REVAN Aku terduduk lemas di sofa menatap kosong ke layar televisi yang tidak menyala. Sudah sejam berlalu sejak anak-anak dan Demi pulang. Suara tawa serta celoteh yang memenuhi rumah ini tadi, sekarang hilang tak bersisa. Rumah ini kembali sepi seperti sebelumnya. Sunyi tanpa ada suara-suara yang menandakan orang yang hidup di dalamnya. Mulai sekarang, aku harus membiasakan diri hidup seperti ini. Sendiri tanpa siapa pun. Ucapan Demi mengenai kemungkinan diriku akan mencari wanita lain setelah resmi bercerai kembali terlintas. Mungkin benar juga ucapan Demi. Tidak mungkin aku bisa hidup sendirian terus seperti ini sampai aku mati nanti. Hanya beberapa bulan saja, aku rasanya mau gila. Pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut, tanpa ada suara tawa dan ocehan anak-anak, tanpa ada istri

