Sosok Azela

855 Words
Raman tentu saja terkejut mendengar permintaan anak kecil di hadapannya itu. Segera Raman merebut pisaau itu dari tangan Azela. "Kamu masih kecil. Jangan bermain pisau!" ucap Raman. "Tapi aku pernah melihat seseorang ditusuk dengan pisau, Kek. Andai aku bisa mainin pisaunya juga, pasti aku bisa membalas penjahat itu." Entah apa yang dikatakan oleh Azela, tetapi Raman yakin anak kecil itu pasti memiliki trauma di masa kecilnya. "Bisa ceritakan pada saya, apa saja yang pernah kamu alami?" tanya Raman, membungkukkan badan, mensejajarkan badannya dengan tinggi Azela. "Papaku pernah dirampok. Waktu itu dan kembaranku juga ada di mobil. Segerombalan orang-orang jahat itu menyodorkan pisau ke arah Papa. Jadi, Papa tidak bisa melawan dan menyerahkan hartanya aja. Aku jadi berpikir, apakah benda ini bisa rampas harta orang dengan mudah?" Azela menatap nanar ke arah pisau yang dipegang Raman. "Aku juga pernah melihat korban pembunuhan di komplek perumahanku, Ibu itu dibunuh suaminya sendiri. Lagi-lagi aku semakin penasaran dengan pisau ini. Aku pun pernah melihat Mbokku tersayat oleh pisau, saat sedang memotong bahan masakan." Azela lalu menatap Raman sambil tersenyum. "Jadi, Kek. Aku ingin belajar menggunakan pisau dengan baik. Agar pisau itu tidak terlihat mengerikan lagi di mataku." Raman akhirnya mengerti. Ia mengusap rambut gadis kecil itu pelan. "Kau terlalu muda, Nak. Kenapa kejadian-kejadian itu terlihat oleh matamu?" Raman jadi berpikir, apakah anak ini kurang perhatian orang tuanya. Memang benar. Azela masih terlalu kecil, mentalnya belum begitu kuat untuk melihat kejadian mengerikan seperti itu. Mungkin sebagian besar anak-anak akan bersembunyi di belakang orang tuanya, ketika menyaksikan kejadian itu, akan tetapi Azela tidak. Ia malah berdiri paling depan, melihat dengan mata kepalanya langsung. Sejak kecil, Daniel memang kurang memperhatikan Azela, karena Azila lebih membutuhkan perhatian khusus. Maka dari itu, Azela terasa lebih leluasa keluar rumah dan menyendiri. Berbagai macam hal sudah dilihatnya tanpa sepengetahuan Daniel. Azela hanya didampingi oleh Baby Sitternya. Ya, seperti saat ia bertemu cowok yang jatuh dari sepeda dulu. Saat itu Azela masih diawasi oleh Baby sitternya. "Jadi, setelah berbagai hal yang kamu lihat. Kamu jadi takut sama pisau ini?" tanya Raman. "Sedikit. Tapi aku sudah mencoba memegang pisau dapur, untuk berlatih agar tidak takut lagi." "Untuk apa kamu mau bermain dengan pisau?" "Supaya pisauku bisa digunakan dengan baik, tidak seperti pisau orang-orang yang kulihat." "Kau tertarik dengan bela diri?" tanya Raman. "Sangat tertarik, Kek. Aku suka nonton pertarungan." "Kau memang berbeda. Mental kau sangat kuat. Baru kali ini saya bertemu anak kecil seperti ini. Tampaknya kau juga pintar." "Jangan memujiku, Kek," ucap Azela, membuat Raman mendengkus. "Kau bisa datang ke sini setiap hari minggu. Aku akan mengajarimu bela diri, agar kau menjadi anak yang tidak hanya bermental kuat, tetapi juga berfisik kuat." Itulah alasan Raman mau mengajari Azela bela diri. Ia terlalu kagum dengan anak kecil bermental kuat seperti Azela. Ia ingin menurunkan semua kepandaian yang dimilikinya kepada Azela, karena Raman tidak memiliki keturunan. Sayang sekali jika kepandaiannya itu disimpannya sendiri sampai mati. Lebih baik ada penerusnya. Raman adalah mantan altlit bela diri. Ia bercita-cinta menjadi tentara, tetapi gagal saat seleksi, karena matanya tertembak peluru. Raman pun tak bisa mewujudkan cita-citanya. Ia memilih untuk berdagang saja dan saat istrinya meninggal. Ia beralih menjadi penjaga kuburan saja, karena Raman memang selalu mengunjungi makam istrinya. Tak lama kemudian, sebuah suara di ruang tamu, membuyarkan lamunan mereka. Daniel sudah siuman. *** Azela tersentak. Ia jadi melamunkan masa lalu dulu, yang pastinya Azela sangat berterima kasih kepada Raman, karena sudah mau mengangkatnya sebagai murid dan juga sebagai cucunya. "Kakek galak, tapi penyayang. Azel jadi rindu," ucap Azela pelan. "Oh, iya. Kakek tidak suka dipuji, ya. Haha. Maafkan." Sebenarnya ada satu alasan lagi yang membuat Azela benar-benar ingin menekuni ilmu bela diri. Akan tetapi itu tidak bisa diceritakan sekarang. Kaki Azela melangkah menuju pondok kecil yang ada di sana. Ia lalu duduk bersantai di situ sembari menatap sungai kecil di depannya. Air yang mengalir, dapat menenangkan pikiran Azela. Kenyataan mengejutkan sudah ia ketahui sejak umur sepuluh tahun. Ia tahu Daniel bukanlah papa kandungnya, akan tetapi Azela merahasiakan itu dari Azila. Cukup ia saja yang tahu. Sekarang tugas Azela adalah mencari papa kandungnya yang sangat pengecut itu! Ya, Azela ingin menemuinya. Namun, Azela hanya mengenal istri baru papanya itu. Ya, mungkin sebelumnya juga sudah dijelaskan. Azela hanya pernah melihat papa kandungnya sekali, itu pun pada pesta. Namun, Azela kehilangan jejak. Sampai sekarang ia tak tahu di mana laki-laki itu tinggal menetap. Bisa dibilang Azela ada dendam dengan papa kandungnya itu. Ya, seperti itulah di balik topeng Azela sebenarnya. Ada kejadian dan fakta yang tidak diketahui orang-orang. Makanya Azela terbentuk menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan selalu bodo amat terhadap sekitar. Ia hanya akan peduli pada suatu hal yang menurutnya penting. Mungkin hanya itu saja yang bisa dijelaskan perihal tentang Azela. Ya, topeng gadis itu terlalu tebal, sehingga orang-orang pasti akan menganggapnya tidak ada masalah apa-apa dan terlihat baik-baik saja. Telepon Azela berdering, menandakan ada telepon masuk. Ternyata Daniel yang menelepon. "Halo, Pa?" "Azela, kamu di mana?" "Hm. Ada apa, Pa?" "Azila sakit. Kamu pulang sekarang!" Telepon pun dimatikan. Azela pun bergegas pergi dari situ. Ia sangat khawatir! Apakah Azila kumat lagi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD