baik, Pak!"

Kini tangan Dyeza sudah membawa nampan yang di berikan oleh managernya tadi. Ia tersenyum kecil ketika Shiena mengacungkan jempolnya untuk memberikan semangat. 


Mengalihkan pandangannya, Dyeza pun berjalan mencari meja nomor tujuh. Matanya menelisik ke segala penjuru ruangan cafe, dan terhenti ketika seorang lelaki di meja dekat jendela melambaikan tangan ke arahnya. Dengan segera ia menghampirinya dan meletakkan pesanan seraya berkata "Selamat menikmati." 

Lelaki itu tersenyum dan menahan tangan Dyeza ketika gadis itu hendak pergi,"Bisa menemaniku sebentar? Aku tidak bisa makan tanpa mengobrol."

Sontak Dyeza mengernyit heran. Dimana-mana kalau makan itu dianjurkan untuk tidak mengobrol ataupun berbicara, tapi kenapa lelaki ini malah sebaliknya? Sungguh aneh! Tapi ia tetap mengangguk dan duduk bersebrangan dengan lelaki itu. Pak Devian tak akan mungkin memecatnya jika yang meminta adalah pelanggannya. 

"Perkenalkan, namaku Ellzer. Siapa namamu?" ujar Ellzer mengawali obrolan sambil mengaduk spaghetti-nya agar bumbunya tercampur rata. Ia mengangguk pelan ketika Dyeza mengucapkan namanya.

"Kau tinggal sendiri atau bersama kedua orang tuamu?" tanya Ellzer lalu meringis ketika menyadari pertanyaannya salah. Wajah Dyeza berubah menjadi murung seketika dan ia sudah tahu jawabannya. "Maaf aku tidak tahu."

"Tidak apa. Orang tuaku telah meninggal 9 tahun yang lalu."

Ellzer menopang dagu dengan tangannya, "Aku punya satu pertanyaan untukmu."


"Apa?" Dahi Dyeza berkerut. 

"Jika aku seorang pencopet, kira-kira apa yang akan kulakukan jika melihat seorang gadis berjalan di tempat sepi?" tanya Ellzer dan sukses membuat Dyeza tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Semua orang pun juga tahu, kau akan mengambil dompetnya!" jawab Dyeza mantap. 

"Wow, aku tak menyangka! Jawabanmu salah."

Dyeza menaikkan sebelah alisnya,"Maksudmu?" tanyanya kurang mengerti. Setahunya jawabannya sudah benar. Semua pencopet di dunia ini pasti targetnya adalah dompet atau barang berharga lainnya, kalau bukan itu ya yang mana lagi? Sepatunya? 

"Aku akan mengambil hatinya. Dengan begitu aku akan mendapatkan orangnya dan juga dompetnya." jawab Ellzer sambil tersenyum miring.

Dyeza langsung tertawa saat mendengar jawaban dari Ellzer dan seketika langsung menghentikan tawanya saat pengunjung cafe melihat semua ke arahnya. 

"Kau lebih cantik saat tertawa."

Sontak ucapan Ellzer barusan membuat semburat merah muncul di kedua pipi Dyeza. Selama ini tidak ada yang mengatakan kalau ia cantik kecuali Shiena dan almarhum kedua orang tuanya. 

"Kau jadi semakin cantik saat blushing." Ellzer mulai berkata manis.

"Tidak." ucap Dyeza seraya memalingkan wajahnya yang merona. 

"Jadi sekarang kita berteman?" pinta Ellzer seraya mengulurkan tangannya.
Dyeza hanya memandangi tangan Ellzer sebentar, lalu kemudian ia menerima uluran tangan Ellzer dan berkata "Baiklah."

Bip bip bip!

Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari saku kemeja yang dikenakan oleh Ellzer. Lelaki itu segera merogoh sesuatu dari dalam sakunya yang ternyata adalah sebuah ponsel.

Mendekatkan ponsel ke telinga, Ellzer berkata langsung."Ada apa?"

".............."

Dyeza bisa mendengar teman barunya ini mendengus.
"Baiklah, aku akan segera pergi kesana." 

Dalam satu kali tekan, Ellzer mematikan sambungan telepon. Memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, Ellzer segera berdiri dari meja. Dan reflek Dyeza pun juga ikut berdiri. 

"Sayang sekali, aku harus segera pergi. Ban mobil temanku bocor dan dia memintaku untuk menjemputnya."

Dyeza tersenyum tipis hingga hampir tak terlihat. "Tidak apa-apa."
Jika dilihat dari sikap dan penampilannya, sepertinya Ellzer adalah tipikal lelaki yang baik dan juga menyenangkan. Mungkin. 

"Ini uangnya." Ellzer menaruh beberapa lembar uang Franc Swiss ke atas meja. 

"Sampai jumpa lagi."

Tanpa menunggu jawaban Dyeza, Ellzer segera melangkah keluar dari cafe dengan sedikit terburu-buru. Meninggalkan Dyeza yang hanya menatap punggung Ellzer yang perlahan menghilang dibalik pintu. 

"Dyeza! Dyeza!"

Kepala Dyeza reflek langsung menoleh seketika ke sumber suara yang ternyata berasal dari Shienna. Tapi ada suatu hal yang sedikit aneh disini. Gadis itu terlihat gelisah dengan nampan pesanan di tangannya.
"Shienna, ad--"

"Cepat bawa ke meja nomor delapan! Aku sudah tidak kuat lagi!" ucap Shienna cepat setelah buru-buru mendekati Dyeza dan langsung menaruh nampan berisi pesanan di tangan Dyeza. 

Belum sempat Dyeza menjawab, Shienna sudah lari terbirit-birit menerobos pintu dapur. Dan Dyeza bisa menebak kalau sahabatnya itu pasti mau pergi ke toilet.

Menaruh nampan di tangan kanannya, salah satu tangan Dyeza yang lain terulur mengambil uang Ellzer tadi. Ia segera memasukkan uang kertas ini ke dalam saku agar tidak diambil oleh orang. 

Dengan langkah santai, Dyeza berjalan menuju ke meja nomor delapan yang terletak di paling pojok. Ternyata sang pemesan juga merupakan seorang laki-laki. Bedanya, penampilan lelaki itu terlihat sangat berbanding terbalik dengan Ellzer tadi. Lelaki itu tampak seperti seorang berandalan dengan pakaian urakan dan juga rambut abu-abu yang mencuat kemana-mana. Tipikal seorang bad boy, tapi wajahnya terlihat sudah dewasa, matang, dan juga ehmm....

Tampan.
Tidak! Tidak! Kau tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya, Dyeza! Batin Dyeza sembari menggeleng cepat.

Tak ingin membuat lelaki itu menunggu lama, Dyeza segera melangkah mendekat. Ia segera menaruh pesanan di atas meja dengan tatapan lelaki itu yang mengiringi setiap gerakannya. 

"Selamat menikmati. Maaf jika harus menunggu lama." ucap Dyeza kemudian segera berbalik. 

"Tunggu!"
Kaki Dyeza spontan langsung berhenti tanpa gadis itu sadari. Ia tidak berniat untuk berbalik, karena jujur ia merasa terintimidasi oleh mata dan juga rahang keras lelaki ini. 

"Bisakah kau berhenti bekerja disini?"

Permintaan yang terlontar dari balik bibir lelaki itu sukses membuat Dyeza berbalik cepat. Gadis itu mengernyit bingung. Ada apa dengan lelaki ini? Siapa dia? Kenapa menyuruh orang dengan seenaknya? Lagipula mereka tidak saling mengenal! 

"Maaf?" Dyeza mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
Membenarkan posisi duduknya, lelaki itu berkata santai dengan pandangan sama sekali tak lepas dari wajah bingung Dyeza. “Aku ingin kau berhenti bekerja disini. Apakah itu masih belum jelas?"

"Hah?!" Dyeza semakin bertambah bingung kenapa lelaki ini dengan seenak jidatnya menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Dia pikir dia siapa?!

"Lebih baik kau fokuskan kepada belajarmu. Kau masih terlalu muda untuk bekerja."

Dyeza mendengus. Perkataan lelaki ini memang tidak sepenuhnya salah. Tapi jika tidak bekerja, bagaimana mungkin ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari? 

Dyeza berusaha menampilkan senyum sopan. "Maaf, saya bekerja untuk mencukupi kebutuhan saya. Lagipula sekolah saya masih berjalan dengan lancar." jelasnya sembari melirik ke arah pesanan lelaki ini yang sama sekali belum tersentuh. 

"Dan silakan untuk segera menikmati makanannya sebelum dingin. Terimakasih." Lanjutnya. Dyeza berbalik dan berniat untuk pergi. Namun lagi-lagi perkataan lelaki itu harus membuatnya kembali terdiam. 

"Namaku Dreynan."

Mengerutkan kening, Dyeza kembali bertanya-tanya. Kenapa lelaki ini menyebutkan namanya? Padahal ia sama sekali tidak bertanya. Dasar aneh! 

"Simpan namaku baik-baik di pikiran dan juga dihatimu. Dan juga..." 

Dyeza menunggu perkataan lelaki yang ternyata bernama Dreynan itu yang menggantung.

"Jaga baik-baik dirimu. Tidak lama lagi kami akan datang."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dia Suamiku

read
797.2K
bc

Oh My Kaisar

read
23.0K
bc

RELATIONSHIT (INDONESIA)

read
415.8K
bc

LAUT DALAM 21+

read
278.3K
bc

Ketagihan

read
1.1M
bc

Me and Big Lady

read
80.1K
bc

My Arrogant CEO

read
239.2K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play