Pagi yang cukup menyenangkan bagi Felicya, karena malam tadi dia begitu menikmati tidurnya. Nyaman dan damai.
Felicya menelusupkan kepalanya menengok keseluruhan kamar Darin. Kosong. Sepertinya pria itu masih mandi. Felicya menghela nafas lega. Gadis itu lalu tersenyum dan masuk ke dalam kamar Darin penuh percaya diri.
Kemudian dia menghampiri lemari pakaian, menyiapkan setelan kerja Darin. Felicya berlama-lama mengelus jas mahal milik Darin. Seketika ia jadi teringan dengan.. 'Lion'
Felicya menggeleng kuat. Dia harus melupakan pria pertamanya itu.
Felicya terkesiap saat tangan besar menarik perutnya dan membuat tubuhnya dua langkah mundur. Saat itu pula, tubuh Felicya menempel pada tubuh polos di belakangnya. Siapalagi jika bukan Darin.
Darin memeluk pinggang Felicya possesif. Ia menurunkan kepalanya dan menyandarkannya pada bahu Felicya. Perasaan rindu itu begitu kuat mendominasi perasaan Darin saat ini. Mungkin karena semalam Darin tidak menyentuh dan merasakan Felicya.
"Morning." sapa Darin mengerang rendah.
Sapaan Darin mengantarkan hawa panas di sekujur tubuh Felicya. Ia berbalik dan menatap Darin. Saat itu ia melihat wajah lelah Darin.
'Dia terlihat tidak tidur semalaman' batin Felicya. Seketika ucapan Andreas yang menyatakan bahwa 'Darin selalu bekerja terus tanpa henti' terlintas di pikirannya.
Sedikit ragu, Felicya menyentuh rahang kokoh Darin. Ia pikir Darin akan menyingkirkan tangannya dari wajah pria itu. Tapi nyatanya tidak. Darin membiarkan saja. Hal itu membuat keberanian Felicya muncul untuk memberikan usapan-usapan lembut disana.
Keinginan untuk terus merasakan kenyamanan dari usapan lembut Felicya membuat Darin memeluk tubuh mungil itu.
"Darin, kau harus pake bajumu." suara Felicya mengalun lembut di gendang telinga Darin.
Pria itu mengidahkan perkataan Felicya. Justru malah asik memeluk tubuh Felicya merasakan kehangatannya. Tapi lama-lama, ada yang mengeras di bawah sana.
Felicyapun merasakannya. Ada sesuatu yang menusuk pada bagian perut bawahnya. Sesuatu yang Felicya tau pasti apa itu.
Buru-buru Felicya mendorong tubuh Darin. Melepaskan pelukannya. Wajah Darin nampak kesal. Tapi hanya sebentar Darin memasang wajah kesalnya. Karena raut wajah Darin kembali datar.
Pria itu mengambil setelan kerjanya lalu memakainya santai. Seolah di depannya tidak ada orang. Felicya bahkan sempat memalingkan muka saat Darin melepas handuk yang melilit di tubuh pria itu.
Ini masih pagi, dan Darin justru mempertunjukkan tubuhnya. Dasar m***m.
Asal Darin tau saja, Felicya bukan gadis munafik yang sama sekali tidak tertarik dengan roti sobek. Gadis itu sungguh tertarik.
Bahkan Felicya ingin terus berlama-lama mengamati pahatan tubuh indah Darin.
Darin meminta Felicya untuk mengikat dasinya. Felicya menurut.
Gadis itu dengan telaten mengikat dasi Darin.
"Aku sudah siapkan Oatmeal untuk sarapan pagimu, dan juga kopi. Bibi Daisy bilang, kau sangat suka kopi di pagi hari. Jadi cepat kau turun dan minum kopi hangat mu. Ku harap itu bisa membuatmu terlihat segar."
"Kau tau? Wajah mu jadi tambah mengerikan akibat kantung matamu itu. Apalagi kau tidak pernah tersenyum. Itu sangat mengerikan, kau tau?" Felicya mendongak, dan itu membuat mereka beradu tatapan.
Ternyata sedari tadi, Darin terus memperhatikannya. Feliya melipat kedua bibirnya ke dalam. Ia lalu memunduk malu. Bisa-bisanya dia memberikan ceramah pada Darin.
"Darin, maaf." lirih Felicya.
Darin memegang dagu Felicya dan mengangkat wajah Felicya agar menatapnya.
"Untuk apa kau minta maaf? Seharusnya aku yang-"
"Iya benar. Kau yang seharusnya minta maaf padaku atas insiden kemarin. Karena mu aku hampir saja di lahap si tua bangka itu. Tapi mengingat dirimu yang pastinya tidak akan meminta maaf secara langsung padaku, aku memahaminya. Aku memakluminya Darin. Sikapmu itu sungguh menyebalkan. Tapi aku akan memaafkan mu. Tenang saja. Aku sudah memaafkanmu Darin." cerocos Felicya panjang lebar. Ia tak bermaksud. Hanya saja saat Darin membahas insiden kemarin itu membuatnya kesal.
Cup.
Felicya terbelalak saat Darin malah mencium singkat bibirnya.
"Kau cerewet sekali." protes Darin. Kembali menempelkan bibirnya, kali ini sebuah ciuman dalam dan intens.
Felicya yang larut dalam ciuman Darin, mengalungkan tangannya pada leher pria itu.
Setelah kegiatan pagi yang manis di kamar Darin, Felicya dengan telaten menyiapkan sarapan untuk pria itu. Di meja makan, hanya ada mereka berdua. Felicya yang memang sebagai pelayan berdiri dengan setia di sisi kanan Darin.
"Darin." panggil Felicya.
Darin tak menoleh, tetapi dia mendengarkan sapaan Felicya.
"Aku ingin ijin pulang. Ayahku pasti mengkhawatirkanku. Sejak ke pergianku kemari, aku belum sempat memberinya kabar. Apa aku boleh?" Felicya memilin jarinya, gugup.
"Hmm." gumam Darin menyetujui. Pria itu lantas bangun dari duduknya. Bersiap pergi ke kantor.
"Kau sudah selesai?" tanya Andreas yang baru saja muncul dari arah barat.
"Hmm. Cepat selesaikan sarapanmu, Andreas. Kita ada meeting pagi ini." pesan Darin untuk Andreas. Pria itu lalu bergegas pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Felicya yang melihatnya dongkol. Gadis itu berkacak pinggang melihat kepergian Darin.
"Wahh. Aku tidak tau Darin memiliki berapa kepribadian. Semalam dia sangat baik dan manis terhadapku. Tadi saat di kamar dia juga sangat maniss. Lalu kenapa semenit setelahnya, sifat dinginnya kambali?!"
Andreas menahan tawa saat melihat Felicya menggerutu tentang Darin. Rupaya ada sesuatu yang terjadi kemarin. Apapun itu, pastilah kabar baik. Karena Felicya mengatakan Darin bersikap baik dan manis.
"Kau akan menemui ayahmu hari ini?" tanya Andreas. Pria itu sempat mendengar samar permintaan Felicya pada Darin.
"Hem. Kau ingin kopi atau teh?" Felicya mendekat ke arah Andreas dengan kedua teko kecil yang ada di kedua tangannya.
"Teh saja. Aku tidak terlalu terbiasa minum kopi di pagi hari."
"Baiklah." Felicya menuangkan teh atas permintaan Andreas.
"Kira-kira kapan kau pergi?"
"Entahlah. Aku tidak terlalu lama untuk bersiap. Jadi mungkin setelah kau selesai makan. Dan aku membersihkan meja ini."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Cepat bersiap. Biar pelayan yang membersihkan ini."
Felicya mendengkus tak suka. "Apa kau mengejekku. Kau kan tau aku disini juga seorang pelayan."
"Maksudku bukan kau. Ada banyak pelayan disini. Mereka bisa menggantikanmu. Ah kau sensitif sekali pagi ini."
Felicya tersenyum. "Baiklah. Tunggu sebentar, aku tak akan lama." gadis itu langsung melesat ke dalam kamar dan bersiap.
****
Andreas mengantarkan Felicya sampai pintu gerbang. Setelah mendapat ucapan trimakasih, pria itu langsung melanjutkan perjalanannya kembali.
Felicya langsung berjalan menuju ruangan sang ayah. Tapi di pertengahan jalan, di depan pintu kamar milik Brighita berdiri seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan.
Mungkinkah Brighita sudah pulang?
"Apa Tata sudah pulang?" tanya Felicya menghampiri pelayaan itu.
"Iya non. Nona Brighita kembali dua hari yang lalu."
Felicya merenung. "Biar aku saja yang memberikan makanannya." pelayaan itu menurut dan membiarkan Felicya mengambil alih tugasnya.
Tok tok.
Mengetuk pintu dua kali, Felicya mendengar sahutan dari dalam.
Begitu Felicya masuk, Brighita langsung memberikan tatapan tak suka.
"Untuk apa kau kemari?!" sungut Brighita.
"Aku hanya ingin mengantarkan makanan untukmu. Syukurlah kau kembali." Felicya tersenyum menunjukkan kelegaannya melihat Brighita.
Namun ketulusan Felicya itu tak dapat di lihat oleh Brghita.
"Heh! Cukup berpura-pura polos di hadapanku! Aku tau kau dan si jalang ibumu itu pasti senang melihatku pergi dari rumah ku sendiri!" tunjuk Brighita di muka Felicya.
Membuat Felicya terasa rendah. Tak kuat merasakan hawa peperangan dari Brighita, Felicya pamit.
"Ayah." panggil Felicya ketika sudah berada di ruang kerja sang ayah.
Felicya rasa kembalinya Brighita semua masalah telah usai. Tapi kenapa wajah ayahnya begitu letih.
"Ada apa ayah? Apa ayah sakit?" tanya Felicya khawatir.
"Tidak, Feli. Ayah baik-baik saja. Kapan kau kembali?"
Felicya tau ayahnya saat ini berbohong. Kantung mata yang saat ini tergambar jelas di wajah ayahnya sudah menunjukkan bahwa ayahnya saat ini menanggung beban berat.
Felicya mendekat ke meja kerja Ayah-nya.
"Ada apa ayah? Apa yang sedang terjadi saat ini?"
Terdengar helaan nafas panjang dari sang Ayah. Sudah jelas pasti terjadi sesuatu.
"Brighita akan menikah, Feli." Felicya hampir saja menjerit.
"Kenapa? Bukankah Darin sudah membantu masalah finansial ayah?"
Ayahnya memangguk. "Tapi Darin hanya membantu setengahnya saja. Dan itu masih belum cukup untuk menutup kerugian. Untuk itu, Delano, kakak Devano bersedia membantu, dan meminta Brighita untuk menikah dengan sang adik Devano. Kurasa Tata akan setuju, karena Devano merupakan teman dekatnya. Apa yang ayah lakukan ini salah?" Felicya memalingkan muka tak kuasa melihat wajah sang ayah yang di liputi kesedihan.
"Ayah.. Ini... Hmm... Aku akan berbicara dengan ayah lagi nanti. Aku harus segera pergi. Jangan pernah menyalahkan diri ayah. Ayah tidak bersalah apapun disini."
Vincent memegang tangan anak tirinya itu. "Kau akan pergi kemana lagi Feli?" dia sungguh khawatir dengan kondisi Felicya yang memilih keluar dari rumahnya.
"Feli harus mengurus sesuatu. Ini tidak akan lama ayah." Felicya pamit dan pergi begitu saja dari rumah.
Dasar b******k! Penipu! Maki Felicya dalam hati. Apa kesalahan Felicya sehingga Darin menipunya.
Apa kontrak sialan itu masih belum cukup?
Tbc.....