bc

Persaingan Rating dan Asmara

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
family
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
serious
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Di balik sorot lampu televisi, kebenaran bukan satu-satunya hal yang dipertaruhkan.Kehadiran seorang pria sebagai news anchor baru perlahan menggeser peta kekuasaan. Rating mulai berubah, perhatian publik teralihkan, dan keseimbangan lama pun goyah.Alena berjuang menghidupkan kembali stasiun televisinya, tanpa menyadari bahwa ambisi itu memicu kecemburuan dan ketakutan paling gelap dari orang yang mencintainya.Ketika persaingan tak lagi soal angka, melainkan harga diri dan kendali, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi bencana.Karena di dunia pertelevisian, perang sesungguhnya tidak terjadi di layar—melainkan di baliknya.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Behind the Ratings
Seorang direktur televisi terlihat frustasi, ia melampiaskan kekesalannya itu pada karyawan kantornya. “Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak butuh alasan—aku butuh hasil?” Suara Alena memenuhi ruang rapat. Nada suaranya tegas, nyaris pecah oleh frustrasi yang sudah ia tahan sejak pagi. Para stap produksi di depannya menunduk. Tidak ada yang berani menatap balik. Di tangan Alena, tablet berisi grafik rating terus menurun ia letakkan ke meja dengan keras. “Lihat sendiri,” katanya. “Rating kita jatuh lagi. Sementara stasiun saingan terus naik." Seorang stap produksi memberanikan diri bicara. “Bu Alena… pemirsa sekarang lebih memilih hiburan ringan. Mereka tidak bertahan lama di program informasi.” Alena menatapnya tajam. “Dan kalian tidak bertahan lama memberi aku sesuatu yang pantas ditonton.” Keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada yang bergerak. Alena berdiri, menarik napas yang terdengar berat. Ia berjalan mendekat ke jendela besar yang menghadap kota. Lampu-lampu Jakarta terlihat ramai, tidak sinkron dengan kondisi ruang rapat yang terasa mandek dan mati. “Apa kita memang sudah kehabisan ide?” tanyanya, suaranya lebih rendah namun tetap keras. “Atau kalian hanya menunggu stasiun ini tenggelam?” Tak satu pun menjawab. Bahkan helaan napas pun ditahan. Setelah beberapa detik, Alena menutup rapat tabletnya. “Rapat selesai. Mulai malam ini kita bergerak lebih cepat. Aku tidak mau mendengar satu pun alasan.” Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum keluar. “Dan kalau rating ini tidak naik…” Ia menoleh, tatapannya dingin. “Kalian tahu siapa yang akan kuberitahu duluan.” Pintu menutup. Sunyi kembali. Alena melangkah menyusuri koridor. Tidak ada kemarahan di wajahnya sekarang—hanya lelah yang menumpuk, mata yang memerah, dan pundak yang tegang menahan tekanan yang terasa semakin berat. Dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri. “Aku butuh seseorang… seseorang yang bisa mengubah semuanya.” Alena tidak langsung pulang. Ia memilih singgah di sebuah kafe untuk menenangkan diri. Musik ambiance yang lembut memenuhi ruangan, tetapi pikirannya tetap kacau. Dua cangkir kopi sudah hampir kosong. Hampir tiga jam ia duduk di sudut ruangan itu, memandangi meja tanpa benar-benar melihat apa pun. Di tengah kegelisahan itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan kafe. Seorang pria berjas turun dan masuk ke dalam. “Alena.” Suara lembut itu membuatnya tersentak. Ia menoleh perlahan. “Mahesa,” ucapnya lirih. Mahesa menarik kursi dan duduk di depannya. “Kamu kenapa, sayang? Ini sudah malam. Ayo kita pulang.” Ia menggenggam tangan Alena dengan hangat. “Jangan terlalu stres. Aku gak mau kamu sampai jatuh sakit.” Alena hanya mengangguk. Namun ketegangan masih jelas terlihat di wajahnya. Malam itu, Mahesa mengajaknya pulang. Alena pun meninggalkan kafe dengan langkah lelah. Sementara itu, di kantor NTV, tiga stap produser masih belum beranjak. Wajah mereka sama lelahnya, sama frustrasinya. “Sekarang kita harus bagaimana? Semua sudah kita coba, tapi tidak ada yang berubah,” keluh salah satu stap produksi. Irfan menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengembuskan napas panjang. “Mungkin zaman memang sudah berubah. Penonton sudah tidak peduli berita. Kejatuhan NTV tinggal menunggu waktu.” “Omong kosong!” Suara itu memecah ruangan, membuat udara semakin panas. Irfan menatap tajam. “Kamu terlalu arogan. Turunkan tensimu. Di situasi begini, orang gampang kebawa emosi.” Damar mencoba menenangkan. “Sudahlah. Jangan makin diperpanjang. Lebih baik kita fokus cari jalan keluar.” Lalu Irfan bangkit berdiri. “Untuk malam ini cukup. Kita lanjutkan besok.” Tanpa menunggu tanggapan, ia meninggalkan ruangan. Kini hanya Damar dan Halim yang tersisa, duduk dalam diam, memikirkan nasib stasiun televisi itu. Damar mendekat dan menegur Halim dengan suara rendah. “Jangan memperkeruh suasana, Halim.” Nada itu masih terdengar sopan, tapi Halim justru menatapnya dengan sinis. “Jangan sok ngatur. Punya solusi, nggak? Jangan cuma ngomong doang.” Damar menarik napas panjang, menahan diri. “Lebih baik aku pergi seperti Irfan daripada berlama-lama di ruangan ini denganmu.” Ia berbalik dan berjalan keluar dengan langkah dingin. Halim semakin tersulut. “Silakan pulang! Buat apa lama-lama di kantor kalau nggak punya solusi?” teriaknya dengan suara yang menggema di ruang kosong itu. Kini, kantor hanya menyisakan Halim seorang diri. Ia duduk lama di depan mejanya—membisu, menunduk, dan semakin tenggelam dalam kekesalan yang menumpuk. Akhirnya ia bangkit, mengambil kunci, dan melangkah keluar. Tapi bukan menuju rumah. Halim justru mengarahkan mobilnya ke sebuah club malam di pusat kota. Begitu tiba, ia memarkir mobil dan masuk tanpa banyak pikir. Dentuman musik langsung menghantam telinganya. Lampu neon bergerak liar, menyilaukan matanya yang sudah lelah. Halim menuju bar dan mengambil kursi paling ujung. Tubuhnya seakan jatuh ke bangku, rapuh dan kehilangan tenaga. Seorang bartender mendekat. “Ada yang bisa saya buat, Pak?” “Berikan saya minuman dengan kadar yang paling kuat,” ucap Halim datar. Bartender itu segera meracik minuman dan menyodorkan gelas pertama. Halim meneguknya habis tanpa jeda. “Satu lagi.” Gelas kedua datang. Lalu ketiga. Bartender mulai terlihat ragu, tapi Halim hanya mengisyaratkan tangan—minta tambah. Kepalanya mulai berat. Dunia sedikit berputar. Namun setiap kali gelas itu mendarat di depannya, Halim tetap menenggaknya sampai kosong. “Masih lanjut, Pak?” tanya bartender, suaranya mulai cemas. Halim tersenyum tipis, sinis pada dirinya sendiri. “Iya. Jangan banyak tanya.” Malam yang muram—bukan hanya untuk Halim, tapi untuk seluruh NTV. Keesokan paginya, matahari baru terbit ketika Mahesa sudah duduk rapi dengan setelan jasnya. Ia menikmati roti di meja makan, sementara Alena hanya menatap kosong, wajahnya masih terlihat muram. Mahesa mencoba mencairkan suasana. “Sayang, jangan ditekuk gitu dong wajahnya. Nanti cantiknya hilang.” Alena berusaha tersenyum, tipis dan dipaksakan. Mahesa menatapnya lebih serius kali ini. “Aku gak akan biarin kamu tenggelam dalam sedih kayak gini,” ucapnya lembut. “Kalau kamu jatuh… aku orang pertama yang merasakan sakitnya.” Kata-kata itu membuat mata Alena berkaca-kaca. Mahesa segera mengalihkan sebelum air mata benar-benar jatuh. “Sayang, aku berangkat dulu ya. Kantor lagi sibuk-sibuknya.” Alena tersenyum tipis. “Iya, sayang." ucapnya singkat. Mahesa memperhatikan wajah istrinya. “Kamu gak ke kantor? Aku bisa tunggu kalau mau siap-siap dulu.” Alena menggeleng lembut. “Aku istirahat dulu. Mau nenangin diri.” “Baiklah. Jangan terlalu stres, ya,” ucap Mahesa sebelum mengecup keningnya. Ia berjalan keluar dan langsung menghidupkan mesin mobilnya, mobil itu melaju perlahan keluar dari halaman rumah, meninggalkan Alena yang masih termenung di meja makan. Di balik kaca depan. Ekspresi lembutnya perlahan memudar, berganti ketegasan yang lebih tajam. Begitu tiba di gedung tempatnya bekerja, langkahnya langsung berubah mantap. Ia mendorong pintu masuk—dan suasana hiruk-pikuk langsung menyambutnya. Telepon berdering bersahutan. Beberapa staf berlari kecil membawa setumpuk kertas rundown. Editor bergerak cepat di depan komputer, suara ketukan keyboard saling tumpang tindih. Di ruangan lain, beberapa orang tengah cek audio, suara “tes, tes—cek suara” terdengar dari headset. Seseorang berteriak dari ujung ruangan, “Segmen tiga pindah ke menit dua belas! Geser bumper!” Energinya hidup. Intens. Dinamis. Seperti dunia yang tak pernah tidur. Saat Mahesa berjalan, para staf yang melintas segera memberi salam. “Pagi, Pak!” “Pagi, Pak Mahesa!” Ia membalas dengan senyum santai namun penuh wibawa. “Pagi semua. Fokus, ya. Hari ini harus lebih baik dari kemarin.” Mahesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi poster program, papan jadwal produksi, dan monitor yang menampilkan berbagai tayangan live. Kru dengan seragam headset sibuk memberi instruksi, sementara beberapa kreatif mendiskusikan konsep baru sambil membawa storyboard. Di antara semua itu, Mahesa terlihat sangat nyaman—seolah medan perang seperti inilah kehidupan sebenarnya. Menjelang sore, ia berdiri di ruang pemantauan. Deretan layar menampilkan grafik performa acara, komentar penonton, dan data real-time yang terus bergerak naik-turun. Garis yang menjadi fokusnya perlahan menanjak. Mahesa menaikkan alis, ekspresi puas terpampang jelas. “Bagus. Pertahankan.” Ia keluar dan kembali menyemangati staf yang bekerja tanpa henti. “Apa pun programnya, jaga ritme. Kita harus terus stabil.” Nada suaranya tenang, tapi ambisinya tidak bisa disembunyikan. Beberapa staf mengangguk cepat sebelum kembali pada tugas masing-masing. Ya—begitulah Mahesa. Di rumah ia lembut dan romantis. Namun begitu melangkah masuk ke tempat ini, ia berubah menjadi sosok yang ambisius dan siap bertarung habis-habisan. Dan yang paling menarik? Lawan terbesarnya… adalah perempuan yang ia cintai. Alena—istrinya sendiri. Sesama direktur. Dua pemimpin yang berdiri di dua stasiun televisi berbeda yang saling berebut rating.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
849.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
390.7K
bc

Not just, the Beta

read
364.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook