Sudah selama dua minggu artha dirawat dirumah sakit. Kondisinya semakin membaik meski berjalan dengan tongkat karena tulangnya belum kuat. Dan kini artha telah diperbolehkan untuk pulang. Untung artha sudah selesai melaksanakan UN dan sekarang adalah masa masa yang bebas untuk siswa kelas 12 selagi menunggu pengumuman nilai. Selama dua minggu ataya harus bolak balik kerumah, sekolah kemudian rumah sakit. Tapi ataya tak pernah mengeluh. Artha juga senang dengan kedatangan ataya yang menghilangkan rasa jenuhnya. Kini artha berada dikamarnya. Duduk di kursi putar meja belajarnya dengan menghadap laptopnya yang menampilkan formulir pendaftaran universitas nya. Artha menggerakkan jari jarinya untuk mengisi formulir itu sesuai data yang ada. Setelah selesai mengisi semuanya artha mengirim formulir itu. Dan muncul lan pemberitahuan bahwa pendaftaran online nya telah berhasil Tok tok tok "bang artha, ataya masuk ya" ucap ataya dari luar kamar "iya masuk aja. Ga dikunci" ucap artha dengan pandangan masih pada laptopnya. Ataya masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan obat untuk artha "bang artha waktunya makan terus minum obat..... nya" ataya langsung terdiam saat melihat layar laptop artha yang menampilkan pemberitahuan itu. "kenapa?" tanya artha. Ataya tersadar dari lamunannya dan tersenyum manis pada artha. "gapapa. Ini ayo makan dulu" ataya meletakkan nampan itu di meja samping laptop artha. Artha segera menyantap makanan itu agar bisa segera minum obatnya. Ia sudah lelah jika setiap hari harus berjalan dengan tongkat dan bertumpu pada satu kaki "bang artha habis kirim formulir ya" tanya ataya setelah ia duduk dipinggiran ranjang artha. Artha menganggukkan kepalanya. Posisi artha memunggunginya "pengumumannya kapan?" tanya ataya. Artha berfikir sejenak kemudian menjawab pertanyaan ataya dan melanjutkan makannya "mungkin dua minggu lagi. Terus aku harus tes dan baru pengumuman diterima atau enggaknya" "jadi dua minggu lagi bang artha bakalan ke amerika?" tanya ataya "iya. Cuman seminggu disana. Terus balik lagi" "kalau keterima bang artha bakalan ke amerika lagi? Terus baliknya kapan?" "iya ,kalau keterima ya kesana lagi. Gatau balik lagi ke indo kapan" ucap artha dengan enteng. Kemudian ia terdiam. Baru sadar dengan apa yang ia perbincangkan dengan ataya sejak tadi. Artha meletakkan sendoknya di atas piring. Kemudian ia memutar kursi nya sehingga menghadap ataya. Ternyata sejak tadi tanpa artha sadari ataya sedang menahan tangisnya. Mata ataya sudah memerah. Artha menatap mata itu, terlihat ataya sedang menahan rasa sedihnya. Kemudian ataya langsung bangkit dari duduknya dan bergerak cepat untuk memeluk artha. Artha membalas pelukan itu. Ia mengelus punggung ataya menenangkannya "aku janji aku akan segera kembali setelah kuliah aku selesai dan kesini buat kamu" ucap artha. Ataya hanya menganggukkan kepalanya "aku takut" ucap ataya "takut kenapa?" tanya artha "saat kamu kembali nanti semua nya berbeda" "nggak akan ada yang berbeda" "pasti ada. Apa yang bisa berubah dalam waktu kurang lebih lima tahun? segalanya." ucap ataya "aku janji berusaha untuk tidak membuat perubahan besar" "aku harap kamu bisa nepatin semua janji kamu" ucap ataya. Kemudian ia menyembunyikan wajahnya didada bidang artha. Atha diam tangannya mengelus rambut ataya ********* Ataya berjalan menyusuri koridor sekolah. Namun langkahnya terhenti saat mendengar panggilan cempreng dari carol "eh lo jalan cepet amat. Buset dah. Mau rebutan sembako mbak? Buru buru amat" ucap carol saat sudah disamping ataya. Ataya hanya menggeleng gelengkan kepalanya "eh abang lo udah daftar di unuversitas mana? Tadi gue denger anak anak sibuk bicarain kakak kelas yang daftat kuliah. Mereka udah tau semua anak kelas 12 daftar dimana kecuali satu, abang lo. Emang abang lo mau kuliah dimana?" tanya carol panjang lebar "kepo lo" ucap ataya "ayo lah tayi kasih tau. Biar gue yang jadi orang nomor satu yang tau kak artha kuliah dimana" carol mengguncang guncang pundak ataya "ayolah ayoalah" minta carol "aduh.. Iya iya gue kasuh tau. Bang artha kuliah di amrik" "what!! Di amrik? Serius lo? Jadi dia bakalan tinggal disana dong" ucap carol dengan heboh. Ataya menganggukkan kepalanya "terus nanti yang bantuin lo bikin pr siapa? Lo kan bego" ucap carol "sialan lo. Awas lo ulangan nyontek gue" "hehe... Sorry sorry" carol memegangi kedua telinganya "kak artha kuliah keluar negri, digo juga. Tapi dia ke london" ucap carol dengan lirih. Membuat ataya mengerutkan keningnya "kok lo tau kak digo kuliah di london?" "tau lah, dia sendiri yang bilang ke gue semalem waktu telfon upss" carol langsung membungkam mulutnya. Ia baru saja keceplosan "lo telfonan sama kak digo? Kon bisa? Kalian chat chatan juga? Kok lo ga bilang sama gue sih" ucap ataya dengan kesal "sorry. Gue malu mau bilang sama lo. Kan lo tau sendiri kalau gue ketemu sama digo kayak anjing sama kucing. Tapi kok sekarang malah pacaran. Upss gue keceplosan lagi" carol menepuk nepuk mulutnya berulang kali karena kebodohannya "lo pacaran sama kak digo? Sumpah? Demi apa rol. Gue ga nyangka" ucap ataya kemudian tertawa keras. Membuat carol cemberut. "diem deh lo" ucap carol dengan kesal. Kemudian meninggalkan ataya yang masih tertawa dan menuju kelasnya ********* "ataya pulang..." teriak ataya saat memasuki rumahnya dan langsung mendapat lemparan bantal sofa ruang tengah. Ataya melihat ke arah orang yang melemparinya itu "heh berisik" ucap digo. Ataya mengerutkan keningnya. Disini sudah ada dirga, digo dan artha. Digo sudah sibuk dengan stick ps, artha sibuk memperhatikan layar televisi dan dirga yang sibuk dengan handphone nya  "ya suka suka gue lah kak, rumah rumah gue" ucap ataya kesal kemudian melempar balik digo "aduh" ringis digo saat bantal itu mengenai kepalanya "gimana sekolahnya?" tanya artha. Ataya duduk di sofa yang kosong dan menyandarkan punggungnya "baik. Ataya udah bisa ngerjain soal yang bang artha ajarin semalam" "good girl" artha memberikan dua jempol untuk ataya. Ataya tersenyum pada artha. Dirga yang baru saja mengalihkan pandangannya dari layar handphone mengerutkan keningnya saat melihat artha dan ataya saling tersenyum "dih lo berdua ngapain sih" ucap dirga kemudian mengambik stick ps satunya lagi dan mulai bermain melawan digo. Ataya langsung menyurutkan senyumannya. Artha memukul belakang kepala dirga. Dirga selalu saja sensi jika melihat kedekatan artha dan ataya. Namun tiba tiba ataya mengingat sesuatu. Ia langsung menegakkan duduknya "oh ya ampun, oh my god, oh my no, oh my wow" ucap ataya dengan heboh nya. Membuat tiga pria yang awalnya menatap layar televisi langsung melihat kearahnya "lo kenapa? Obat lo habis?" tanya digo "gue punya berita ter hot disekolah hari ini" ucap ataya dengan heboh "berita apaan? Gue jadi kepo" tanya digo dengan antusias "tadi itu disekolah ada berita yang tersebar dan membuat banyak pihak terkejut" "berita apa?" tanya dirga kali ini. Artha hanya diam menunggu "berita carol sama kak digo yang jadian secara diam diam dua minggu yang lalu" ucap ataya sambil bertepuk tangan dan senyum lebarnya Artha dan digo melongo mendengarnya. Sedangkan digo menarik leher kaosnya hingga menutupi kepalanya. "lo jadian sama nenek kabayan? Kok lo gak bilang" tanya dirga. Digo tak peduli, ia duduk menyandarkan punggung nya dengan tangan terlipat didepan dada. Kepalanya masih tersembunyi di dalam kaosnya "tuh kan kak digo diem aja berarti tandanya iya" ataya menunjuk nunjuk digo yang tak peduli dengan apapun. Artha menggeleng gelengkan kepalanya. Dirga yang merasa geram langsung bangkit dari duduknya. Ia menarik kaos digo kebawah sehingga kepalanya terlihat lagi. Dirga berkacak pinggang didepan digo "kapan lo jadian?" tanya dirga "kan udah dibilang sama ataya tadi" ucap digo "siapa yang nembak?" tanya dirga lagi "gue" jawab digo "dimana?" "lewat chat" "ha? Lo nembak cewek lewat chat? Aduh bro" kali ini artha yang berucap "dari pada lo. Emang lo pernah nembak cewek? Enggak kan?" ucap digo dengan sengit. Artha langsung terdiam. Ataya jadi salah tingkah. Ia langsung pergi kekamarnya "woi mau kemana lo?" tanya digo "ke kamarlah" ataya tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya "tanggung jawab. Gara gara lo gue jadi di introgasi sama dirga nih" teriak digo namun ataya tak peduli. Ia tetap berjalan menuju kamarnya. ********* Kini ataya dan artha berada di halaman belakang rumahnya. Seperti biasa mereka sangat suka berbaring direrumputan yang ada disana. Ataya menjadikan lengan artha sebagai bantalannya. Memandangi langit senja "langitnya bagus" ucap artha "tapi masih bagusan suryanya. Apalagi surya yang ada disampingku" ucap ataya. Artha menoleh ke arah ataya "wah sekarang udah pinter gombal. Diajarin siapa hem?" "diajarin sama cowok yang setiap pagi selalu berbicara sok manis sama aku sampai aku ngerasa diabetes" ucap ataya. Artha tertawa kencang kemudian mengecup pipi ataya. Ataya tersenyum. Kemudian ia juga mengecup pipi artha namun artha malah menarik kepalanya sedikit ke atas dan membuka mulutnya sehingga bibir ataya malah salah sasaran.  "ih bang artha" ucap ataya kesal sambil mengusap hidung nya. Artha tersenyum sambil mengelus pipi ataya "jangan tinggalin aku ya" ucap artha. Ataya mengangguk "tentu. Apapun yang terjadi" ucap ataya "artha ataya kalian ngapain disitu. Anginnya kenceng, nanti masuk angin. Ayo masuk" teriak bundanya. Artha dan ataya menghela nafas. Kemudian mereka bangkit dari berbaringnya. Ataya membantu artha untuk berdiri dan memberikan tongkat artha. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah bersama. .