Sementara itu setelah Andreas meninggalkan Tasya, Tedy masih ingin menikmati hidangan yang menggiurkan, Tapi sepertinya mood Tedy sudah berubah menjadi buruk.
"Kita pulang saja sekarang, aku sudah tidak mood lagi" cetus Tedy lalu berjalan meninggalkan Tasya yang kerepotan berjalan sendirian karena gaun panjangnya.
Dari belakang Tedy, Tasya dapat memastikan kalau pria itu sedikit mabuk karena beberapa kali dia berjalan dengan terhuyung huyung. Hatinya menjadi sangat cemas, sepertinya bukan ide baik untuk Tedy menyetir.
Tedy sudah berada di dalam mobil, sehingga Tasya pun mau tak mau membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Ted, kamu mabuk ya? Kita naik taxi saja, biar mobil disini. Besok baru diambil."
"Enggak usah banyak ngatur. Aku masih sanggup nyetir." ujarnya dan memijit batang hidugnya. Kepalanya sedikit berputar "Biarkan aku istirahat sebentar." lalu menyandarkan tubuh dan kepalanya pada kursi dan memjamkan mata.
Tasya hanya bisa menunggu, percuma berargumen dengan Tedy karena hasil akhirnya pasti pria itu yang akan menang. Dikeluarkan ponsel dari clutch hitamnya dan mulai membuka i********:. Sesekali dia menengok kondisi Tedy yang sepertinya sudah tertidur.
Tasya mengangkat kepalanya dan memiringkan kepalanya menatap Tedy. "Eerrggg....kepalaku.." desis Tedy sambil memijat kepalanya. "Ta...kamu bisa bantu memijit kepalaku sebentar?" dia lantas memiringkan kepalanya dan menyenderkannya pada bahu Tasya.
"Ted, lebih baik kita pulang naik taxi saja yuk. Besok pagi kepala kamu pasti sudah lebih baik, ini karena efek alkohol saja." bujuk Tasya dengan lembut.
"Hm...kamu harum sekali ..." lalu bibirnya mulai menjelajahi tengkuk Tasya, gairahnya semakin memuncak mendengar desahan Tasya. Tangannya mulai menjelajahi kulit paha wanitanya dan berusaha menyesapkan jemarinya pada daerah kewanitaan Tasya. Gaun Tasya sudah berantakan, begitu pula tatanan rambutnya.
Mendengar desahan demi desahan yang lolos dari mulut Tasya membuat Tedy semakin berani untuk melakukan hal lainnya. Kini tangannya sudah berada di belakang punggung Tasya dan berusaha untuk membuka seleting gaunnya. Ketika sudah hampir terbuka sempurna, tangan Tasya mencegahnya. Ya, rupanya kesadaran Tasya sudah kembali, namun telat, tidak dengan gairah Tedy yang sudah terbakar nafsu birahinya.
"Tedy...jangan Ted...!" pekik Tasya namun setelah itu tidak bisa lagi berkata kata karena bibirnya telah dipangut Tedy dengan rakusnya.
Kini Tedy sudah berada di atas Tasya dan menindihnya, gaunnya sudah terbuka dan kedua payudaranya terkuak menambah gairah Tedy. Usaha Tasya untuk berontak sia sia karena tenaga Tedy sangat kuat. Kini kedua tangannya ditahan oleh tangan kekar Tedy diatas kepalanya .Tedy dengan bebas menjilat dan mengulum payudaranya sementara tangan satunya masih berusaha untuk membuka celana panjangnya yang kian sempit karena kejantanannya sudah membesar sempurna.
Karena Tedy kesulitan hanya dengan satu tangan untuk menurunkan celananya, dengan terpaksa melepaskan tangan Tasya . Melihat adanya peluang, Tangan Tasya yang sudah terbebas segera memanfaatkanya dan mendorong tubuh Tedy dengan sekuat tenaga ke samping kursinya, meraih ponsel di dashboard dan membuka pintu mobil lalu melompat keluar. Dia berlari sekuat tenaga menjauhi mobil Tedy. Tidak dipedulikan gaunnya yang sudah tidak berbentuk serta kakinya yang sudah tidak beralas sepatu, Tasya berlari dan bersembunyi dibalik deretan mobil yang terparkir di basement.
Dengan tangan gemetaran Tasya berusaha menelepon siapa saja yang dapat membantunya. Kebetulan nomor ponsel Andreas ada di deretan paling teratas. Segera di tekan tombol hijau dan menunggu, nada sambung terdengar sekali....lalu dua kali...."Halo..Tasya?" sungguh lega Tasya mendengar suara Andreas.
"An..An..tolong Aku.."bisik Tasya terbata bata
"Kamu kenapa Sya?"nada suara Andreas terdengar khawatir.
"Aku..kamu jemput aku sekarang di parkiran basement hotel. Sekarang An...please.." ucap Tasya masih dengan berbisik dan menahan isak tangisnya. Tangannya tidak berhenti bergetar.
"Kamu dimana Sya? tenang...tenang...coba lihat di pilar...disana tertulis apa...." Andreas berusaha menenangkannya.
Tasya segera mengerti lalu melihat sekeliling dan pandangannya tertuju pada pilar di hadapannya. "E2 An...E2...cepetan...aku takut An...Ahhhh.....tolong...Ted...jangan..." lalu sambungan terputus.
Andreas yang masih di lobby kembali ke dalam hotel dan berlari menuju tangga darurat. Dia menuruni anak tangga dengan melompat dua bahkan tiga anak tangga sekaligus. Telinganya masih terngiang teriakan Tasya yang menandakan keadaannya yang bahaya.
Dengan kasar Andreas membuka pintu basement lantai 2 lalu mencari kode E2 pada setiap pilar. "Sya...Tasya...kamu dimana?" teriak Andreas.
"Ahh.....tolong...Huhh...." terdengar teriakan Tasya dari kejauhan. Andreas segera berlari menuju suara Tasya berada. Langkahnya berhenti dan emosinya memuncak, dia melihat Tasya sedang diseret oleh Tedy kembali ke mobil.
"Stop!" teriak Andreas. Mendengar teriakan itu, Tedy menghentikan kegiatannya. Dia menoleh dan mencari tahu si empunya suara yang berani menegurnya.
"Eh..ternyata si bos....Hei! kamu telepon dia? Ada hubungan apa kalian berdua hah? " tangan Tedy diangkat dan siap menampar Tasya.
"Buk!" Tedy jatuh tersungkur dan terlempar kebelakang. Tanpa pikir panjang lagi Tedy menerjang Andreas dan terjadilah pergulatan diantara mereka.
Suara pukulan menggema di seluruh basement yang sangat sepi karena sudah hampir tengah malam. Tasya hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan perkelahihan itu. Beberapa detik kemudian dia teringat untuk memanggil bantuan, segera diraih ponsel nya di lantai dan menghubungi Indra.
Derit suara ban mobil tak lama terdengar, Tasya bernapas lega karena yakin bantuan tiba, Tubuhnya melemas dan jatuh terduduk dengan ponsel masih digenggamannya. Samar samar dia mendengar namanya dipanggil lalu semuanya gelap.
Indra datang tepat waktunya, dengan bantuannya Tedy tidak berkutik. Andreas meninggalkan Tedy yang tersungkur tak berdaya lalu membopong tubuh Tasya masuk ke dalam mobil dan memerintahkan Indra untuk menjalankan mobilnya.
"Indra, lansung ke apartement. Dan peristiwa ini jangan sampai tersebar keluar."
"Mengerti pak." dan memacu mobil agar segera sampai di tujuan.
Andreas memperbaiki gaun Tasya yang sudah berantakan, sungguh kesal hatinya melihat kondisi fisik Tasya. Sungguh tega seorang pria yang katanya sayang, melakukan perbuatan terhina ini. Tangannya mengepal keras, emosi masih menguasai pikirannya.
Andreas merebahkan Tasya sangat perlahan lalu menarik selimut menutupi separuh tubuhnya. Dia tidak berani membuka gaun Tasya jadi dibiarkan Tasya tidur dengan menggunakan gaun yang sudah tidak bisa dikatakan gaun lagi karena sudah robek di berberapa bagian.
"Aku akan menjagamu...."batin Andreas lalu menghela napasnya.
Kemudian Andreas masuk kedalam toilet dan memandang wajahnya yang babak belur akibat perkelahian tadi. Dibuka shower dan mulai membersihkan diri, perih di wajahnya tidak sebanding dengan perlakuan Tedy pada Tasya. 'Buk' Andreas menonjok dinding kamar mandi untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Setelah mandi dan mengobati lukanya, Andreas merebahkan tubuhnya pada sofa sambil memperhatikan Tasya yang masih terlelap. Tak lama matanya mulai berat dan dia pun akhirnya tertidur.
"Jangan...please...." teriakan Tasya membangunkan Andreas. Dia langsung berjalan cepat mendekati ranjang dan duduk disamping Tasya.
"Sya...Tasya.." panggil Andreas dengan lembut. Tasya membuka matanya dan bangun dari tidurnya. "An..dimana aku sekarang? Tedy..dia...."
"Tenang..kamu safe now. Tedy tidak dapat melukai kamu lagi." Tasya memeluk Andreas dan menangis. Andreas hanya bisa mengusap rambut Tasya untuk menenangkannya.
"Sstt...sudah sudah...kamu aman sekarang. Sebelum tidur, kamu minum obat ini dulu agar dapat beristirahat dengan tenang." Lalu Andreas memberikan sebutir pil obat penenang. Setelah itu Tasya kembali tidur.
Andreas melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jam menunjukan pukul tiga pagi, Andreas berencana untuk melanjutkan tidurnya. Karena takut Tasya terbangun dan tidak menemukannya, dia putuskan untuk tidur disamping Tasya.