•PROLOG•

900 Words

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you."

Khatrine tidak bisa menahan tangis harunya saat melihat kedua orang tuanya yang datang sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya, apa lagi ketika mengetahui Mamanya benar-benar membawakan kue ulang tahun yang sesuai dengan permintaannya, yaitu kue ulang tahun bertema lautan. Khatrine sontak terisak pelan, lalu mendekat untuk memeluk singkat kedua orang tuanya.

Setelah itu Khatrine pun mengurai pelukan lalu menyatukan kedua tangannya didepan d**a dan mulai mengucapkan harapannya diulang tahunnya yang ke 18 ini. Dalam hati ia berharap, semoga kebahagiaan akan selalu datang kepadanya dan juga kedua orang tuanya. Ia juga berharap jika kedepannya akan baik-baik saja agar ia bisa membuktikan pada kedua orang tuanya jika ia bisa menjadi seorang model terkenal.

"Terima kasih, Ma, Pa. Aku menyayangi kalian." Khatrine kembali memeluk kedua orang tuanya, mengucapkan rasa syukur karena terlahir dikeluarga yang harmonis dan penuh cinta di dalamnya.

"Sama-sama, sayang. Mama dan Papa juga menyayangimu." ucap Benedic, Ayah Khatrine. Ia tersenyum hangat sambil mengusap pelan puncak kepala Khatrine.

"Bagaimana jika hari ini kita jalan-jalan? Untuk merayakan ulang tahunmu." Nerissa menyarankan. Ia ingin ulang tahun putrinya dirayakan di luar, tidak di rumah seperti sebelum-sebelumnya, karena Nerissa ingin membuat kenangan yang berbeda. "Kau ingin ke suatu tempat, sayang?"

"Aku mau ke pantai!" ucap Khatrine semangat. Sudah lama ia tidak ke pantai, pasti akan sangat menyenangkan jika ia merayakan ulang tahun di pinggir pantai. Ia mungkin akan mengundang Thomas untuk ikut. Semoga saja dia mau ikut.

"Tidak ke tempat lain saja?"

Khatrine menggeleng. "Tidak mau. Aku ingin merayakan ulang tahunku di pantai." Ia menatap melas kedua orang tuanya dengan kedua tangan saling menggenggam didepan d**a. "Bolehkan, Ma, Pa?"

Benedic tertawa pelan. "Baiklah, Tuan Putri. Berhenti menatap seperti itu, kau tahu kami tidak bisa menolak jika kau memasang ekspresi seperti itu."

"YES!" Khatrine berseru senang. Ia kembali memeluk kedua orang tuanya, mencium pipi mereka satu persatu lalu segera berbalik ke kamar. Sebelum menutup pintu kamar, Khatrine berteriak jika ia tidak akan lama-lama berdandan.

•••

Khatrine tidak bisa menahan ekspresi kagumnya ketika mereka akhirnya sampai di pantai setelah hampir satu jam berada di perjalanan. Kedua mata Khatrine lantas beralih menatap pada karpet yang sudah digelar di atas pasir pantai, ditemani beberapa lilin dipinggir karpet yang membuatnya benar-benar terlihat indah. Pantai itu seakan sudah disewa, karena tidak ada satu pun orang yang terlihat. Khatrine lantas menoleh pada Benedic. "Apa Papa menyewa pantai ini? Kenapa tidak ada satu pun orang disini?"

"Iya, apa kau suka?"

"Sangat suka!" Khatrine memeluk Benedic sejenak lalu segera berlari menuruni tangga. Ia hampir terjatuh saking tidak sabaran, beruntung dengan cepat tangannya berpegangan pada pinggiran tangga.

"Tidak usah lari, sayang." Nerissa berteriak, tapi Khatrine hanya tertawa dan tak menghiraukan ucapannya. Ia pun menggeleng melihat tingkah putrinya itu. "Dia seperti anak kecil saja."

"Bagiku dia akan tetap menjadi putri kecil." Benedic menjawab. Ia menoleh, melempar senyum hangat pada Nerissa lalu merangkul istrinya itu untuk menyusul Khatrine.

Mereka bertiga duduk di atas karpet, memandang pada matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Ketiganya sama-sama diam, menikmati waktu yang semakin berlalu.

"Khatrine..." Di tengah keheningan, Benedic tiba-tiba memanggil, membuat Khatrine yang tadinya tengah memejamkan mata akhirnya menoleh.

"Ya, Pa?"

"Apa kau bahagia, Nak?"

"Tentu saja aku bahagia, Pa. Apa lagi ada Mama dan Papa di sini."

Benedic tersenyum. "Sekarang umurmu sudah 18 tahun, mulai sekarang kau harus belajar mandiri. Tidak boleh banyak mengeluh dan jangan patah semangat."

"Iya, Pa. Khatrine akan menuruti apa yang Papa katakan."

"Ingatlah, jika kami berdua akan selalu menyayangimu. Jadi jangan pernah merasa sendirian, karena kami akan selalu ada bersamamu."

"Tunggu...apa Mama dan Papa berniat meninggalkanku?"

"Kami tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang." Kali ini Nerissa yang bicara. "Kami akan selalu ada dihatimu."

"Oke, cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku merasa takut." Khatrine memandang kedua orang tuanya bergantian, mencoba untuk mengerti situasi apa yang sedang ia hadapi. Tapi ia tidak menemukan apa yang ia cari, kedua orang tuanya juga terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang disembunyikan oleh keduanya.

"Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang." Ucap Nerissa dan Benedic serempak. Kedua orang tua Khatrine itu hendak memeluk, tapi tidak jadi ketika hujan tiba-tiba saja turun dengan deras.

Mereka sontak segera berlari untuk melindungi diri agar tidak basah, dan pilihan mereka yaitu masuk ke dalam mobil.

"Ck! Kenapa hujan harus turun sekarang?" Protes Khatrine. Ia mengerucutkan bibirnya, nampak kesal karena hujan mengacaukan acara pestanya.

"Sudah jangan marah." Nerissa memberikan handuk kecil dari dalam dashboard pada Khatrine, membantu putrinya itu untuk mengeringkan rambut. "Lagi pula kau 'kan sudah sering ke sini."

"Tapi ini ulang tahunku. Dan hujan merusaknya!"

"Sebagai gantinya, kita ke tempat lain saja bagaimana? Aquarium?"

Khatrine menghela nafasnya, meski masih sedikit kesal. "Baiklah."

Benedic tersenyum. Ia lantas menjalankan mobilnya meninggalkan area pantai. Meski hujan deras menyusahkannya untuk melihat jalanan, ia tetap memaksa meneruskan perjalanan karena tidak ingin mengecewakan putrinya.

Namun sayang, di tengah perjalan, sebuah mobil di depan mereka tiba-tiba keluar dari jalur, membuat Benedic refleks memutar setir dan menyebabkan mobil mereka harus terguling dan masuk ke jurang.

Khatrine berteriak takut. Ia mencoba menggapai Nerissa, tapi tidak bisa karena kaca mobil yang melukai tubuhnya. Khatrine mencoba membuka matanya, dan hal yang pertama ia lihat adalah kedua orang tuanya yang tak sadarkan diri dengan banyak luka ditubuh mereka. Darah berceceran dimana-mana, juga kaca mobil yang hancur tak berbentuk.

"Ma...Pa..." Khatrine memanggil kedua orang tuanya dengan suara lemah. Ia mencoba menggerakan tangannya, tapi tidak bisa karena rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya.

Khatrine mulai merasa tidak kuat. Pada akhirnya kesadarannya pun perlahan hilang. Dan itu adalah saat terakhir bagi Khatrine bisa melihat kedua orang tuanya, dalam keadaan yang sangat menyakitkan.

Mama...Papa...

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd