Di kamus hidup Abi tak ada yanh namanya menyerah, setelah tiga hari berlalu pasca bertemunya dengan wanita yang menolongnya untuk menangkap pencopet kala itu Abi tak bisa berhenti memikirkan gadis itu apalagi senyumnya yang menawan hatinya.
Abimanyu bahkan tak memikirkan predikat playboynya padahal ia amat dikenal dengan predikat itu alisa buaya licin, lengah sedikit matanya tanpa menunggu nanti-nanti terlihat berbinar, apalagi wajah rupawan Abi tak bisa bila di acuhkan. Kelakuan seperti ini tentunya tak di ketahui oleh kedua orangtuanya yang memang orang terpandang di Jogjakarta, cukup para rekan-rekannya saja yang tahu bahwa kelakuan Abi tak sebaik kelihatannya, didepan Abi memang meiliki wajah kalem maka tak ada yang tahu bahwa bujangan itu memiliki sisi liar juga.
Sudah berapa korban yang menjadi mangsa Abi tentunya sudah tak bisa di hitung lagi menggunakan jari, meski begitu Abi tetap menjaga kesehatannya—meski kebanyakan laki-laki lebih memilih tak memakai pengaman tidak untuk Abi yang tetap mengutamakan keamanan karena ia belum ingin membuat jantung Ibu dan Ayahnya bermasalah.
Menjadi laki-laki tampan memang sebuah anugrah tapi juga membuat Abi tak bisa bebas, kemanapun ia akan tetap di liputi sebuah dosa yaitu saat mata binar Abi sudah mendapat mangsa ia tak akan segan-segan menarik pada mangsa ke ranjang. Laki-laki dengan dua kepala memang susah untuk tidak di hiraukan.
Siang itu Abi memang berniat untuk mengunjungi toko roti yang kemarin ia datangi bersama sang Ibu. Rasanya Abi tak akan hidup tenang bila ia tak menemukan informasi soal wanita dengan senyum manis itu. Abi menarik kaos berwarna navy dan juga celana jeans dengan warna biru muda, penampilan harus sempurna agar si gadis manis itu mempan dalam rayuannya nanti.
Abi kemudian keluar dari kamar, melewati ruang makan yang memang disana sang Ibu sedang duduk disana sembari merajut, mencium bau harum yang ia kenal harum milik putranya lekas ia mendongakkan kepalanya untuk sekedar melihat apa benar itu putranya.
“Abii?” panggil Harina.
“Mau keluar sebentar Ma,”
“Kemana? Pulang sebentar aja kok keluyuran aja kamu ini—mbok ya diam di rumah gitu lho..” protes Harina pada anaknya.
“Cuman sebentar aja Mi, ketemuan sama Yusuf anak Pak Dahlan itu, lama udah enggak kumpul-kumpul.” alibi Abi.
“Ck! Ya sudah pulangnya jangan sore-sore nanti kita ada jadwal makan malam lho.”
“Nggih Mi.”
Setelah mendapat ijin si Ibu segera Abi melesat kearah rak sepatu pilihannya jatuh pada sepatu sneakers putih dengan corak biru kemudian melesat ke arah garansi mobil di sisi kanan rumah besar itu.
■■■
Abi memakirkan mobilnya seperti kemarin saat ia menempatkan mobilnya. Setelah mobilnya terparkir aman ia segera loncat dari mobil jeep Wranglernya, Abi sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan perempuan manis yang sudah mencuri hatinya itu.
Siang itu keadaan toko tak seramai kemarin sedikit lenggang, matanya segera berpendar kesana-kemari mencari wanita yang Abi cari namun setiap sisi Abi mencari dan mengedarkan pandangannya tetap saja ia mendapatkan hasil nihil, sebenarnya kemana kebreadaan perempuan itu.
“Maaf, Mas. Mau cari apa ya?” tanya si pramuniaganya.
“Ah—mau cari roti kecil-kecil Mbak buat oleh-oleh anak kecil.” alibi Abi sekenanya.
“Oh—mari ikut saya Mas, di sebelah kanan.” unjuk si pramuniaganya.
Sembari memilih roti yang akan ia pilih matanya juga tak luput mengawasi setiap titik toko tersebut. Sebenarnya Abi ingin menanyakan keberadaan wanita yang kemarin menabraknya tanpa sengaja tapi Abi sungkan ingin menanyakan keberadaan wanita itu.
Sudah lima belas menit Abi mengedarkan pandangannya dalam toko tersebut bahkan keranjangnya hampir penuh demi menunggu wanita yang ia tunggu keluar dari sarang tapi sayang yang ditunggu ternyata tak tampak.
Dengan kesal Abi memutuskan untuk menanyakan pramuniaga yang kebetulan lewat di depannya. Rasa penasarannya sudah tak bisa lagi ia bendung, bagaiamanapun caranya ia harus bisa mendapatkan informasi wanita itu bila memang tidak dapat salah satu cara ia memang harus menyewa seseorang untuk menyelediki wanita yang sudah sangat pintar mencuri perhatian Abi.
“Mbak—Mbak—“ panggil Abi.
“Ya Mas, bisa saya bantu?”
“Maaf Mbak, saya mau nanya—apa ada karyawan wanita yang tingginya sebahu saya, kuncir kuda, pakaiannya beda sama seragam toko ini.” Abi menjelaskan apa yang ingin ia tanyakan.
“Mungkin maksud Masnya karyawan baru?”
“Mungkin.”
“Karyawan barunya ada tiga orang Mas kebetulan, ada ap—“
“Yang kemarin nabrak saya, di bagian pajangan itu Mbak.” potong Abi cepat.
“Oh—mungkin maksud Masnya Jelita?”
“Mungkin, saya tidak begitu tahu namanya—apa hari ini dia ada?”
“Maaf sekali lagi Mas, Jelitanya sedang tidak ada jadwal pagi.” si pramuniaga itu menjelaskan kembali.
“Jadi jadwalnya jam berapa Mbak?”
“Sore sampai malam Mas, kalo pagi mungkin dia ada di kerjaannya yang lain—Maaf kalo boleh tahu Mas siapanya Jelita?”
“Saya, anak teman ayahnya Mbak—kalo gitu terima kasih atas informasinya.” ujar Abi pada Mbak-Mbak pramuniaga tersebut.
“Sama-sama, Mas.” balas pramuniaga tersebut.
■■■
Abi sudah mengantongi nama gadis itu, rasanya ia tak sabar ingin kembali bertemu dengan wajah manis nan ayu milik Jelita, laki-laki dan kemauannya harus tetap maju terus.
Pikiran Abi sudah melalang buana, bila Jelita ia jadikan istrinya Abi berjanji akan tobat melakukan hubungan haram dengan banyak perempuan, ia akan berhenti melakukan hubungan ranjang.
Namun namanya Buaya mana bisa hanya dipegang janji dan omong kosongnya, semuanya hoax dan palsu. Jiwa nakal Abi sudah terbentuk kala ia berkecimpung saat ia sudah benar-benar menjadi pilot karena pengaruh teman-temannya yang memilih bermain nikmat dengan embel-embel hubungan haram.
“Aku dapat kamu, aku janji berhenti jadi nakal, Jel.” gumam Abi penuh dengna percaya diri.
Setelahnya itu ia kembali melajukan jeep wranglernya menembus jalanan Jogja yang siang itu sedang baik alias ia terhindar dari macet, sembari menunggu jam shift Jelita ia memilih berkunjung ke rumah sepupunya, sembari melepas rindu pada para bujangan Hardinata yang jarang bisa Abi kunjungin karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ia berada di pesawat mengatar ratusan nyawa.
■■■
Sebelum masuk dan menggantikan pekerjaan rekannya di kasir, Jelita menarik nafas dalamnya sebelum menghembuskan nafasnya dengan kasar, badannya letih tentu namun semua yang Jelita lakukan demi Papa dan juga adiknya, ia harus menjadi tokoh yang lebih kuat dan kokoh, sakit adalah hal terakhir yang Jelita harapkan semoga memang ia tak ingin terserang sakit yang ia inginkan adalah Jelita yang sehat walafiat.
“Jel, gantiin Etta di Kasir ya,” pinta Ani selaku rekan Jelita.
“Siap Mbak, sampai jam sembilan kan?” tanya Jelita lagi.
“Hari ini kita sampai jam delapan aja deh, kasihan lo dan lainnya juga ini senin agak rame.” Ani menjelaskan.
“Alhamdulillah..makasih Mbak Ani.”
“Eh—Lit, tadi siang ada yang nanyain lo, cowok sih—dia tinggi, badannya gede, tinggi, terus mukanya kaya ada blasteran chinanya gitu.”
“Hah—siapa Mbak—“
“Mana aku tahu, Lit. Udah paling orang iseng aja—semangat ya kerjanya aku tinggal.”
“Iya Mbak, makasih!”
Bertepatan Jelita sedang menghitung barang pembelian dari pelangannya pintu masuk kembali terbuka namun sayang Jelita tak begitu memperhatikan pelangan yang barusan masuk ke toko rotinya.
Senyuman puas tercetak di bibir Abi saat ia benar-benar kembali melihat wajah manis, mata lebar, serta wajah yang ayu itu terlihat jelas di matanya. Tanpa menunggu lama-lama Abi kembali mengikuti daftar antrian yang memang tinggal tersisa tiga orang, ia akan sabar menanti menunggu bertemu Jelita saja bisa, mengantri saja masak ia tak sabar.
Ibu-ibu di depannya sudah selesai membayar belanjaannya gantian Abi yang mendapat antrian, Abi melipatkan tangan menunggu respon Jelita yang sedang mengambil kerdus untuk menempatkan roti.
“Maaf, belanjaannya?”
“Maaf, namanya saja boleh?” Jahil Abi dengan senyum jahilnya.
“Maaf—“
“Maaf mulu, belum lebaran ini—maaf-maafannya nanti aja.” celetuk Abi asal.
“Ada yang bisa saja bantu?” Jelita masih berada di sikap profesionalnya.
“Bisa—catat nomer w*****p kamu dan alamat rumahmu.” Abi dengan berani mengatakan identitas Jelita.
“Mohon Mas, saya tidak melayani orang jahil seperti anda—kalo sudah anda boleh bergeser dibelakang anda sedang menunggu untuk melakukan transaksi.”
“Jelita.” panggil Abi dengan tengil.
Kesal dengan kelakuan laki-laki yang berada di depannya ini, Jelita semakin tak ingin merespon Abi malah Jelita meminta antrian di belakang Abi untuk maju tanpa menghiraukan Abi yang masih berdiri anteng di depan kasir.
“Jelita—dosa kamu tidak menghiraukan suami kamu!” gemas Abi akhirnya melakukan hal konyol
■■■