Penyebab Luka

1893 Words
Aku ingin mencintai-Mu dengan sebenar-benarnya cinta. "Ummi, Dinda kangen..." Aku menyudahi bacaan Al-Qur'anku selepas salat Subuh saat mendengar suara Dinda. Aku berdiri, melepas mukena kemudian melipatnya hingga rapi. Setelah itu aku letakkan mukena di dalam lemari pakaian dan Al-Qur'an di atas nakas. Lalu aku menyambar bergo yang menutupi d**a hingga punggung tanganku dan keluar dari kamar. "Mbak Nia..." seru Adinda, kemudian ia memeluk tubuhku dengan erat. Senyum cerah terbit di wajahnya, sama seperti matahari yang mulai menampakkan sinarnya. "Aku kangen..." ucapnya manja. "Mana oleh-oleh buat Mbak?" "Ada Mbak di koper." "Bukan itu..." Aku mendekatkan wajah ke arah telinganya. "Keponakan yang lucu buat Mbak." Adinda tersenyum sipu, wajahnya memerah saat aku goda seperti itu. "Mbak... Dinda malu." Aku tertawa, kemudian mengelus lengannya dengan lembut. Semenjak Adinda hadir di rumah ini, aku senang karena aku merasa seperti seorang kakak. Dari aku kecil aku tidak pernah merasakan hal itu sebab aku adalah anak tunggal. Aku sudah membuat sarapan, dan kami berempat sudah duduk di meja makan. Seperti biasa, Adinda melayani Mas Izhar dengan sabar. Aku melihat ekspresi Mas Izhar sudah tidak sedingin waktu itu. Ya Allah hapuskanlah ia dari hati dan pikiranku. Saat ini aku hanya ingin Engkau lah yang ada sepenuhnya di dalam hatiku. Aku ingin mencintai-Mu dengan sebenar-benarnya cinta. Serta berikanlah kebahagiaan untuk pernikahan Mas Izhar dan juga istrinya. Aku tidak ingin memendam perasaan ini terlalu dalam. Haram hukumnya mencintai suami orang. Aku tidak ingin menjadi benalu dalam rumah tangga mereka. Biarlah, hanya aku dan Allah saja yang tahu perasaanku ini. Saat ini, yang menjadi fokusku bukanlah soal jodoh semata. Melainkan bagaimana bisa bermanfaat bagi orang sekitar. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. "Oh iya Mi, habis ini Nia mau ke kios laundry ya Mi," ujarku pada Ummi. "Iya Ni Ummi izinkan." "Makasih Ummi cantik..." "Kios laundry?" Mas Izhar bertanya penuh penekanan. Aku memang belum bercerita kepadanya kalau ingin membuka kios laundry, lagi pula hal itu bukanlah urusannya. Jangan sampai ia tahu, kalau aku berniat membuka kios laundry hanya untuk menyibukkan diri supaya dapat melupakan dirinya. "Iya Mas, saya membuka kios laundry di jalan lapangan bola." Mas Izhar menarik napasnya dalam, entah karena apa. Aku mulai melangkahkan kaki dari rumah Ummi menuju kios laundry. Tidak terlalu jauh dari sini, jadi aku memilih untuk berjalan kaki. Lagi pula angkot tidak ada yang masuk ke dalam kompleks. "Ni..." Aku menoleh ke sumber suara di belakangku. Ternyata yang memanggilku adalah Jo. "Apa?" Aku memerhatikannya yang sedang membawa sebuah bungkusan besar yang dibalut oleh plastik hitam. Entah apa isinya aku tidak tahu. "Aku mau laundry di tempat kamu," ujarnya seraya mengikuti langkah kakiku. Saat ini ia sudah berjalan beriringan denganku. "Tapi diskon dong... Harga temen." "Yeeee soal diskon aja, baru kamu anggep aku temen!" Dia tertawa hingga matanya terlihat hanya segaris. Kulitnya yang putih terlihat semakin bersinar karena terpapar mentari pagi. Aku rasa ia rajin merawat wajahnya itu, hingga kulitnya bisa semulus p****t bayi. Aku saja yang perempuan kalah dengannya. "Makanya Jo cari istri, biar kamu ada yang urus." "Belum ada yang cocok." Biar aku tebak pasti ia belum bisa move on dari dokter Natasha. "Ck," aku berdecak, "aku rasa kamu harus move on, Jo. Dia sudah bahagia dengan keluarganya." "Dia bukan milik siapa-siapa lagi sekarang." Bukan milik siapa-siapa? Sepertinya aku tidak salah dengar kalau waktu penyuluhan dokter Natasha mengangkat panggilan telepon dari suaminya. Jangan-jangan Jo ingin menjadi perebut bini orang. Astagfirullah. "Oh iya Ni aku lupa... Kamu diundang Melisa ke pernikahannya." Melisa? Aku mengingat nama itu. Sepertinya tidak asing lagi. "Melisa mantan kamu ya Jo?" "Aku nggak pernah pacaran sama dia." "Aku nggak percaya!" "Terserah!" Dahulu Jo dikabarkan dekat dengan the most wanted girl sekolah itu. Sampai-sampai banyak yang patah hati, baik perempuan maupun laki-laki karena mereka dikabarkan pacaran. Huh, patah hati yang tidak berdasar. Tapi kalau aku datang, aku takut kalau harus bertemu dengan yang namanya tidak perlu kusebut. "Kayaknya aku nggak bisa datang deh, Jo." "Kenapa? Takut ketemu Wisnu?" Aku rasa Jo ini punya bakat cenayang deh, tebakannya selalu tepat. Atau aku saja yang terlalu mudah ditebak. "Kemungkinan kalian bertemu kecil, Ni. Lagi pula kalau kalian bertemu apa yang kamu takutkan? Takut cinta lama bersemi kembali?" Bukan itu... "Aku takut... Aku takut kalau ia semakin menabur garam di atas lukaku yang belum kering." "Ck!" Jo berdecak, "payah kamu itu! Harusnya kamu tunjukkan kalau kamu bisa hidup tanpa dia. Hidup kamu masih berjalan walau kalian udah nggak sama-sama. Kamu tahu Ni, balas dendam terbaik untuk orang yang pernah menyakiti adalah dengan membuat hidup kamu bahagia." Saat ini aku merasa bahwa Jo benar-benar temanku, bukan sahabatnya yang namanya tidak pernah kusebut. Aku hanya tidak ingin melihat kehidupannya begitu sempurna seperti saat aku melihatnya di mall tempo hari. Hal itu semakin membuatku terluka. Luka yang selama ini aku obati ternyata masih menganga tak berperih. Aku sadar, aku tidak bisa memberikan semua hal yang ia inginkan. Tanpa terasa karena terlalu asyik mengobrol kami sudah sampai di kios laundry. Aku segera membuka pintu, dan tidak lama kemudian Bu Sati datang. "Eh saya keduluan Mbak Nia..." kata Bu Sati. "Hehe nggak papa Bu. Ini ada pelanggan pertama Bu hari ini. Penglaris, minta diskon lagi," sindirku sambil melirik Jo. Yang disindir hanya terkekeh serasa tak berdosa. "Cuma dicuci apa sekalian disetrika, Dok?" tanya Bu Sati yang sedang memberikan tanda pada plastik milik Jo. "Sekalian disetrika aja, Bu. Kan dapet diskon..." Aku mematutkan diri di depan cermin. Malam ini adalah pesta pernikahan Melisa. Akhirnya aku memutuskan untuk datang, karena mengingat memenuhi undangan termasuk ke dalam salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Masalah bertemu yang namanya tidak perlu kusebut, aku tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi. Jo benar, kemungkinan kami bertemu sangatlah kecil. Aku sudah siap dengan gamis berwarna cokelat muda ditambah dengan blazer cokelat tua sebagai atasan. Sedangkan jilbabku senada dengan gamisnya yang berwarna cokelat muda. Dan tidak lupa aku memakai handsock pita berwarna hitam agar pergelangan tanganku tidak terlihat. Di rasa cukup, aku menyambar cluth hitam dan langsung keluar kamar. "Waaaah Mbak Nia mau kemana nih cantik banget," seru Adinda saat aku memasuki ruang tamu. Di sana ada Mas Izhar dan juga Ummi. "Iya, kamu mau kemana Ni?" tanya Ummi. "Mau kondangan Mi, ke temen SMA Nia." "Permisi..." Semua mata tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depan pintu. Dia menggunakan kemeja putih dengan blazer berwarna cokelat yang senada dengan celananya. Ia menggunakan sepatu model loafer sebagai pelengkap penampilannya yang semi formal dan santai. "Ni mau bareng nggak?" Nggak salah dia mengajak aku pergi bersamanya? Tapi kalau hanya berdua saja semobil, aku takut akan timbul fitnah. "Adinda, Abang mau ajak kamu makan malam di luar mau?" Fokusku terpecah saat Mas Izhar bertanya kepada Adinda. Ada yang mencelos di hatiku saat mendengar nama Adinda disebut dari bibir Mas Izhar. Padahal Adinda adalah nama istrinya, bukan semacam panggilan sayang. Namun tetap saja terdengar begitu indah. "Mau Abang, Adinda mau..." seru Adinda dengan gembira. "Nah Mas Jo, boleh nggak kami ikut kalian pergi. Mobil saya sedang di bengkel." "Boleh kok, Zhar. Ayo kita berangkat nanti saya sama Nia kemalaman." Aku menghela napas lega. Untung saja ada Mas Izhar dan Adinda nanti, sehingga aku dan Jo tidak hanya berdua saja. "Tapi Dinda mau ganti baju dulu," ujar Adinda. "Sudah nggak usah Adinda, pakaian kamu sudah rapi," Mas Izhar menimpali. Dan akhirnya kami pergi bersama. Aku duduk bersama Adinda di kursi belakang dan para laki-laki berada di kursi depan. Aku melirik Adinda yang wajahnya tersenyum penuh rona. Mungkin ia senang karena ini pertama kalinya Mas Izhar mengajaknya pergi. "Acaranya memang dimana, Mas?" tanya Mas Izhar pada Jo. "Four Season Hotel." Mas Izhar mengangguk. Setelah itu tak ada percakapan apapun diantara mereka. Mas Izhar meminta diturunkan tidak jauh dari hotel tempat acara. "Mas nanti pulangnya saya nebeng lagi, ya? Hehe." "Iya Zhar." Setelah itu aku dan Jo memasuki kawasan hotel berbintang ini. Aku dan Jo memasuki ballroom hotel yang sudah disulap seperti negeri dongeng. Tema dari pernikahan ini adalah biru safir. Seluruh dekorasi serta lampu berwarna senada. Semuanya terlihat mewah, bahkan yang datang pun memakai jas dan juga gaun malam. Sepertinya hanya aku yang salah kostum. Aku pikir letak acaranya tidak akan di tempat seelit ini sehingga aku hanya memakai gamis sederhana. Pantas saja sejak aku melangkahkan kaki menuju pintu, semua mata tertuju ke arahku. Bukan karena aku yang terlihat cantik, tapi karena pakaianku yang seperti ini. Ini semua salah Jo! Ia tidak bilang kalau tempatnya di hotel ini. Biarlah Ni, tak usah malu dengan pakaian sederhana yang membalut tubuhmu. Malu lah jika memakai pakaian mahal, akan tetapi malah mengantarkanmu ke dalam neraka karena tak menutup aurat. Sisi baik diriku berkata. Aku melirik Jo yang berada di sampingku, sepertinya ia tidak masalah dengan penampilanku ini. Buktinya ia terlihat tak acuh saat seluruh mata memperhatikan kami. "Itu Nia ya? Kok gayanya jadi kampungan gitu sih?" "Iya... Padahal dulu dia itu stylish loh." "Itu dia sama Jo ya? Bukannya dia itu nikahnya sama Wisnu?" "Eh denger-denger sih dia udah dicerai." "Hah serius? Dicerai kenapa?" "Nggak bisa hamil." "Hah mandul." Aku hanya bisa mengelus d**a saat mendengar suara-suara yang sedang membicarakanku dari belakang. Ah, bukan dari belakang tapi dari depan. Aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya saja mereka tak secara langsung berbicara kepadaku. Ya Allah... Aku mohon panjangkan lah sabarku. "Ni kita ke pengantinnya yuk," ajak Jo. Aku mengikutinya dari belakang. Aku tidak ingin lama-lama berada di tempat ini, rasanya sesak. Lagi-lagi aku mengekori Jo untuk ke pelaminan. Jo bersalaman dengan Melisa dan juga suaminya. Gadis itu terlihat sangat cantik seperti putri-putri negeri dongeng. "Heh Jo! Ya ampun udah lama ya nggak ketemu," tukas Melisa. "Sama siapa ni?" ia melihat ke arahku. Aku terkekeh saat ia tak mengenaliku. "Masa nggak tau sih dia siapa." "Istri lo?" tanya Melisa. "Ah bukan... Bukan..." elakku. "Kayaknya gue kenal suaranya... Nia ya?" tebaknya. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Ya ampun Ni, makin cantik aja sih." Melisa langsung memelukku erat. "Lo apa kabar?" "Alhamdulillah, baik. Selamat ya Mel atas pernikahannya. Semoga sakinah mawaddah warahmah. Langgeng terus sampai kakek nenek." "Aamiin... Makasih lho Ni. Kalian juga semoga cepat nyusul ya." Ternyata Melisa nggak tahu tentang cerita aku. Aku hanya balas tersenyum saja. "Jo kita pulang yuk," ajakku pada Jo. "Sekarang Ni?" Aku mengangguk. "Tapi kita baru sebentar di sini." "Yasudah kalau kamu nggak mau, aku bisa pulang sendiri naik taksi." Jo nampak terkejut mendengar perkataanku. "Apa-apaan pulang sendiri. Nanti aku bisa diomelin Ummi biarin kamu pulang sendiri." Syukurlah Jo menuruti permintaanku. Aku bisa bernapas lega saat ini. Selain sudah bisa menghindari pembicaraan tidak enak mengenai perubahanku ini, aku juga bisa tenang karena sampai di parkiran hotel tidak bertemu dengan yang namanya tidak perlu kusebut. "Jo!" Napasku terhenti. Jantungku seakan lepas dari tempatnya. Baru saja aku bilang tidak bertemu dengannya, tapi kami malah dipertemukan saat ini. Di parkiran hotel. "Jo aku mohon kita langsung pulang saja." Jo mengangguk kemudian meneruskan langkah yang sempat terhenti. "Jadi juga lo Jo sama dia. Nggak dapet gadisnya dapet jandanya ya. Bekas gue lagi." Wisnu terus mencerocos tanpa henti, yang intinya menjelek-jelekkan aku. Jo memang menyebalkan, tapi tidak seburuk Wisnu. "Jo nggak usah didengerin. Kita pulang yuk." Jo kembali mengangguk. "Jo gue cuma mau ingetin satu hal, hati-hati sama perempuan itu. Dia itu perempuan mandul pembawa s**l!" Astagfirullah... Ya Allah... "b******k!!" Bugh! Bugh! Aku menghadap ke belakang. Di sana tidak jauh dari tempatku berdiri terdapat pemandangan yang membuat kakiku lemas seperti jelly. Jo benar-benar seperti orang kesetanan yang dengan tangannya sendiri mampu membuat Wisnu babak belur dalam waktu singkat. "Gue udah pernah bilang sama lo, sekali lo nyakitin dia lo berurusan sama gue!" Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ingin berteriak meminta tolong pun rasanya lidahku berubah kelu. Wajah Wisnu sudah membiru dengan darah yang mengalir dari bibir serta hidungnya. Bugh! Jo menarik kerah kemeja Wisnu kemudian menghantam rahang Wisnu dengan kuat. "Ini buat lo yang nyakitin dia." Bugh! "Ini buat lo yang udah ceraikan dia." Bugh! "Ini buat lo yang selingkuh di belakang dia." Bugh! Bugh! "Dan ini buat ucapan lo barusan! b******k!!" *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD