Dua insan itu saling tatap untuk beberapa saat.
"Hemh. Kamu terlalu banyak nonton drama, Nona!" Devian menyeringai. Pertanyaan konyol itu membuatnya geli.
"Apa pertanyaan itu muncul karena aku tak tertarik padamu?"
"Apa?" Yumna seolah terkejut. Meski pun itu benar, akan sulit mengakuinya.
"Oh, bukannya saya kecewa, itu bukan masalah buat saya Tuan. Lagi pula saya tidak menginginkan itu. Yah, sebenarnya banyak pria normal di luar sana yang mati-matian mengejar saya. Dan normalnya, seorang pria kalau sudah pernah begituan, dia tidak mungkin berpuasa terus-terusan."
"Ck. Kamu ngomong apa, sih?" Devian mendecak menyibak selimut yang menutupi tubuh. "Awas minggir!"
Pria itu berdiri dan menyenggol tubuh Yumna hingga oleng.
"Hiss. Apa Anda seorang psikopat?!" Kesal Yumna mendesis, meneriaki Devian yang sudah berjalan masuk ke kamar mandi.
***
"Dasar perempuan gak waras!" Pria yang mengenakan kaos oblong dan celana boxer itu menggerutu di sela aktivitasnya menggosok gigi.
"Apa dia gak bisa bedakan pria normal dan tidak normal?!" ucapnya sebelum kumur-kumur dan menghempaskan cairan berbusa di mulutnya ke wastafel.
Pria itu membuka kaos hingga ia bisa melihat perut sixpacknya di kaca.
"Apa aku terlalu gemulai? Terlalu tampan?" Ia tersenyum sinis karena bangga. "Masa otot sebesar ini dibilang gak normal?" Devian memiringkan badan menampakkan otot-otot di tangan dan perutnya, berbolak-balik seperti binaragawan.
"Apa aku harus membuktikan pada perempuan itu? Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin lah bilang aku belum tidur dengan Bianca. Bisa hilang kegagahanku. Hemh." Pria itu kini nampak berpikir.
Jika ia kembali mengingat hari di mana Bianca pergi, itu sangat memuakkan. Wanita itu pergi bahkan sebelum kaki mereka menjejak di lobi hotel.
Untunglah kedua orang tuanya tidak tahu, ia bisa menyimpan rapat-rapat karena saat resepsi keduanya tidak bisa berhadir sebab Tuan Adiwijaya harus operasi jantung mendadak di Inggris. Ia pun beralibi dengan beberapa pegawainya tentang kenyataan yang tengah ia hadapi.
***
Saat Yumna akan keluar kamar, benda pipih milik Devian yang tergeletak di nakas berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelpon ia pun mengangkatnya.
"Hallo Tuan. Maaf mengganggu." Suara merdu Alina terdengar dari ujung telepon.
"Iya, Mbak. Suami saya sedang ada di kamar mandi."
"Oh, ma-maaf kan saya Nyonya Bianca." Suara sekretaris terdengar sedikit tegagap. "Kalau begitu nanti saja saya hubungi kembali." Telepon terputus, dahi Yumna mengernyit.
"Aneh sekali nada suaranya." Wanita itu menelengkan kepala.
Rasa penasaran kembali mendorong Yumna melakukan sesuatu. Tangannya bergerak membuka chat dari sekretaris itu.
"Hoh, ya Allah. Seksi sekali pakaiannya." Jemari lentik Nyonya Devian mengklik chat dengan profil wanita yang mengenakan kemeja tipis yang memperlihatkan belahan d**a dan rok mini yang membuat mata siapa saja tak berkedip karenanya.
"Apa tuan juga melihat ini. Ck."
Yumna semakin terkejut tatkala melihat beberapa chat yang berjajar dari Alina.
[Maaf Tuan, karena Tuan bilang tidak akan ke kantor maka saya sampaikan lewat pesan ini. ]
[Tiketnya sudah saya pesan. Saya juga sudah memesan hotel, satu kamar untuk berdua.]
"Apa ini? Tiket apa? Hotel apa?" Yumna berpikir keras. "Apa Tuan memesan hotel untuk kami karena pertanyaanku tadi? Hoh?!" Ia menutup mulut tak percaya.
"Tapi ... baru beberapa menit lalu, kapan Tuan bicara pada Alina?"
Semakin penasaran, Yumna pun membalas pesan wanita yang selalu nampak seksi itu.
[Oya, Alina. Bisakah minta manager mengantar saja tiketnya ke rumah?]
Hanya beberapa detik, chat itu dibalas.
[Ke rumah Tuan? Maaf, apa tidak salah, Tuan?]
Cepat Yumna membalas.
[Lakukan saja.]
[Oya, sekarang]
Alina kembali mengirim chat balasan.
[Baik, Tuan]
"Aku 'kan Nyonya Devian, dan ini bukan kesalahan. Karena diam melihat kedzaliman itu adalah kesalahan. Awas saja kalau ketauan selingkuh dengan sekretaris itu, aku akan mengadukannya pada Nyonya Bianca. Hemh!"
Dengan perasaan lega Yumna meninggalkan kamar.
***
Yumna meletakkan piring dan beberapa mangkuk yang berisi sayur ke atas meja makan bersama dengan beberapa pelayan.
"Bi, apa Tuan Devian tidak pernah sholat?"
"Sholat?" Berpikir sejenak. Pelayan mengosongkan tangan lalu mengangkat tangan dan meletakkan keduanya di d**a. "Apa yang seperti ini, Non?"
Yumna tertawa kecil. "Betul, Bi."
"Oh, ya. Tuan Devian itu muslim yang taat, Non. Tiap kali lebaran pasti sholat begitu di masjid." Pelayan menjawab sambil memegang piring kembali.
"Lebaran? Cuma pas lebaran, Bi?" Mata jelinya membulat. "Heh." Yumna tak percaya, sholat waktu lebaran saja dibilang muslim taat. Sepertinya orang-orang di rumah itu memiliki pemahaman yang salah tentang agama.
Sebenarnya tadi pagi, saat bangun dia merasa tak nyaman melihat Devian masih lelap sedang dirinya sholat subuh. Hanya saja, belum waktunya langsung menegur. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan perihal kewajiban seorang muslim pada suaminya itu. Walau bagaimana ia tidak ingin memiliki ikatan kosong tanpa aqidah yang melandasinya, meski tanpa cinta.
Setelah makanan 90% telah siap, Nyonya dan Tuan Adiwijaya datang. Mereka menyapa Yumna dengan ramah. Saat Devian datang ia sangat ingin menampakkan wajah dingin dan kesal pada Yumna, tapi keberadaan orang tuanya membuatnya tersenyum manis untuk perempuan itu.
Ketika acara makan berlangsung, seorang tamu datang. Semua orang memelankan kunyahan di mulut mereka.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" tanya Nyonya Adiwijaya heran.
Yumna yang menyadari itu adalah orang suruhan Alina segera menyahut, "Oh, itu pesanan saya, Ma. Maaf biar Yumna lihat."
Tanpa basa-basi ia berdiri menuju pintu depan.
"Yumna?" Mata wanita itu menyipit.
"Hemh?!" Setelah berpikir Devian baru sadar, bahwa ia mengenalkan nama istrinya sebagai Bianca.
"Ehm, itu nama julukannya, Ma. Hehehe," kilahnya.
Di depan pintu, Yumna segera membuka isi amplop dan melihatnya.
"Subhanallah!"
Benar saja, dua tiket itu atas nama Devian dan Alina. Meski ia juga pasti terkejut jika isinya atas namanya dan Devian. Menurutnya dua-duanya bukan hal bagus.
***
Dua gadis tengah duduk di bangku taman Fakultas Pendidikan Islam, Universitas Hasanudin. Siang yang terik, semilir angin nan sejuk, membuat mereka nyaman ngobrol sambil menikmati cup coffe.
"Kamu tau apa yang paling aku benci, Nay?" Tatapan kosong wanita berkerudung cokelat itu kentara.
"Apa itu?" tanya Nayla, teman kost Yumna dulu ketika ayahnya masih hidup.
"Cemburu." Pelan suara itu keluar dari bibir ranum Yumna.
"Cemburu?"
"Yah. Rasa sakitnya sangat menyesakkan d**a. Melihat orang yang kita cintai memberi perhatian dan kasihnya pada wanita lain."
"Kamu tau sekali rasanya, apa kamu pernah cemburu?" Nayla menyesap minumannya.
"Pernah. Dulu saat Kang Rizal khitbah Maya."
"Duh, kesiian. Kamu pasti merasa ketikung ya?"
"Hemh." Yumna mengangguk pelan membenarkan.
"Em. Tapi itu berkebalikan dari yang kamu lakukan sekarang. Kamu adalah istri kedua Yumna."
"Benar. Tapi aku tidak mencintainya, bagaimana aku bisa cemburu?" Yumna mengatakan dengan mantap. Tapi ia heran terhadap apa yang menimpanya di rumah tadi. Rasa tak suka dan sedikit nyeri di d**a. Ketika dengan mata kepala sendiri mendapati tiket liburan atas nama Devian dan Alina. Kenapa ia berselingkuh dari Bianca? Jika memang Devian menyukai sekretarisnya, dia harusnya menikahi Alina, bukan dirinya.
"Dia bahkan tidak menyentuhku."
"What? Yang benar saja."
Yumna mengangguk berkali-kali.
"Sama sekali?" cecar Nayla hingga Yumna menoleh cepat.
"Maksud kamu?" tanyanya lirih nyaris tak terdengar sembari memegangi bibirnya. 'Apa Nayla tau Tuan sudah menciumku?'
Nayla tersenyum lebar dengan mata melotot, ia manggut-manggut seolah paham maksud dari reaksi sahabatnya itu. Lebih usil tangan kanannya diletakkan di atas dua matanya seolah mengamati lebih serius wajah wanita itu. Sontak pipi Yumna bersemu malu.
Di saat yang sama ponsel Yumna berdering. Saat mengangkatnya, kontak atas nama Tn. Devian tertera di layar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Em, Yumna. Pulang lah sekarang? Izin pada dosenmu. Ini soal tiket yang kamu letakkan di kamar. Kita harus ke Bali sekarang." Devian bicara panjang lebar tanpa memberi jeda Yumna menyahut. Ada sedikit penekanan intonasi dalam kalimat yang Tuannya sampaikan. Terdengar seperti marah.
"Sekarang?!"