Anandhiya semakin mempercepat kunyahan wafer di dalam mulutnya, kala panggilan telepon dilakukan kepada sang ibu sudah diangkat di seberang sana hanya berselang lima detik sejak sambungan dimulai olehnya pertama kali. "Hallo, Mama.” Anandhiya menyapa dengan antusiasme besar. Suaranya pun terdengar begitu ceria seperti senyum cerah lebar yang tercetak juga di wajah. “Hallo juga , Sayang.” Mendengar alunan suara lembut dari sang ibu, seketika rasa rindu menyergap diri Anandhiya. “Mama, aku kangen sama Mama. Kapan pulangnya, Ma? Jangan lama-lama.” “Mama betah banget di Thailand, ya. Baliknya ke Bali cepatan dong, Ma. Jangan seminggu lagi. Lusa aja pulang, Mama Cantikku.” Anandhiya mengeluarkan rajukannya. “Mama juga ingin balik segera. Tapi, tidak bisa. Mama masih ada

