2. Menjauh

1248 Words
"Lho, Sayang ... kamu mau ke mana? Kok bawa-bawa koper?" Pertanyaan Papi terlontar saat dia melihatku keluar dari kamar dengan mendorong koper. Tadi pagi sebelum sarapan, aku sempat tak sengaja mendengar perbincangan antara Papi, Mami dan Kak Juna di dapur yang membahas masalah pertunangan dengan Mbak Friska. Aku terkejut, karena ternyata pertunangan mereka diadakan besok. Itu terdengar begitu mendadak, aku sendiri baru diberitahu semalam, itupun karena Kak Juna yang menolak cintaku. "Sayang, kok kamu melamun? Ada apa?" Aku tersentak, Papi menyentuh pundakku. Aku menggeleng cepat. "Enggak apa-apa kok, Pi. Aku cuma kangen sama Mama dan Papa, jadi mau tinggal di sana untuk sementara waktu. Boleh 'kan?" Papa Dono adalah Papa angkatku. Dulu, Papi Tian bercerita jika dia pernah ditipu oleh almarhum mama. Almarhum mama mengatakan bahwa aku sudah meninggal, padahal nyatanya aku dibuang ke panti asuhan. Entah apa masalah awalnya sehingga almarhum mama tega melakukan itu, Papi sendiri tidak menjelaskan secara detail, hanya saja intinya setelah aku berada di panti, Papa Dono dan Mama Della mengadopsiku sebagai anaknya. Namun, meski hanya orang tua angkat, aku akui mereka berdua memang benar-benar menyayangiku. Bahkan mereka juga sedih sampai menangis saat aku memutuskan untuk tinggal dengan Papi dan Mami. Sebenarnya aku bebas tinggal bersama siapa saja, karena Papi juga tidak pernah memaksaku untuk tinggal bersamanya. Dan alasanku tinggal di sini supaya bisa bertemu dengan Kak Juna setiap hari. Sejak kecil, dia adalah satu-satunya orang yang kuinginkan berada didekatku. Dia adalah matahariku, pusat dari seluruh duniaku. Namun, sekarang... semuanya terasa berbeda. Jauh lebih baik jika aku menjauh, memberi jarak di antara kami. Mungkin, dengan begitu, aku bisa melupakan rasa cinta ini, rasa cinta yang menyakitkan, rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku harus pergi, untuk menyelamatkan diriku sendiri. "Ke rumah Papa Dononya nanti saja," kata Papi, suaranya lembut, namun terdengar sedikit kaku. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya, sesuatu yang kurasa berkaitan dengan percakapan tadi pagi. "Oh ya... kita ngobrol dulu di ruang keluarga, yuk. Ada yang ingin disampaikan oleh Kakakmu." "Tentang apa? Apa pertunangannya dengan Mbak Friska?" Pertanyaanku tersusun dengan nada yang sedikit tajam, tidak bisa kuhindari. Luka di hatiku masih terasa perih. "Oh jadi kamu sudah tau, ya, kalau Kakakmu mau tunangan? Papi sendiri baru tau tadi pagi, Juna baru ngomong. Tapi meski terkesan mendadak... Papi sangat senang, kamu juga senang, kan?" Papi tersenyum menatapku. Senang?? Tidak sama sekali, Pi. "Iya, Pi. Aku senang." Aku mengangguk terpaksa, mencoba menahan air mata yang mengancam akan tumpah. Kebohongan ini merasa begitu berat. "Ya sudah, sekarang kita ke ruang keluarga, ya?" Papi sudah merangkul bahuku, mengajakku untuk melangkah bersama. Namun aku menahan diri, menarik tangannya perlahan. "Papa Dono sudah menunggu di luar, Pi. Aku sepertinya nggak bisa ngobrol dengan kalian, Papi dan Mami saja, ya?" Aku mencoba menjelaskan dengan nada yang sehalus mungkin, mencari jalan keluar dari situasi yang sulit ini. "Lho, kok Papa Dono sudah menjemputmu? Kan Papi sudah bilang kalau kamu ke rumahnya nanti saja, lagian kenapa Papa Dono nggak ngabarin Papi dulu kalau mau ke sini untuk menjemputmu?" Papi terlihat bingung, nada suaranya menunjukkan kekecewaan yang terselubung. "Kan aku sudah minta izin tadi. Nggak apa-apa semisalnya Papa Dono sudah ke sini, lagian Papi sendiri pernah bilang... Kapanpun Papa atau Mama mau bertemu denganku, pintu rumah Papi terbuka untuk mereka." Aku mencoba menjelaskan dengan tegas, namun dengan nada yang tetap sopan. "Iya sih. Ya sudah deh kalau memang begitu." Papi tampak kecewa, namun dia sepertinya tidak bisa menahanku lagi. Mungkin dia tidak enak pada Papa Dono yang sudah menunggu. Aku tahu itu. Dan itulah yang kumanfaatkan. Syukurlah tadi aku langsung telepon Papa Dono dan meminta jemput, jadi ada alasan untukku supaya bisa langsung pergi dari rumah ini, menjauh dari semua yang menyakitkan. Aku tak sanggup lagi berada di sini. "Papi antar sampai depan deh kalau begitu. Tapi kita ke ruang keluarga dulu, ya, pamit sama Mami dan Kakakmu." "Iya." Aku mengangguk, mencoba menunjukkan ketenangan yang tidak kumiliki. Kami berdua pun melangkah bersama menuju ruang keluarga. Koperku sudah berpindah tangan, Papi yang mendorongnya. "Dek... kamu mau pergi ke mana?" Kak Juna langsung berdiri dari duduknya, wajahnya tampak terkejut, matanya menunjukkan kebingungan dan sedikit kecemasan. "Kenapa bawa koper?" "Ini, si Silvi katanya mau tinggal di rumah Pak Dono. Dan Pak Dono sudah menunggu di depan." Papi yang menjawab. "Lho, kok tinggal di rumah Om Dono sih, Dek? Kenapa mendadak begini?" Kak Juna tampak kecewa, suaranya menunjukkan kebingungan dan sedikit rasa bersalah. "Iya, kan kita mau bahas masalah pertunangan Juna." Mami menimpali, suaranya lembut, mencoba menenangkan situasi. Dia merangkul bahuku dengan lembut, sentuhannya menawarkan penghiburan yang tidak mampu kuterima. "Kakakmu mau tunangan, Sayang. Kita mau bahas tentang hal itu tadinya." "Kalian bertiga saja, Mi. Akunya nggak enak, udah ditungguin Papa di luar." Aku menarik lengan Mami dari bahuku. Lalu kucium lembut punggung tangannya, "Aku pamit ya, Mi, assalamualaikum." Mami langsung menatap Papi, kulihat Papi mengangguk, seperti melakukan isyarat. Setelah itu barulah Mami menjawab salamku tadi. "Walaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mami, Papi atau Kakakmu." "Iya, Mi." Aku mengangguk, lalu menoleh ke arah Papi. Pria itu pun merangkulku, mengajakku untuk melangkah bersama sambil mendorong koper. "Tunggu dulu, Dek!" Suara Kak Juna menghentikan langkahku. Dia menghalangi jalan kami yang sedikit lagi keluar rumah. Kedua tangannya membentang di depan pintu, menunjukkan penolakannya. "Kenapa kamu mendadak ingin tinggal dengan Om Dono dan Tante Della? Apa alasannya, Dek?" "Aku kangen sama mereka," jawabku singkat, sambil membuang muka. Aku malas berlama-lama menatap wajahnya; rasa benci seketika membuncah mengingat penolakannya yang begitu menyakitkan. "Tapi—" Kak Juna mencoba membantah, namun— "Sudahlah, Jun. Biarkan Silvi dan Papi lewat," sela Papi cepat, mengusap punggungku sebelum mendorong pelan Kak Juna agar menyingkir. "Nggak enak, Om Dono sudah menunggu di luar." Kami pun melangkah menuju Papa Dono. Setelah mencium tangannya, aku masuk ke mobil. Kulihat Papi dan Papa Dono berbincang sebentar sebelum Papa Dono masuk dan duduk di sampingku. "Kalau kamu sudah selesai menuntaskan rasa kangenmu, kabari Papi, ya? Biar Papi menjemputmu pulang," ucap Papi di depan pintu mobil, mencium lembut keningku dengan penuh kasih sayang. Sentuhannya terasa hangat di tengah hatiku yang dingin. "Iya, Pi." Aku mengangguk. "Papi sayang sama kamu." Usapan lembut di pipiku. Pandanganku tak sengaja bertemu dengan Kak Juna yang berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak bingung. "Aku juga sayang Papi." "Kami berdua pergi ya, Pak. Assalamualaikum," ucap Papa Dono, menghidupkan mesin mobil. "Walaikumsalam." Papi menjawab, bersamaan dengan Mami yang muncul di pintu rumah, melambaikan tangan. Aku membalasnya, lalu mobil melaju menjauh, meninggalkan rumah itu di belakang. Aku menarik napas panjang, dalam-dalam, mencoba menenangkan hati dan jiwaku yang masih bergolak. Semoga saja keputusanku sudah benar, dengan menjauhi Kak Juna, menjauhi semua rasa sakit ini. Aku tak ingin cintaku hanya membuatku tersiksa, terlebih dengan bayangan pernikahannya nanti dengan Mbak Friska. Ting! Ponselku tiba-tiba berbunyi, getarannya membuatku tersentak. Aku meraihnya di dalam tas, ternyata chat dari Kak Juna. [Dek... Kakak nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba ingin tinggal dengan Om Dono dan Tante Della. Padahal Kakak baru saja mau membahas masalah pertunangan Kakak dengan Friska. Tapi ya sudah, kamu baik-baik ya di sana. Besok Kakak main ke rumah Om Dono.] "Main?" Aku bergumam, nada suaraku penuh ketidakpercayaan. Kata itu terasa begitu enteng, begitu santai, di tengah luka yang masih kurasakan. Aku sengaja tinggal di rumah Papa Dono untuk menjauh darinya, untuk melupakan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Tapi dia... dia dengan santainya mengatakan ingin "main"? Tidak! Tidak akan terjadi! Aku yang akan melarangnya! Aku akan memastikan dia tidak akan mengunjungiku! Keputusanku sudah teguh. Aku harus menjaga jarak, untuk kesembuhan hatiku. Sabar ya, Silvi sayang 🥲
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD