Hujan sore itu turun seperti bisikan—tipis, nyaris tidak terdengar, hanya meninggalkan garis-garis halus di kaca jendela mansion Sinclair. Udara dipenuhi aroma besi dan tanah basah, seolah dunia sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih gelap dari malam. Elisabeth berjalan pelan di koridor lantai dua, langkahnya terpantul lembut pada marmer dingin. Di tangannya, amplop dengan inisial W.A. itu terasa berat, hampir seperti beban yang menempel pada tulang-tulangnya. Setiap langkah membawa gema samar, seperti bayangan seseorang yang terus mengikutinya. Ia berhenti di depan jendela besar. Dari sana terlihat taman keluarga Sinclair, pohon-pohon pinus meliuk pelan diterpa angin. Dari kejauhan, lampu-lampu kota terlihat berpendar di balik kabut tipis. Tapi yang menarik mata Elisabeth bukanlah
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


