Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di ruang makan kediaman keluarga Adiwangsa yang luas. Di ujung meja, Ayah menatap dokumen di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara Ibu hanya menunduk, memutar-mutar sisa teh di cangkirnya.
Aku, Aruna, hanya bisa menahan napas. Aku tahu apa arti pertemuan malam ini. Bukan tentang perayaan ulang tahun atau kesuksesan proyek bisnis terbaru Ayah. Ini tentang masa depanku yang telah diputuskan di ruang rapat tertutup tanpa keterlibatan ku.
"Aruna," suara Ayah memecah keheningan, berat dan berwibawa seperti biasa. "Minggu depan, keluarga Pratama akan datang untuk makan malam resmi."
Tanganku yang memegang garpu sedikit gemetar. Aku meletakkannya perlahan agar tidak menimbulkan suara bising. "Untuk apa, Yah?"
Ayah menatapku tajam. Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah kepada anaknya, melainkan tatapan seorang pebisnis kepada asetnya. "Kamu tahu persis untuk apa. Perusahaan kita sedang dalam masa transisi, dan aliansi dengan Pratama Group adalah satu-satunya cara untuk mengamankan posisi kita di pasar."
"Tapi, Yah..." suaraku tercekat. "Aku belum pernah bertemu dengan putra mereka. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang asing?"
Ibu akhirnya mengangkat wajah. Matanya menyiratkan kesedihan yang ia coba sembunyikan di balik senyum tipis. "Aruna sayang, ini demi kebaikan keluarga. Kamu anak yang baik, kamu pasti mengerti."
Demi kebaikan keluarga. Kalimat itu terasa seperti jerat yang semakin mengencang di leherku.
Aku teringat pada mimpinya—impian untuk meniti karier di bidang desain grafis di luar kota, hidup mandiri, dan mungkin, suatu hari nanti, menikah atas dasar cinta, bukan kontrak bisnis. Semua itu kini terasa seperti fatamorgana yang perlahan menghilang.
"Siapa namanya?" tanyaku pelan, hampir seperti bisikan.
"Baskara Pratama," jawab Ayah datar, seolah ia baru saja menyebutkan nama klien biasa, bukan orang yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya.
Aku menatap piringku yang belum habis. Hidangan lezat di depanku mendadak terasa hambar. Aku sadar, sejak detik ini, hidupku bukan lagi milikku sendiri. Aku adalah pengantin yang dipersiapkan, pion dalam permainan catur yang dimainkan oleh orang-orang berjas rapi.
Di luar jendela, langit malam Jakarta terlihat mendung, seolah tahu bahwa mulai malam ini, kebebasanku telah resmi berakhir.