Nabiku mengajarkan sifat pemaaf dan kelembutan. Beliau yang dicaci maki, dihina, wajahnya dilempar kotoran masih bisa memaafkan bahkan membalas keburukan dengan kebaikan.
Kami—Aku, Jo dan dokter Natasha memasuki kawasan padat penduduk. Rumah-rumah di sini banyak terbuat dari dinding kayu. Di sebelah timur, sekitar 10 meter dari tempat kami sekarang terdapat pembuangan s****h yang lumayan besar, yang baunya sampai mengganggu indera penciuman.
"Di mana rumahnya sih, Ni? Dari tadi kok nggak ketemu?" Jo mulai kesal.
"Sebenarnya aku cuma tau kalau dia tinggal di sekitaran sini. Aku nggak tau betul letak rumahnya."
"Ck!" Jo berdecak sebal, "nggak tau, tapi sok-sok an sendiri. Ilang baru tau rasa kamu!"
Aku tak begitu menghiraukan ocehannya Jo. Bukan Jo namanya kalau tidak menyebalkan seperti itu. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada ibu-ibu yang sedang mencari sesuatu di pembuangan s****h.
"Eh Ni! Mau kemana kamu?!" teriak Jo. Aku tak memedulikannya, dan terus berjalan menghampiri ibu itu.
"Permisi bu," ujarku. Ibu tadi langsung menoleh, "saya mau tanya rumah Fikri dimana ya Bu?"
Ibu itu nampak berpikir sejenak. Guratan-guratan halus nampak di wajahnya, serta noda-noda hitam karena terlalu sering terpapar sinar matahari mulai muncul. Keningnya yang dipenuhi peluh mengerut karena memikirkan sesuatu.
"Ah! Fikri yang Bapaknya baru meninggal itu?"
Fikri tidak pernah bercerita kalau ayahnya baru saja meninggal. Namun firasatku mengatakan kalau Fikri yang ibu ini maksud adalah Fikri yang aku cari.
"Ni, ibu ini siapa?" Jo dan dokter Natasha datang menghampiri. Aku memberikan isyarat agar ia diam sejenak.
"Mbak belok kiri terus lurus aja sampe mentok, abis itu belok kanan. Rumah Fikri yang dekat pohon jambu." Ibu tadi menerangkan. Aku mencoba mengingat-ingat, dan segera mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih ya Bu."
Aku mengikuti arah yang ibu tadi bilang. Semoga saja benar.
"Kamu yakin itu benar?" tanya Jo.
"Insya Allah, hatiku mengatakan benar, Jo."
"Udah ikutin aja sih, Jo. Bawel kamu dari tadi." Dokter Natasha menimpali. Baru tahu saja ia kalau begitu lah Jo, bawel.
Kami tiba di tempat yang dicirikan ibu tadi. Rumah di depan pohon jambu. Aku meniti sekeliling, rumah ini beratapkan seng, berdinding bilik dan ditambal dengan kardus. Tinggi rumah ini lebih rendah dari pada tinggi badanku.
"Assalamu'alaikum..." salamku.
Tak ada orang yang keluar dari dalam, aku tahu karena pintunya terbuka.
"Assalamu'alaikum..." salamku lagi.
"Nggak ada kali, Ni."
"Sabar Jo, kita tunggu sebentar."
"Assalamu'alaikum..."
Fikri muncul dari dalam, "wa'alaikumsalam, Ibu Niaaaaaa." Sepertinya ia terkejut akan kedatanganku. Ia berlari kemudian langsung memelukku erat.
"Fikri senang ibu datang," gumamnya masih di pelukanku. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.
"Ibu Fikri ada?"
"Ada Bu, di dalam."
"Siapa Fik yang datang?" Ibu Fikri muncul, matanya membesar karena terkejut mengetahui bahwa aku lah yang datang. "Ngapain kamu ke sini? Pergi!!"
"Saya ingin bicara sama Ibu, lima menit aja."
"Saya nggak mau! Pergi kamu!!"
"Ni, udah kita pulang aja," bujuk Jo. Namun aku tidak mau.
"Keras kepala!"
"Udah sih Jo biarin, coba kita lihat aja usahanya gimana."
"Ibu izinin saya bicara lima menit, setelah itu saya tidak akan ganggu keluarga Ibu lagi. Saya janji," ucapku lembut. Aku tidak ingin kemarahan di balas dengan kemarahan. Sama saja menyiram api menggunakan bensin.
Ibunya Fikri nampak diam, seperti sedang berpikir. Ia menarik napas dalam kemudian berkata, "lima menit nggak lebih. Setelah ini kamu harus pergi dan jangan ganggu lagi kehidupan kami."
"Baik, Bu."
Aku dipersilakan masuk. Ternyata Jo mengikuti dari belakang, sedangkan dokter Natasha menunggu di luar rumah.
"Ibu, saya melihat potensi yang besar di dalam diri Fikri, anak Ibu. Fikri itu anak yang cerdas, Bu. Dia punya mimpi dan cita-cita yang besar. Saya kira sayang kalau hal itu tidak tersalurkan."
"Mimpi? Cita-cita? Itu benda apa ya? Bagi kami, perut merasa kenyang saja hal itu sudah menjadi cita-cita terbesar. Mbak menyuruh Fikri sekolah, coba Mbak lihat kehidupan kami, dari mana kami bisa membayar uang sekolah, seragam baru, buku pelajaran, dari mana Mbak?! Buat makan saja susah. Orang seperti kami, selamanya akan hidup seperti ini. Orang seperti kami, jauh dari kata sukses."
"Ibu salah, kalau bukan kita yang mengubah nasib kita sendiri lalu siapa lagi? Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Dan caranya adalah dengan pendidikan.
Coba Ibu perhatikan, bagaimana cerdasnya Fikri."
"Fik, tolong keluarkan buku kamu yang waktu itu diberikan oleh dokter Jo dan pensilnya sekalian."
Fikri berjalan ke arah lemari pakaian dan di tangannya sudah ada benda yang aku pinta.
Aku mengambil benda itu, kemudian menuliskan soal-soal matematika di atasnya. Setelah selesai, aku berikan buku itu kepada Fikri.
"Fikri, coba dijawab soal ini."
Fikri menuruti perintahku. Ia mulai menuliskan sesuatu di sana. Sesekali ia berpikir sejenak, kemudian dalam beberapa menit soal-soal itu sudah dijawab semua olehnya.
"Ibu, demi Allah soal yang saya kasih ke Fikri ini adalah soal kelas 3 sd. Dan Fikri, putra Ibu yang Ibu tidak yakin akan kecerdasannya menjawabnya dengan benar dalam waktu yang cukup singkat. Kalau saya yang merupakan orang lain bisa percaya dengan kemampuan Fikri, harusnya Ibu lebih yakin dengan kemampuan putra Ibu sendiri."
Ya, Fikri mempunyai kecerdasan logical mathematic. Bahkan jika ku perhatikan, Fikri bisa menghitung hanya dengan membayangkan angkanya saja.
Mata Ibunya Fikri mulai berkaca-kaca. Auranya sudah tidak sekelam tadi. Atmosfer di dalam rumah ini menjadi berbeda, saat Ibunya Fikri memeluk Fikri dan mengucapkan kata maaf dengan lirih. "Maafin Ibu Fik..."
"Tapi Mbak, jujur saja saya tidak bisa menyekolahkan Fikri," ujar Ibunya Fikri dengan lembut. "Suami saya baru saja meninggal dunia, yang merupakan tulang punggung keluarga. Saat ini saya hanya bisa mencari plastik dan botol bekas saja untuk ditukar dengan uang."
"Apa Ibu masih sanggup mencuci pakaian?"
"Saya bisa Mbak."
"Ibu mau jadi tukang cuci pakaian?"
"Ya saya mau, Mbak. Saya mau."
"Saya punya usaha laundry, Ibu bisa bekerja dengan saya."
"Ni apa-apaan sih?" tukas Jo. "Ikut aku! Kita perlu bicara!"
Jo menarik lenganku dan membawaku ke luar rumah. Dokter Natasha yang sedang menunggu kami sampai bingung melihatnya.
"Apaan sih, Jo! Lepasin nggak! Nggak boleh pegang-pegang kita bukan mahram."
Huh, untung saja Jo tidak memegang telapak tanganku yang tidak tertutupi kain. Yang ia pegang adalah bagian siku, yang tertutup oleh lengan gamis.
"Ni Ibu itu udah menampar kamu, bisa-bisanya kamu kasih dia pekerjaan. Sama kamu lagi! Gimana kalau Ibu itu nekat nyakitin kamu?"
"Jo, Nabiku mengajarkan sifat pemaaf dan kelembutan. Beliau yang dicaci maki, dihina, wajahnya dilempar kotoran masih bisa memaafkan bahkan membalas keburukan dengan kebaikan. Aku ingin mencontohnya, Jo. Lagi pula apa yang Ibunya Fikri lakukan bukan masalah yang besar."
"Ya tapi kalau Ibu itu nyakitin kamu lagi gimana? Siapa yang akan menolong kamu, Ni?"
"Ada Allah yang akan menolong aku."
"Dasar keras kepala!" teriak Jo. Aku tidak peduli, dan langsung meninggalkannya untuk kembali lagi ke dalam rumah.
"Bagaimana Bu? Jika Ibu bersedia, datanglah ke jalan lapangan bola. Letaknya persis di pinggir jalan."
Esoknya aku menunggu Ibunya Fikri hingga pukul lima sore, namun Beliau tetap tidak datang. Aku takut kalau Beliau mendengar ucapan Jo kemarin yang membuatnya sakit hati. Jo memang benar-benar menyebalkan.
Hari ini usaha laundry ku baru saja dibuka. Belum banyak yang tahu, baru beberapa orang saja yang datang. Namun tak apalah, ini baru permulaan.
Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku, dan tinggal bersiap pulang untuk istirahat. Rasanya badanku ini lelah sekali, ingin rasanya cepat sampai ke rumah dan rebahan di atas kasur.
Oke Nia, tidak boleh mengeluh. Mengeluh tidak akan mengangkat bebanmu sedikit pun.
Aku rasa sudah aman. Aku sudah menutup pintu kios ini dan juga menguncinya. Namun tiba-tiba sebuah suara menginterupsiku dari belakang.
"Mbak Nia..."
Aku menoleh, seorang wanita tengah berdiri tidak jauh dariku. Pakaiannya terlihat lusuh, namun tidak kotor seperti kemarin aku lihat di rumahnya. Pandangannya sudah tidak menyeramkan seperti saat pertama kali kita bertemu. Wanita itu adalah Ibunya Fikri.
"Saya mau bekerja dengan Mbak Nia," ucapnya lirih. Namun berhasil membuatku merasa senang.
"Terima kasih Ibu. Mulai besok Ibu bisa bekerja di tempat ini."
Pagi-pagi sekali Jo datang ke rumah Ummi. Ia bilang ingin mengajak aku ke suatu tempat. Aku jadi curiga dengannya, jangan-jangan ia ingin membawaku ke hutan kemudian memutilasiku dan mayatku di buang secara terpisah.
Astagfirullah... Secara tidak sadar aku sudah su'udzon dengannya.
Lagi pula hal itu aneh, menurutku. Seorang Jo ingin memberikan kejutan, pasti ada maunya.
"Memangnya mau kemana sih Jo?"
"Udah ikut aja, ayo! Nanti telat."
Mataku memicing curiga. Dari raut wajah Jo hari ini ia terlihat sangat senang. Pakaiannya pun juga sangat rapi dengan kemeja berwarna merah marun dengan lengan yang sengaja di gulung sampai siku. Ah, mengapa warna merah marun itu bisa membuat seseorang lebih terlihat mempesona?
Ups, bukan berarti Jo terlihat lebih mempesona hari ini. Tidak!
Aku memasuki mobilnya di bagian belakang. Aku tidak pernah mau duduk di kursi samping Jo karena tidak ingin ada fitnah, apalagi kalau hanya ada aku dan Jo. Saat aku membuka pintu, hampir saja rahangku ini terjatuh karena terlalu terkejut melihat di dalam sana sudah ada Ibu Sati–Ibunya Fikri, yang baru kutahu namanya dan juga ada Fikri yang memakai baju seragam merah putih. Keduanya tersenyum ke arahku.
"Pagi Mbak Nia..."
"Pagi Ibu Nia..."
Sapa keduanya secara serentak. Sungguh Ibu dan anak yang kompak.
"Pagi Bu, pagi Fikri. Kamu–"
"Hari ini Fikri mau ke sekolah Bu. Kata dokter Jo Fikri udah bisa sekolah," ujar Fikri dengan mata yang berbinar bahagia.
Aku duduk di samping Bu Sita, kemudian pintu mobil ku tutup.
"Benar itu Jo?" tanyaku pada Jo untuk memastikan.
"Iya, tapi Fikri harus tes dulu sebagai penempatan. Aku bilang sama kepseknya kalau Fikri ini gifted. Jadi kepsek mau tau dulu kemampuan Fikri."
Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Engkau telah mengabulkan doaku untuk menyekolahkan Fikri.
Mobil Jo berjalan melintasi jalan raya yang cukup ramai. Tepat 10 menit kemudian kami sampai di salah satu sekolah swasta yang Jo maksud. Aku perhatikan juga jarak dari rumah Fikri ke sekolah tidak terlalu jauh, dan letaknya strategis karena banyak kendaraan umum.
Kami memasuki ruangan kepala sekolah dan di sambut baik oleh Bapak Chaerul selaku kepala sekolah. Seperti yang Jo bilang, kalau Fikri harus ikut tes terlebih dahulu oleh karena itu tidak lama setelahnya Fikri mengisi soal yang diberikan Pak Chaerul.
Ya Allah permudahkanlah Fikri dalam menjawab soal. Cerahkan lah pikirannya, masukkan cahaya-Mu ke dalam hatinya.
"Jadi siapa yang menjadi walinya Fikri, Pak Bu?" tanya Pak Chaerul.
"Saya Pak," jawab Jo.
"Dengan Bapak siapa?"
"Jonathan Liem."
Pak Chaerul menganggukkan kepalanya kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas. "Kalau istrinya Pak Jonathan namanya siapa?"
Bapak itu menunjuk diriku, "saya Pak?" Aku menunjuk diriku sendiri, dan Pak Chaerul segera mengangguk. "Saya Dania Ayu Pramesti. Tapi saya bukan—"
"Ini, silakan Bapak isi formulirnya terlebih dahulu."
Ucapanku terhenti saat Pak Chaerul memberikan Jo sebuah kertas formulir. Ck! Aku tidak suka dikira istrinya Jo!
Amit-amit deh! Bisa-bisa aku naik darah tiap hari.
Aku melirik Jo sekilas, ia sedang menuliskan sesuatu di atas kertas itu.
"Ini Pak." Jo memberikan kertas yang sudah ditulisnya kepada Pak Chaerul dan langsung melunasi semua biaya masuk sekolah.
"Baik Pak, Bu, menurut hasil tes, Fikri dimasukkan ke kelas 2," ucap Pak Chaerul. "Mulai hari ini Fikri sudah bisa bersekolah. Nanti saya akan panggilkan wali kelas Fikri."
Pak Chaerul nampak menelpon seseorang, tidak lama ada yang datang ke ruangan ini.
"Permisi, Pak."
"Nah Pak Jo dan Ibu Dania, ini adalah Pak Pandu wali kelas 2A. Beliau yang nantinya akan menjadi wali kelas Fikri."
Jo bersalaman kepada Pak Pandu begitu pun dengan Ibu Sati. Sedangkan aku menangkupkan tangan ke d**a.
"Mulai masuk hari ini, Pak?" tanya Pak Pandu kepada Pak Chaerul.
"Iya Pak, tolong dibantu ya."
Setelah itu kami ikut mengantar Fikri masuk ke kelasnya. Sungguh, Fikri terlihat senang sekali. Sepanjang perjalan senyum bahagia tak lepas dari wajahnya.
"Ibu Fikri senang bisa sekolah," katanya saat kami berjalan ke ruang kelasnya.
"Ibu juga senang Fik. Kamu mau janji satu hal sama Ibu?"
"Apa itu Bu?"
"Belajar yang baik ya, sayang. Fikri harus tunjukkan kepada Ibu, Ibunya Fikri, dokter Jo kalau Fikri bisa jadi orang sukses."
"Iya Ibu, Fikri janji akan belajar yang baik."
"Anak pintar," ujarku sambil mengelus kepalanya.
Karena orang tua tidak dizinkan untuk masuk ke dalam, alhasil aku, Jo dan Ibu Sati hanya bisa mengantarkan sampai tempat tunggu saja. Fikri sudah diantar oleh Pak Pandu untuk ke kelasnya. Lihatlah, Fikri tersenyum bahagia sambil melambaikan tangan ke arah kami seraya menatap masa depan yang cerah. Karena aku percaya, pendidikan bisa mengubah nasib seseorang, tentunya harus sejalan dengan doa dan usaha. Dan aku menyakini bahwa tidak ada hasil yang dapat mengkhianati usaha.
Setelah dari sekolah, Jo mengantarkan aku dan Ibu Siti ke tempat laundry atas permintaanku.
"Makasih ya, Jo," ucapku setelah keluar dari mobil. Ibu Sati sudah masuk terlebih dahulu ke kios laundry.
"Makasih untuk apa? Tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat.
"Buat semuanya?"
"Memangnya aku lakuin apa?"
"Kamu udah mau menyekolahkan Fikri," kataku.
"Kenapa kamu yang makasih, aku nggak lakuin itu buat kamu. Terus kenapa kamu terlihat malu-malu begitu? Geli aku ngelihatnya!"
Hah malu-malu di depannya? Iya kah?
"Oh aku tahu, kamu terpesona kan sama ketampan aku? Ngaku aja deh," ucapnya dengan jumawa. Ia mengangkat kerah kemejanya dan bergaya sok tampan.
"Ish... Yang ada aku malah mual."
"Alah, muka kamu itu nggak bisa dibohongi, Ni. Liat tuh udah merah gitu kayak kepiting rebus."
Aku memegang pipiku dengan kedua telapak tangan. Masa iya aku blushing karena Jo. Nggak mungkin!
"Hahahaha," ia tertawa terbahak. "Cieeee Nia mukanya merah cieeeee."
"Jo!" aku melihat ke kaca spion depan mobil Jo. Benar memang mukaku sudah merah padam. Tetapi aku masih bingung apa penyebabnya.
"Jangan-jangan kamu naksir aku ya, Ni?"
Apa? Naksir dia? Nggak ada dalam kamus hidupku.
"Idih, nggak! Impossible!".
"Naksir aku baru tahu rasa kamu!" Dia membalikkan ucapan aku waktu itu.
Ya Allah lindungilah aku dari Jo–setan yang suka menggoda.
****