SWC 37 (panahan)

1386 Words
Hari senin, upacara, pelajaran jam pertama hingga ketiga matematika dan hari pertama pms. Sungguh senin ataya sangat suram. Apalagi ataya selalu mengalami keram perut saat awal pms. Dan ia harus mengikuti upacara di bawah matahari yang cukup terik. Sebenarnya ataya tidak pernah mengeluh untuk mengikuti upacara, bahkan ia sangat senang berdiri di barisan terdepan meski matahari seterik apapun. Namun tidak dalam keadaan awal pms seperti ini. Mood ataya sangat hancur. "yuk ngantin" ajak carol kepada ataya, andre dan gilang "ayok" jawab andre dan gilang yang sudah bangkit dari duduknya. Sedangkan ataya masih duduk dan menyandarkan kepalanya di mejanya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantalannya "tayi ayok" ajak carol "kalian aja deh. Gue males" jawab ataya semakin menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya "lah, tumben lo makan males. Lo kan hidup untuk makan" ceplos andre. Namun ataya tak menghiraukannya "kalian aja. Gue mau dikelas perut gue keram" "gapapa nih di tinggal?" tanya carol memastikan "iya gapapa" "yaudah. Yuk ndre lang" ajak carol kepada andre dan gilang. Ya kini carol dan ataya lebih sering bergaul dengan andre dan gilang. Dari pada teman teman nya yang lain "mau nitip nggak?" tanya gilang pada ataya. Ataya hanya menggelengkan kepalanya saja. Gilang mengusal puncak kepala ataya sebentar kemudian pergi menyusul andre dan carol yang sudah pergi terlebih dahulu. Kini ataya berada dikelas sendirian. Semua teman nya tentu  sudah menuju kantin. Ataya bergerak gelisah. Merasakan perut nya yang terasa nyeri. Keringat dingin mulai bercucuran. Matanya mulai berkaca kaca. Dulu jika disaat seperti ini akan ada artha yang menemaninya sehingga ataya tidak sendirian seperti ini. Ataya mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh menangis. Tidak boleh cengeng. Sudah cukup selama ini hidupnya bergantung pada artha. Dan sekarang sudah saatnya untuk ia mandiri tanpa sosok artha. Tiba tiba handphone ataya yang berada di dalam tas nya bergetar. Ataya segera mengambil handphone itu. Dan senyum langsung terbit di bibir ataya saat melihat siapa yang menelfonnya. Artha. Ataya menghapus air matanya kemudian berdeham agar suaranya tidak serak karena menangis "halo bang" sapa ataya "kamu baik baik aja kan?" tanya artha di sebrang telfon langsung to the point. Ataya tersenyum. Meski tidak ada disini artha tetap perhatian padanya. Ataya menekan tombol loudspeaker agar suara artha terdengar jelas. Mumpung ia didalam kelas sendirian "ataya baik kok" jawab ataya sambil menyandarkan punggungnya ditembok "bohong. Kamu habis nangis ya? Kenapa?"  ataya menghela nafasnya. Ia tidak pernah berhasil membohongi artha. Itulah kenyataannya "perut ataya keram" "ya tuhan. Udah makan?" "udah kok" "minum air putih yang banyak. Trus nanti pulang sekolah langsung pulang aja. Nanti aku bilangin bunda biar di buatin minuman kayak biasanya" "iya bang" "dikasih minyak kayu putih perutnya" "udah kok" bohong ataya "belum. Kamu dari tadi pasti masih didalam kelas dan ga pergi kemana pun. Darimana bisa dapat minyak kayu putih kalau nggak ke uks" "iya. Ini tadi ataya udah nitip kok sama carol" bohong ataya lagi "beneran?" "iya bang" "yaudah. Nanti kalau carol datang langsung diolesin minyak nya. Nanti pulang sekolah langsung pulang, jangan lupa diminum obatnya yang dibuatin bunda. Terus istirahat ya" "iya. Bang artha lagi apa?" "lagi ngerjain tugas kampus" "dimana? Kok kayak nya rame banget" "di cafe. Sama temen temen" "oh yaudah. Jangan lupa makan ya" "iya sayang" ataya langsung tersenyum mereka dan melupakan keram perutnya saat artha mengucapkan kata itu "kok diem? Blushing ya?" "enggak!" "masak sih? Ga percaya" goda artha membuat pipi ataya semakin memanas "ih bang artha apaan sih" "hahaha.. Oke oke ampun tuan putri. Yaudah aku mau lanjut ini dulu ya. Kamu jaga diri baik baik. Nanti pulang sekolah telfon aku lagi. Jangan lupa" "sip sip oke" "i love you" "love you to" jawab ataya dan kemudian sambungan telfon terputus. Ataya memandangi layar handphone nya dengan senyum yang tak luntur. "aduh.. Sakit lagi perut gue. Ya elah masak iya gue kalau pms harus telfon bang artha terus biar perut gue ga keram. Tekor pulsa dong" dumel ataya sendiri Tanpa ia sadari sejak tadi ada seseorang yang berdiri di luar kelas dengan menyandarkan punggung nya di tembok. Gilang. Sebenarnya sudah lama gilang berada disana. Ia buru buru kembali dari kantin setelah membeli air putih dan roti untuk ataya. Kemudian ia meminta minyak kayu putih dari uks juga untuk ataya. Namun saat ia akan masuk ke dalam kelasnya ia mendengar suara ataya yang berbicara dengan seseorang di telfon. Gilang memutuskan untuk berdiam diri di sana. Agar tidak menganggu ataya. Karena ataya terlihat sangat senang saat berbicara dengan orang itu dan jika ada gilang disana pasti ataya merasa tidak bebas berbicara dengan orang itu. Gilang memutuskan untuk masuk kedalam kelas sekarang karena sudah tak mendengar suara percakapan ataya. Gilang melangkah mendekati ataya. Terlihat ataya kembali menyandarkan kepalanya dimeja dengan kedua tangan sebagai bantalannya. Gilang duduk di kursi depan ataya dengan posisi menghapda ke ataya "ekhem.. " deham gilang untuk menyadarkan ataya atas kehadirannya "nih roti sama air putih" ucap gilang sambil menyodorkan roti dan air putih itu. Ataya tersenyum kecil dan menerimanya "makasih lang" jawab ataya dan diberi anggukan oleh gilang. Kemudian gilang mengeluarkan sebotol minyak kayu putih dari saku kemeja seragamnya. "minyak kayu putih. Olesin di perut lo siapa tau sakitnya bisa berkurang" ataya memandangi gilang dengan tanpa ekspresi. Ia tak menyangka jika gilang akan seperhatian ini padanya. Bahkan carol saja tak pernah seperti ini padanya "ayo pakai. Gue balik badan deh. Ga bakal gue intip juga" ataya tersenyum, padahal bukan itu yang ia pikirkan. Gilang membalik badannya sehingga memunggungi ataya. Ataya menghadap ke arah tembok dan membuka tiga kancing seragamnya. Kemudian ia mulai mengoleskan minyak itu. Setelah selesai ataya kembali mengancingkan seragamnya dan merapikannya "udah" ucap ataya. Gilang pun kembali menghadap ataya. "makan rotinya ini di minum juga. Kata mami gue orang pms harus banyak minum air putih" ataya tersenyum. Dan mulai menyantap roti isi coklat itu dan meminum air putihnya. Selama ataya makan dan minum gilang terus berceloteh tentang berbagai hal. Dan selalu di awali dengan " kata mami gue" . Itu akan selalu menjadi awalan kalimat yang gilang katakan. Dan selalu sukses membuat ataya tersenyum bahkan tertawa. ************* Setelah sambungan telfon terputus artha menghela nafasnya. Berat rasanya ketika ia harus berbohong dan menutupi sebuah kebenaran dari ataya. Ia mengatakan jika dirinya berada di cafe dan mengerjakan tugas kuliah bersama teman temannya adalah bohong. Kenyataannya tidak seperti itu. Namun artha tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya pada ataya. "artha" panggil seseorang yang berdiri didepan artha. Artha yang sedang duduk pun menaikkan pandangannya untuk melihat siapa orang itu. Artha terkejut melihat siapa orang itu "lo ngapain disini?" tanya violet. Ya orang itu adalah violet "gue ada urusan dikit" jawab artha. Kemudian artha langsung bangkit dari duduknya "gue duluan" "loh udah selesai?" tanya violet "udah" " oh oke. Hati hati" ucap violet. Namun tak dibalas oleh artha. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan violet. Violet memandangi pintu yang berada di samping kursi yang diduduki artha. Violet mengetuk pintu itu dua kali dan masuk kedalam ruangan itu. Terlihat seorang pria paruh baya dengan jas putih nya duduk di balik meja kerjanya "hai dad" sapa violet "hai sayang. Baru pulang?" "iya aku kangen sana daddy. Mangkannya kesini. Oh ya vio mau tanya" ucap violet saat sudah duduk di kursi dihadapan meja kerja daddy nya "tadi ada teman vio duduk di depan situ. Apa dia baru aja dari sini?" "cowok pakai baju merah tadi? Namanya kalau ga salah artha" "iya. Dia dari sini?" "iya. Dia baru saja konsultasi sama daddy" "konsultasi?" violet mulai menerka nerka apa yang terjadi pada artha. Jika artha sampai melakukan konsultasi kepada daddy nya yang merupakan seorang dokter itu pasti ada masalah serius "apa vio boleh lihat berkas tentang dia?"  tanya violet. Daddy nya menghela nafasnya. Kemudian Mengambil sebuah map yang ada di tumpukan di meja kerjanya "sebenarnya ini privasi. Tapi daddy percaya kamu bisa jaga rahasia" violet tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia mulai membuka map itu dan membaca selembar demi lembar berkas berkas itu. Mata violet melebar saat membacanya. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang dibacanya ini "tolong bantu dia daddy. Sebisa daddy. Violet mohon" ujar violet pada daddynya tulus dari dalam hatinya "tentu ini sudah tugas daddy. Kamu jangan kawatir" Violet benar benar terkejut. Ia tak menyangka orang seperti artha ternyata menyembunyikan sebuah rahasia sebesar ini. Karena jika dilihat artha terlihat baik baik saja. Dan memang benar, jangan melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Violet tau, orang seperti artha butuh dukungan. Dan violet siap untuk itu. . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD