bc

Suddenly Marriage

book_age18+
339
FOLLOW
1.2K
READ
possessive
love after marriage
arrogant
drama
comedy
bxg
city
wife
husband
like
intro-logo
Blurb

18+

Harap bijak memilih bacaan!

MARRIAGE SERIES #3

Apa jadinya jika lamaran pekerjaan justru menjadi sebuah lamaran pernikahan? Semua begitu mengejutkan bagi Ajeng Rengganis, gadis berusia 20 tahun yang mendadak dilamar calon bosnya sendiri saat wawancara pekerjaan.

Parahnya calon bos Ajeng yang bernama Hisyam Athar Oktavian tersebut sudah berusia 31 tahun. Di mata Ajeng Hisyam adalah Om-Om tua yang sama sekali bukan laki-laki impiannya. Lalu mampukah Ajeng menolak pernikahan tersebut sedangkan ibunya menerima Hisyam sebagai menantunya dengan senang hati?

Cover by Lanamedia

chap-preview
Free preview
Serpih 1 : Mendadak Dilamar!

Di sebuah pabrik batik tulis yang sedang beroperasi seorang laki-laki muda tengah memperhatikan para karyawan yang sedang bekerja. Para karyawan terlihat serius menekuni pekerjaan masing-masing. Pabrik batik tulis ini sudah beroperasi sekitar 25 tahun dengan total 50 karyawan. Di antara dari mereka kebanyakan dari para ibu rumah tangga yang direkrut dari para warga sekitar. Haidar, pemilik pabrik batik tulis tersebut memang sengaja tidak memperbesar pabrik karena ingin tetap mempertahankan kualitas. Selain itu, Haidar juga sudah kewalahan menerima orderan dari para konsumen luar kota. Jadi Haidar akhirnya memutuskan untuk membatasi orderan ke luar kota dan lebih mengutamakan stok tokonya. Tapi itu dulu, sebelum Hisyam putra keduanya ikut terjun langsung untuk mengurus pabrik.

Sejak dua tahun terakhir pabrik mengalami kemajuan pesat. Semua telah diatur oleh Hisyam secara langsung. Mulai dari mengatur keuangan, pemasaran, hingga perekrutan karyawan. Semua itu Hisyam lakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada. Secara besar-besaran Hisyam membuka toko online di beberapa aplikasi. Tak sendiri, Hisyam di bantu oleh dua admin yang sudah dilatihnya untuk bertugas mengurus toko online tersebut.

Pekerjaan Haidar kini jauh lebih ringan karena hanya fokus di toko off line yang berada di pusat kota. Tapi itu tak membuat Haidar merasakan kebahagiaan yang sempurna. Haidar masih terus berduka atas kepergian Azzam. Hanya saja selama ini Haidar tidak pernah menunjukkan di hadapan semua orang. Haidar tidak ingin membuat Hisyam dan istrinya terlarut dalam kesedihan panjang seperti dirinya. Makanya Haidar lebih banyak menghabiskan waktu di toko karena saat sendiri di rumah kenangan bersama Azzam akan selalu membayang. Pun dengan Arumi yang sering menyibukkan diri membantunya. Haidar tahu semua itu Arumi lakukan hanya sebagai pengalihan agar tidak terus memikirkan Azzam.

Sekarang hanya satu harapan yang ingin dicapainya. Melihat Hisyam menikah dan hidup bahagia. Haidar ingin menimang cucu yang bisa diajaknya bermain di masa senjanya ini. Cucu yang setiap hari bisa dipeluknya. Bukan hanya mengurus pekerjaan yang mulai membosankan.

"Pak Hisyam para pelamar pekerjaan sudah datang," ucap laki-laki muda yang baru saja datang menghampiri Hisyam yang tengah memperhatikan ibu-ibu yang dengan lincah memainkan canting di atas lembaran kain.

"Iya, saya akan menemui mereka sekarang," jawab Hisyam lalu bergegas meninggalkan pabrik dan menuju kantornya.

Di depan kantornya sudah ada 3 orang. Satu diantaranya adalah seorang gadis belia. Melihat Hisyam bersama asistennya datang, mereka bertiga langsung berdiri untuk memberikan hormat.

Hisyam duduk di kursinya lalu mulai membuka satu map teratas yang berisi identitas beserta surat lamaran pekerjaan yang ada di mejanya. Dibantu oleh asistennya, Hisyam mulai memanggil dan mewawancarai satu persatu pelamar hingga giliran si gadis belia tadi.

"Silahkan duduk!" ucap Azzam kepada gadis itu yang terlihat gugup.

"Ajeng Rengganis," eja Hisyam sembari melayangkan pandangan ke arah gadis di seberang mejanya dengan sekilas. Lalu Hisyam kembali membaca.

"Usia 19 tahun?" Kali ini ada nada menyepelekan dari suara Hisyam. Yang benar saja dirinya menerima karyawan pabrik semuda dia. Hisyam sangat yakin jika gadis itu tidak akan sanggup membatik seperti karyawannya yang lain.

"Kamu bisa kerja apa?" tanya Hisyam kembali. Tiba-tiba saja sebuah ide gila merangsek masuk begitu saja ke dalam benaknya.

Gadis bernama Ajeng itu memberanikan diri mengangkat wajahnya sebelum menjawab," Saya bisa bekerja apa saja. Saya memang tidak memiliki pengalaman bekerja sedikitpun tapi saya akan berusaha belajar dan bekerja dengan sebaik mungkin."

Setelah menjawab Ajeng kembali menunduk kepala. Kedua kaki Ajeng tanpa sadar saling bertaut menandakan jika gadis itu benar-benar gugup. Apalagi tatapan tajam Hisyam yang menakutkan seperti singa yang tengah mengawasi mangsanya itu semakin membuatnya ingin pipis. Kebiasaan buruknya setiap kali dalam keadaan gugup.

Hisyam menghela napas panjang sembari menelisik penampilan Ajeng yang terlihat sederhana. Gadis itu mengenakan celana bahan berwarna hitam dipadu dengan kemeja putih dan hijab yang terlilit di lehernya. Minim make up.  Sesuai dengan perempuan kriterianya. Tapi jika dibandingkan dengan Adiva tentu kecantikan mereka jauh berbeda. Gadis di hadapannya   terlalu biasa. Jika nilai maksimal adalah 100 maka Hisyam akan memberikan nilai 75 untuk gadis itu.

Hisyam tampak menimbang dengan apa yang akan diputuskannya. Kapan lagi dirinya menemukan gadis yang bisa diajaknya menikah. Teman perempuan saja dirinya tidak punya apalagi gadis incaran sedangkan waktu yang diberikan ibunya hampir habis. Dengan cara apapun Hisyam akan membatalkan lamaran kedua orang tuanya kepada Adiva.

"Klo begitu minggu depan saya beserta orang tua saya akan datang ke rumah kamu," ucap Hisyam dengan santai yang sukses membuat mata Ajeng terbelalak.

"Ma.. Maksud Bapak?" balas Ajeng tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mimpi apa semalam dirinya sampai bisa bertemu dengan laki-laki aneh di hadapannya.

"Kamu saya terima menjadi istri saya. Jadi kamu cukup melayani saya tanpa repot-repot bekerja, semua kebutuhan kamu akan aku penuhi," terang Hisyam semakin membuat Ajeng tanpa sadar memukul kepalanya secara berulang.

"Sek sek.. Iki otakku seng oleng opo piye to?" gumam Ajeng dalam hati tanpa memutuskan kontak mata di antara mereka.

"Gimana?" tawar Hisyam dengan tersenyum penuh makna.

"Sek sek Pak, sumpah saya bingung. Apa Bapak salah minum obat? Kita bertemu saja baru beberapa menit yang lalu. Dan saya ke sini untuk melamar pekerjaan bukan melamar menjadi istri Bapak!" balas Ajeng masih kebingungan.

Tidak ada namanya rencana menikah muda apalagi menikahi om-om tua seperti di hadapannya. Sumpah, Ajeng tidak pernah bermimpi akan dilamar laki-laki dengan model seperti ini.

"Apa surat lamaran yang saya tulis salah Pak?" sambung Ajeng lalu berdiri demi mengambil alih map dari tangan Hisyam.

Gegas Ajeng membaca kata demi kata tulisan tangannya dengan saksama demi mastikan jika dirinya tidak salah tulis. Fix, otak laki-laki di hadapannya lah yang memang korslet, bukan dirinya.

"Sudah terima saja. Kita bisa saling mengenal setelah menikah. Dan yang terpenting kamu bisa memberikan saya keturunan dengan cepat." Ucapan Hisyam langsung membuat bibir Ajeng terbuka lebar karena saking herannya. Bertemu saja baru beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah membicarakan soal keturunan?.

"Pulanglah dan sampaikan kepada orang tua kamu. Minggu depan saya bersama orang tua saya datang untuk melamar kamu," tukas Hisyam tanpa memberikan kesempatan sedikitpun untuk Ajeng membalas.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Imperfect Marriage

read
247.3K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
187.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
103.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
125.7K
bc

Ex My Boss

read
87.8K
bc

Kali kedua

read
166.5K
bc

Single Man vs Single Mom

read
74.6K