topeng yang retak

947 Words
Satu bulan setelah malam di balkon itu, hidupku resmi berubah menjadi sebuah pertunjukan teater yang tak kunjung usai. Pernikahan kami—yang disebut media sebagai "Pernikahan Abad Ini"—telah terlaksana dengan kemewahan yang membuatku mual. Foto-foto kami yang tersenyum manis di depan altar kini terpampang di setiap majalah gaya hidup, lengkap dengan narasi tentang power couple baru di dunia bisnis. Kenyataannya? Aku terbangun setiap pagi di kamar utama yang luas, namun terasa hampa. Baskara selalu berangkat kerja lebih pagi, meninggalkan secangkir kopi hitam yang tak pernah ia minum di meja pantry, dan kembali larut malam, sering kali dengan aroma alkohol dan sisa stres dari kantor yang menempel di kemejanya. Hari ini adalah hari pertama aku memberanikan diri untuk melangkah ke studionya. Aku tahu Baskara memiliki ruang kerja pribadi di lantai bawah tanah rumah ini—sebuah tempat yang menurutnya "terlarang" untuk siapa pun, termasuk pelayan. Namun, rasa penasaran dan kebosanan yang mencekik membuatku mengabaikan peringatannya. Dengan gaun rumah yang sederhana, aku menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Udara di sana terasa lebih dingin dan lembap. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, aku tertegun. Tempat itu bukan sekadar ruang kerja. Ruangan itu dipenuhi dengan sketsa arsitektur, maket bangunan yang rumit, dan dinding yang penuh dengan catatan strategi pasar. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kertas, Baskara sedang duduk membelakangi ku. Ia tampak berantakan; dasinya telah dilepas dan kemejanya digulung hingga siku. Ia sedang menatap layar monitor dengan fokus yang begitu intens hingga tak menyadari kehadiranku. "Aku sudah bilang, jangan pernah masuk ke sini," suaranya memecah kesunyian. Ia bahkan tidak menoleh. Aku melangkah masuk, mengabaikan ketegangan yang mulai merayap di pundakku. "Ini rumah kita, Baskara. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa masuk ke salah satu sudut di rumah ini." Baskara akhirnya berbalik. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak kelelahan. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. "Apa yang kau inginkan, Aruna? Jika kau ingin sarapan, pelayan sudah menyiapkannya di atas." "Aku tidak ingin sarapan," jawabku tegas. Aku berjalan mendekati meja kerjanya, mataku tertuju pada sebuah maket gedung yang terlihat sangat modern namun memiliki sentuhan seni yang unik. "Ini... ini desainmu? Untuk proyek lima tahun itu?" Baskara terdiam, menatap maket itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arahku. "Ya. Itu satu-satunya alasan mengapa aku masih mau terjebak dalam permainan konyol Ayah. Proyek ini akan mendefinisikan masa depanku, bukan posisi di kursi direksi yang dia berikan." Aku menyentuh salah satu sudut maket itu dengan ujung jariku. "Ini indah, Bas. Sangat jauh berbeda dari apa yang selama ini kubayangkan tentang dirimu." "Apa yang kau bayangkan tentang diriku?" tantangnya, suaranya kini sedikit lebih tajam. "Bahwa kau hanyalah mesin yang diciptakan untuk memuaskan ego orang tua kita," jawabku jujur. "Bahwa kau tidak punya ambisi sendiri, selain mengikuti apa yang mereka mau." Baskara berdiri, melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya menyisakan beberapa inci. Aura dominasinya selalu berhasil membuat jantungku berdetak tak beraturan, bukan karena cinta, melainkan karena intimidasi yang ia pancarkan. "Kau salah besar. Aku punya ambisi yang jauh lebih besar dari sekadar mematuhi mereka. Aku sedang membangun fondasi agar suatu hari nanti, aku bisa menghancurkan sistem ini dari dalam." Kata-katanya membuatku merinding. Apakah ini alasan mengapa ia setuju dengan pernikahan ini? Apakah dia sedang menyusun rencana untuk melarikan diri? "Kenapa kau memberitahuku?" tanyaku dengan nada rendah. Baskara menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku bisa dipercaya atau tidak. "Karena kau adalah satu-satunya orang yang juga terjebak di sini. Kita berdua adalah tahanan di rumah ini, Aruna. Dan di penjara, kau harus tahu siapa sekutumu." Tiba-tiba, ponsel Baskara bergetar di atas meja. Layarnya menampilkan nama 'Ayah'. Baskara menatap layar itu dengan ekspresi muak yang tak bisa ia sembunyikan. Ia meraih ponsel itu dan mengangkatnya. "Ya, Yah. Tentu saja... Aruna bersamaku sekarang... Kami sedang... merencanakan liburan singkat akhir pekan ini." Ia mematikan sambungan telepon dan menatapku dengan tatapan yang menyiratkan tantangan. "Kau dengar itu? Kita harus pergi. Sabtu ini. Ke sebuah vila di Puncak." "Apa? Tidak, aku ada kelas desain grafis online Sabtu ini," protes ku. "Batalkan," potongnya dingin. "Ini adalah perintah dari 'sistem'. Jika kita tidak terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta, mereka akan curiga. Dan jika mereka curiga, mereka akan mulai memeriksa keuangan dan kehidupan pribadiku lebih ketat lagi." Aku mengepalkan tanganku. Sekali lagi, kehidupanku harus dikorbankan demi kepura-puraan. Namun, saat aku melihat raut wajah Baskara yang lelah namun penuh tekad, aku sadar bahwa ia pun tidak punya pilihan lain. "Baiklah," ucapku pasrah. "Tapi ada satu syarat." Baskara mengangkat satu alisnya. "Syarat?" "Biarkan aku melihat lebih banyak tentang proyekmu. Jika kita harus berpura-pura menjadi pasangan, setidaknya aku ingin tahu untuk apa aku mengorbankan impianku sendiri. Aku ingin tahu dunia yang kau perjuangkan." Baskara terdiam cukup lama. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca—seolah ia sedang melihat diriku bukan sebagai pion, melainkan sebagai manusia. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan mengangguk kecil. "Baiklah, Aruna. Selamat datang di duniaku yang berantakan." Saat ia berkata demikian, ada sesuatu yang berubah di ruangan itu. Ketegangan yang tadinya begitu kental mulai mencair, digantikan oleh kesadaran bahwa kami kini berada di pihak yang sama. Namun, aku tidak bisa menepis perasaan cemas di dalam hatiku. Jika kami semakin dekat, jika kami mulai saling berbagi rahasia, apakah kami akan tetap bisa menjaga jarak profesional yang kami janjikan? Atau justru, kami sedang menggali lubang yang lebih dalam bagi perasaan kami sendiri? Aku berbalik untuk meninggalkan ruangan, namun suara Baskara menahan ku. "Aruna?" Aku menoleh. "Terima kasih," bisiknya, sangat pelan, hampir tak terdengar. Aku hanya tersenyum tipis, lalu keluar dari ruang bawah tanah itu. Saat pintu tertutup di belakangku, aku bersandar pada dinding, menarik napas dalam-dalam. Topeng kesempurnaan yang kupakai selama sebulan ini terasa semakin berat dan retak. Dan aku tahu, tidak butuh waktu lama sebelum topeng itu hancur berkeping-keping.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD