Bab 5. Mengungkap Kebenaran

1048 Words
Meta seketika menunduk, mengingat masa lalu kembali membangkitkan luka yang sudah lama ia kubur dalam-dalam hingga ke dasar jurang. Dadanya terasa sesak, matanya pun mulai memerah dan berair. Rasanya begitu janggal, mengapa Reyhan menanyakan hal yang seharusnya ia tanyakan? Tujuh tahun silam, Reyhan pergi keluar negri tanpa memberitahunya. Meta kembali memandang wajah Reyhan seraya menahan air mata. "Apa gak kebalik? Seharusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu, Rey. Mengapa kamu kuliah keluar negri gak ngomong dulu sama aku, hah? Kamu gak tau penderitaan apa yang aku alami setelah kamu pergi, kamu gak tau seperti apa hidup aku setelah kamu tinggalin gitu aja." "Saya gak pernah ninggalin kamu, Meta. Saya juga gak pergi gitu aja. Saya ninggalin surat buat kamu," jelas Reyhan, memandang bola mata Meta, di mana kesedihan terlihat jelas di sana. Meta mengerutkan kening. "Surat? Aku gak pernah nerima surat dari kamu, Rey. Kamu titipin surat itu sama siapa?" "Sama Ibu saya. Apa beliau gak ngasih surat itu sama kamu?" Meta menggelengkan kepala lalu menunduk. Otaknya kembali berlayar ke masa lalu. Sepertinya, terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Reyhan. Jelas-jelas ialah korban di sini, tapi Reyhan pun menunjukkan sikap yang sama. "Tujuh tahun lalu, Mommy minta saya kuliah di luar negri. Saya udah berusaha nolak, Meta. Saya gak mau ninggalin kamu, tapi Mommy terus maksa saya. Katanya dia pengen saya jadi Dokter hebat kayak almarhum Ayah saya," jelas Reyhan, kembali membayangkan kejadian tujuh tahun silam. "Akhirnya, saya turuti keinginan Mommy, tapi dengan satu syarat, Mommy harus berikan surat terakhir saya buat kamu. Saya pikir kamu nerima surat itu." "Nggak, Rey. Sumpah demi apapun, aku gak pernah nerima surat dari kamu," ucap Meta penuh penekanan. "Satu semester saya berkuliah di Inggris, saya kembali ke tanah air dan berharap bisa ketemu dan ngelepas rindu sama kamu, tapi apa--" Reyhan menahan ucapannya sejenak, dadanya terasa sesak, mengingat kejadian itu kembali membuka luka lama yang sudah ia kubur rapat. "Waktu saya ke rumah kamu, saya malah ngeliat kamu sama suami kamu, Met, dan kayaknya kamu habis lahirin Sonia waktu itu." Meta mengerutkan kening, memandang wajah Reyhan dengan bingung. "Kamu dateng ke rumahku?" tanyanya. "Iya, tapi saya cuma ngeliat kamu dan bayi kamu dari jauh. Saya gak nyangka kalau ternyata kamu udah nikah sama cowok lain," jelas Reyhan, kepalanya menunduk menahan rasa sakit. "Satu pertanyaan saya, Meta. Siapa Ayah kandung Sonia? Kenapa usia dia sama persis dengan waktu perpisahan kita? Saya ngerasa ada yang janggal sama semua ini. Saya juga ngerasa ada ikatan batin antara saya dan anak kamu." Meta menundukkan kepala, buliran bening kembali berjatuhan, kian deras membasahi kedua sisi wajahnya. Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan siapa Sonia sebenarnya? Ya, Sonia adalah darah daging Reyhan. Jika ia mengatakan kebenaran itu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa dengan Reyhan mengetahui hal tersebut, takdirnya dan sang putri akan berubah? Batin Meta mulai dilanda rasa dilema. "Apa Sonia darah daging saya, Met? Saya mohon jawab pertanyaan saya!" Reyhan akhirnya bertanya dengan suara lemah dan bergetar. Meta mengusap kedua sisi wajahnya yang berair, sebelum akhirnya mengangguk seraya menahan isakan. Tubuh Reyhan seketika melemas, air matanya bergulir tanpa terasa. "Ya Tuhan," lirihnya dengan pelan. "Jadi, Sonia beneran darah daging saya?" Meta kembali mengangguk dengan kepala menunduk. Sementara Reyhan seketika berdiri tegak dan hendak melangkah dengan perasaan berkecamuk. Namun, pria itu seketika menahan langkahnya saat melihat makanan yang sedang dimakan oleh Meta masih utuh. Ia tidak mungkin meninggalkan Meta makan sendirian. Reyhan kembali duduk dengan kepala menunduk. "Lanjutin makannya, Met. Kamu harus makan yang banyak, saya gak mau kamu sakit," ucapnya lemah dan bergetar. Meta menganggukkan kepala seraya menahan isakan. Tangannya kembali bergerak, menyuapkan makanan ke dalam mulut seraya menahan rasa sesak. Suapan demi suapan pun ia lakulan dengan diiringi air mata yang terus saja bergulir membasahi kedua sisi wajahnya. Akhirnya, ia mengungkap rahasia yang selama ini ia simpan sendirian. Rasanya benar-benar lega, beban berat yang selama ini ia pikul sendirian seakan terangkat. Sonia akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya. Suasana benar-benar hening, tidak ada kata yang keluar dari bibir Reyhan. Ia terlalu syok setelah mendengar kebenaran. Meskipun, ia sendiri sudah memiliki feeling kuat bahwa Sonia adalah darah dagingnya. Nasi Padang yang tengah disantap oleh Meta akhirnya habis tidak bersisa. Tubuhnya pun kembali bertenaga. Meta meraih botol mineral lalu meneguknya pelan. "Aku mau ke kamar mandi, Rey," ucap Meta, tapi hanya kebisuan yang Reyhan tunjukan, sepertinya pria itu benar-benar larut dalam lamunan. "Rey ..." sahut Meta, tapi Reyhan masih terdiam. "Dokter Reyhan!" Meta menaikan nada suaranya. Reyhan terperanjat. "Hah? Eu ... apa, Met? Maaf saya ngelamun," tanya Reyhan, tatapan matanya nampak kosong, menghadap wajah Meta. "Aku mau ke kamar mandi." "Oh, kamar mandinya ada di luar, Met. Jalan lurus dan belok kanan, deket ko. Mau saya antar?" jawab Reyhan, memandang wajah Meta dengan sayu. "Gak usah, Rey. Aku bisa pergi sendiri," jawab Meta dengan wajah datar, seraya menggulung bungkus nasi Padang lalu berdiri tegak dan hendak melangkah menuju pintu. "Tunggu, Met," pinta Reyhan membuat Meta sontak menghentikan langkahnya dan kembali memutar badan. "Ada apa lagi, Rey?" tanya Meta balas menatap wajah Reyhan. "Habis dari kamar mandi kamu balik lagi ke sini, ya. Kita ke ruangan ICU sama-sama." Meta menganggukkan kepala dengan senyum kecil, kemudian berbalik dan hendak kembali melangkah. "Tunggu dulu, Meta," pinta Reyhan untuk yang kedua kalinya. "Apa lagi, Rey?" Reyhan berdiri tegak lalu melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Meta. Telapak tangannya perlahan mulai bergerak, meraih lalu menggenggam telapak tangan Meta seraya menatap wajahnya dengan tatapan sayu dan penuh penyesalan. "Saya minta maaf atas apa yang terjadi sama kamu di masa lalu, Meta. Membayangkan bagaimana kamu mengandung, melahirkan bahkan harus menikah dengan pria lain, pasti rasanya berat banget buat kamu, Met. Maafin saya, saya benar-benar minta maaf," ucap Reyhan, tiba-tiba terisak dengan kepala menunduk. "Izinkan saya menebus semua kesalahan saya, Meta. Meluruskan kesalahan pahaman di antara kita dan memberikan kasih sayang yang layak buat anak kita." Meta terdiam, memandang bola mata Reyhan, mencoba menyelami ketulusan lewat tatapan matanya yang teduh. Hatinya terenyuh, cara Reyhan memandang wajahnya sama sekali tidak berubah, masih sama persis seperti tujuh tahun silam. Meta sempat terbuai, melihat ketulusan dan cinta di mata Reyhan membuat hatinya luluh. Namun, ia segera melepaskan genggaman tangan Reyhan seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, dengan d**a sesak. "Maaf, aku gak bisa, Rey. Kamu lupa aku udah punya suami?" jawabnya, lemah dan bergetar. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD