Ruang keluarga itu terasa hangat oleh cahaya pagi. Bayi laki-laki itu berada dalam gendongan Liam, tubuh kecilnya dibungkus selimut lembut warna gading. Matanya terpejam, napasnya teratur, dan sesekali bibir mungilnya bergerak, seolah sedang bermimpi. Liam menatap wajah kecil itu lama. Ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Campuran bangga, haru, dan takut kehilangan. Tangannya sedikit bergetar saat ia menyesuaikan posisi gendongan, memastikan kepala bayi itu nyaman di lengannya. “Anak laki-laki yang kuat,” gumamnya lirih. Sora berdiri tak jauh dari sana, sementara Jelita duduk di sofa, punggungnya disangga bantal, wajahnya pucat tapi matanya tak pernah lepas dari bayi itu. Ada cinta yang utuh di sana, cinta seorang ibu yang bahkan tidak perlu diucapkan. Liam menarik nap

