bc

Raka dan Wanitanya

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
brave
drama
sweet
bxg
campus
highschool
like
intro-logo
Blurb

(Warning Cerita Mengandung Adegan Dewasa!!!) Raka seorang Mahasiswa Baru yang memulai kehidupan kampus dengan tak terduga, di mulai dengan Ospek yang mempertemukan dia dengan kating luar biasa cantik sampai ke dosen kampus nya yang luar bisa menggoda. kehidupan percintaan raka yang penuh komedi romantis berjalan seiring dengan hubungan yang di sembunyikan dari setiap wanitanya.

chap-preview
Free preview
Prolog
Matahari pagi ini seolah memiliki dendam pribadi pada setiap inci kulit yang terpapar di lapangan universitas. Di tengah lautan kemeja putih dan celana kain hitam yang seragam, aku berdiri kaku. Peluh mulai meniti di pelipis, mengalir lambat menuju kerah baju yang sudah lembap. Namaku Raka, seorang mahasiswa baru yang entah karena keberanian atau kenaifan memilih menceburkan diri ke dalam labirin kata-kata di jurusan Sastra Indonesia. Bagiku, bahasa adalah rimba yang megah sekaligus menyesatkan, dan hari ini, aku merasa seperti pengembara amatir yang dilepaskan di pintu masuk tanpa peta. "Raka, kalau dalam lima menit aku tidak mendapat asupan oksigen yang layak, tolong sampaikan pada dunia bahwa aku mati sebagai martir di bawah terik matahari," bisik suara di sebelahku dengan nada dramatis. Itu Arlo. Teman satu kelompok OSPEK yang baru kukenal beberapa jam lalu saat pembagian barisan. Penampilannya jauh lebih 'kekinian' dibanding aku, potongan rambut comma hair-nya mulai berantakan karena keringat. Sejak tadi, dia terus mengeluhkan kualitas tabir suryanya yang dianggap gagal total. Arlo adalah tipe orang yang bisa mengubah situasi paling membosankan menjadi panggung komedi improvisasi. Aku terkekeh pelan, meski tenggorokanku terasa seperti habis mengunyah amplas. "Tenang saja, Arlo. Kalau kamu tumbang, aku pastikan namamu tetap tercatat di absensi sebagai 'hadir dalam roh'. Terdengar sangat pahlawan untuk mahasiswa Sastra, bukan?" "Sangat puitis, Raka. Tapi aku lebih suka tetap hidup dan makan nasi padang setelah ini," sahutnya sambil mengipasi wajah dengan tangan. Kami terjebak di tengah orientasi yang melelahkan. Di depan barisan, beberapa kakak tingkat dengan jaket almamater kebanggaan mondar-mandir dengan wajah yang sengaja dibuat garang seolah mereka adalah penjaga gerbang kerajaan kuno. Namun, di antara hiruk-pikuk instruksi dan peluit yang memekakkan telinga, perhatianku teralih pada dua sosok yang berjalan perlahan menyisir barisan . Salah satunya adalah perempuan berambut pendek sebahu dengan raut tegas. Dia memegang pengeras suara, matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik kami. Itu Kak Vanya, panitia disiplin yang dehaman singkatnya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Namun, bukan Kak Vanya yang menyita fokusku, melainkan sosok yang berjalan tepat di sampingnya. Araya. Berbeda dengan Kak Vanya yang memancarkan aura otoritas kaku, Araya melangkah tenang, nyaris seperti tidak ingin mengganggu rumput yang diinjaknya. Jaket almamaternya tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang ramping, memberikan kesan lembut. Rambutnya diikat kuda sederhana, menyisakan beberapa helai yang tertiup angin, membingkai wajah yang tampak sangat kontras dengan suasana lapangan yang penuh tekanan. "Lihat yang di sebelah Kak Vanya itu," bisik Arlo lagi, kali ini lebih serius. "Itu Kak Araya. Kata senior di kantin tadi pagi, dia primadona Sastra tapi sangat pendiam. Seperti karakter novel yang keluar ke dunia nyata, ya?" Aku hanya mengangguk pelan, membenarkan dalam hati. Araya memang berbeda. Dia tidak berteriak atau membentak. Dia hanya memegang papan klip dengan jemari lentur, sesekali mencatat sesuatu dengan ekspresi fokus yang menenangkan. Saat mereka mendekati kelompokku udara di sekitarku mendadak berubah. Kak Vanya berhenti tepat di depanku dan Arlo, memberikan tatapan menyelidik yang membuat tulang belakang Arlo mendadak tegak sekeras beton. "Kelompok Sembilan! Kenapa masih mengobrol di barisan?" suara Kak Vanya menggelegar melalui pengeras suara. "Maaf, Kak. Kami hanya sedang mendiskusikan... strategi bertahan hidup di bawah matahari," jawab Arlo dengan keberanian yang lebih mirip niat bunuh diri sosial. Kak Vanya mengerutkan kening, siap melepaskan rentetan teguran. Namun, sebelum kata-kata pedas itu meluncur, Araya menyentuh lengan Kak Vanya dengan sangat lembut. Sebuah gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk meredam ketegangan. Araya melangkah maju, berdiri tepat di hadapanku. Seketika, hiruk-pikuk di sekelilingku luruh menjadi hening. Di mataku, hanya ada dia. Araya menatapku, lalu beralih ke Arlo, dan di sanalah hal itu terjadi. Dia memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat murah hati, senyum yang seolah mampu menurunkan suhu lapangan ini beberapa derajat. "Wajah kalian merah sekali," suaranya lembut, nyaris tenggelam oleh kebisingan sekitar, tapi terdengar sangat jelas di telingaku seperti melodi familiar. "Apa ada yang merasa pusing atau ingin pingsan?" Lidahku kelu. Sebagai mahasiswa Sastra, aku seharusnya punya ribuan kosakata untuk menjawabnya, tapi saat ini otakku sedang mengalami stuck massal. "I-iya... maksud saya, tidak Kak. Kami baik-baik saja," jawabku akhirnya, berusaha agar tidak terdengar seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. "Teman saya ini tadi mau jadi martir, Kak. Tapi sepertinya dia berubah pikiran setelah melihat Kak Araya," celetuk Arlo, kembali pada tabiat aslinya yang tidak tahu malu. Araya menutup mulut dengan tangan, tawa kecil yang tertahan lolos dari bibirnya. Matanya menyipit indah, memancarkan binar ramah. Pipinya merona tipis karena godaan Arlo, menambah kesan anggun yang alami. "Jangan dipaksakan kalau tidak kuat, ya," kata Araya lagi, matanya kembali tertuju padaku. "Sesi istirahat sepuluh menit lagi. Nanti ambil air minum di pos sebelah sana." "Terima kasih banyak, Kak Araya," balasku dengan suara yang lebih mantap. Kak Vanya berdeham. "Sudah, Araya. Jangan terlalu memanjakan mereka. Mereka harus belajar tangguh. Ayo, masih ada blok sebelah." Araya mengangguk patuh. Sebelum berbalik, dia kembali memberiku tatapan singkat sebuah isyarat yang sulit kuartikan, namun terasa seperti sebuah undangan untuk masa depan. Mereka melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum samar yang bercampur dengan bau tanah lapangan; sebuah kontradiksi yang membekas. "Gila, Raka," Arlo mengembuskan napas panjang. "Senyum Kak Araya itu oase. Aku rasa aku baru saja melihat malaikat versi mahasiswi." Aku terdiam, menatap punggung Araya yang menjauh. Di kepalaku, sebuah narasi baru mulai tersusun. Jika OSPEK ini adalah bab pertama dari naskah hidupku di kampus, maka pertemuan ini adalah inciting incident yang sempurna. Ada sesuatu dalam diam dan senyum malu-malu Araya yang membuatku yakin: perjalanan di jurusan Sastra ini akan memberikan lebih dari sekadar pelajaran tata bahasa. Aku membenarkan posisi berdiri, mengabaikan keringat yang semakin deras. Kini aku tahu, di ujung lapangan ini, di antara ribuan wajah asing, ada satu senyum yang membuat segala lelah ini terasa berharga. Ini adalah awal, dan aku tidak sabar menuliskan halaman selanjutnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Eat Me, Daddy!

read
24.6K
bc

Nona-ku Canduku

read
102.5K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.2K
bc

Lara, Ketika Cinta Tak Memilih

read
6.4K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
7.8K
bc

BRIANNA [Affair]

read
132.3K
bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
19.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook