Bagian 2 - Pertemuan Pertama Naya & Kyara

1758 Words
Layar ponsel Naya terus digeser ke atas oleh pemiliknya. Puluhan gambar yang muncul di akun sosial medianya hanya diabaikan begitu saja karena pikiran Naya tidak bisa lepas pada Kenan yang masih berada di dalam sana. Rasa penasaran tentang siapa Kyara sebenarnya belum terjawab sama sekali. Otaknya malah kini dipenuhi teka-teki siapa sebenarnya wanita yang bernama Kyara itu. Mantan sekretaris atau istri dari Rayyan, teman baiknya Kenan. “Pak, Bapak kenal gak siapa yang namanya Kyara itu? Terus tahu gak ada hubungan apa si Kyara dengan Pak Kenan sebelumnya?” Naya memberanikan diri bertanya pada supir pribadi Kenan yang duduk di kursi pengemudi di sebelahnya. “Siapa Mba? Kyara? Kayaknya saya sering dengar tapi saya lupa Mba,” jawab sang supir. “Masa Bapak  gak tahu sih!” seru Naya tidak percaya dengan sang supir. “Lah benar, Mba. Lagipula Pak Kenan itu lebih suka bawa mobil sendiri daripada disupiri seperti sekarang. Jadi saya gak tahu banyak tentang Pak Kenan, Mba!” jawab pak supir tak kalah berseru. “Ah, Bapak mah gak bisa diandalkan!” celetuk Naya kesal. “Loh, kok jadi saya yang dimarahi sama Mbak Naya gini, Mbak? Memangnya kenapa sih Mbak dengan yang namanya Kyara itu?” tanya sang supir yang jadi penasaran. “Gak apa-apa, Pak. Nanti saya coba cari tahu sendiri deh,” jawab Naya. Sekitar satu jam Naya dan supir pribadi Kenan menunggu di dalam mobil. Saat Naya hendak keluar mobil karena sudah mulai merasa bosan, tiba-tiba dilihatnya dari kaca depan mobil jika Kenan sedang berjalan mendekat. “Nah, itu Pak Kenan. Mbak Naya bisa tanyakan langsung sama Pak Kenan tentang yang namanya Kyara tadi, Mbak!” seru Pak supir. “Ssttt, jangan Pak!” Naya meletakan jari telunjuknya di depan bibir. “Kenapa jangan Mbak? Kan biar gak penasaran lagi.” “Pokoknya jangan ya. Bapak jangan ngomongin Kyara di depan Pak Kenan ya!” titah Naya dengan tegas. Kenan membuka pintu belakang mobil bagian kiri, lalu dia masuk dan duduk di kursi belakang dan menutup kembali pintu mobilnya. “Ayo kita kembali ke kantor, Pak. Ada klien yang akan bertemu dengan saya di kantor. Oh iya, nanti jam 6 sore tolong antarkan saya lagi. Saya sudah janji makan malam dengan Rayyan dan Kyara.” Panjang lebar Kenan menyampaikan perintahnya pada sang supir. Mata Naya mengerling tajam ke arah sang supir saat nama Kyara kembali disebut. Memberi kode agar supir tersebut tidak membahas apapun tentang Kyara walau namanya sudah disebut oleh Kenan. Nyali sang supir langsung menciut karena kerlingan tajam dari wanita di sebelahnya itu. Dia pun mengunci mulutnya lalu menjalankan mobilnya sesuai perintah Kenan. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Naya tak henti-hentinya mencuri pandang ke belakang melalui kaca spion yang ada di dashboard mobil. Dari kaca spion tersebut Naya bisa dengan jelas melihat Kenan yang sangat sibuk dengan ponselnya. Bahkan sampai tersungging senyum di wajah tampan bosnya tersebut. Membuat Naya penasaran apa yang sedang dilihat Kenan di ponsel tersebut. Mata Kenan tak sengaja melihat ke arah kaca spion dashboard, dan dilihatnya Naya yang menatapnya serius dari kaca tersebut. “Kamu ngelihatin saya? Ada apa?” tanya Kenan memergoki Naya. “Eh enggak kok, Pak!” jawab Naya. “Kalau ada yang mau ditanya, jangan sungkan ya.” Kenan kembali menyibukan diri dengan ponsel yang dipegangnya. “Duh, Pak Kenan … Pak Kenan, gimana saya gak ngelirik mulu ke arah Pak Kenan coba kalau Pak Kenan masih ganteng banget kayak gitu!” seru Naya dalam hati. Sesampainya kembali di kantor, Kenan dan Naya langsung menemui klien yang ternyata sudah sampai lebih dahulu di sana. Pembahasan tentang kerjasama mereka berlangsung sedikit alot, sehingga tanpa disadari kini waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. “Kalau begitu kita bisa lanjutkan lagi besok. Kebetulan saya ada janji jam enam dan saya harus berangkat sekarang,” kata Kenan pada sang klien. Klin tersebut hanya bisa menyetujui perkataan Kenan karena memang kesepakatan diantara mereka belum tercapai. Ada beberapa hal yang masih harus dibicarakan agar kerjasama mereka bisa segera terjalin. “Naya, kamu ikut saya makan malam dengan Rayyan sekalian bawa proposal perjanjian kerja sama dengan perusahaan dia. Kita lanjut meeting sekalian makan malam dengan beliau,”titah Kenan pada Naya. “Baik, Pak.” Naya segera merapihkan dokumen yang harus dibawa olehnya. Tidak lupa dia juga membawa laptop dan buku catatan untuk jaga-jaga saat diminta mencatat atau mencari file lain yang dibutuhkan oleh Kenan. Mobil yang membawa mereka melaju dengan sedikit tersendat karena padatnya kendaraan di jalan raya. Banyak dari mereka yang kelelahan setelah seharian bekerja, ingin segera sampai ke tempat tinggal mereka untuk beristirahat walau hanya sekedar duduk sambil meluruskan kakinya. Sama seperti Kenan dan Naya yang sebenarnya sudah cukup lelah namun masih harus mengumpulkan semangatnya untuk bertemu dengan Rayyan. Mereka berdua menyandarkan punggung mereka tanpa melakukan apapun, dan hanya melemparkan pandangan mereka ke luar jendela. Melamun sambil melihat barisan kendaraan yang juga merayap sama seperti mobil yang mereka tumpangi sekarang. Dalam suasana yang hening, ponsel Kenan berdering membuyarkan lamunan Kenan dan Naya. Naya melirikan matanya ke kaca spion dashboard, memperhatikan Kenan yang merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan ponsel dari dalamnya. “Halo, Kya!” kata Rayyan saat menerima panggilan telepon yang masuk. “Kya? Apa itu Kyara?” hati Naya berbisik. “Sebentar lagi aku sampai. Maaf jika lama menunggu karena jalanan sangat macet. Hmm … apa? Oh, kamu juga belum sampai? Ya sudah, kalau aku yang sampai duluan biar aku memesankan tempat dan makanan untuk kalian. Hmm … oke. Iya, Kya. Sampa jumpa.” Diakhiri panggilan tersebut setelah berbincang untuk waktu yang singkat. Naya kembali mengubah arah pandangnya ke luar jendela. D*da kirinya terasa sedikit nyeri dan bergemuruh. Baru pertama dia mendengar Kenan berbicara dengan sangat lembut seperti tadi. Biasanya Kenan selalu tegas dan cenderung ketus padanya, tidak seperti tadi. Bahkan Naya sempat melihat dengan samar sebuah senyuman tersungging dari bibir Kenan saat berbincang dengan seseorang di telepon tadi. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup tersendat kini Kenan dan Naya sampai di sebuah restoran tempat Kenan dan Rayyan janjian. Restoran mewah bergaya modern menjadi pilihan kedua lelaki tersebut untuk menikmati makan malam mereka kali ini. Membahas pekerjaan mungkin hanya dua puluh persen saja. Selebihnya bisa dipastikan jika keduanya akan membahas hal lain di luar pekerjaan. Kenan kembali menghubungi Kyara sebelum turun dari mobil. Dia ingin memastikan apakah Kyara dan Rayyan sudah sampai atau belum. Jadi Kenan tahu harus memesan tempat untuk mereka atau tidak. Seteah ditelepon ternyata Kyara dan Rayyan masih dalam perjalanan. Diperkirakan sekitar 15 menit lagi mereka akan sampai. “Naya, ayo kita masuk dan pesankan meja untuk empat orang!” seru Kenan yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Naya. Kenan dan Naya keluar secara bersamaan dari mobil. Kenan membiarkan Naya untuk berjalan terlebih dahulu di depannya. Saat Mereka memasuki restoran, Naya meminta pelayan yang menyambut mereka agar menyiapkan meja untuk empat orang sesuai dengan perintah Kenan. Mereka berdua pun di antarkan oleh sang pelayan ke meja berbentuk persegi dengan empat buah kursi yang mengelilinginya. Kenan memesankan makanan dan minuman untuk dirinya, Rayyan dan juga Kyara. Sedangkan Naya memesan makanan dan minumannya sendiri. “Kamu pasti akan suka dengan makanan disini, karena Kyara juga sangat menyukainya. Makanan yang saya pesan tadi adalah menu favoritnya Kyara!” seru Kenan dengan bersemangat. Naya hanya menjawab Kenan dengan tersenyum simpul. D*da kiri Naya kembali terasa nyeri mendengar Kenan mengatakan hal tadi dengan sangat bersemangat. “Lagi-lagi Kyara. Seperti apa sih wanita yang namanya Kyara itu?” Naya semakin penasaran dengan Kyara. “Hai, Ken!” seru Rayyan yang baru saja sampai dan langsung menghampiri Kenan. “Eh, Ray! Loh, Kyara mana?” Kenan langsung menanyakan keberadaan Kyara. “Dia masih video call sama Ilona dan Nevan tadi, jadi dia nyuruh gue duluan aja kesini nyamperin lo,” jawab Rayyan. “Hmm … Pak, saya izin ke toilet dulu ya.” Naya bangkit dari kursi dan bergegas ke toilet. Rasanya dia tidak akan sanggup mendengar kedua lelaki tersebut membicarakan Kyara. Lalu, jika nanti Naya bertemu dengan Kyara, apakah dia sanggup? Dilangkahkan kakinya dengan pandangan menunduk ke lantai. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang di depannya. “Ma-maaf. Saya gak lihat ke depan!” seru Naya sambil menundukan tubuhnya. “Enggak apa-apa kok. Saya juga minta maaf karena jalan terburu-buru.” Suara wanita di depannya membuat Naya menegakkan kembali tubuhnya dan melihat wanita tersebut. Wanita tersebut tampak sangat cantik dengan polesan makeup yang tipis di wajahnya. Kecantikannya tampak sangat natural. Rambutnya tergerai indah, menambah kesan cantik dalam diri wanita tersebut. Wanita tersebut memang tidak secantik model atau artis ibukota, tetapi wanita tersebut sanggp mempesona Naya dengan sikap santun dan senyuman di wajahnya. “Kamu gak apa-apa kan?” tanya wanita tersebut. “Eh, i-iya gak apa-apa kok!” jawab Naya. “Baguslah kalau begitu, hati-hati ya jangan menunduk terus kalau berjalan. Wanita tersebut menepuk pelan bahu Naya lalu berjalan dengan anggun meninggalkannya. Naya masih memperhatikan wanita tersebut hingga jauh, barulah dia masuk ke dalam toilet. “Wah, cantiknya wanita tadi. Andai saja aku secantik dan selembut wanita yang tadi, pasti Pak Kenan melirikku dengan cepat,” gumam Naya saat merapihkan kemejanya di hadapan cermin besar. Kemudian Naya keluar dari toilet dan kembali ke mejanya. Kenan dan Rayyan sudah menunggunya. “Kira-kira yang namanya Kyara itu sudah datang belum ya? Aku kan penasaran mau lihat seperti apa sih Kyara tadi,” celetuk Naya. Langkah kakinya dipercepat agar dia bisa segera sampai ke meja mereka dan melihat yang bermana Kyara. Tiba-tiba langkah Naya melambat saat melihat wanita yang tadi ditemuinya di depan toilet kini sedang duduk dan tertawa dengan Kenan. “Jangan-jangan ….” Naya tidak melanjutkan kalimatnya. “Ken, itu sekretaris lo udah datang. Yuk kita lanjut bisnis dulu sebentar baru lanjut makan malam!” seru Rayyan.  “Loh, itu sekretaris kamu? Tadi sih aku sudah ketemu sama dia di depan toilet,” kata Kyara. Kenan menolehkan kepalanya pada Naya dan memberi kode dengan menggerakkan kepalanya untuk segera menghampirinya. Dengan langkah sedikit canggung Naya menghampiri mereka. Matanya tidak bisa berkedip melihat Kyara tersenyum hangat ke arahnya. Saat Naya sudah berada duduk kembali di tempatnya, Kenan memperkenalkannya pada Kyara. “Kya, kenalin ini sekretarisku, namanya Naya.” “Tadi kan aku udah bilang kalau aku udah ketemu dia di depan toilet, iya kan?” Kyara menatap Naya sambil mengulurkan tangannya. “I-iya.” Naya pun menyambut uluran tangan Kyara. “Jadi dia beneran yang namanya Kyara? Kalau saingan aku seperti ini sih kayaknya sulit untuk dikalahkan deh. Eh, tapi Kyara ini istrinya Pak Rayyan kan? Artinya kesempatanku membuat Pak Kenan jatuh cinta terbuka lebar kan?” Naya bermonolog dalam hatinya. Akankah Naya bisa membuat Kenan jatuh cinta padanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD