Kemarahan

1108 Words
Di sekitar lorong dan sudut, terdapat beberapa orang body guard yang bertubuh tinggi dan kekar. Mereka masih mencari gadis yang di suruh oleh Joy Nelton beberapa saat lalu untuk di temukan. "Bagaimana jika aku ketahuan, aku bahkan belum pernah main petak umpet seumur hidupku, kali ini matilah aku. Apa yang harus aku lakukan?, ya Allah tolonglah aku," bathin Syaila sembari berharap dan berdoa agar Allah menyelamatkannya. Syaila berusaha berjalan dengan anggun dan tenang. Agar para body guard tak curiga terhadap gerak geriknya. Saat berada di depan pintu, para body guard dan satpam pun tak mempedulikannya dan mempersilahkan Aurel dan Syaila keluar sedangkan Andre dan Revan sudah menunggu keduanya di dalam mobil. "Cepetan! kita harus mengantar Syaila ke asrama sekarang," teriak Revan dari dalam mobil yang di pinjamnya dari salah seorang teman kampusnya. "Iya sabar ngapa?" balas Aurel yang mulai membuka pintu mobil dengan nafas tak beraturan akibat berlari dari pengejaran beberapa orang yang berpakaian hitam itu. "Cepat bawa mobilnya, ada yang ngejar kita tu." "Apa? siapa?" tanya Andre bingung. "Udah gak usah banyak ngomong. Cepat!" perintah Aurel. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa pria berjas hitam itu mengejar mobil mereka dari belakang, namun karena Revan merupakan seorang pembalap, para pria berjas dan berkaca mata hitam itu pun akhirnya kehilangan jejak mereka. "Van! berhentiin mobilnya bentar deh, si Syaila udah mau muntah ni," ucap Aurel yang melihat Syaila terus memegang mulutnya ingin muntah. "Oh oke. Sorry aku gak tau kamu mabuk kendaraan," ucap Revan merasa bersalah, lalu menghentikan mobilnya. Syaila pun turun dari mobil itu dengan segera. "Ini bukan karena dia mabuk kendaraan, tapi karena kamunya bawa mobil kekencangan," tambah Aurel yang tetap berada di dalam mobil. "Seharusnya kamu berterima kasih, berkat aku kalian gak di kejar lagi. Jadi gak usah banyak protes." "Iya-iya aku bantu Syaila dulu ya." "Oke, cepetan jangan kelamaan! bisa-bisa kita gak bisa masuk asrama kalau lewat jam sepuluh." "Iya," ucap Aurel. Aurel turun dan memberi sebotol air mineral kepada Syaila. "Nih minum dulu." Aurel menyodorkan minuman kepada Syaila yang sedang berjongkok memuntahkan isi perutnya. "Thanks." Syaila mengambil minuman dari tangan Aurel lalu meminumnya. "Gak perlu berterima kasih," ucap Aurel kemudian. "Gimana? udah enakan?" tanya Aurel kemudian saat melihat gadis di depannya sudah bangkit dari duduknya. "Udah, ayo kita berangkat lagi," ajak Syaila. "Oke" keduanya berjalan menuju mobil yang mereka gunakan tadi. *** "Syaila, karena kamu anak baru, kamu akan tinggal di asrama ini. Asrama kami disana, kalau ada keperluan tinggal telpon kita." ucap Aurel sembari menunjuk sebuah bangunan mewah yang berada tidak jauh dari asrama Syaila sekarang. Aurel merupakan sepupu jauh dari Syaila, yang sudah setahun tinggal di perumahan besar kampus terkenal di Amerika itu, itulah mengapa Aurel memutuskan untuk menjemput Syaila di bandara, namun karena Aurel berhalangan datang tepat waktu, Syaila yang baru saja tiba memutuskan pergi ke hotel terdekat di sekitar bandara untuk sekedar beristirahat. Syaila sendiri belum pernah bertemu dengan Aurel sebelumnya, Syaila hanya berkomunikasi lewat sosial media dengannya. "Waah! tempatnya keren banget," ucap Syaila takjub. "Apa aku bisa meminta nomormu?" "Tentu, kemarikan ponsel mu." Aurel mengambil ponsel dari tangan Syaila lalu memasukkan nomornya kedalam layar segi empat itu. "Oke, trima kasih. Tapi ngomong-ngomong aku belum menanyakan umurmu." "Umurku sembilan belas tahun." "Benarkah? aku juga sembilan belas tahun." "Aku terlalu cepat masuk sekolah saat kecil," jelas Aurel. "Oo begitu, kalau begitu aku masuk dulu," ucap Syaila meminta izin. *** "Maaf Bos, kita kehilangan jejak Nyonya," ucap salah seorang anak buahnya. "Dasar gak becus! menangkap seorang wanita saja gak bisa." Joy marah besar. Ia mengepalkan tangannya erat hingga tampat urat-urat hijau di kulitnya yang putih itu nan kekar itu. "Aku ingin kalian mencari tahu keberadaannya sekarang dan dengan siapa dia berteman, aku ingin tau semuanya," perintah Joy. "Baik Bos, maaf Bos sebelumnya kami berhasil mendapatkan plot mobil yang di kendarai Nyonya semalam." "Bagus, temukan dia sesegera mungkin!" "Baik Bos." "Kau boleh pergi," perintah Joy. Anak buah sekaligus kaki tangannya itu pun keluar dari ruangannya. "Aku pikir kamu sudah mati dan meninggalkanku seorang, ternyata kamu masih hidup. Aku gak akan membiarkanmu lepas dari genggamanku lagi Syaina. Kamu milikku dan selamanya begitu. Aku akan membawamu kembali bagaimana pun caranya, lihat saja," ucap Joy sembari memandang foto istrinya. Joy adalah seorang pria terkaya di Amerika. Ia merupakan seorang blasteran amerika prancis. Joy memiliki banyak perusahan besar yang bergerak di bidang perhotelan, tekstil, dunia hiburan, pertambangan, pesawat tempur dan berbagai bidang lainnya yang ada di lini masyarakat Amerika. Sahamnya pun tersebar luas di setiap perusahaan. Joy menikah dengan seorang wanita bernama Syaina Hilton, adik kembaran dari Syaila Hilton. karena sebuah kecelakaan kereta api bawah tanah Syaina wafat dan tubuhnya tak di temukan di tempat kejadian. Hal itu membuat Joy sangat frustasi. Selama setahun ia berhenti bekerja. Pasalnya Syaina adalah gadis yang paling ia cintai dan juga merupakan cinta pertama Joy. Keduanya baru saja melangsungkan pernikahan sebulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Joy percaya istrinya masih hidup, karena tak di temukannya tubuh gadis itu di tempat kejadian perkara. Joy hidup dalam harapan itu dan masih terus mencari keberadaan istrinya. Syaila Hilton adalah seorang wanita asal Indonesia. Ayahnya menikah dengan seorang wanita asal Amerika serikat dan melahirkan dua anak kembar identik. Kedua orang tuanya memutus untuk bercerai saat umur Syaila dan Syaina baru beranjak empat tahun. Syaila ikut bersama ayahnya, sedangkan Syaina di bawa pergi sang ibu kembali ke Amerika. Tok tok tok. "Masuk!" perintah Joy yang merupakan seorang Ceo perusahaan ternama itu. "Kami sudah menemukan Nyonya Bos." "Bagus, dimana?" "Tapi Bos, Wanita yang berkerudung semalam itu kami rasa bukanlah Nyonya." "Apa?" Joy membelalakkan matanya lebar. Bugh. "Lancang kau," ucap Joy marah dan menumbuk anak buahnya. "Ma-maaf Bos, ka-kami tidak bermaksud." "Aku gak mau tau, sekarang juga bawa dia kehadapanku!" perintah Joy dengan marah. "Baik Bos." Para kaki tangan itu pun pergi dengan cepat, ia takut bosnya akan membunuhnya jika ia berlamaan di dalam ruangan itu. "Kurang ajar, berani sekali mereka, aahhh...." Triing. Semua peralatan yang ada di atas mejanya di hancurkan oleh Joy, termasuk vas bunga mahalnya itu. "Ahhh... Syaina, kenapa kau tega meninggalkan aku, apa aku belum cukup memberimu cinta dan segala yang aku miliki huuh? laki-laki mana yang telah membuatmu jatuh cinta dan meninggalkan aku? bukankah aku adalah pria idaman seluruh wanita, kenapa?" teriak Joy. Bugh.... Joy menumbuk dinding hingga tangannya berdarah dan rasa sakit pun mulai terasa. Ia pun duduk di kursi dan menghubungi Sekertarisnya. Beberapa saat kemudian seorang sekretaris cantik nan seksi masuk. Betapa terkejutnya ia saat melihat ruangan bosnya itu layaknya kapal pecah. Sekertaris yang bernama Sandra itu mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Joy, pria tampan dengan seribu pesona. Setelah beberapa saat kemudian ia membersihkan ruangan yang berantakan akibat amukan Joy, Sandra cukup mengerti bagaimana keadaan bosnya itu saat marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD