Seminggu berlalu begitu cepat, seolah waktu sengaja mempercepat langkahnya untuk menyeretku menuju eksekusi. Rumah besar kami disulap menjadi tempat perjamuan yang megah. Bunga lili putih memenuhi setiap sudut ruangan, aromanya yang tajam justru membuat kepalaku berdenyut. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar, menatap pantulan diriku yang dibalut gaun sutra berwarna champagne.
Penata rias profesional baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Wajahku terlihat sempurna—pulasan makeup yang elegan, rambut yang disanggul modern, dan anting mutiara yang menjuntai. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, aku merasa seperti boneka porselen yang siap dipajang di lemari kaca keluarga Pratama.
"Nona Aruna, Anda sangat cantik malam ini," ucap pelayan pribadiku dengan nada kagum yang tulus.
Aku tersenyum tipis, senyum yang sama yang kupelajari untuk acara sosialita. "Terima kasih, Bi."
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, ketukan pintu terdengar. Itu adalah suara ketukan Ayah—tegas, menuntut, dan tanpa kompromi. "Aruna, mereka sudah datang. Turunlah sekarang."
Langkah kakiku terasa berat menuruni tangga marmer yang dingin. Setiap anak tangga yang kulalui seperti membawaku semakin jauh dari diriku yang dulu. Di ruang tamu, kulihat keluarga Pratama sudah berkumpul. Ayah dan Ibu tampak sedang berbincang akrab dengan sepasang suami istri yang terlihat sangat berwibawa. Namun, perhatianku langsung tertuju pada satu sosok yang berdiri sedikit di samping mereka.
Baskara Pratama.
Ia mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajahnya tajam dengan garis rahang yang tegas, dan matanya—sepasang mata cokelat gelap—menatap ke arahku dengan intensitas yang membuat lututku sedikit lemas. Tidak ada senyum ramah di wajahnya; yang ada hanyalah ekspresi datar yang dingin, seolah ia berada di sini hanya karena terpaksa, sama sepertiku.
"Aruna, perkenalkan, ini Bapak dan Ibu Pratama, dan ini... putra mereka, Baskara," Ayah memperkenalkanku dengan nada penuh kebanggaan yang membuat perutku mual.
Aku menyalami mereka satu per satu dengan tangan yang berusaha tetap tenang. Saat tiba giliran Baskara, tangannya yang dingin menyentuh tanganku. Ada sengatan aneh yang menjalar, namun ia segera melepaskannya begitu formalitas itu selesai. Ia tidak berkata apa-apa, hanya sedikit menganggukkan kepala.
Malam itu adalah sebuah drama yang melelahkan. Kami duduk di meja makan panjang, dikelilingi oleh percakapan tentang ekspansi bisnis, saham, dan masa depan industri. Sesekali, aku dipaksa menjawab pertanyaan mengenai hobiku atau rencana masa depanku, yang tentu saja sudah diatur sedemikian rupa agar terdengar 'pantas' bagi seorang calon menantu keluarga konglomerat.
Baskara hampir tidak membuka suara kecuali jika ditanya langsung oleh Ayah. Ia seperti dinding beton—kokoh, tak tertembus, dan menyimpan segala pikirannya di balik tatapan yang sulit diartikan. Aku mencoba mencuri pandang ke arahnya beberapa kali, berusaha mencari secercah emosi, namun yang kutemukan hanyalah ketidakpedulian yang begitu nyata.
"Aruna dan Baskara, kenapa kalian tidak berbincang sebentar di balkon?" Ibu Pratama menyarankan dengan senyum yang dipaksakan. "Kalian pasti punya banyak hal untuk dibicarakan sebelum hari besar nanti."
Aku tidak punya pilihan selain mengiyakan. Kami berdua melangkah keluar menuju balkon yang menghadap ke arah kolam renang yang bercahaya kebiruan. Begitu pintu kaca tertutup, suasana menjadi hening. Hanya suara gesekan kain gaunku dengan lantai balkon yang terdengar.
"Kamu terlihat tidak bahagia," suara Baskara akhirnya memecah keheningan. Suaranya berat, rendah, dan sangat tenang.
Aku menoleh, menatapnya tajam. "Apakah menurutmu ini adalah situasi yang membuat seseorang merasa bahagia, Tuan Pratama?"
Ia terkekeh pelan, sebuah tawa tanpa humor yang terdengar pahit. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap langit malam yang kelam. "Panggil saja Baskara. Dan untuk menjawab pertanyaanmu—tidak. Ini adalah neraka bagi kita berdua."
Aku tertegun. Aku tidak menyangka ia akan seterbuka itu. "Lalu kenapa kamu menyetujuinya? Kamu punya pilihan, bukan?"
Baskara menoleh, menatapku lurus-lurus. Matanya yang tajam kini tampak redup, menyimpan beban yang tak terbayangkan. "Pilihan adalah kemewahan yang tidak dimiliki orang seperti kita, Aruna. Ayahku mengancam akan menarik dukungan untuk proyek yang sedang kubangun selama lima tahun terakhir jika aku menolak perjodohan ini. Aku tidak bisa mengorbankan impianku begitu saja."
"Begitu juga denganku," bisikku getir. "Aku ingin menjadi desainer grafis. Aku punya impian yang jauh dari ruang rapat dan jamuan makan malam formal seperti ini."
Baskara terdiam sejenak. Ia memutar tubuhnya, menatapku dengan sorot mata yang sedikit melunak, meskipun hanya sekilas. "Dengar, Aruna. Kita tidak harus menjadi pasangan yang saling mencintai. Kita hanya perlu menjadi pasangan yang profesional. Jalankan peranmu, aku akan menjalankan peranku. Setelah kontrak ini selesai atau setelah posisiku aman, kita bisa mencari cara untuk keluar dari ikatan ini."
"Kamu ingin kita berpura-pura?"
"Aku ingin kita bertahan hidup," koreksinya. "Jangan biarkan mereka melihat celah di antara kita. Jika mereka tahu kita tidak akur, mereka akan semakin mengawasi kita. Tapi jika mereka melihat kita sebagai 'pasangan sempurna', mereka akan memberi kita lebih banyak ruang untuk bernapas."
Kalimatnya masuk akal. Itu adalah strategi bisnis, bukan hubungan emosional. Namun, ada bagian dari diriku yang merasa hampa. Menjalani hidup dengan sebuah kepura-puraan terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebuah kejujuran yang menyakitkan.
"Jadi, mulai detik ini," Baskara mengulurkan tangannya sekali lagi, kali ini bukan untuk bersalaman formal, melainkan sebuah ajakan untuk bersekutu. "Kita adalah mitra, bukan suami dan istri."
Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Di sana, aku melihat cerminan diriku sendiri—seseorang yang terjebak di sangkar emas, mencoba mencari celah untuk terbang. Dengan perlahan, aku menyambut uluran tangannya.
"Mitra," ujarku pelan.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang remang, kami membuat kesepakatan. Sebuah perjanjian di balik pernikahan yang akan segera terjadi. Aku tidak tahu apakah ini adalah awal dari keselamatan kami, atau justru awal dari kehancuran yang lebih dalam. Namun, untuk saat ini, itulah satu-satunya pegangan yang aku miliki.
Kami berdua kembali ke dalam ruangan dengan senyum yang telah kami latih—senyum yang menipu semua orang, termasuk orang tua kami yang kini menatap kami dengan tatapan penuh kemenangan. Mereka mengira telah berhasil menjodohkan dua anak manusia, padahal mereka sebenarnya sedang menyatukan dua jiwa yang sama-sama tersesat, bersiap untuk bermain peran dalam sandiwara panjang yang bernama pernikahan.