Becca mencoba mengingat apa yang pernah Anya katakana tentang pria idaman yang disukainya. Tapi ia baru menyadari sesuatu. Mengapa Viona tiba-tiba menanyakan hal itu padanya.
“Grandma, mengapa Grandma menanyakan hal ini?”
Viona terkesiap. Ia tidak siap dengan pertanyaan yang diajukan Becca. Tiba-tiba ia tertawa kecil.
“Tidak, Grandma hanya membandingkan antara dirimu dengan dirinya. Kalian berdua sama-sama cantik, cerdas, perangai kalian juga bagus tentu saja kalian seharusnya menjadi incaran banyak pria di luar sana. Tapi kau sudah menemukan tambatan hatimu pada Aaron. Jadi, Grandma bertanya bagaimana dengan Anya? Apakah dia juga sudah menemukan seseorang yang ia sukai?”
Becca hanya ber-oh ria. Ia tidak mau berpikiran yang negatif tentang Grandma-nya. Yah, anggaplah Viona hanya ingin mengenal dunianya. Itu saja. Ia lalu mulai mencoba mengingat-ingat apa yang pernah Anya katakan tentang pria idamannya.
Flashback on
Becca dan Anya sedang berada di kantin sekolah saat jam istirahat. Anya nampak sibuk menambahkan saus dan sambal pada mie ayam di hadapannya sementara Becca sibuk membolak-balik majalah remaja yang baru saja dibelinya.
“Eh, Anya… coba lihat ini. Ada rubrik kuis tentang pasangan idaman,” kata Becca sambil menarik lengan Anya yang sedang menyeruput mie-nya. Anya mengangguk cepat. Sama seperti Becca, kuis-kuis sederhana seperti ini memang menarik untuk dicoba.
“Coba nilai 1-10 daftar berikut ini,” kata Becca membaca instruksi kuis. Anya tampak menyimak dengan antusias. Mereka lalu mengisi pada kolom yang ada di halaman majalah itu bersisian.
Becca melihat jawaban Anya.
“Eh, mengapa kau mengisikan usia adalah prioritas pertama?” tanya Becca pada Anya begitu melihat urutan prioritas jawaban Anya.
“Karena aku menyukai pria yang lebih tua. Mereka pasti punya lebih banyak pengalaman dari kita dan dengan pengalaman itu mereka bisa menuntun kita. Uhmm…mungkin bagiku pria yang lebih tua itu lebih dewasa dan terlihat... uhmm... menarik,” ucap Anya dengan malu-malu mengakui yang ia katakan barusan.
Becca mengangguk-angguk.
“Kalau aku lebih menyukai pria yang seusia denganku agar lebih nyaman saat berkomunikasi karena dunia kami sama.”
Keduanya lalu saling memandang dan tersenyum. Mereka melanjutkan pembahasan mereka.
Flashback end
Becca mengingat momen itu, di saat mereka sedang SMA dulu.
“Seingatku Anya pernah mengatakan bahwa ia menyukai pria yang lebih tua dan dewasa karena ia ingin pria yang dapat membimbingnya kelak.”
Viona nampak mengangguk-angguk.
“Lalu, apakah dia pernah menyebutkan siapa pria yang dia sukai?” tanya Viona untuk menelisik lebih jauh. Mungkin Becca pernah mendapat informasi tentang itu. Sayangnya, Viona tidak mendapat jawaban apapun selain gelengan kepala.
Setelah pembahasan itu Becca kembali ke kamarnya. Ia berjanji akan menelepon Aaron setelah ia menyelesaikan makan malam dan acara kumpul keluarganya. Rasa cemas Viona tidak berkurang setelah mendapatkan jawaban dari Becca. Malah sekarang ia mulai berpikir untuk melakukan sesuatu.
***
Pagi harinya seperti biasa keempat orang itu menikmati sarapan bersama di meja makan bundar di ruang makan. Anya menyelesaikan makannya terlebih dahulu lalu membawa piringnya ke dapur. Ia sudah terbiasa untuk mencuci piringnya sendiri sejak hari pertama ia tinggal di kediaman Rivaldi. Meskipun Becca sudah mengatakan untuk menyerahkan pekerjaan itu pada pembantu, tapi Anya menyadari ia hanya menumpang. Jadi setidaknya ia tidak mau merepotkan begitu banyak pada keluarga ini.
Viona melihat Anya berdiri dan mengikutinya berjalan ke dapur. Ia mengambil sekotak jus buah dari dalam lemari es yang ada di dalam dapur lalu menuang isinya ke dalam gelas. Ia berdiri di samping Anya yang sedang mencuci sambil membawa gelas jusnya.
“Mau jus buah, Anya?” tawar Viona berbasa-basi. Ia tidak mau terlalu to the point untuk masalah ini. Lagi-lagi Viona berpikir untuk mengatakan isi hatinya dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan Anya.
Anya menoleh ke arah Viona sambil tersenyum.
“Tidak, terima kasih Grandma. Apa Grandma mau memakan buah mungkin? Kemarin saya sempat mampir ke supermarket dan membeli apel. Grandma mau?” kali ini Anya yang berbasa-basi.
Viona mengangguk.
“Sure!”
Anya mengeringkan tangannya dengan handuk tangan lalu beralih mengambil apel di dalam lemari es dan sebuah pisau. Dengan sigap ia mengupas kulit apel itu lalu memotong apel itu menjadi beberapa bagian dan meletakkan potongan apel itu ke dalam piring. Ia menyodorkan piring itu kepada Viona agar Viona bisa memakannya lebih dulu.
Viona tersenyum lalu mengambil potongan apel itu.
“Kau sepertinya sangat terampil dalam urusan rumah tangga. Cocok sebagai istri yang baik untuk suamimu kelak,” puji Viona. Ia berpikir pembicaraan serius harus dimulai dengan sedikit pujian.
Anya terkekeh.
“Grandma bisa saja. Saya masih belum punya pacar kok sudah berpikir menjadi istri,” sahut Anya malu-malu. Viona terkekeh.
“Pujianku ini sungguh-sungguh, Anya. Tidak banyak wanita yang mau melakukan pekerjaan rumah sepertimu. Kau terbiasa mencuci piring sendiri, membersihkan kamarmu sendiri, dan belum lagi ini memotong buah dengan sangat rapi.”
Anya tersenyum malu sambil mengigit potongan apelnya.
“Ngomong-ngomong tadi kau bilang belum punya pacar?”
Anya menghentikan kunyahnya sejenak lalu mengangguk.
“Bagaimana bisa wanita secantik, cerdas, terampil dan lembut sepertimu belum memiliki kekasih? Lihat saja Becca, ia sudah berpacaran dengan Aaron bahkan ketika mereka berkuliah di tahun kedua. Apakah selama ini kau belum menemukan pria yang kau sukai?” tanya Viona dengan nada sedikit menggoda Anya. Ia hanya berharap bisa memancing gadis itu untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Uhm… Saya memang belum punya kekasih. Tapi, kalau pria yang saya sukai… uhmm… ada,” jawab Anya sambil berbisik di kata “ada”. Viona pura-pura terkejut.
“Oh ya? Siapa dia? Apakah Becca mengenalnya juga?”
Anya tersenyum sambil menimbang-nimbang. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Viona.
“Grandma jangan beri tahu siapapun ya.”
Viona mengangguk dan makin penasaran. Anya meminta Viona untuk mendekatkan telinganya.
“Rahasia,” jawab Anya. Viona terkekeh.
“Anak nakal!” kata Viona sambil menyentil hidung Anya. Anya tertawa kecil. Ternyata Viona juga sangat polos seperti Becca dan ia bersyukur karena Viona tidak mudah tersinggung jika diajak bercanda.
“Siapapun dia, Grandma berharap itu bukan pria beristri atau pria yang sudah berpasangan. Jangan sampai rasa sukamu menganggu hubungan mereka. Jangan mau menjadi pihak ketiga di antara mereka karena sekali mereka mengetahui bahwa perasaanmu ada di antara mereka, hubungan kalian akan rusak selamanya. Bukan hanya kau yang hancur tapi kau juga akan menjadi dalang di balik rusaknya sebuah hubungan yang dibangun kedua orang itu dengan susah payah,” pesan Viona.
Viona hanya berharap pesannya ini benar-benar membuat Anya sadar akan posisinya. Sadar akan perasaannya yang dapat menganggu pria yang sudah beristri apalagi pada putranya. Anya hanya diam memahami maksud ucapan Viona.
“Ada lagi, Grandma hanya berpesan jangan sampai perilakumu terhadap orang yang kau sukai itu disalahpahami. Itu saja,” lanjut Viona.
Kali ini Anya seperti merasa tersambar petir. Otaknya berusaha mencerna dan merefleksikan semua yang diucapkan Viona padanya. Ia merasa ucapan Viona ada benarnya. Mungkin selama ini ia sudah terlalu terang-terangan menunjukkan perilaku perhatiannya pada Rivaldi. Dan ia sadar Rivaldi sudah beristri. Ia harus menjaga sikapnya mulai hari ini.
Anya mengangguk, menyetujui wejangan Viona. Viona tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Anya dan meninggalkan gadis itu di dalam dapur.
‘Semoga dengan ini kau mengerti posisimu, Anya. Aku hanya tidak ingin membencimu karena kau menjadi perusak rumah tangga putraku.’
***
Anya membereskan setiap barang-barang yang ia bawa ke dalam koper besarnya. Ia sudah tinggal di kediaman Rivaldi selama kurang lebih 10 hari dan kemarin ia baru saja menemukan kos yang sesuai untuknya dan Ibunya, Erica.
Becca ikut membantu Anya untuk mengemas barang-barangnya yang ternyata cukup banyak itu. Becca mengambil sikat gigi dan pasta gigi Anya lalu memberikannya pada sahabatnya untuk dikemas ke dalam koper.
“Terima kasih,” ucap Anya.
“Meskipun dirimu tinggal di kos, tapi sering-seringlah main ke sini. Aku membutuhkan teman mengobrol dan begadang. Ya?”
“Iya… Iya… Tuan Putri. Jika waktunya tepat, aku akan menginap di sini. Puas?”
Becca memeluk Anya. Keduanya sekarang berjalan beriringan keluar dari kamar Anya. Becca membantu Anya untuk membawa beberapa barang Anya. Viona dan Rivaldi menunggu mereka di ruang tengah sambil menikmati acara televisi.
Begitu mendengar derap kaki dan decit koper di atas lantai marmer rumah mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Anya dengan tas ransel hitam di punggungnya berjalan ke depan mendekati Rivaldi dan Viona.
“Grandma dan Pak Rivaldi, terima kasih untuk semuanya beberapa hari ini. Saya sangat berterima kasih karena diizinkan untuk menumpang. Kapan-kapan saya akan mampir jika sempat,” pamit Anya.
“Betul. Jangan sungkan untuk mengunjungi Grandma di sini. Apalagi Becca. Benar kan, Sayang?” tanya Viona pada Becca.
“Anya sudah tahu itu kok, Grandma. Aku sudah mengutarakannya tadi.”
Anya melirik Rivaldi yang daritadi hanya diam. Becca menyenggol lengan Rivaldi yang terdiam untuk membuat pria itu sadar dari lamunannya.
“Oh ya? Uhm… kita akan bertemu lagi di kantor hari Senin oke? Jangan sampai terlambat.”
“Yah… Papa… Pesannya kok malah bahas kantor sih? Papa nggak seru!” sahut Becca dengan mencebikkan bibirnya. Anya dan Viona hanya terkekeh.
“Baik kalau begitu saya permisi dulu.”
Anya mengambil barang-barangnya lalu menggeret kopernya berjalan ke arah luar rumah. Rivaldi mengamati punggung gadis itu. Tiba-tiba…
“ANYA!”
Anya membalikkan badan dan memandang Rivaldi yang memanggilnya.
A/N: Ada apa ya Rivaldi memanggil?