SURAT CERAI

1342 Words
"Aku tidak berani berpura-pura Kak Revan. Aku betulan akan pergi dan aku tidak akan mengganggu Kakak lagi." "Aku jadi penasaran bagaimana caramu berjuang hidup di luar sana tanpa support-ku." Ada senyum meremehkan dari Revandra yang tahu betapa manjanya Alicia. Wajar saja. Alicia memang dulu pengecut, bodoh, dan tak bisa apa-apa. Tapi itu Alicia yang dulu. Bukan Alicia yang sekarang yang sudah pernah menjalani siksaan hidup dari Revandra selama sembilan belas tahun hidupnya. "Ah, aku tahu kau suka sekali dengan make up, kau selalu ingin tampil seksi dan menarik. Apa kau berencana untuk menjual dirimu di klub malam setelah ini?" sindir Revandra lagi menghina Alicia.. Apakah sehina itu Alicia untuknya? Jujur saja, Alicia kecewa. Alicia bukan gadis yang suka ber-make up. Dan dia memanggil guru kursus make up sejak menikah dengan Revandra. Alicia ingin menarik perhatian suaminya. Dia berusaha untuk tampil cantik dengan pakaian yang seksi memperlihatkan lekuk tubuhnya, hanya untuk Revandra. Tapi begitukah penilaian Revandra terhadap dirinya? "TUbuh saya tidak pernah menarik untuk Kakak. Bagimana saya berani menjual diri di klub malam?" Sungguh jawaban monohok yang tak bisa dijawab oleh Revandra. "Kak, mana yang perlu ditandatangani? Aku akan langsung pergi dari sini setelahnya." Makanya setelah tawa Revandra mereda Alicia mencecar lagi. Dia ingin segera pergi meninggalkan Revandra. Sebuah keberanian yang tidak pernah dilihat oleh Revandra sebelumnya. Pria itu jadi merasa tertantang dan ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Alicia di luar sana. Paling besok pagi dia sudah menangis minta aku menjemputnya. Dan berdasarkan isi hatinya inilah Revandra akhirnya menyuruh Alicia mengikutinya ke study room. "Tidak ada sepeser uang pun yang akan kuberikan padamu sebagai kompensasi dari pernikahan kita karena ayahmu juga sudah merugikan perusahaanku. Anggap ini impas!" "Baik." Lagi-lagi jawaban Alicia tidak membuat dram dan melakukan kewajibannya. Sikapnya yang tenang juga membuat Revandra bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan wanita di hadapannya. Alicia tidak menggubris sama sekali tentang bathrobe yang dikenakan olehnya. Wanita itu juga tidak menunjukkan emosinya seperti saat tadi di meja makan melihat Revandra merangkul Andrea. Saat itu Alicia meledak-ledak. Sampai dia ingin menyerang Andrea dan Revandra terpaksa menamparnya hingga Alicia pingsan. Saat ini Alicia juga tidak membahas masalah tamparan itu meski wajahnya sedikit bengkak. Alicia tidak manja padanya. "Aku sudah menandatanganinya Kak. Sekarang aku permisi dulu." Bahkan Alicia tidak menyerahkan pulpen atau kertasnya pada Revandra sebagai trik untuk menyentuh tangan pria itu. Alicia menaruhnya di meja dan bersikap sopan, menundukkan kepalanya seperti layaknya seorang pelayan bersikap hormat. Revandra tidak pernah melihat Alicia seperti ini. Wanita itu adalah wanita yang angkuh dari kalangan atas yang tidak pernah menundukkan kepala. Dia memang manis pada Revandra karena berusaha untuk mendapatkan perhatian pria itu. Tapi setahu Revandra, Alicia itu sangat tak bersahabat pada manusia yang tidak se-level dengannya. Tapi tidak kali ini. "Dia benar-benar pergi?" Tadi saat Alicia pamit dari ruangannya, Revandra membiarkan wanita itu keluar. Setelah setengah jam Revandra membaca ulang draft perceraiannya dengan Alicia, dia penasaran apakah Alicia betulan pergi? "Nyonya sudah pergi Tuan Revandra," sahut Johan, asisten Revandra. Permainan apa yang sedang dipikirkan oleh Alicia? Apa dia pikir aku akan mencarinya dan membuatnya datang kembali ke rumah ini? Revandra tersenyum sinis dan sangat yakin sekali kalau Alicia pasti akan datang kembali, mengemis padanya. Bahkan pria itu melihat ke arah jam tangan yang masih dikenakannya dan mencoba menghitung berapa lama Alicia akan kembali. Tapi betulkah Alicia kembali? *** "Aku mau kemana ya?" Sebelumnya, selepas keluar dari rumah Revandra Alicia bingung. Dia tidak membawa apapun. Pakaian yang dikenakannya hanya kaos sweater rajut dengan celana jeans. Alicia juga hanya mengenakan sendal dengan satu-satunya benda berguna di tangannya adalah handphone. Alicia menatap handphone dan berpikir siapa yang bisa ditemui olehnya. Alicia membaca kontak telepon dan menyambungkan dengan kondisi masa lalunya. Hingga dia benar-benar yakin siapa yang tulus dan bisa membantunya sekarang. Ratna: Hi Alicia. Kau benar-benar menelponku? Tak salah jika Ratna bertanya begini. Sejak Alicia menikah dengan Revandra dia tidak pernah menghubungi teman-temannya lagi. Alicia sibuk menarik perhatian Revandra. Dari bangun tidur sampai tidur lagi Alicia hanya memikirkan tentang Revandra meski ujungnya dia harus tidur sendirian setiap malamnya karena suaminya sibuk bekerja dan tak sama sekali melirik padanya. Ini yang membuatnya tidak pernah punya waktu untuk teman-temannya. Alicia malu dan merasa bersalah. Alicia: Aku minta maaf Ratna. Aku baru bisa menghubungimu karena sekarang aku baru bebas. Ratna: Apa maksudmu baru bebas? Alicia: Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi sekarang aku ada di pinggir jalan dan aku tidak tahu mau pergi ke mana Ratna. Aku butuh tempat untuk bermalam, hari ini saja. Ratna: Oh Alicia katakan kau ada di mana? Aku akan menjemputmu sekarang! Tunggu aku! Ada lega di dalam hati Alicia karena temannya masih mempedulikannya setelah setahun dia hilang kontak. Alicia mengikuti saran dari Ratna, mengirimkan lokasinya. Dan dia tidak menunggu lama. Setengah jam berdiri, Ratna datang dengan mobilnya. Alicia lega. "Alicia kau baik-baik saja?" Ratna malah terlihat khawatir membuat Alicia makin malu, "Maaf ya, selama ini aku mengabaikan kalian," ucap Alicia sambil menunduk dan tangannya memegang seatbelt. "Kau bicara apa? Kami menyayangimu Alicia. Kami mengkhawatirkanmu. Aku, Jeni, dan Mili. Mereka pasti senang kalau mendengar kabarmu. Tapi sekarang pulang ke rumahku dulu dan besok kita akan bertemu dengan yang lain.” Ini yang diharapkan oleh Alicia. Bertemu dengan teman-temannya lagi dan melepas semua rasa rindunya setelah dua puluh tahun dalam ingatannya dirinya tidak pernah bertemu mereka. Terakhir kali saat hari ulang tahunnya saat Alicia menikah dua puluh tahun yang lalu. Tapi teman-temannya pasti berpikir setahun lalu. Dan setelah itu Alicia menghilang bak ditelan bumi. Alicia sangat menyesal telah menghabiskan waktunya hanya untuk memuja Revandra Nugraha dan mencari perhatian darinya. "Alicia, kau baik-baik saja?" "Ya. Besok aku ingin ke sekolah kita Ratna," seru Alicia tak mau membuat temannya khawatir. "Mau apa ke sana Alicia?" "Aku tidak punya ijazah. Aku ingin mengurus ijazahku yang hilang saat rumah ayahku disita bank. Aku tak datang mengamankan ijazahku. Aku butuh itu untuk kerja" "Kerja? Oh, kenapa Alicia? Bukankah kau-" "Aku dalam proses cerai Ratna," jelas Alicia tak ingin temannya berspekulasi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi ceritalah nanti jika kau ingin dan sekarang kita sudah sampai di rumahku. Ayo Alicia, istirahat dulu." Rumah Ratna masih sama seperti dulu. Orang tuanya juga masih sangat baik pada Alicia. Sungguh rasanya hati Alicia sangat menyesal sekali tak menghiraukan mereka di masa lalu. Saat ini Alicia tidak akan melakukan kebodohan itu lagi. Dia bertekad dengan hidupnya yang baru, Alicia akan melakukan yang terbaik. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua dalam hidupnya ini. "Ratna, terima kasih untuk malam ini. Aku mau pergi ke sekolah dulu." "Kau bangun pagi sekali. Aku baru membuka mataku kau sudah rapih. Kau ingin kuantar?" "Tidak. Kau tidur lagi aja. Aku memang harus berangkat pagi supaya staf tata usaha tidak sibuk dan bisa mengurus apa yang kuperlukan." "Baiklah Alicia. Jika kau ingin ganti baju pakailah bajuku tidak perlu memakai bajumu yang semalam, itu kotor." "Terima kasih Ratna. Tadi malam aku tidur pakai baju tidurmu. Aku sudah mencuci bajuku sendiri tadi di laundry dan ini sudah bersih." "Apa? Kau cuci baju sendiri?" Ratna mungkin mendengarnya seakan mimpi karena Alicia bukan orang yang bisa melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Tapi itu Alicia yang dikenal Ratna bukan Alicia yang sudah hidup kembali ini. "Ya, aku berangkat ya." "Tapi kau ke sana mau naik apa?" "Jalan kaki." "Hell! Kau tahu dari sini ke sekolah itu seberapa jauh? Enam kilo!" Ini jelas membuat mata Ratna terbelalak dan kantuknya hilang. "Biar ku antar kalau begitu." "Tidak!" Alicia menolak. Dia tidak masalah. Lagi pula jarak segitu tidak ada apa-apanya. Bahkan Alicia masih ingat saat Revandra sedang liburan bersama Andrea, mereka menjadikannya sebagai mainan. Meninggalkanku di tengah gurun pasir dan menyuruh Alicia berjalan dua puluh kilo, tanpa arah tujuan, tanpa air. Tentu ini tak diketahui Ratna. Sudah banyak percobaan pembunuhan yang dilakukan Revandra untuk membunuh Alicia hingga akhirnya dia benar-benar membunuhnya di Samudra Atlantik. Makanya cuma jalan kaki ke sekolah bukan sebuah beban baginya. "Alicia, jika kau tidak punya uang ini pakailah uangku. Nanti aku dan teman-teman akan menjemput ke sekolah. Kau tunggulah di sana. Mereka sudah ingin bertemu denganmu, terutama Egi." Sebuah nama yang membuat Alicia bergetar hatinya dan melirik Ratna. "Kau juga memberitahu Egi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD