Vanya membiarkan Nino berbicara dengan Abrisam. Sejak pertama mereka memang akrab. Bagi Vanya tak masalah terlebih Abrisam mungkin memang membutuhkan sosok daddy-nya. Vanya menunggu di kursi di luar kamar inap Abrisam. Tak sadar kalau sedari tadi ada orang lain di sana. “Maaf, Pak. Saya lupa,” ujarnya pada Faruq yang juga menunggu Nino. “Oh, tidak apa-apa. Santai saja, Mbak.” “Bapak kenal dengan Nino?” Faruq mengangguk. “Pak Nino adalah rekan saya, Mbak. Kebetulan saya suka lukisan. Pak Nino menghubungkan saya dengan para pelukis itu. Belum lama, Mbak. Baru satu tahun ini.” “Oh, begitu. Pak Faruq dari Jakarta?” “Ya. Saya tinggal di Jakarta. Di Bali karena ada janji dengan Pak Nino ini. Sebenarnya juga ingin melihat seseorang, tapi sayang malah sudah pulang.” Vanya mengulas senyum. F

