KTA'S 09 - Miss Point

2137 Words
Hawa sejuk menyambut paginya, kaki Nanta telah siap untuk terayun menembus dinginnya kabut putih yang masih memeluk tumbuh-tumbuhan. "Nan." Cekrek! Wajah Nanta yang tampak polos menoleh ke arah seorang cewek yang memanggil namanya berhasil diabadikan. "Kamu nge-fans sama saya?" tanya Nanta percaya diri. "Dih! Kepedean lo!" Tiffany terbahak. Sementara Nanta hanya terkekeh kecil. Lalu menghampiri Tiffany disusul dengan tangannya menengadah. "Sini, biar saya fotoin kamu," ucapnya sambil meminta kamera yang ada di tangan Tiffany. "Ayo, Ted!" serunya kemudian pada Teddy yang kebetulan berdiri tak jauh dari Tiffany. "Ayo! Ayo!" Teddy bersemangat. Lalu mulai memasang pose andalannya. Berdiri di samping Tiffany sambil tersenyum devil yang justru jatuhnya seperti tengah melakukan skandal kentut diam-diam. Cekrek! Dapat. Penampakan dari si pelaku skandal kentut diam-diam sudah diabadikan. Nanta segera memberikan kamera yang dipegangnya pada Tiffany, lantas bergegas pergi sebelum Teddy mengamuk. "ANANTA!!!" Ah, baru saja kakinya terayun beberapa langkah suara Teddy menggema sampai ke lembah. Ia murka dengan kelakuan Nanta yang mengambil foto dengan hanya memperbesar bagian wajahnya saja. Nanta hanya terkekeh sambil terus melangkah menjauh. Teddy menoleh ke arah Tiffany. "Kudu sabar emang, punya temen kayak dia mah," ujarnya dengan wajah memelas. "Guys, ayo kumpul!" Adi mulai menggembor dan otomatis membuat Tiffany menepikan diri. "Bye." Tangan Tiffany melambai ke arah Teddy. "Jangan 'bye', 'dah' aja," pinta Teddy membalas lambaian tangan itu. Seketika kekesalannya pada Nanta hilang begitu saja. Rupanya Tiffany sangat berpengaruh terhadap suasana hatinya. Tanpa ia sadari, senyuman di bibirnya tercetak begitu saja. Diikuti dengan arah matanya yang terus mengekor ke arah mana Tiffany pergi. "Khem." Hans menepuk bahu Teddy. Menyadarkannya sebelum melayang terlalu jauh. "Jangan terlalu, ah. Ntar sakitnya terlalu juga," peringat Hans pelan. "Apa, sih, lo?!" ketus Teddy sebal. "Gue, sebagai senior lo ngasih nasihat." "Hm." Teddy tak acuh dan pergi meninggalkan Hans. "Hadeuh, si g****k!" Hans menggerutu. Lantas ikut duduk melingkar dengan teman-temannya di bawah pohon. "Jadi gini." Yoseph memulai. "Diadakannya acara ini, seperti yang sejak awal gue jelaskan bahwa nggak lain ya, buat memperkuat argumentasi kita. Salah satunya dengan cara riset semua data yang kita dapatkan. Apalagi kita tau sendiri siapa lawan kita nanti." "Panji?" Radit menebak. "Ini bukan cuma soal Panji. Ya, gue akui, dia mahasiswa paling favorit di kampus kita karena kecerdasan dan kekritisannya, tentu selain jadi ketua BEM Fakultas." Yoseph menjelaskan. "Dan dia lagi coba-coba deketin pacar lo, Nan." Hans menambahkan sambil menepuk bahu Nanta. "Ya, nggak apa. Asal jangan Laisa aja yang coba-coba deketin dia." Nanta membalas dengan begitu santainya. Ah, makhluk santai seperti dia dilawan. "Mohon perhatiannya, gue harap pembahasan kita nggak keluar dari topik utama dulu, ya." Adi memperingatkan untuk kembali kondusif dan sekarang semua tertuju pada cowok itu. Teddy menyenggol Hans. Sebal sendiri pada senior yang satu ini. "Jangan sok tau," bisiknya tegas. "Gue emang selalu tau," balas Hans kembali menegaskan. Teddy hanya berdecak sebal. "Jadi untuk acara pagi ini, kita nggak langsung menuju ke lokasi. Meski sebelumnya udah konfirmasi sama kepala desa di sana, tapi kita tetap harus mengadakan kunjungan bersama kepala desa setempat dan beberapa perwakilan warga. Karena kita benar-benar butuh informasi dari warga, terutama mengenai pengembangan teknik fracking dalam pengekstrasian panas bumi di sekitar Desa Cihawuk ini." Adi menjelaskan. "Dan semoga satu cara ini dapat memperkuat argumentasi kita. Nggak cuma itu, sih, tapi lebih dari itu, ya salah satunya memberi informasi ke masyarakat luas mengenai negeri kita." Yoseph menambahkan. "Kita pun tau sendiri, kalau tanah air kita nggak lagi baik-baik aja. Apalagi sejak DPR berusaha menjatuhkan kekuatan KPK melalui pelemahan undang-undang yang dibuatnya dalam KRUHP." Hans menggebu. "Bukan menjatuhkan, Hans. Hanya saja hasil revisi UU KPK berisiko melemahkan KPK." Adi berusaha meluruskan. Ia maklum dengan sahabatnya yang satu ini. Hans memang sudah muak dengan tatanan DPR yang menurutnya semakin camblung. "Ya, apa bedanya, Di? Sama aja, kan?" Hans ngotot. Adi memilih diam. Emosi dibalas dengan emosi tidak akan pernah menemui titik terangnya, justru semuanya akan semakin gelap. *** Tak terasa sore datang seolah untuk mengingatkan bahwa semuanya sudah cukup. Semua informasi yang tengah digali sedalam-dalamnya untuk dimunculkan ke permukaan seakan diminta untuk ikut menepi. Kembali menuju peraduan rumah singgah dalam sementara waktu. Dan lagi, tuan rumah yang begitu loyal menyambut kedatangan sepuluh anak manusia yang tampak kusam kelelahan. "Serius satu hari cukup?" Radit tampak khawatir. "Masih ada besok, Dit, sebelum pulang," balas Adi dengan tenang. Radit mengangguk pasrah. "Tapi masih banyak yang belum sempat kita bahas sama mereka sebagai narasumber." Lantas ia berusaha negosiasi. "Itu soal teknis. Sekarang kita istirahat dulu. Kasian yang lain juga, pasti capek badan-capek otak." Adi berusaha untuk tetap seimbang. Ia sendiri pun lelah. Seperti saat kedatangannya kemarin, Ambu menyiapkan makanan spesial dengan banyak menu di meja makannya. "Andai di dunia ini orang-orangnya kayak Ambu semua, pasti nggak ada manusia yang kelaparan." Teddy menggumam pelan sambil mengeratkan sorot matanya ke berbagai hidangan di hadapannya. "Ini dunia, Ted. Bukan surga," sahut Nanta sekenanya. "Dah lah, kapan-kapan kita isro mi'raj ke surga." Teddy kembali menceletuk tanpa berpikir panjang. "Emangnya lo nabi? Yang ada lo malah dilempar langsung ke neraka paling bawah!" Hans yang datang entah dari mana ikut menyahut. "Ada juga lo, tuh. Bokep mulu isi otak lo." Teddy tidak mau kalah. "Sembarangan!" Tanpa segan Hans menoyor kepala Teddy dengan gemas. Setengah tidak terima dengan satu fakta yang berhasil Teddy ungkapkan. "Ngebokepnya juga sama lo, Ted." Adi menyambung, sukses membuat Teddy mendelik. Perlahan ia melirik ke arah Tiffany yang hanya geleng-geleng kepala. "Nggak lah, gue suci!" Teddy menyanggah tegas. "Orang yang bener-bener suci nggak akan pernah merasa kalo dirinya suci." Nanta ikut menimbrung, padahal sedari tadi tampaknya memilih diam sambil mengunyah manisan kismis yang diambilnya dari toples di ruang tamu. "Lo lagi!" Teddy nyaris meraung mengingat ada Ambu di hadapannya. Tidak ada hal yang spesial dari makan malam kali ini. Meski rasanya tetap hangat dipenuhi dengan berbagai topik obrolan dan candaan yang keluar. Usai makan malam pun, Nanta memilih untuk menepi. Menikmati semilir angin dingin dengan suhu yang nyaris menyentuh 19°C. Tangannya bergerak meraih benda pipih yang sejak pagi ia anggurkan. Cukup malas untuk mengutak-atiknya terlebih seingatnya memang tidak ada keperluan lain yang benar-benar mendesak. Nanta mengernyit saat melihat ada dua panggilan tak terjawab dari nomor yang ia beri emoji hati berwarna hijau. Lalu disusul dengan runtutan pesan dari kontak yang ia beri emoji bunga sakura. Menghela sebentar, lantas menghubungkan saluran telepon. Benda pipih itu ia tempelkan ke telinga kiri yang kemudian merambatkan bunyi 'tut' berulang kali. Tak lama kemudian terdengar suara yang menyambutnya penuh dengan rasa kasih sayang. "Assalamu'alaikum, Bu." "Wa'alaikumsalam, Nang. Kok tadi siang Ibu telepon kamu nggak kamu angkat. Lagi sibuk, ya?" "Iya, Bu. Ini lagi observasi ke wilayah terdampak pengeboran energi panas bumi di Bandung. Tempatnya juga agak susah sinyal." "Gimana kabarmu, Nang?" "Alhamdulillah, baik. Ibu sendiri gimana?" "Ibu sehat, Bapak juga sehat. Kamu di sana sama siapa aja, Nang?" "Sama teman-teman satu jurusan, Bu. Cuma perwakilan dialog interaktif." "Kuliahmu lancar, kan?" Nanta menarik napas. Pertanyaan sederhana yang Ibu lontarkan untuknya menjadi pertanyaan yang paling sulit untuk ia jawab. "Bismillah." Ia mendesah berat. "Nang." Suara Ibu yang memanggilnya seakan paham dengan keadaan Nanta saat ini. "Sudah, jalani saja dulu. Tuntaskan semuanya. Ndak ada salahnya, tho? Dan setelah lulus, silakan, susul apa yang sedang kamu cita-citakan." Nanta diam. Mengambil jeda beberapa detik. "Ya masa aku mau ngulang masuk ke kehutanan, Bu." Kemudian terkekeh sembilu. "Memangnya kamu nggak punya cita-cita lain selain itu?" "Nggak tau lah, Bu. Rasanya aku udah malas bercita-cita. Lagipula yang aku cita-citakan nggak ada yang terwujud." "Ssttt, Nang. Kok ngomongnya begitu?" Nanta tertawa lagi. Kini tawanya terdengar lebih hampa. Ia menyandarkan tubuh pada tiang kayu yang menyatu dengan pagar pembatas tepi teras rumah. "Tapi ada dosenku yang terus kasih semangat sama para mahasiswanya yang sepertiku." "Syukurlah, mungkin itu bantuan yang Tuhan berikan untukmu, Nang." "Aamiin nggak, Bu?" "Ya, terserah kamu lah, Nang." Tawa itu kembali menguar, merayap pada atmosfer yang cukup tidak ramah untuk keadaan lemahnya. "Oh iya, Ibu hampir lupa. Hubunganmu sama Laisa gimana?" "Aman wal'afiat, Bu. Kenapa emang?" "Ndak, Ibu cuma tanya aja." "Ah, masa?" Nanta menggoda. "Hm, sudahlah." "Ya udah, Bu. Aku belum mandi, tadi pulang ke rumah temen langsung disuruh makan sama ambunya. Ditambah lagi anak-anak yang lain kalo mandi kayak bidadari. Lama." Nanta terkekeh. "Hm, biasanya juga kamu ndak mandi." "Kalo aku nggak mandi, kasian anak-anak di sini. Nanti harus mencium betapa harumnya kelekku, Bu." Tak lama terdengar suara tawa di seberang. Suara tawa yang hangat, yang selalu ingin Nanta lihat sepanjang waktu. "Sudahlah, Ibu juga banyak kerjaan. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Bertepatan dengan suara 'tut' tanda saluran telepon terputus jantung Nanta berdebar. Ada titik rindu yang tengah menagih temu. Ah, lebih tepatnya menagih janji waktu atas sebuah temu. Ia masih menatap ponsel yang sudah menampakkan layar gelapnya. Lalu diketuknya lagi benda pipih itu yang tak lama kemudian memunculkan nada sambung. "Hallo." Suara lembut itu menyentuh gendang telinganya dengan halus. "Tadi saya udah telepon Ibu." "Ya, tadi siang Ibu telepon aku. Nanyain kamu kemana. Ya, aku jawab lagi di Bandung observasi sama teman-temannya." Suara yang selalu antusias itu menjelaskan. "Kamu lagi apa?" "Lagi kangen sama kamu." Nanta berdeham kecil. "Saya nanya serius, loh." Ia enggan untuk salah tingkah pada seorang perempuan, sekalipun itu seorang Laisa, pacaranya sendiri. "Iya, Nan. Aku juga mau pake banget diseriusin sama kamu." Nanta mendesah. "Ayo, mau kapan?" "Sekarang." "Oke ...." Hening. Laisa di seberang sana rupanya tengah menunggunya berbicara. "Laisa Puti Andrean, putri tunggal dari Pak Andrean Hestamma, putri mahkota dari seorang raja yang mendedikasikan hidupnya untuk keadilan hukum di negeri kita. Tolong dengar baik-baik ya, Sayang. Kalau bisa kamu rekam perkataanku ini, barangkali suatu hari nanti saya lupa." Nanta menarik napas. "Saya percaya pada Tuhan. Tuhan saya, Allah Subhanahuwata'ala. Kalau suatu hari nanti kita bisa membina rumah tangga yang sah, sakinah mawadah warahmah." Hening. Laisa di seberang rasanya memilih untuk membungkam mulutnya rapat-rapat. Entah, bisa jadi sedang merapalkan kata 'amin' dengan begitu khusyuk. "Ananta ...." "Hm?" "I love you." "I'm smitten by you." Lantas sama-sama tertawa. *** Teddy menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Lantas gegas menguraikan rindunya setelah dua hari tak bertemu dengan kasur kesayangannya. Ia pun mendesah panjang, seakan benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa dari belaian halus permukaan kasurnya. Berbeda dengan Nanta yang justru bergegas melajukan motornya lagi untuk menjemput gadisnya. "Mau ke mana, lo?" Teddy memekik. "Jemput pacar." Nanta menjawabnya sambil melajukan kendaraannya sebelum benar-benar melesat jauh. Teddy berdecih. Lalu memilih untuk menyalakan layar ponselnya yang langsung menampilkan sosok gadis pujaannya. Ia tak lagi memedulikan Nanta yang sudah menghilang dari balik pagar besi tua. Sedangkan Nanta kini sudah bersandar dengan gayanya yang santai di atas jok motor lalu satu kakinya menyilang. Menatap sesosok bidadari yang masih mampu bertahan dengan seonggok daging tak berguna seperti dirinya. Gadis itu tengah melangkahkan kakinya, menghampiri Nanta dengan senyuman penuh mengembang di bibirnya. Di matanya, seolah ada pangeran berkuda hitam yang tengah menunggunya di sebuah padang rumput. Ah, tidak. Itu terlalu berlebihan. "Halo, Pacar." Laisa bergelayut di bahu Nanta, menunjukkan sikap manjanya yang teramat. "Siapa?" Nanta malah bertanya sambil menampakkan wajah polosnya. "Kamu, lah!" "Oh, aku?" "Hm." Yang tadinya ingin bermesra ria, kini justru berbanding terbalik. Laisa jadi sebal sendiri dengan tanggapan Nanta. "Ngambek." Dicoleknya hidung Laisa dan sukses membuat gadis itu memajukan bibir manisnya. Jujur saja, sebagai manusia biasa yang mengharusnya untuk selalu mengencangkan tuas pengaman, Nanta ingin sekali untuk mencecap bibir itu. Dengan lembut, menari dengan hangat di atasnya. Mencecap setiap incinya tanpa memberi sisa. Atau lebih dari itu. Menikmati sebuah semesta yang ... ah, tiada tara. Menari bersama, berkeringat bersama, menyebut nama sama-sama dalam desahan yang tertahan di antara puncak rasa nikmat. Lalu membelai dua buah gundukan hangat yang mungkin akan terasa begitu pas dalam genggamannya. Meremasnya pelan dan tetap menari di atas awan serundai wujud nyata dari sebuah angan. Dan ... ah, nyaris saja tuas itu terlepas jika tidak mengingat di mana ia tengah berdiri sembari memandangi sesosok bidadari di hadapannya ini. "Yuk." Laisa mengambil helm yang tersimpan di atas tangki motor. Nanta segera melepaskan diri dari sebuah angan miliknya yang telah menyentuh awan serundai dalam dirinya. "Mau ke mana dulu?" tanyanya berusaha dengan suara yang netral. "Emangnya mau ke mana dulu?" "Ya, barangkali mau ke mana gitu, kan." "Langsung ke flat aja, ya. Aku banyak deadline." Nanta mengangguk. Lalu memutar tubuhnya dan menunggangi kuda besinya yang tak lama kemudian seperti biasa, Laisa mengisi jok belakang lantas memeluknya erat. Tangan Nanta bergerak meraih tangan halus itu, kemudian meletakkan di dadanya yang sedang berdebar hebat sambil berharap kelak harus ada kenikmatan yang bisa ia tunaikan dengan tuntas bersama gadisnya, Laisa Puti Andrean. "Kamu kenapa?" Laisa bertanya sambil menyandarkan dagunya pada bahu Nanta. "Kenapa emangnya?" "Jantung kamu kayak orang abis ikut lomba lari." "Saya emang lagi lari." "Loh, lari dari apa?" "Iya, lari dari sebuah perasaan yang belum menjadi hakku." Lima detik Laisa terdiam sebelum akhirnya mengerti dengan maksud Nanta. "Kenapa nggak kamu coba?" tanyanya kian merengkuh dengan erat. Deg! Debar hebat di dalam d**a seakan menghancurkan fungsi jantungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD