Hujan berhenti menjelang subuh, tapi langit masih berwarna kelabu. Kabut tipis menempel di kaca rumah sakit, menelan bayangan gedung-gedung tinggi di kejauhan. Dunia tampak seolah lupa bernapas — hanya ada suara mesin infus yang menetes perlahan, seperti waktu yang menua tanpa arah. Celine terbangun perlahan. Tubuhnya terasa berat, dan pikirannya kabur oleh sisa obat. Lampu di langit-langit masih redup, membiarkan cahaya matahari pagi menelusup pelan dari celah tirai. Ia menoleh, mencari Edward. Tak ada siapa-siapa di kursi sebelah ranjang — hanya jas hitam yang tergantung di sandaran, lembap dan berbau hujan. Namun di meja kecil di sampingnya, ada secangkir kopi yang sudah dingin, dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang ia kenal betul: “Aku hanya ke ruang dokter sebentar. Jan

