Menjadi Pelayan Pribadi

1038 Words
“Bisu, ke sini sebentar!” teriak Bintang dari kamarnya. Cahaya yang baru saja kembali dari meja makan dan sedang menuang air, langsung menghentikan gerakannya. “Iya, Kak!” balas Cahaya lalu berjalan secepat mungkin menuju kamar Bintang di lantai dua rumah yang mereka tempati. Cahaya takut, jika telat sedikit saja, Bintang pasti akan menyuruh yang aneh-aneh. Apalagi, orang yang paling ditakuti Bintang sekaligus pelindung bagi Cahaya baru saja pergi bekerja. “Ada apa, Kak Bintang?” tanya Cahaya begitu tiba di hadapan Bintang. “Bukannya semalem gue bilang, kalo Ayah udah pergi kerja, lo langsung ke kamar gue!” omel Bintang. “Maaf, Kak, sarapan Aya belum abis, jadi Aya gak bisa langsung ke kamar Kak Bintang.” “Pinter alesan lo sekarang.” “Sumpah, Kak. Aya gak bohong,” ujar Cahaya dengan ekspresi meyakinkan. “Lain kali jangan lelet kalo makan.” “Maaf, Kak, Aya pagi ini lapar banget. Semalem Om Aryo udah kelelahan, jadi gak sempet berhenti di jalan buat cari makan. Begitu sampe sini, Aya juga langsung istirahat dan gak sempet makan malem.” “Lapar atau emang lo gak pernah makan enak di kampung?” celetuk Bintang. Cahaya tidak berniat membalas ucapan Bintang. Ia sudah biasa mendapat kata-kata menyakitkan dari mulut Bintang. Jangankan di rumahnya, di kampung jika keluarga Omnya sedang berkunjung pun, mulut Bintang pasti akan mengeluarkan celetukan pedas, tapi hanya jika sedang berdua saja. Dan dari seluruh keluarga Omnya, hanya dia yang gaya bahasanya sangat kasar pada Cahaya. Bahkan, dalam keadaan berduka seperti ini Bintang tidak sedikit pun mengurangi ucapan pedasnya pada Cahaya. Padahal, tepat satu Minggu yang lalu Cahaya baru saja ditinggal pergi oleh kedua orang tua dan neneknya untuk selamanya dan pasti Bintang tahu bahwa, hati Cahaya tidak baik-baik saja saat ini. “Ada apa Kak Bintang panggil Aya?” tanya Cahaya dengan senyum ramah yang dipaksakan. “Duduk deket gue, sini!” perintah Bintang sambil melirik tepi kasur di sebelahnya. Cahaya langsung mendekat dan duduk tepat di samping Bintang. “Denger gue baik-baik, mulai hari ini lo itu pelayan pribadi gue. Apa pun yang gue suruh, lo harus kerjain. Tapi inget! Cuma lo sama gue yang tahu. Prita juga gak boleh tahu. Kalo sampe ada yang tahu, apa lagi Ayah, gue bakal kerjain lo abis-abisan, kalo perlu gue bikin lo nyasar di Jakarta!” Cahaya mengangguk patuh, penuh kewaspadaan dengan perkataan Bintang. “Bagus! Gue suka sama anak nurut kayak lo.” Bintang mengusap-usap kepala Cahaya yang hanya bisa menunduk. “Aya sudah boleh pergi, Kak?” “Belum juga gue suruh udah mau pergi aja,” protes Bintang. Cahaya kembali menatap wajah Bintang untuk bertanya, “Kak Bintang mau suruh Aya apa?” “Sebelum gue suruh, gue punya beberapa peraturan dan lo harus setuju sama semuanya.” “Peraturan apa, Kak?” “Pertama, mulai sekarang panggil gue Kak Bi, jangan panggil Kak Bintang. Gue gak sudi nama gue lo sebut semua. Ke-dua, sekali aja gue denger lo ngadu sama Ayah tentang ini, gue bakalan bikin lo gak betah tinggal di sini. Ke-tiga, misalkan nanti gue suruh lo ikut, lo harus ikut gue ke mana pun. Ke-empat, kalo nanti gue nyuruh lo tidur di kamar gue, lo harus mau. Inget! Lo cuma numpang di sini, jadi lo gak punya hak buat nolak apa pun kemauan gue!” Cahaya mengangguk paham dengan wajah takut. “Aya setuju, Kak.” “Bagus. Sekarang tugas pertama. Di keluarga ini cuma gue yang paling jarang sarapan bareng di meja makan, karena gue paling males kumpul-kumpul, dan tugas lo anter makanan pagi, siang, malem, selagi gue ada di rumah. Ke-dua Ayah suka kunci pintu kalo gue telat pulang, jadi tugas lo, jangan tidur di kamar kalo gue belum pulang ke rumah dan harus tidur di sofa, supaya kalo Ayah kunci pintu, gue gak perlu cape ketok-ketok dan lo harus langsung bukain pintu buat gue. Sampe sini paham?” “Paham Kak Bin— Kak Bi maksud Aya.” “Untuk sekarang cuma itu aturan yang gue bikin, sisanya nanti gue pikir lagi.” Cahaya kembali mengangguk dan beranjak dari duduknya. “Apa sekarang Aya sudah boleh pergi, Kak?” “Boleh, tapi lo pasti tau, ‘kan gue belum sarapan, jadi lo harus bawain gue sarapan sekarang!.” “Baik, Kak, kalau begitu, Aya ambil sekarang.” “Hmm.” Cahaya membalikkan badannya dan melangkah ke arah pintu, tetapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat Bintang kembali memanggilnya. “Bisu, tunggu!” panggil Bintang lalu melangkah mendekati Cahaya. “Ada apa, Kak?” “Gue mau cium lo, lo gak boleh nolak karena ini termasuk perintah.” Bintang langsung mencondongkan tubuhnya dan siap mencium bibi ranum Cahaya. Cahaya langsung menunduk sambil mundur dua langkah karena tidak mau melakukan perbuatan yang menurutnya hanya dilakukan oleh suami-istri. “Lo nolak gue? Lo gak paham apa yang gue omongin tadi?” protes Bintang. “Maaf, Kak Bi, Aya gak berani,” ucap Cahaya dan tetap menunduk. “Kuno banget, sih, lo! Sini, gue ajarin!” Satu tangan Bintang terangkat untuk memegang tengkuk Cahaya, tetapi lagi-lagi Cahaya menghindar. “Maaf, Kak, Aya gak mau coba. Aya mau ambil makanan buat Kak Bi dulu,” ucap Cahaya lalu pergi meninggalkan Bintang dengan langkah cepat. “Lo nantangin gue?” ujar Bintang saat Cahaya pergi tanpa menoleh lagi. Cahaya hanya bisa semakin mempercepat langkah, takut Bintang menariknya masuk ke kamar. Begitu tiba di dapur, Cahaya tidak buru-buru menyiapkan makanan untuk Bintang. Ia berdiri sejenak untuk menahan air matanya. Ini hari pertama ia mulai tinggal bersama Aryo—sahabat dari mendiang ayah-ibunya karena ia tidak memiliki siapa pun lagi di kampung. Dari semua perintah yang Bintang katakan tadi, ia merasa kehadirannya bukanlah sebagai keluarga, melainkan sebagai pembantu. Belum lagi sikap Diva—istri dari Aryo, yang menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran dirinya di rumah ini. Padahal, jika sedang berkunjung ke kampungnya, Diva selalu bersikap ramah dan baik, sangat berbanding terbalik dengan sikapnya tadi malam begitu ia tiba-tiba di rumah ini. “Bapak, Ibu, Eyang, Aya kangen. Aya mau ikut kalian,” ucap Cahaya berbarengan dengan dua tetes air mata yang mengalir begitu saja. Perlahan kedua tangan Cahaya tergerak untuk menutup mulut agar tidak ada yang mendengar suara tangis kerinduannya pada keluarga yang baru satu Minggu lalu pergi untuk selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD