bc

CINTA TAK TERDUGA

book_age18+
11.4K
FOLLOW
130.1K
READ
billionaire
contract marriage
second chance
dominant
goodgirl
CEO
maid
drama
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

21+ (Adult Content)

Amira si gadis desa tidak pernah menyangka jika pelariannya ke ibu kota dari ibu tirinya yang kejam akan membawanya kepada Jonathan Prakoso yang lahir dari keluarga kaya raya sekaligus seorang pengusaha yang meminta Amira untuk menjadi istri kontraknya.

Perjanjian pernikahan palsu mereka hanya selama satu tahun sebagai suami istri, tapi belum genap satu tahun sesuai kontrak perjanjian, keduanya melakukan kesalahan.

Dan siapakah di antara keduanya yang akan terluka? Atau kesalahan itu kah awal dari kebahagiaan mereka?

"Aku sudah mencintaimu Mas, tapi aku tidak bisa melanjutkan kebohongan ini dan kita harus berpisah sesuai perjanjian kita."

~Amira~

"Kita akan bercerai, tapi....."

~Jonathan~

Cover: Orisinal

Pembuat: Delarossa

Gambar: Canva (Gratis)

Font: Canva (Gratis)

chap-preview
Free preview
Amira

Amira menoleh beberapa kali ke belakang saat bis yang di tumpanginya sudah mulai mejauh meninggalkan terminal bis kota Malang. Dia masih kawatir kalau-kalau ibu tirinya atau suruhan wanita kejam itu akan mengejarnya.

Gadis itu memeluk ransel lusuh yang  hanya berisi empat pasang baju dengan erat. Dia akan menemui sahabatnya Rini dengan  pertolongan salah satu pekerja  lama ayahnya. Terakhir dia bertemu  Rini  setahun yang lalu dan temannya itu mengatakan bahwa dia akan memberikan pekerjaan pada gadis  berusia dua puluh empat tahun tersebut jika dia datang ke Jakarta.

Amira dulunya berpikir itu adalah hal yang mustahil mengingat bagaimana liciknya Laras, ibu tirinya menahan  dia di desa  mereka  sebagai budaknya.

Dia hanya tamatan SMA dimana Amira menyelesaikan dengan penuh perjuangan. Saat ayahnya menikahi  Laras yang memiliki satu orang putri dari suami terdahulu, Amira pikir dia akan mendapatkan kasih sayang dari  seorang ibu yang selama ini dia rindukan. Dia juga gembira ketika mengetahui Laras memiliki seorang putri bernama Ruby yang akan menjadi saudara sekaligus menjadi temannya.

Pernikahan  ayah  Amira yaitu Adhicandra Oktavianus dengan Laras dirayakan dengan meriah. Ayah Amira sendiri adalah salah satu pemilik perkebunan apel di kota batu,  kabupaten Malang. Sebelumnya Amira hidup  bahagia dan berkecukupan,  namum kehadiran Laras dalam kehidupannya dan ayahnya mengubah segalanya.

Setelah menempuh dua jam perjalanan, gadis itu sedikit tenang,  bis pun berhenti menurunkan penumpang yang ingin makan atau pun sekedar istirahat. Amira hanya pergi ke kamar mandi lalu membeli satu bungkus roti sebagai pengganjal perut dan satu botol air mineral. Uang yang di pegang hanya ada dua ratus ribu rupiah dia belum  tahu  kondisi kota yang akan didatanginya, jadi  dia harus berhemat dan Amira berdoa saat dia nanti bertemu dengan Rina sahabatnya dia bisa langsung bekerja.

Dua hari yang lalu adalah puncak dimana Amira sudah tidak lagi sanggup menerima keputusan ibu tirinya. Semenjak ayahnya meninggal, Laras benar-benar menyiksanya secara lahir dan batin.

Dua tahun setelah ayahnya menikahi Laras, ayahnya pun meninggal dunia karena serangan jantung. Waktu itu ayahnya baru pulang dari kota menemui  salah  satu penyuplai buah apel di kota.  Amira tidak akan pernah lupa bagaimana pak Udin orang kepercayaan ayahnya itu mejemputnya dari sekolah bersama Ruby dan mendapati ayahnya sudah terbaring tak bernyawa begitu keduanya tiba di rumah.

Laras meraung, menangis tampak sangat terpukul dan kehilangan. Tetapi Amira yang saat itu sudah berumur dua belas tahun sangat tahu kalau Laras hanya bersandiwara, karena setiap ayahnya pergi ke kota menemui tokehnya, sikap Laras pasti akan berubah, sangat berbeda saat ayahnya ada di rumah. Selama itu Amira tidak mau mengadu kepada ayahnya  karena  khawatir ayahnya  akan  sedih.

Keesokan harinya setelah ayahnya di kebumikan, Laras tidak lagi menutupi rasa tidak sukanya pada Amira, secara terang-terangan dia  dan Ruby, putrinya  itu mengatakan pada gadis itu kalau mereka tidak menyukainya dan akan membuat hidup gadis itu menderita. Dan benar saja, si Mbok yang sudah bekerja pada keluarga Amira sejak gadis itu dilahirkan langsung dipecat. Sejak hari itu, semua pekerjaan rumah, bahkan ke kebun pun dikerjakan oleh Amira, biasanya dia akan ikut dengan para pekerja upah yang bekerja  di kebun  ayahnya.

Para pekerja  itu tahu bagaimana  perlakuan Laras  pada Amira, bahkan pak Udin pernah  memarahi  Laras,  tapi  wanita kejam  itu mengancam akan memecat  pak Udin.

Amira melewati siksaan dan tekanan dengan sabar, baginya yang terpenting yang penting Laras masih membiarkan dia bersekolah walau pun dia harus bangun pagi-pagi benar membereskan pekerjaan rumah terlebih dahuli, mulai dari memasak, mencuci hingga membersihkan rumah.

Gadis itu juga sekolah di Sekolah Menegah Atas yang di desanya, berbeda dengan Ruby yang bersekolah di sekolah kabupaten dan lebih mahal. Amira menyelesaikan sekolahnya sampai tamat sebagai murid berprestasi yang membuat Ruby semakin membencinya. Tapi walaupun Amira berprestasi di sekolahnya tapi dia sangat minim  pengalaman. Laras  tidak  pernah  mengajaknya ke kota atau kemana pun.  Gadis  itu hanya  tahu lingkungan tempatnya tinggal.

Ruby melanjutkan kuliahnnya di kota Malang sedangkan Amira tetap tinggal di desa mengerjakan semua pekerjaan rumah dan bekerja di kebun. Itulah hari-hari yang dilewati gadis itu sampai dia berumur dua puluh empat tahun. 

Dan dua hari yang lalu saat Amira mendengar kalau Laras akan menikahkan dia pada pria tua kaya pemilik  perkebunan di daerah itu juga, yang sudah ber istri dua, gadis itu langsung menolaknya begitu pria tua itu pulang. Laras pun langsung menamparnya karena sudah berani membatahnya.

"Kamu tidak bisa keluar dari kamar ini kecuali mengerjakan rumah. Kalau kamu berani kabur, awas kamu! seminggu lagi Pak Gofar akan datang menejmputmu!" ancam Laras dengan mata melotot dan marah dan langsung menutup pintu dengan kuat.

Amira merosot ke lantai sembil menangis tersedu-sedu. Gadis itu memandang foto ayah dan ibunya yang nampak tersenyum di dinding kamarnya yang kecil dan pengap di belakang dapur rumah.

"Bapak.. Ibu... kenapa tinggalin Mira sendiri? Mira udah nggak kuat." ucap gadis itu semakin menangis.

Pak Udin yang mendengar  berita kalau  Gofar akan meminang  Amira  langsung menyusun  rencana. Gadis  itu pernah  cerita padanya sangat ingin menyusul  Rini  keponakannya  yang  bekerja  sebagai penjaga toko  pakaian  di Jakarta.

Keesokan harinya, pak Udin pada saat sore hari dia berpura-pura hendak mengambil peralatan kebun di gudang  belakang  rumah, dan Laras pun mengijinkanya ke gudang belakang. Pria itu yakin, jika Amira pasti akan menyapu pada jam itu di halaman  belakang.

Tanpa banyak bicara, pak Udin menyelipkan kertas kecil  ke tangan Amira yang sedang menyapu. Dia tidak berbicara sedikit pun pada gadis itu karena pria itu tahu, Laras akan marah jika melihat mereka saling bertegur sapa.

Sejenak Amira terkejut melihat kertas tersebut, begitu gadis itu mendengar  suara Laras yang memanggilnya, ia pun langsung buru-buru menyelipkan  kertas tersbeut ke dalam branya.

"Kamu ini semakin hari semakin lambat saja ya kerjanya? kamu sengaja  mau bikin aku marah?!" bentak Laras sambil melotot marah pada anak tirinya itu.

"Nggak, Bu," jawab Amira takut. Dia takut jika wanita kejam itu mengetahui kertas yang disembunyikannya.

"Jadi kenapa, kerjaan kamu belum selesai juga?!" Laras pun menghampirinya dan memperhatikan gadis itu lekat. "Kamu menyembuyikan apa dariku?"

Amira menggeleng. "Nggak ada, Bu."

Laras memutarinya sambil melipat tangannya dan tiba-tiba berhenti membuat Amira ketakutan setengah mati. Dia pikir Laras sudah tahu apa yang dia sembunyikan,kerena wanita biasanya sangat sulit untuk  dikelabui.

"Kamu! Jangan coba-coba kabur atau pun bermain rahasia-rahasian dariku," desis Laras marah sambil mencekram dagu Amira kuat. Lalu Laras berbalik dan meninggalkan Amira yang gemetar ketakutan.

Begitu Laras pergi, Amira langsung cepat-cepat meyelesaikan pekerjaannya, setelah itu Amira menyiapkan handuk mandi  Laras, sambil ibu tirinya itu mandi Amira akan menyiapkan makanan di meja.

Di rumah itu hanya Amira dan Laras yang tinggal, karena Ruby yang tinggal di kota akan pulang ke rumah pada akhir pekan. Dulu Amira pikir, dengan perginya Ruby kuliah ke kota, maka siksaan akan berkurang, tetapi dugaanya ternyata salah, kekejaman Laras malah semakin bertambah.

Setelah Laras menyuruhnya kembali ke kamar, Amira membaca kertas yang diberikan oleh pak Udin tadi.

"Bapak tunggu di jalan belakang ya nduk, malam ini jam delapa,  bapak antar kamu ke terminal. Kamu susul Rini ke Jakarta, semua sudah Bapak siapkan."

Amira terpekik terkejut membaca kertas kecil itu dan akhirnya dia pun menenangis. Dia tidak menyangka kalau pria tua itu masih mengingat keinginannya menemui  Rini.  Dia juga terharu  melihat pertolongan pak Udin yang akan mebantunya pergi dari rumah nya.

Selama ini, gadis itu  sangat ingin menyusul sahabatnya itu,  tetapi  dia tidak punya uang dan tidak tahu bagaimana caranya menghubungi temannya tersebut. Gadis itu langsung mengambil ransel dan memasukkan empat pasang baju miliknya yang paling bagus, walaupun bisa dikatakan pakaian itu tetap terlihat lusuh.

"Ini tiketmu Nduk, ini HP , ada nomor Rini di dalamnya dan ini uang pegangan kamu dua ratus ribu, Rini akan menjemputmu di terminal di Jakarta." Pak Udin menyerahkan  tiket, uang dan ponsel secara terburu-buru di depan  pintu Bis yang hendak berangkat, sambil melihat kanan  kirinya waspada, takut kalau ada yang mengenal mereka. "Bapak harus buru-buru, takutnya ada nanti yang kenal kita berdua. Hati-hatinya Nduk, jaga diri baik-baik, jangan percaya sama siapa pun sampai kamu bertemu Rini."

"Terima kasih, Pak," ucap Amira sambil menangis menerima kebaikan pak Udin yang sudah menyelematkannya.

Akhirnya Bis pun berjalan dan sekarang Amira sudah hampir tiga jam dalam perjalanan. Gadis itu mengambil ponsel tua hendak menelepon Rini. Karena tegangnya dirinya, dia sampai lupa menghubungi sahabatnya itu. Sudah tengah  malam,  semoga  Rini mengangkat  teleponku, pikir gadis  itu.

"Rin ... ini aku, Mira, " bisik gadis itu begitu mendengar ucapan halo dari seberang telepon.

"Mir ... !!! Kamu berhasil kabur dari Buk Laras?" pekik temannya dengan  gembira dan tak percaya.

"Iya, aku sudah di jalan." Mira menyebutkan daerah yang telah dilewati bisnya.

"Ya sudah ... nanti kalau udah sampai di terminal Jakarta, telepon aku ya? Nanti aku jemput."

"Iya Rin, makasih ya."

"Hati-hati ya, Mira."

Keesokan harinya menjelang siang, Amira pun tiba di terminal Jakarta dan langsung menghubungi Rini.

"Miraaaa ... " panggil Rini dengan penuh semangat begitu melihat sahabatnya itu duduk dibangku terminal.

"Rin ... " Keduanya pun langsung berpelukan sambil  menangis.

"Aku kangen banget sama kamu, Mir."

"Sama, aku juga. Kamu makin cantik saja, Rin." Amira menatap sahabatnya itu dengan  penuh kerinduan.

"Masih lebih cantik, kamu," sahut Rini dan keduanya tertawa gembira. "Ayo kita pergi dari sini." Ajak Rini sambil membuka aplikasi  transport on line di ponselnya dan tidak  lama sebuah  mobil pun berhenti  di depan mereka.

"Loh, ini mobilnya siapa, Rin?"

"Ini namanya Grab."

"Oh ... jadi ini Grab yang TV itu ya?"

Rini menggeleng kasihan, "Ibu tirimu itu memang kejam ya? Sampai bikin kamu nggak tahu apa-apa gini. Ayo masuk." Temannya berdecak gemas mengingat Laras.

"Nggak usah bahas dia. Oh iya, jadi aku bakal langsung kerja ya, Rin?" tanya Amira  penuh harap.

Rini mengangguk, "Kamu mau 'kan jadi ART?"

"Apa itu ART?"

"Asisten rumah tangga, alias pembantu. Kamu kerja di rumah majikanku." Rini tersenyum lebar padanya.

"Lah?! Kata Mbakmu, kamu kerja di Mall. Di toko baju."

"Iya, aku sempat kerja di Mall, tapi toko tempatku kerja bangkrut, aku cari kerja di toko lain, tapi susah dapat. Kalaupun ada gajinya dikit banget! Jadinya aku kerja jadi pembantu, daripada balik kampung?" Amira mengangguk setuju. Lagian majikanku ini baik banget loh, Mir, aku malah sudah nggak mau kerja di toko. Gajinya lebih gede jadi pembantu. Kamu pasti  betah."

"Oh gitu ya?" ujar Amira  mengangguk  polos.

"Nggak apa-apa, Mir ... untuk sementara coba aja dulu, sambil kita cari kerja di toko untuk kamu."

"Aku kerja jadi  pembantu juga nggak masalah kok, Rin ... selama ini aku juga udah pembantu dibikin, bu Laras." Keduanya pun tertawa, begitu juga supir mobil grab yang membawa mereka.

"Tapi, kali ini kamu pembantu yang dibayar, dan majikanku ini baik banget. Nanti  aku bawa kamu jalan-jalan keliling Jakarta. Hari minggu kita libur."

Keduanya pun terus bercerita, Rini yang bertanya kabar tentang kampung halamanya.

"Bagus banget rumahnya, Rin ... " Amira berdecak kagum sedangkan Rini tertawa melihat sahabatnya itu, yang sebenarnya lahir dari keluarga berada di kampungnya, tapi karena ibu tirinya yang jahat, membuat Amira yang selalu di rumah  dan jarang tahu perkembangan di luar.

Keduanya memasuki rumah megah tersebut. Amira mencium aroma lemon segar di sekitar ruangan. Rumah itu tampak cantik dan mewah.

Rini  mengajaknya menemui  seorang  wanita, yang  Amira tebak adalah majikan dari sahabatnya itu, dan juga calon majikannya kalau  dia diterima bekerja.

"Permisi, Bu ... ini teman saya, Amira, yang saya ceritakan sama Ibu." Rini  memperkenalkan Amira kepada Connie Prakoso yang adalah  nyonya di rumah itu.

Amira kagum melihat kecantikan wanita berusia lewat setengah abad itu. Sedangkan Connie memperhatikan Amira yang berdiri di hadapannya. Istri konglomerat itu sedikit tercengang melihat Amira yang terlihat lebih tinggi dari Rini, kulit gadis itu kuning langsat dan matanya berwarna cokelat, besar cantik seperti boneka, rambutnya hitam panjang diikat sedikit tinggi, tapi tubuh gadis itu terlihat kurus sekali, tapi tetap tidak menutupi kencantikan Amira.

Gadis itu menunduk karena  diperhatikan seperti itu oleh Connie. Amira mulai takut kalau dia tidak akan diterima.

"Jadi nama kamu Amira?" Suara  ramah Connie membuat gadis itu mengangkat  kepalanya. Wanita itu tersenyum padanya.

"I ... iya, Bu,  saya Amira," jawabnya gugup.

Connie  mengangguk. "Rini, sudah cerita lama tentang kamu yang katanya  mau datang bekerja  di sini."

"Saya bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah Bu, berkebun juga bisa," sahut Amira.

Connie pun langsung tertawa. "Kamu nggak perlu berkebun di sini."

Amira langsung tersenyum malu dan ingin mencubit dirinya sendiri kalau rumah ini terletak di tengah kota.

Lalu Connie menambahkan, "Sekarang kamu istirahat dulu,  saya mau keluar,  nanti sore kita bicara pekerjaan dan gaji kamu."

"Saya diterima kerja di rumah ini, Bu?" Amira tampak tak percaya dia terima scepat itu.

Connie mengangguk sambil  terbawa kecil dan meninggalkan kedua gadis itu, lalu keduanya pun tertawa bahagia.

"Rin ... aku nggak enak kalau istirahat di kamar, aku bantu-bantu kamu ya?" ucap Amira saar Rini membawanya  ke kamar belakang trmpat para ART tidur.

"Kamu istirahat saja dulu,  kerjaan juga nggak terlalu banyak hari ini. Lagian di sini ada ART lain,  namanya bik Asih. Ayo aku kenalin."

"Aduh ... Neng Mira, geulis pisan," puji bik Asih begitu mereka  berdua dikenalkan oleh Rini.

"Makasih, Bik," jawab Amira malu-malu.

"Sekarang si Neng, istirahat aja dulu,  biar bibik sama, Neng  Rini yang  beres-beres."

Saat Amira hendak  membantah,  Bik Asih mendorong gadis itu halus dan menyuruh Rini membawanya ke kamar.

Amira menatap langit-langit kamar bercat putih itu. Dia mendesah lega,  tak menyangka  jika hari ini dia akan memulai hidup yang  baru. Jauh dari Laras yang kejam.

Sedangkan di rumah Amira, terlihat Laras yang sangat murka menayai  penjaga rumah  dan Pak Udin yang mengaku tidak tahu di mana  keberadaan Amira saat ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
115.6K
bc

Kali kedua

read
185.3K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
218.2K
bc

Tentang Cinta Kita

read
137.1K
bc

Imperfect Marriage

read
270.2K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
6.0K
bc

Single Man vs Single Mom

read
86.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play