"Keelan, Keelan." Indira kembali mengelus d**a melihat tingkah Jaegar Tunggal ini. Pasalnya, laki-laki itu selalu membuat masalah. "Harus pakai cara apa Ibu biar kamu ini jera?"
"Macam-macam hukuman juga udah kamu rasain tapi kenapa gak ada satupun yang bisa bikin kamu jera?"
“Kamu ini sudah kelas 12 lho, Lan. Sebentar lagi lulus, kamu itu senior, masa iya seniornya begini? Coba kamu itu ya memberikan contoh yang baik sebagai senior, kurang-kurangin begitu kenakalan kamu, mau sampai kapan? Sampai kamu lulus? Kamu itu menyandang nama Jaegar, Keelan. Masa iya tingkahnya begini?”
Jengah, itu yang Keelan rasakan sekarang. Apapun yang ia perbuat selalu tidak jauh-jauh dari kata Jaegar. Memang apa salahnya? Ia hanya menjadi dirinya sendiri dan melakukan apapun yang ia mau.
"Padahal Kaiser dan teman-teman kamu yang lain itu gak gini lho. Kamu gak bisa contoh teman-teman kamu?"
"Memang kelakuan saya kenapa? Saya cuma telat, bolos, berantem, itu semua hal lumrah yang sering terjadi di masa putih abu-abu. Di jaman Ibu kalau gak begini ya jangan disamain, Bu. Semua sudah ada di porsinya masing-masing. Kalau Ibu mau lihat yang baik-baik, Ibu bisa lihat Kaiser, teman-teman saya, atau bahkan orang yang menurut Ibu baik. Begitu juga sebaliknya Bu, kalo Ibu mau lihat versi lain, ya Ibu bisa lihat saya."
Jawaban lugas Jaegar Tunggal itu membungkam Indira.
"Ibu sendiri yang naruh ekspetasi tinggi ke saya terus ekspetasinya gak sesuai sama realita saya juga yang salahin. Masa iya saya harus bunuh karakter saya demi wujudin ekspetasi Ibu?"
Wajah wanita paruh baya itu merah padam marah, meskipun demikian dia tidak akan mampu untuk melawan Keelan Jaegar itu. Tak lama dari kepergian Indira, Rakala datang dengan wajah yang tidak bersahabat.
“Halo,” sapa Keelan. Rakala semakin jengkel. Bagaimana bisa Keelan tanpa dosa menyapanya seperti itu. Sedangkan karena laki-laki itu juga Rakala yang sedang rapat membahas persiapan terakhir semua program OSIS harus meninggalkan kegiatan itu untuk mengurus Keelan.
“Bisa-bisanya ya lo nyapa gue tanpa dosa begitu?”
“Harusnya gak gue sapa?”
Rakala menarik napas. “Ikut gue."
"Wah, ngajak bolos ya lo?"
“Lo tuh bisa gak sih gunain otak lo sebelum ngomong?”
"Put the context makanya."
"Ke ruangan OSIS, sekarang." Tutup Rakala. Perempuan cantik itu berputar, seperti biasa meninggalkan Keelan terlebih dahulu, kemudian sejenak, Rakala sadar, Keelan masih diam di tempat, ia kembali menuju Keelan dan menarik pemuda itu.
“Gue lagi dihukum lho?”
“Ya karena itu gue diminta ngurusin lo. Lo itu kenapa sih selalu bikin bu Indira pusing? Gue lagi rapat dan bisa-bisanya gue disuruh ngurusin elo.”
“Itu guru aja yang hobi cari masalah sama gue.”
Rakala memutar bola matanya malas. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan seorang Keelan Jaegar ini. Memang semua yang Keelan lakukan sebatas hal lumrah yang sering sekali dilakukan oleh laki-laki seusia Keelan. Hanya saja, laki-laki itu selalu mengulang hal yang sama. Berbeda dengan teman-temannya, seperti Levi ataupun Jovian yang bertingkah sekali atau dua kali. Keelan ini kurang lebih sama dengan Kaiser, hanya saja Kaiser masih bisa untuk diatasi.
“Coba kalau gandeng tangan gue tuh yang benar.”
Rakala yang tersadar buru-buru melepaskan pegangan tangan itu. Kemudian dengan cepat menjawab, “Itu reflek. Lagian lo juga gak jalan-jalan yaudah gue tarik aja. Gak usah mikir aneh-aneh lo.”
Keelan menurunkan tinggi badannya, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Rakala. Aroma maskulin Keelan berlomba-lomba memasuki indra penciuman Rakala. “Emang gue mikir apa?”
“Y-ya, ya mana gue tau.”
Keelan tertawa puas. Ia akan berhenti menjahili Rakala jika wajah perempuan itu sudah memerah seperti tomat matang, sama seperti saat ini.
“Udah deh, ayo ikut gue. Jangan ke mana-mana, jangan coba-coba kabur, gue akan ngawasin lo.” Tutup Rakala.
Langkah keduanya berhenti di depan ruangan OSIS. Di dalam ruangan itu terdengar suara Levi. Dan benar saja, pemandangan pertama yang Keelan lihat adalah Levi yang berdiri di depan, sedang memimpin rapat menggantikan Rakala.
Semua orang yang berada di ruangan itu mulai berbisik-bisik kecil begitu Keelan datang. Mereka tidak berani bersuara dengan lantang jika tidak ingin diamuk oleh Rakala.
Keelan seperti anak kecil yang berdiri disamping Rakala yang menjelaskan. Hampir 15 menit, Rakala menoleh, laki-laki itu memilih berdiri disampingnya daripada duduk ditempat yang kosong. “Lo kenapa gak duduk?” ucapnya setengah berbisik.
“Kata lo gak boleh ke mana-mana?”
“Duduk aja, Kee.”
Keelan kembali mengangguk-angguk. Ia kembali mendengar pembahasan yang ia sendiri tidak tau, yang Keelan tangkap pembahasan itu hanya agenda OSIS yang tersisa.
“Lo habis berbuat apa?”
Keelan menoleh. Levi duduk tepat disebelahnya. Pandangan laki-laki itu masih tetap fokus ke depan.
“Diskusi sama bu Indira.”
Levi menoleh. Ia juga tidak bisa menyalahkan Keelan atas semua kenakalan yang dia lakukan, meskipun karena hal itu juga mereka harus bekerja lebih ekstra untuk mengurusi Keelan terutama OSIS, karena guru pun tidak sanggup menangani kenakalan Keelan Jaegar.
Putra tunggal Kasaga itu melihat arah pandang Keelan yang masih terpusat pada Rakala.
“Biasa aja lihatnya, Lan. Rakala gak akan ke mana-mana.”
Keelan terkekeh. “Rugi gak sih kalau gak dilihat? Cantik begitu.” Levi juga ikut tertawa kecil. “Jadi ini alasan lo betah dispen, bisa lihat yang cantik-cantik terus gak ikut pelajaran.”
Hampir 2 berlalu dan acara itu belum juga menunjukan tanda-tanda berakhir. Keelan bisa saja pergi meninggalkan tempat ini, hanya saja pintu ruangan ini berada di depan, tidak jauh dari Rakala berdiri. Dan satu-satunya jalan alternatif hanyalah jendela.
Laki-laki itu menoleh, melihat jendela yang dengan sengaja dibuka sebagai sirkulasi udara. Tidak membutuhkan waktu cukup lama, Keelan berhasil keluar tanpa tertangkap. Langkah selanjutnya adalah menuju tempat dimana Kaustra yang tersisa berada.
“Yo!” Kaiser dan Jovian yang sudah berada di kantin terlebih dahulu menoleh.
“Dari mana lo?” tanya Kaiser.
“Melakukan hal yang menyenangkan.”
Kaiser dan Jovian mendengkus. Keelan selalu menjawab hukuman dan membuat OSIS bekerja lebih ekstra untuk mengurusnya sebagai kegiatan yang menyenangkan. Terkadang Kaiser merasa sedikit kasihan hanya saja Keelan selalu bisa membuat Kaiser merasa memberikan rasa kasihan pada orang yang salah.
“Levi masih tugas OSIS?” tanya Jovian.
“Iya.”
Kaiser meletakan gelas es jeruknya. “Tau dari mana kalau Levi masih rapat?”
“Gue 2 jam di ruangan OSIS.”
“Ngapain? Bukannya lo tadi di lapangan hormat bendera?”
“Ngadem, panas euy lapangan.” Ucap Keelan. “Enak juga di ruangan OSIS, dingin. Pantas aja OSIS lebih sering pakai alasan dispen.”
“Rakala ya?” ucap Jovian.
“Emang siapa lagi yang mau ngejalanin permintaan petinggi buat ngurusin gue?”
“Enak, 'kan diurusin cewek cantik?” ledek Jovian.
Keelan tertawa, mengangguk setuju. “Benar juga, siapa yang gak mau ya?”
“KEELAN JAEGAR!” baru saja ia tertawa bersama teman-temannya, orang yang menjadi perbincangan dalam obrolan itu benar-benar datang.
Perempuan itu menghampiri meja Keelan. Menarik kembali tangan laki-laki itu agar segera kembali mengikutinya.
“Pelan-pelan, Kal.”
“Lo tuh ya. Kenapa sih gak bisa diam sehari aja? Gue bilang apa soal jangan ke mana-mana tadi? Bisa-bisanya kabur sedangkan tadi lo ada di ruangan OSIS, benar-benar ya lo?” omel Rakala beruntun.
Keelan kembali tertawa. Hal itu membuat Rakala benar-benar kesal, Keelan selalu bisa menghancurkan rencana yang sudah Rakala susun dengan rapi hingga ia lulus, tapi dengan adanya Keelan Jaegar semuanya berantakan.
“Satu-satu, Rakala. Gue dengar kok.”
“Dengar tapi kabur. Mau lo apa sih, Kee?” Rakala meletakan kedua tangannya pada pinggangnya. “Sekali aja jangan buat masalah sampai acara OSIS gue selesai?”
“Ya lo gak perlu ngurusin gue?”
“Gimana gak ngurusin elo kalau lo aja kayak gini. Bu Indira udah angkat tangan, petinggi nyerahin lo ke gue. Lo tanggung jawab gue, Keelan.”
“Gue merasa tersanjung.” Jawab Keelan. “Lo gak perlu ikutin omongan petinggi, Rakala. Gue rasa lo gak lupa sama omongan gue soal jangan selalu maksain diri?”
Rakala menarik napas. Ia benar-benar lelah dan itu sudah tergambar jelas pada wajahnya.
“Gue gak kabur ke mana-mana, gak bertingkah juga. Lo bisa lihat gue sama teman-teman gue, 'kan? Gue bukan anggota lo. Jadi gue gak punya hak untuk tetap tinggal di ruangan OSIS lo itu. Anggota lo bisa gak fokus kalau gue tetap ada di sana, ya kecuali lo emang mau bikin anggota lo gak fokus.”
Itu benar, Rakala sampai harus sedikit menaikan nada bicaranya tadi karena fokus anggotanya yang sedikit terpecah begitu Keelan datang. Memang para anggota OSIS Rakala tetap diam, hanya saja hal itu bisa terlihat jelas bahwa mereka juga memberikan atensi pada Jaegar Tunggal.