BAGIAN ENAM PULUH TIGA Iqbaal untuk pergi bertugas ke luar negeri. “inget kata aku?” tanya Iqbaal menatap Silvia. “apa?” “calon ibu persit?” tanya Iqbaal dengan alis terangkat berharap Silvia bisa melanjutkan ucapannya. “hm iyah harus kuat’kan?” lanjut Silvia “nah itu pinter,” “pinterlah, masa aku sebagai guru gak pinter.” Kesal 5ilvia merasa diremehkan. “iyahh ibu guru Silvia.” “iyahh kapten Iqbaal.” “i love you,” ucap Iqbaal refleks, membuat Silvia melongo kaget dengan ucapan Iqbaal. “eh,” “kenapa?” tanya Iqbaal heran karena Silvia tidak menjawab pernyataannya. “i love you too,” jawab Silvia cepat sambil malu malu. Meski sudah sedewasa itu, tapi mereka tetap saja insan yang normal. Api asmara mereka masih berkobar, menyulut cinta diantara mereka. “Apa aku gak denger? U

