06. Menggoda

817 Words
Pada makan malam kali ini, Bianca duduk di depan Ezra, sudah memakai baju yang lebih tertutup tapi belahan dadanya cukup rendah. Masakan Moma sudah terhidang di atas meja, lauk-pauk yang nampak menggugah selera ada di sana. Bianca dan orang-orang di meja mulai mengisi piring dan menyantap semua masakan yang ada di sana. Sesaat, dengan nakal, Bianca sengaja mengeluskan jari kaki pada betis Ezra. Membuat lelaki itu menatap Bianca sekilas sebelum berdehem dan kembali asik makan. "Mas, gimana? Suka kamu makanannya?" Ezra tersenyum dan mengangguk. "Suka banget kok." "Syukur deh kalau kamu suka." "Masakan Moma sih enggak pernah gagal," ujar Kimi memuji. "Bi? Kenapa kamu diem aja? Enggak suka sama masakan Moma?" "Mmmmm, suka kok Moma," ujar Bianca sembari kembali mengeluskan jari kakinya pada Ezra. Dan kala itu, Ezra tiba-tiba saja berdiri. Membuat tentu saja Bianca kaget sekali. "Eh? Kenapa Mas?" tanya Aalifa bingung. "Saya mau nambah udang." "Oalah, kamu tuh bilang aja, biar saya yang ambilkan Mas." "Makasih." Sesaat, Ezra nampak melirik Bianca dengan tatap yang terlihat marah. Bianca jadi berpikir, apa lelaki itu bahkan tak suka saat Bianca goda dan elus kakinya seperti tadi? Dan aneh sekali, bukannya senang, Bianca malah merasa rendah. Apa dia tidak menarik di mata Ezra? Atau ... Ezra terlalu menyukai Moma? Cowok ganteng begitu kenapa harus menyukai ibu-ibu yang hampir menginjak 50 tahun sih? Apa dia punya kelainan? Bianca harus mencari tahu, ia harus melihat masalalu Ezra. Ia harus melihat seperti apa lelaki itu sebenarnya. Jadi, Bianca harus mulai menyusun rencana untuk ... mencium calon papa tirinya sendiri. ASAP! ^^^^^^^^^^ "Ya! Bener banget, kelainan, gue yakin Ezra itu emang punya kelainan." "Kenapa lo bisa mikir begitu sih Bi?" "Karena dia enggak tertarik sama gue." "So?" "Kimi, lo mikir enggak sih? Gue itu Bianca, Bi.An.Ca! Seorang model, lo lihat kan gue dari ujung kaki sampai ujung kepala?" "Lo cantik, seksi, menggoda, terus?" "Dan masa gue enggak menarik di mata Mas Ezra?" "Mungkin lo emang bukan seleranya Bi." "Tapi dia, dia itu seorang bos, ganteng, mapan, dia bisa dapetin cewek yang bukan Moma di luaran sana. Why harus Moma?" "Coz, Moma masih cantik, lembut, soft spoken, pinter masak dan pekerja keras. Why not?!" Kimi mengerutkan kening bingung. "Apa sih yang lo mau Bi? Mas Ezra tuh cowok bener, kenapa lo nuduh dia yang enggak-enggak? Bagus kalau dia jadi Popa lo kan? Bukan bermaksud menggantikan yang udah enggak ada, tapi Moma juga butuh cinta. Butuh cowok." "Gue harus tetep lihat gimana masalalu Ezra dan apakah dia bener-bener suka sama Moma atau cuma main-main." "Lo senafsu itu buat cium Mas Ezra?" "Kimi, gak gitu, gue cuma mau memastikan. Jadi, gue udah nyusun rencana, gue bakalan masuk ke rumah Mas Ezra apapun caranya. Dan nanti, gue ngumpet, terus pas dia tidur, secara diam-diam, gue bakalan cium dia." "Anjir! Gila lo! Enggak! Gue enggak bakalan ngijinin. Rencana apaan itu Bi, lo gila kalau nyium papa tiri lo sendiri. Ada banyak cara yang bisa kita cari buat ngebuktiin kepribadian Papa tiri lo. Tapi enggak dengan jalan pintas kayak gitu. Lo enggak boleh cium Mas Ezra. Dia punya emak lo Bi!" Bianca terdiam seribu bahasa. "Lo mikirnya kejauhan, jangan, sumpah Bi. Ini bisa jadi bumerang buat diri lo sendiri kalau nanti ketahuan." "Ketahuan apa?" Bianca dan Kimi sama-sama kaget mendengar suara Moma yang sudah ada di ambang pintu. "Apa yang mau kalian lakuin?" "Momaaaa! Enggak kok, enggak ada yang mau kita lakuin," ujar Kimi, mencoba tak panik. Barusan Moma tidak mendengar terlalu jauh kan? "Iya Mom, enggak ada yang mau kami lakuin. Aku cuma pengen bolos kerja dengan pura-pura sakit, tapi Kimi bilang, takutnya ketahuan sama orang." Bianca tersenyum kaku dan mencoba membela diri. "Ck! Moma pikir kalian mau aneh-aneh, ini tablet Kimi ketinggalan di bawah, simpen baik-baik, Kimi." ^^^^^^^^^^ "Moma, lagi apa sih itu?" "Lagi siapin cemilan sama kopi." "Buat apa? Moma ada kerjaan?" tanya Bianca sembari membuka pintu kulkas. "Buat Mas Ezra." "Mom!" "Apa sih Bibi, marah mulu. Tenang aja dong ngomongnya." "Moma kenapa perhatian banget sama Mas Ezra itu looo?" "Kamu coba anterin deh ke rumahnya makanan ini." "Kok aku?" "Ya enggak apa-apa, Mama mau ke kamar mandi dulu, lagian kalian berdua tuh harus akrab." "Buat? Kenapa? Emang kami bakalan jadi apa?" "Apa sih Biii? Udah sana, nurut sama orang tua. Bantu Moma nganterin ini ke rumah Mas Ezra." "Ih Momaaaaaa!" Bianca cemberut menatap Moma yang kini pergi menjauh darinya. Tapi sebentar. Bukannya ini kesempatan yang bagus agar Bianca bisa menjalankan rencananya? Agar ia bisa menilai apakah Ezra laki-laki yang benar atau bukan? Iya kan? Bianca hanya perlu mencari waktu agar ia bisa mencuri kecupan di bibirnya. "Okey, okeeeey! Gue tinggal ganti baju, pake yang pendek-pendek, ketat di sana-sini, dandan cantik centil penuh godaan biar Mas Ezra ngijinin gue buat masuk rumahnya sekalian tes tipis-tipis iman tuh cowok, dia bakalan ke goda enggak ya sama cewek sepulen gue? Oh my God, sumpah, rencana ini sempurna banget. Gue tinggal pergi dan ngejalanin semua yang udah gue pikirin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD