bc

KULKAS DUA PINTU

book_age18+
163
FOLLOW
501
READ
possessive
second chance
confident
drama
bxg
brilliant
genius
campus
first love
classmates
like
intro-logo
Blurb

SERI 2 DARI "JODOH PAK DOKTER"

***

Kenan adalah seorang mahasiswa semester akhir di fakultas Teknik. Karena dirinya datang ke acara pernikahan kakak sepupunya, membuat Kenan bertemu kembali dengan cinta pertamanya di SMA—Maudy.

Maudy sendiri tidak pernah berharap untuk bertemu dengan Kenan kembali karena kisah buruk di masa lalu. Dia berharap agar Kenan tidak mengingatnya lagi. Sayangnya, pertemuan mereka seringkali terjadi secara berulang bahkan tanpa sengaja sekalipun. Bagi Maudy, 'Kenan adalah kulkas dua pintu'. Cowok dingin yang menyebalkan.

Lalu, sebuah kejadian membuat Kenan bertekad untuk serius dengan Maudy. Membawa kisah SMA mereka untuk masuk ke jenjang pernikahan seperti kisah SMA mereka yang pernah melakukan simulasi pernikahan adat Jawa ketika ulang tahun sekolah.

Apakah mereka akan benar-benar menikah? Atau memilih untuk berjauhan kembali?

***

INI SEQUEL DARI PAK DOKTER ARHAM DAN FASHA TERCINTA. SEMOGA BISA UNTUK MENGOBATI KERINDUAN KALIAN KEPADA ARHAM-FASHA-KENAN...

chap-preview
Free preview
Kulkas Dua Pintu : 00

PROLOG

***

Kenan~

Percayalah, mataku rasanya ingin menutup. Apalagi dengan suasana yang seperti ini, langgam-langgam Jawa mulai diputar, udara pagi ini yang masih dingin, aroma-aroma sayur Lombok ijo dan semur telur mengusik indera penciumanku yang akhirnya membuat perutku mulai berisik—meminta untuk diisi. Tetapi aku masih tahu diri karena melihat kondisi rumah Pakdhe Erdit dan Budhe Sekar yang begitu ramai oleh orang-orang. Padahal sekarang masih pukul setengah enam, namun sudah banyak orang yang datang.

Hari ini adalah hari pernikahan Kakak sepupuku, namanya Mbak Namira. Perempuan kalem yang kecilnya suka mencuri cokelat di pohon tetangga itu akan menikah hari ini. Tentunya dengan seorang laki-laki pilihannya. Mas Aryobimo, seorang tentara angkatan laut yang katanya berpangkat Letnan Satu. Intinya, mereka sangat cocok dan sepadan. Kalem-kalem begitu, Mbak Namira juga seorang Kowad (korps wanita angkatan darat).

Maka dari itu, semua orang sibuk. Dari beberapa hari yang lalu sudah ramai seperti ini. Hampir tiga hari dengan hari ini, istirahatku mulai terganggu dengan sangat. Maklum, pernikahan dengan adat Jawa bisa berhari-hari. Dimulai dengan acara ngguwangi atau membuang sesaji di tempat yang dianggap sakral. Aku tidak mau mengatakan itu semacam hal yang dilarang agama atau tidak. Tetapi aku akan mengklasifikasikan hal itu ke dalam sebuah tradisi dari nenek moyang.

Sejak tiga hari yang lalu, beberapa tetangga yang sudah ditemui oleh Budhe Sekar—membantu dalam urusan dapur. Mereka memasak semua makanan yang biasanya ada dalam acara pernikahan di desa ini. Lalu setelah itu akan ada beberapa orang yang memasang tenda dan segala macam dekorasinya. Pada saat itu, diadakan kenduren/kenduri untuk mendoakan kelancaran pernikahan.

Aku juga baru tahu jika penggunaan daun jati sebagai alas makan untuk dibawa pulang, masih dilestarikan di sini. Ada nasi uduk, ayam Ingkung, sambal, sayur-sayuran lainnya yang dibungkus dengan daun jati tersebut. Kalau tidak salah sebut, namanya nasi berkat. Setelah aku merasakannya kemarin, rasanya benar-benar enak dan sangat identik dengan pedesaan.

Hal baru lainnya adalah sesepuh yang menegakkan sebuah sapu lidi untuk menghadap langit. Katanya sih agar tidak turun hujan selama acara pernikahan berlangsung. Dan pada malam harinya, seperti yang aku lakukan adalah acara lek-lek'an atau dalam bahasa Indonesia gampangnya disebut dengan begadang. Itulah alasanku masih mengantuk sampai saat ini.

Dengan mata yang tinggal lima watt karena sudah mengantuk berat, aku memilih duduk di kursi yang berada di halaman—kursi untuk tamu yang akan datang nanti. Sebenarnya aku harus berganti pakaian dengan pakaian adat Jawa juga, tentunya sama dengan yang dipakai oleh keluarga besar kami. Tetapi aku menunda berganti pakaian karena memang masih lama juga acaranya. Yang paling penting 'kan aku sudah mandi. Perkara ganti, tinggal ganti saja.

Cekrik.

Aku menatap ke arah kamera yang baru saja berkedip. Mengambil foto tanpa seijinku. Terlihat Rifan yang sudah siap dengan pakaian adatnya. Dia benar-benar memakai atasan sorjan hitam dengan motif bunga. Bawahannya menggunakan celana bahan warna hitam yang ditutupi jarik yang didominasi warna putih, dibentuk menjadi diatas paha.

"Ngapain Lo? Ngantuk?" Tanyanya yang mengambil duduk disamping kananku pada akhirnya.

Aku meregangkan otot-ototku yang kaku, "gue pengen tidur dulu deh. Ngantuk banget, sumpah!"

"Sama aja kalau ngantuk," tandas Rifan yang berulang kali mengarahkan kameranya ke arahku.

Mungkin, jika aku tidak ingat tentang harga kamera Rifan yang seharga puluhan juta itu, sudah aku banting sekarang juga. Tetapi karena aku masih cukup waras, bersabar bukan ide yang buruk juga. Daripada harus merelakan tabunganku untuk mengganti kamera sialan itu.

"Ken," panggil Rifan sambil terus menyenggol tanganku. "Gue mau tanya." Sambungnya.

Aku masih memejamkan mataku sambil menanggapi Rifan yang tidak bisa diam disampingku, "tanya aja, kenapa pakai ijin segala."

"Alesha nikah sama adek tingkat itu serius atau bercanda?"

Mataku yang tadinya mengantuk berat menjadi terbuka lebar-lebar. Ucapan Rifan seperti obat ngantuk paling manjur.

"Serius lah, masa iya bercanda." Jawabku dengan sedikit ketus.

Rifan menyembunyikan senyuman mengejeknya, "udah gue bilang 'kan, cari cewek itu yang suka sama Lo. Jangan cari penyakit deh. Suka kok sama calon istri orang."

"Mana gue tahu kalau Alesha bakalan nikah sama siapa tuh namanya," jawabku menggantung. Pura-pura tidak mengingat nama laki-laki yang menikah dengan Alesha—orang yang aku suka.

"Vigara,"

Lalu beberapa detik kemudian, Rifan tertawa keras. Membuat beberapa orang yang lewat di depan kami sontak langsung menoleh. Aku tidak mau meladeni Rifan lagi. Jadi aku putuskan untuk masuk ke dalam rumah, menemui Mbak Namira saja. Mungkin aku salah memilih fotografer.

Sedikit akan ku ceritakan tentang Rifan. Dia sama-sama duduk di bangku kelas jurusan teknik sipil sepertiku. Tetapi kami seperti mempunyai jenjang karir yang berbeda, jauh. Walaupun masih sama-sama kuliah, kami sudah mempunyai pekerjaan masing-masing. Aku yang sudah bekerja di daerah kontruksi walaupun masih menjadi asisten salah satu kontraktor di mana aku pernah magang waktu itu. Sedangkan Rifan sendiri, dia sudah sukses dengan membuka jasa foto. Ya, Rifan adalah seorang fotografer. Semua peralatan lengkap, begitupula dengan karyawannya yang cukup mendukung untuk pekerjaan besar seperti ini.

Setelah perdebatan sedikit dengan Rifan masalah percintaanku yang suram. Aku langsung buru-buru masuk ke dalam rumah, duduk di salah satu ruangan yang digunakan untuk make up atau berganti pakaian. Sedangkan Rifan sudah sibuk dengan tugasnya. Dia dan beberapa anak buahnya sudah memasang kamera dan perlengkapannya di tempat yang sudah mereka setting sebelumnya untuk meliput acara nanti. Dari awal sampai selesai.

"Ken, ganti sana." Pinta Bunda yang sudah cantik dengan make up yang lumayan tebal dan kebaya warna merahnya.

"Nanti aja Bund, 'kan masih lama juga acaranya." Jawabku malas-malasan. "Kok Budhe Sekar malah belum di make up, Bund?" Tanyaku kepada Bunda yang sibuk menatap ke arah cermin.

"Yang penting dulu." Jawab Bunda seadanya. "Itu yang cewek dua itu 'kan nanti tunggu buku tamu, jadi di make up duluan. Kalau Namira itu, bakalan lama. Namanya juga orang mau nikah, harus manglingi dong. Cantik pokoknya nanti." Sambung Bunda sambil menunjuk Mbak Namira yang memang subhanallah cantiknya.

Aku mendekat ke arahnya yang sejak aku datang kesini sampai sekarang, belum sempat ngobrol sama sekali. Mbak Namira melambaikan tangan kanannya ke arahku. Setelah aku berada di depannya, kami ber-tos ria. Seperti yang kami lakukan dulu ketika masih anak-anak. Lalu kami berpelukan sebentar, melepaskan rindu. Aku memilih untuk duduk di depannya yang tengah dipasangi jilbab.

"Semoga lancar akadnya, Mbak. Semoga lancar semua proses pernikahannya lah. Supaya Mbak bisa cepat-cepat ngasih aku keponakan yang lucu-lucu." Ucapku sambil memegang tangannya.

Mbak Namira tersenyum, "amin! Semoga Kenan cepat nyusul juga."

"Amin deh! Tapi masih lama," jawabku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

"Ganti baju Kenan!" Jewer Budhe Sekar.

"Auw~" keluhku kepada Budhe Sekar yang menjewerku. "Ini namanya KDRT, Budhe. Perkara ganti baju doang." Sambungku.

Hari itu, aku habiskan bersama dengan keluarga besarku. Tepatnya, keluarga besar Ayah yang diikuti juga oleh keluarga Bunda. Intinya, semua ada. Setidaknya, dengan berkumpul seperti ini akan menghilangkan sedikit penat setelah berbulan-bulan berkutat dengan skripsian.

***

Maudy~

Aku menatap sebal ke arah Bang Ilham—pacarku—yang sejak kami keluar dari kereta beberapa jam yang lalu, sudah sibuk menelepon tidak jelas. Dia selalu mengatakan kata 'siap' berulang kali. Melupakan aku yang berada di sini, menenteng barang-barang bawaan kami. Aku hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit bersamanya, tetapi bukannya berlibur ala-ala pasangan pada umumnya, dia malah mengajakku untuk kondangan jauh-jauh keluar kota.

Sebenarnya tidak masalah, tetapi seharusnya dia memberikan sebuah perhatian kepadaku karena sudah menemaninya. Itung-itung rasa terima kasih atau apalah itu karena kami tidak jadi liburan bersama. Padahal dia seringkali berjanji dan berjanji lagi, lalu akhirnya ketika benar-benar mendapatkan libur—aku yang tidak bisa libur kuliah. Dan saat yang pas seperti ini, aku dan dia sama-sama libur, harus ada acara pernikahan ini.

Katanya, ini pernikahan atasannya. Orang yang berulang kali Abang panggil dengan kata Komandan. Si pengganggu yang setiap kali kami sedang berduaan selalu menelepon seenaknya. Atau paling parah terus meminta tolong untuk membantu calon istrinya, beberapa bulan lalu. Memangnya si Komandan itu tidak tahu bahwa Bang Ilham ini juga punya pacar yang perlu diperhatikan?

Seenaknya saja meminta pacar orang untuk membantu pacarnya sendiri. Benar-benar menyebalkan sekali. Bahkan rasanya tidak sudi aku pergi jauh-jauh dengan kereta hanya untuk mendatangi pernikahan mereka. Ya, katakan saja aku cemburuan. Tetapi perempuan mana yang tidak emosi dengan keadaan? Punya pacar tetapi macam jomblo yang kekurangan kasih sayang.

Bahkan sepanjang perjalanan ke penginapan yang sudah kami pesan, dia sibuk menelepon terus-menerus. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan aku pun memilih untuk duduk di ruang tamu. Aku ingin beristirahat sejenak. Menselonjorkan kakiku yang sangat pegal ini. Lalu tidak lama kemudian, Bang Ilham keluar dari kamarnya.

"Dek, siap-siap." Perintahnya sambil terus menelepon.

"Masih nanti 'kan acaranya? Masa nikahan jam enam pagi." Gerutuku tidak senang.

Bang Ilham menghela napas panjang dan berjalan ke arahku setelah mematikan teleponnya entah dengan siapa.

"Sekarang, kita berangkat sebentar lagi. Ini anak-anak pada minta stand by di sana jam tujuh. Palingan nanti jam setengah tujuh udah berangkat. Yuk, siap-siap."

"Tadi aja sibuk sama telepon, sampai lupa kalau punya pacar."

"Bukannya lupa, Yang. Tapi karena ada telepon penting. Kamu 'kan tahu kalau aku tentara. Pasti banyak lah telepon penting. Ngertiin ya?"

"Tahu ah!"

Aku bergegas ke kamarku dan meninggalkannya begitu saja. Aku tahu Bang Ilham tertawa melihatku marah. Tetapi aku terus berjalan saja dan bersiap-siap. Daripada nanti ditinggalkan sendirian di sini. Lebih baik aku mengawal Bang Ilham agar tidak ada perempuan-perempuan genit yang mendekatinya.

Hanya butuh waktu sebentar, aku sudah siap dengan dandanan yang tidak terlalu menor dan juga sebuah tatanan rambut yang dibuat seperti rambut pramugari. Mungkin lebih tepatnya, aku ingin mengudara saat ini juga. Tentu saja karena model rambut saja. Selebihnya aku tidak mirip sama sekali. Mana ada pramugari yang tingginya 155cm sepertiku? Ya, aku pernah dengar rumor bahwa Bang Ilham penyuka pramugari.

Mungkin karena kebanyakan mantan pacarnya adalah pramugari. Tetapi menurutku, itu 'kan karena Abang sering sekali berada di bandara, jadi wajar kalau bertemunya dengan pramugari saja. Ah, mengapa aku membahas semuanya. Kembali lagi kepada inti permasalahan.

Aku dan Bang Ilham akhirnya masuk ke dalam mobil salah satu rekan Abang untuk sampai di pernikahan itu. Selama di perjalanan, aku sempat mengobrol dengan beberapa pacar dari orang-orang di dalam mobil ini. Dan ternyata tidak hanya aku yang merasakan kesulitan karena calon istri si Komandan itu. Ternyata mereka semua merasakannya. Mungkin aku harus menjambak rambutnya atau melakukan sesuatu teknik karate untuk membuatnya terjengkang.

Sesampainya di sana, aku melihat sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas didekor dengan sebuah dekorasi adat Jawa yang sangat kental. Aku sempat takjub dan mungkin bisa aku tiru ketika acara pernikahanku nantinya.

"Baik-baik kamu, Yang. Jangan bikin malu Abang," ucap Bang Ilham yang mendapatkan cubitan dariku.

"Palingan aku pukul,"

Bang Ilham memasang wajah mengejeknya, "kalem-kalem aja deh. Tuh, lihat, pengantinnya."

Aku melihat seorang perempuan dengan jilbab dan memakai kebaya warna putih sedang tersenyum ke arah beberapa orang. Ini sih cantik, cantik banget.

"Calonnya Komandan itu lulusan AKMIL, pernah tugas juga di daerah konflik. Dulu waktu SMA, katanya pernah juara nasional karate putri. Kalau kata anak-anak sih, sempurna untuk ukuran seorang perempuan. Cocok lah sama Komandan yang notabene sempurna juga. Bedanya, komandan lulusan AAU, lulusan terbaik di jamannya."

"Kalau punya anak, bakalan super power banget dong."

Bang Ilham tertawa, "super power apaan? Jadi superhero? Ada-ada aja deh."

"Ih, nyebelin."

"Oh iya, calon istrinya Komandan juga punya adik laki-laki. Sekarang masih pendidikan di AKMIL."

"Yang mana orangnya? Ada enggak di sini? Kepo sama mukanya. Ganteng enggak kalau Kakaknya aja cantik luar biasa gitu."

Abang celingukan, mencari-cari seseorang yang mungkin akan dia perlihatkan sebagai adik dari calon komandannya. Aku tidak mengerti mengapa keluarga itu sangat-sangat sempurna. Pasti orang tuanya sangat bangga dengan anak-anaknya yang sukses-sukses itu.

"Itu adiknya... Pakai sorjan warna merah. Ganteng 'kan?" Tunjuk Bang Ilham ke arah gerombolan laki-laki. Aku menatap jari telunjuk Abang yang mengarah kepada seorang laki-laki yang mungkin aku kenal.

"Yang itu?" Tanyaku memastikan sambil menunjuk ke arah seseorang yang berada di ujung sana.

Abang mengangguk, "ganteng 'kan?"

Aku menatapnya dari kejauhan. Melihat orang yang beberapa tahun ini tidak pernah aku temui. Mungkin tidak pernah berkomunikasi lagi setelah hari kelulusan. Jadi, sekarang dia masuk AKMIL begitu? Menjadi seorang tentara? Seperti yang pernah kami lakukan dulu, melakukan sebuah pernikahan pedang pora? Jadi, apakah dia akan mengingatku atau mengabaikanku seperti dulu?

***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mr Triplek

read
65.3K
bc

Gadis Kartu Kredit

read
195.2K
bc

Wanita Idaman CEO

read
132.7K
bc

PLAYDATE

read
116.2K
bc

RAHIM KONTRAK

read
405.4K
bc

LOVE / HATE (Indonesia)

read
3.9K
bc

T E A R S

read
295.8K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play